Arkan Dinda

Arkan Dinda
Cerita



Giovano mengajak Arkan dan lainnya ke sisi lain dari Mansionnya ruangan yang luas terpisah dengan mansionnya sebelah barat hanya lima belas langkah dari mansionnya bersebrangan dengan taman terbuka hijau milik istri Giovano.


"Aku tahu kalian mencari hal yang membuat gadismu terluka, Hansimon sudah katakan itu, dan Aku turut berduka, tapi, setelah mengetahuinya aku harap kalian tidak akan marah dan terkejut," ucap Giovano mewanti-wanti.


Arkan dan lainnya mengangguk Giovano membukakan pintu itu untuk mereka dan masuk pertama kalinya, lalu mengajak mereka berkeliling.


"Aku bisa mengamati kerja perusahan keamanan dengan tentara bayaran dari sini, selagi kau, Arkan. Masih dalam pendidikan akademik aku sendiri yang masih mengurusnya lagi pula kau belum sepenuhnya paham, nanti aku akan berikan semua pemahamannya setelah kau pantas memang semuanya kau yang kendalalikan dan pegang tapi, pemahamannya akan datang setelah kau pantas." Jelasnya disamping Arkan dengan bahasa Italia.


"Aku tau itu, Iya." Sahut Arkan dengan bahasa Italia.


Giovano menyeringai aneh. Kembali menatap kedepan sambil terus melangkah.


Setelah selesai menjelajahi seluruh ruangan semua berkumpul di ruangan dengan banyak layar komputer dan sebuah layar besar yang bisa dilihat lima sampai sepuluh orang yang duduk di meja bundar atau meja rapat itu dengan jelas. Letak meja bundar itu menghadap layar besar itu.


"Aku ingin tanya tentang Scorpion dan Black Rose." Celetukan Rian dengan bahasa Italia yang khas seketika Giovano menatap dengan senyuman aneh. Satu ruangan langsung terasa dingin dan sunyi. Rian membuat Lorenzo dan Bagus Yuda Arkan dan Justin tertegun diam, tidak di sangka jika Rian bisa bahasa Italia.


Tidak salah jika Arkan, mengjak dan merasa curiga karena Rian tahu tentang kelompok gelap itu, Secorpion dan Black Rose tidak sembarangan orang bisa tahu dan beberapa memilih tak ingin tahu.


"Baiklah adik ipar dengarkan dengan baik." Sahut Giovano dengan nada bicara yang santai.


Seperti sepontan.


"Haah.. Adik...Ipar," ucap Lorenzo Bagus Justin bersamaan, Yuda hanya terkekeh.


"Kau lucu juga," ucap Yuda dengan bahasa Indonesianya.


Giovano mengakat bahu sekilas dan kembali memutar informasi tentang Black Rose dan juga Scorpion. Menyalakan layar besar itu dengan petikan jari dan berucap seperti perintah untuk menyalakan komputer di sudur ruang dekat layar besar juga lampu di ruangan itu.


Terlihat hitam dan putih perpaduan suasana ruangan yang hitam meja bulat dan kursi dengan warna senada dan ada robot pelayan didalam sana jika ingin meminta ambilkan sesuatu robot itu bisa melakukannya hanya sekitar paviliun itu didalam saja tidak di luar .


"Ini akan panjang apa kalian suka Dongeng," ucap Giovano.


"Aku heran kenapa kakak bisa menikahimu," ucap Rian mengejek dengan bahasa Italianya. Seketika semua terdiam menatap Rian lalu Giovano.


"Aku memang orang yang hangat, kau saja yang tidak tahu bocah," ucap Giovano dengan wajah ramah tapi, sebenarnya kesal didalam hatinya.


"Semua dimulai dari sebuah pertemuan Tengkorak dan Scorpion." Kata Giovano tiba-tiba dengan basa Indonesia yang kurang lancar.


*


"Taman yang buruk jauh dari kata baik-baiksaja, habis semua terbakar karena rumah yang ada di dekatnya terbakar. Semua terbakar karena alasan yang tidak jelas. Tapi setelah tiga tahun semuanya di temukan dengan mudah, dan itu hanya arus listrik dan juga tabung gas." Penjelasan Giovano terjeda mengambil nafas panjang.


Giovani membuka tiga gambar pemimpin masing-masing Kelompok hingga gengster Scorpion pun ada yang lima kali tidak ganti kepemimpinan selama sepuluh tahun.


Masing-masing selama dua tahu ada yang satu tahun itu semua tergantung bagaimana mereka menjaga singgasana kepemimpinan mereka.


Seketika semakin ke bawah gambar terlihat, Arkan melihat siapa yang ada di kelompok Scorpion hingga Black Rose dan Tengkorak.


"Untuk Scorpion dan Black Rose aku tidak tahu mereka," ucap Giovano.


"Lanjutkan cerita tadi, Setelah saat kejadian kebakaran itu seorang lelaki yang ternyata adalah anak kecil itu ternyata selamat dan berjalan sendirian seketika anak keci itu bertemu dengan teman yang usianya jauh diatasnya dan dia menganggapnya sebagai teman, Giovano dan temannya bernama Alano,


aku menyebutnya sebagai kakak yanh tidak ada hubungan darah sama sekali. Dia melindungiku dari orang-orang yang ingin menghabisiku karena mereka semua musuh orang tuaku, hingga sampai di Italia aku dan Alano mencari cara bertahan hidup, Alano Marcquez namanya, wajahnya mirip Arkan aku tidak salah jika aku mengenalmu," ucap Giovano.


Lorenzo Bagus dan Justin mengerti sekarang. Arkan masih diam.


Sekatika Arkan mengepalkan tangannya hingga kepalan itu terlihat jika saat ini Arkan sedang mengontrol emosinya karena layar didepannya menunjukan kejadian demi kejadian yang ayahnya alami beberapa tahun lalu dan itu terlihat sangat sadis.


"Singkat cerita Aku dan Alano hidup dengan baik kami meneruskan kehidupan hingga aku bertemu istriku setelah Alano memiliki Ibunya Arkan. Sayang di Indonesia Alano mengubah nama belakangnya menjadi Prawira dan mengubah keyakinannya karena tekad dan keyakinannya. Setelah Aku tahu Alano Marcquez alias Alano Prawira membuat keputusan baik, sayang kakek Arkan tidak menyukai Alano setelah istrinya melahirkan. Kakek Arkan meminta hak asus Arkan dengan paksa dengan alasan yang tidak bisa di bilang baik ataupun buruk, Aku tahu Alano lemah dengan itu, Alano memberikannya dan pergi tapi, Istrinya...Ibu Arkan tidak menyukai itu dan memilih ikut pergi bersama Alano dengan membawa Arkan yang masih bayi merah. Ketika itu Kakek Arkan tidak bisa menemukan Arkan hingga tiga tahun berlalu lebih tepatnya belum genap tiga tahun Alano kembali bersama istri dan anaknya membangun keluarga bahagia walaupun Kakek Arkan tidak senang. Selama beberapa bulan Alano bisa menguasa pasar di Indonesia dan juga membuat perusahaannya menyamai kedudukan kakek Arkan. Hingga sebuah kecelakaan yang.. Tidak aku sendiri ketahui apa penyebabnya terjadi Arkan tinggal bersama kakek nenek dan Aku bertemu dengannya ketika aku berada di ambang kematian, Lucunya aku.. mengira jika Alano Marcquez yang ada di depanku ternyata dia adalah duplikatnya." Giovano tersenyum menatap Arkan.


"Dari setiap kejadian itu semua hal yang ditemukan srmuanya bersangkutan dengan kejadianku kehilangan orang tuaku, dan Aku sebenarnya tidak tahu siapa Alano aku hanya tahu dia..." Terjeda ucapan Giovano.


Semua terdiam masih mendengarkan.


Arkan yang menyimak dengan baik akhirnya tahu jika selama ini Ayahnya adalah orang tidak bisa belama dengan hubungan yang terkekang walaupun itu Ayah Arkan adalah orang yang begitu terlihat baik dan bahagia.


Berarti Ayahnya sengaja mengorbankan kebaikannya demi Arkan dan ibunya lalu ibu Arkan tidak menyukai keputusan itu dan memilih pergi bersama Ayahnya. Berarti ingatan itu tentang cerita itu semuanya mana yang harus Arkan percaya cerita Giovano atau kakek neneknya.


Arkan punya tujuan sekarang selama ini dirinya hanya tertuju pada apa yang bisa membuatnya bertahan, sekarang Arkan akan menyakinkan dirinya itu Alasan lainnya.


"Lalu untuk pemimpin Black rose sebenarnya mereka orang berbeda tapi, nama mereka semua sama Mereka memiliki Nama Rosella. Salah satu penerus Black Rose adalah.."


Giovano menurunkan barisan foto kelompok gangster atau mafia itu yang di pimpin perempuan itu seketika terlihat hampir di foto terakhir hingga wajah tak asing itu adalah, Citra Betricias.


"Pantesan gue gak enak tiap deket sama Citra ternyata dia itu Malaikat mau versi cewek," ucap Loerenzo setelah membaca beberapa kasus yang di sebebakan BlackRose. Dari layar besar itu tentunya.


"Dan yang paling mengejutkan adalah kasus tertinggi terjadi Di Indonesia dengan angka kematian tinggi dan setiap kelinik Aborsi yang berada dalam pengaruh BlackRose akan aman dari penciuman pihak berwanang, dan penjualan gadis di bawah umur juga sudah mencakup banyak daerah ada juga yang berjalan keluar benua dan negeri, Identitas sulit di ketahui karena cukup pintar mereka menyembunyikan jati diri mereka, tidak tau umur berapa mereka mengikuti Kelompok seperti ini." Kata Giovano panjang lebar.


"Sadis banget tuh cewek cakep-cakep doyan aman begituan, Busuk juga tu Hatinya," Celetuk Bagus.


Giovano melanjutkan pada bagian Scorpion Gengster dengan predikit terganas hingga seperti terlihat tidak ganas tapi sebenarnya berisi manusia kanibal dan juga kasus pembantai dan perampokan dimana-mana hingga sampai Bank di daerah Swis hampir masuk dalam daftar pencurian gangster yang berutal ini beruntung tidak sempat bisa mereka mengambil apapun karena keamanan Bank Swis yang sangat jauh dari kata biasa hingga diatas kata Luarbiasa.


"Udah Gangster, Maling pula, Mang nyopet aja gak masalah kan, ribet-ribet nyolong di bank swiss dah rahu bank paling aman di dunia," Celetukan Rian membuat semua kesal.


"Heey.. Rian Lo kira, Dia orang pereman abal-abal, Ya lo pikir aja, Kalo bank banyak duitnya ngapain nyopet yang duitnya cuman sedikit mending bank... dah ada emas ada duit ada kertas saham pula Untung banyak, Aneh lo," Sahut Lorenzo lagi membuat Giovano menatap lucu begitu juga Yuda yang mendengarnya terkekeh.


Arkan hanya diam dengan wajah datarnya sibuk dengan pikirannya.


"Dan Pemimpin mereka adalah Rayhan Raxen Kakak ipar Alano, Yaa Paman Arkan, Alasan dia membuat Gadis itu tertembak hingga koma beberapa minggu adalah karena Gadis itu mirip dengan Ambar Ibu dari Arkan," ucap Giovano seketika membuat Arkan terasa terhantam batu besar yang sangat kuat hingga Arkan merasa sesak.


"Alasan jelasnya aku tidak tahu pasti tapi, Rayhan disini bersama Kita, Kalian bisa bertanya dan meminta penjelasan padanya, Aaak.. Rahangku rasanya pegal. Terlalu banyak bicara, Masuklah Bodoh," ucap Giovano dengan bahasa Indonesia yang tak lancar dan umpatan dengan bahasa Italia meminta Rayhan untuk segera masuk.


Pintu kaca itu terbuka dengan seorang yang menggandeng anak kecil wajahnya sedikit mirip dengan ibu Arkan walau laki-laki.