Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|97|. Dapatkah Kau Mencintai Aku Dengan Tulus?



Emma tidak mempersulit keadaan, memutuskan untuk segera berendam di dalam bathtub yang sudah di siapkan pelayan. Di sana sudah bertaburan kelopak mawar yang mengambang di air. Beberapa tetes minyak esensial varian mawar sudah bercampur dalam air. Membawa sensasi tenang dan merelaksasi pikiran. Kedua orang pelayan datang memijit lengan dan yang lain memijit pelipisnya pelan.


Emma yang memejamkan matanya merasa nyaman, masih menyimpan dendam pada kepala pelayan yang sudah berani berkata begitu menganggap remeh dirinya. Ia bahkan berpikir untuk mengadukan nya pada Duke Rajeev dan lihat nanti apa yang akan terjadi pada kepala pelayan paruh baya itu.


Annette pergi ke ruang kerja Egbert dengan mood buruk bergantung di wajahnya. Ia terlihat seperti seorang istri yang hampir mati kesal karena cemburu. Kedatangannya itu, hanya membuat Egbert menautkan sepasang alisnya heran. Tapi tidak begitu mempedulikan nya, Egbert lanjut membuka dokumen dan mencatat.


"Egbert"


"Eum" Tangan Egbert begitu cekatan memegang penanya ketika menulis dan penampilan seriusnya sangat menawan mata.


"Apa kau sungguh menganggap ku sebagai istri mu?"


Mata Egbert melirik sekilas kearah Annette. Tak lama, ia kembali fokus pada dokumen-dokumen yang ada di meja. Menganggukkan kepalanya, ia memberikan jawabannya yang begitu tenang, "Selama aku tidak menceraikan mu tentu saja kau adalah istri ku"


Annette mengepalkan tangannya seiring urat-urat hijau di pelipisnya mencuat menahan amarah, "Jadi kau berpikir untuk menceraikan ku?"


Mengangkat salah satu alisnya, Egbert dapat merasakan situasi wanita itu agak berbeda dari sebelumnya. Bukankah seharusnya dia dalam kondisi baik setelah mengisi perutnya dengan makanan lezat buatannya tadi?


Tapi ada apa dengan perubahan suasana yang signifikan ini?


"Tentu saja tidak" Egbert memilih untuk meladeninya dengan sewajarnya. Ia bahkan dengan murah hati menjelaskan, "Perjanjian lima tahun lalu tidak lagi berlaku karena kau sudah melarikan diri dari itu. Dan lagi aku sudah berjanji mati padamu, aku hanya menjemput kematian ku jika aku menceraikan mu"


Annette tidak merasa puas dengan jawaban itu. Memberengut kan wajahnya, ia bertanya dengan tak senang, "Apa kau menyesali janji mati yang kau ucapkan padaku tempo hari?"


"Sedikit" Egbert dengan tak berdosa nya mengangguk.


Rasa panas menjalari ke pembuluh otaknya. Membuat Annette hampir meledak oleh amarah yang tak tergambar, "Egbert, jika ku minta kau untuk jatuh cinta dalam tiga hari padaku, apa kau bersedia melakukannya?"


Annette sadar pertanyaan nya mulai terdengar tidak logis. Jelas cinta bukan sesuatu yang dapat diatur kapan datangnya. Tapi rasa cemburu dan marah yang tak terkendali, telah merusak sedikit kewarasan dalam dirinya.


Saat mendengar kata 'cinta' pergerakan Egbert seketika berhenti. Ia menjatuhkan pena nya dan mengangkat kepalanya kearah Annette yang tengah duduk di sofa. Matanya yang sedingin es, terselubung emosi yang Annette tak pasti apa itu. Tapi kelihatannya...


Itu bukan sesuatu yang baik.


"Kenapa kau tiba-tiba membahas ini?"


"Kenapa aku tidak bisa membahas ini dengan mu?" Annette melipat kedua tangannya di depan dada memasang penampilan seriusnya, "Kau sudah menganggap ku sebagai istri mu dan di dunia manusia semua istri mendambakan cinta suami mereka. Aku juga salah satunya. Jadi, ku tanyakan sekali lagi, apa kau bisa melakukannya?"


Egbert merasakan ada sesuatu yang meremas jantung nya dan itu membuat nya refleks menekan dadanya sakit.


Melihat ekspresi tertekan pria itu, Annette mengubah permintaan nya, "Lupakan waktu tiga hari. Dalam sebulan atau mungkin setahun, setelah kita terus hidup dan berbaur di bawah atap yang sama, kelak dapatkah kau mencintai aku dengan tulus sebagai istri mu?" Mempertanyakan itu, Annette dapat merasakan hatinya berdesir dalam getaran penuh harap.


Sekalipun dunia mereka berbeda dan tak peduli didepannya itu bukan manusia. Seandainya saja pria berdarah dingin itu akan mengatakan 'ya', maka ia akan siap menerima segala konsekuensi dari hubungan mereka. Ia hanya akan mengabdikan dirinya sebagai seorang istri yang akan terus mencintainya sampai akhir.


Tak peduli apa yang terjadi lima tahun silam...


Tak peduli berapa banyak penderitaan yang telah ditanggung nya...


Barangkali inilah takdir cintanya, yang memiliki pelabuhan yang sangat berbeda dengan para wanita pada umunya.


Egbert dapat merasakan sorot mata kesedihan Annette yang menatapnya penuh harapan. Tapi memikirkan kata 'cinta', itu membuat tubuhnya bereaksi tidak normal. Ia dapat merasakan jantung nya berdebar tak wajar, itu mendadak menjadi cepat. Anehnya lagi, ia mulai kesulitan bernafas dan merasakan punggungnya sudah basah akan keringat.


"Lu-lupakan" Egbert mengepalkan tangannya di meja, berusaha mengatur keganjilan yang tak wajar.


"J-jangan pernah membahas topik ini di masa depan"


"Tapi—" Annette bahkan belum menyelesaikan keluhannya. Ia melihat Egbert sudah bergerak terburu-buru pergi meninggalkan ruang kerja. Ia bersikap seperti benar-benar tidak menyukai topik yang baru saja ia bahas.


Annette mengedipkan matanya yang memanas. Hati wanitanya terasa sakit. Bagaimanapun ia hanyalah wanita normal yang ingin merasakan cinta seorang pria yang tulus terhadap nya. Ini bukan tentang rasa haus atau barangkali kesepiannya. Ini hanyalah kebutuhan psikologis nya yang mendambakan sesuatu yang romantis dan manis.


Bagaimanapun dia telah menganggap ku sebagai istrinya...


Kami berdua juga sudah menikah secara sah mengikuti adat bangsa vampir nya...


Jadi apakah terlalu berlebihan jika aku mengharapkan hal ini?


Apakah salah jika aku menginginkan cinta tulusnya sebagai seorang suami untukku?


Dalam kesendirian itu, Annette menenggelamkan wajahnya di telapak tangan dan menangis sesenggukan.