
Alunan musik menyala dan perlahan memenuhi aula pesta. Pengantar kepada dansa sudah dapat dimulai. Sebelum para hadirin dapat berdansa dengan pasangan mereka masing-masing, terlebih dulu harus dilakukan dansa utama yang datang dari pasangan tokoh utama malam itu. Putra mahkota dan istrinya.
Egbert membungkuk hormat, tangan kirinya berada di belakang pinggang dan tangan kanannya terulur kedepan menyambut Annette.
Menjilat bibir bawahnya, Annette mengulurkan tangannya yang sudah terbungkus cantik dalam sarung tangan putih, membiarkan Egbert datang mengambilnya dan mengecup punggung tangannya manis.
Menjadi perhatian semua orang, Annette tidak dapat menahan diri untuk tidak tegang.
"Rileks lah sedikit.." Bisik Egbert di telinga Annette, pada saat mereka mulai berdansa.
Annette dengan gerakannya yang kikuk, mengikuti derap kaki Egbert di lantai dansa, dengan suara rendah berucap, "Kau tau? Aku sama sekali tidak bisa berdansa"
Egbert tersenyum, tentu ia sudah mengetahui itu dari gerakan Annette yang sangat kaku, terutama bahunya yang terlalu jelas terlihat sangat tegang, "Tidak perlu khawatir. Aku akan membimbing mu"
Baru saja Egbert mengatakan itu, Annette dengan tanpa sengaja..
Krek
Menginjak kaki Egbert yang terbungkus dalam sepatu hitam megah.
Annette mengedipkan matanya, bola matanya terus bergetar takut, "M-maaf.."
Tidak ada yang mengetahui Annette baru saja menginjak kaki Egbert. Itu karena ekspresi di wajah Egbert yang sama sekali tidak berubah.
Annette sadar ia telah menginjak kaki pria itu dengan lumayan keras, tapi ia tak dapat menahan kagum nya melihat tak ada sedikitpun kerutan di keningnya atau matanya yang berkedip-kedip untuk sebuah keluhan. Seakan Egbert sama sekali tidak merasakan apapun.
Tapi tetap saja, gerakan kaki Annette yang semakin kaku itu memperburuk performa dansa mereka. Orang-orang di ruang dansa pun mulai berbisik.
"Sepertinya gosip itu benar, yang mulia putra mahkota mengambil gadis miskin sebagai mempelai"
"Lihat cara wanita itu berdansa, aku lebih baik mundur daripada mempermalukan diriku seperti itu"
"Sama sekali tidak berkelas, aku bahkan ragu dia cukup beretiket. Kenapa yang mulia harus memilih wanita seperti itu sebagai istri?"
"Ya, seperti tidak ada wanita lain saja"
"Menjadi istri yang mulia Putra mahkota, apakah itu berarti dia yang akan menjadi putri mahkota kekaisaran Merland?"
"Ugh, putri Baron masih jauh lebih pantas daripada dia"
"Hi..hi.."
Biarpun para wanita itu berbisik dan berbincang-bincang dengan suara rendah. Setiap tatapan, lirikan dan senyum meremehkan mereka dapat terbaca jelas oleh Annette dengan sekali pandang. Mau tak mau Annette menurunkan pandangannya ke bawah, merasa dirinya sudah salah menginjakkan kaki di lantai mewah ini.
"Naik ke atas kaki ku"
"A-apa?" Annette membelalak kan matanya terkejut.
"Egbert berhenti berdansa, "Cepat, naiklah"
Ragu, Annette naik ke atas kaki Egbert dan menginjak sepatu hitamnya yang mengkilap. Semua orang terbungkam dengan apa yang Annette lakukan. Mereka tidak akan menyangka putra mahkota bahkan dengan murah hati membiarkan wanita rendahan seperti itu menginjak kakinya.
Egbert tersenyum, mengangkat kakinya dengan ringan membawa Annette mengikuti ritme dansa nya. Setelah beberapa menit berlalu, tindakan Egbert datang dengan lebih mengejutkan banyak orang. Dia mengangkat pinggang kecil Annette dan membawanya berputar terbang ke udara.
Annette hampir lupa untuk takut. Hingga ketika kakinya kembali menginjak lantai dansa, baru saat itu ia tersadar bahwa tadi baru saja ia menjadi kupu-kupu sesaat yang terbang menawan ke udara.
Orang-orang membelalak kan matanya dan terperangah. Sekilas mereka seperti dapat melihat betapa putra mahkota mencintai istrinya.
Hingga dansa pun berakhir.
Dari kejauhan, Annette melihat Egbert berbincang-bincang dengan beberapa pria paruh baya. Dari pakaian mereka tampak seperti pejabat dan bangsawan.
Annette memegang perutnya merasa lapar. Melihat ke atas meja saji, makanan yang tersaji di sana terlihat sangat aneh. Ada potongan usus bakar dengan saus darah. Cup cake dengan cream putih berdarah. Manisan buah yang memerah darah dan botol-botol minuman yang jelas tak diragukan lagi itu adalah darah.
Annette menghela nafas, "Tak ada satupun yang dapat ku makan"
Hingga ketika pelayan pria lewat di depannya dengan nampan anggur, Annette dengan cepat menghentikannya.
"Berikan aku segelas"
Pelayan itu dengan sopan mengambil segelas anggur merah yang pekat dan memberikannya kepada Annette. Lalu pelayan pria itupun pergi.
Annette menggoyangkan cairan merah yang ada di gelas sambil melihat orang-orang yang ada di aula dansa. Jika melihat mereka seperti ini, mereka terlihat normal seperti manusia pada umumnya. Tapi mereka jelas adalah vampir.
Annette mendekatkan mulutnya ke bibir gelas, tepat ketika akan meminumnya. Seseorang langsung datang menghentikannya, "Jangan meminumnya"
Annette menjauhkan mulutnya dari bibir gelas dan menoleh pada madam Belinda yang baru saja menghampirinya, "Itu bukan anggur yang bisa kau minum" Wanita tua itu tampak tersenyum lembut di matanya.
Annette mengedipkan matanya menatap kearah gelas, "Jadi ini..."
Anggur bercampur darah?
Wanita tua itu mengangguk sebagai jawaban.
"Terimakasih sudah memberi tahu saya madam" Annette tersenyum sopan.
Madam Belinda mengangguk sambil membalas senyum Annette.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Annette mengangguk pelan dan madam Belinda membawanya pergi meninggalkan lantai dansa. Para pengawal yang ditugaskan Egbert untuk selalu mengikuti kemanapun Annette pergi itu, dengan sigap ikut di belakang.
Madam Belinda membawa Annette ke dapur. Sebuah ruangan yang baru saja di buat di istana.
Madam Belinda memanggil salah seorang pelayan yang bertugas di dapur, "Pergi siap kan makanan untuk putri mahkota"
"Baik madam" Pelayan wanita itupun pergi menyiapkan apa yang wanita tua itu suruh.
Bulu mata Annette berkibar saat mendengarkan madam Belinda baru saja menyebutnya dengan...
Putri mahkota?
Melihat kejutan dan ketidakpercayaan di matanya, Belinda tersenyum tulus, "Malam ini yang mulia putra mahkota sudah memperkenalkan anda secara resmi sebagai istrinya. Itu berarti anda sudah resmi menjadi putri mahkota negri ini"
Annette menggeleng dengan cepat, "Tidak, saya rasa gelar tersebut sangat tidak pantas ditanggung oleh ku.."
Yang jelas adalah seorang gadis manusia.
"Putra mahkota tampaknya sangat mencintai anda"
"..." Annette tertegun.
"Sudah lama sekali aku tidak pernah melihatnya selembut dan semanis itu dalam memperlakukan seseorang" Madam Belinda mengulurkan tangannya, pergi mengelus belahan pipi Annette yang penuh taburan perona, "Aku senang kini yang mulia menemukan tambatan hatinya yang baru..." Mata tua itu menatap lembut kearah Annette.
Tenggorokan Annette tercekat, "Sepertinya anda salah paham. Eg-bert, ah maksud ku yang mulia putra mahkota..." Annette menundukkan kepalanya, menyembunyikan kekecewaan di matanya, "Sama sekali tidak mencintai ku"