
Seorang penjahit kerajaan di datangkan ke istana bulan merah. Mengukur tubuh Annette untuk membuat gaun khusus yang nantinya akan dikenakan pada malam pesta nanti. Terbilang cukup terlambat mengingat pesta akan diselenggarakan dalam dua hari lagi. Mau tak mau tim penjahit istana mengerahkan waktu dan tenaga sepenuhnya untuk menyiapkan gaun tersebut.
Annette mulai makan teratur. Bahkan sesekali ia datang ke dapur untuk mengontrol para pelayan saat memasak. Mengomentari beberapa hal sambil mengajarkan mereka beberapa resep. Awalnya Annette pikir akan sulit berinteraksi dengan mereka. Mengingat mereka yang kaku dan tidak banyak bersuara. Tapi setelah melakukannya, begitu saja ia terbiasa.
"Jadi, selama ini kau sudah menikah tanpa sepengetahuan ku?" Anthony duduk di kursi tahtanya. Mengelus lengan kursi yang berbahan emas itu dengan matanya yang menatap dalam seakan ingin membuat hal itu selalu menjadi miliknya semata.
Egbert duduk di kursi bagian bawah, di depannya sudah ada meja yang menyediakan segelas darah sapi segar. Darah hewani favorit kaisar sementara.
"Ya, aku melakukannya" Matanya tidak ada emosi khusus. Tak ada jejak rasa bersalah. Mengambil gelas dan menyesapnya sedikit. Egbert mengetap kan bibirnya merasa itu sedikit pahit.
Mata Anthony berkilat dingin. Tangannya yang memegang lengan kursi mengepal erat, menekan rasa marahnya dalam hati. Ia sungguh menyesal kenapa dulu ia tidak membunuh saja bocah sombong itu!
"Kau tau tindakan mu ini sangat tidak sopan?" Anthony memutuskan untuk berterus terang dan lugas, "Bagaimanapun aku adalah Paman mu, kau harusnya memberitahu para tetua untuk hal sebesar itu. Kau harus ingat identitas mu sebagai putra mahkota, mengharuskan mu untuk tidak bisa sembarang menikahi perempuan acak. Tapi apa ini? Aku bahkan tidak tau dari mana istrimu itu berasal dan apakah keluarganya cukup berkelas bersanding dengan keluarga kekaisaran kita...haa"
Egbert menekuk kan sudut bibirnya, menekan senyum kecut di matanya yang menatap kedalam gelas bewarna merah pekat itu dengan pembawaan bosan, "Itulah kenapa aku tidak memberitahu kalian. Istriku seorang wanita yang hidup sebatang kara. Kalian pasti tidak akan membiarkan aku menikahinya. Itu kenapa aku menikahinya tanpa sepengetahuan kalian"
"Kau sudah tahu itu" Mata Anthony menyipit dengan senyum dingin, "Kalau begitu pergi ceraikan istri mu. Karena aku dan para tetua tidak akan pernah merestui hubungan kalian"
Egbert menatap acuh pada pria paruh baya yang sangat tak tahu diri itu, "Tidak"
"Egberttt!" Anthony menggeram marah.
Bibir Egbert berkedut dingin sebagai tanggapan.
"Paman, aku tau kau sudah tua. Itu kenapa aku harus mengingatkan mu hal ini. Aku hanya putra mahkota sementara. Segera setelah aku memiliki seorang putra sah, aku akan mengambil alih tempat mu. Jadi kalau bisa di katakan aku adalah kaisar yang sebenarnya. Jadi apapun keputusan yang ku buat, itu terserah padaku— bukan kamu"
Anthony menggertak kan giginya menekan kemurkaan nya. Jelas Egbert baru saja mendeklarasikan secara halus. Kalau dia akan datang untuk segera menyingkirkan posisinya. Anthony tidak tau apakah harus menyesalinya atau tidak. Selama ini ia berpikir Egbert hanya suka bermain-main di negri manusia dan terlalu malas bergelut dengan tahta. Tapi siapa yang mengira diam-diam bocah itu akan?
'Haa, betapa bodohnya aku!'
'Bocah tengik itu telah bermain licik dibelakang ku'
Seperti dapat membaca pemikiran pria tua itu, Egbert berucap, "Paman, aku tau kau sudah tua. Itulah kenapa aku diam-diam melakukan ini dibelakang mu. Aku memikirkan dirimu, menurutku sudah saatnya kau memiliki istirahat yang cukup"
Selesai mengatakan itu Egbert bangun dari duduknya dan tanpa kata— dia telah pergi meninggalkan tempat itu dengan postur tubuhnya yang berjalan angkuh.
Selepas kepergian Egbert, Anthony langsung meledak dengan amarah, "Sialll!"
Saat itu juga ia mengumpulkan orang-orangnya dan tanpa segan menyuruh mereka dengan perbuatan yang sangat keji, "Aku ingin kalian membunuh istri putra mahkota"
Tapi Egbert sudah lebih dulu membaca rencananya. Ia tau pamannya itu cukup pandai dalam skema, tapi belakangan ini karena faktor usia. Dia menjadi sosok yang tak sabaran sehingga membuatnya tak ayal menjadi begitu ceroboh.
Annette hanyut dan merasa begitu tenang.
Seorang pelayan datang membawa kan nya seteko teh dan kue kering. Pelayan itu meletakkan cangkir dan mengisinya dengan teh. Dari aromanya yang mengepul bersama asap putih yang melambung ke udara. Annette menghirup aroma pekat daun teh yang bercampur bunga melati. Annette mengangkat cangkir dan menyesapnya sedikit.
Annette mengerutkan alisnya dan bibirnya berkerut, "Ini terlalu manis. Lain kali gunakan lebih sedikit gula"
"Baik nona, kalau begitu saya akan pergi menggantinya dengan yang baru"
"Tidak perlu menggantinya" Annette tidak mau merepotkan pelayan itu.
"Kau bisa pergi"
"Baik, kalau begitu saya permisi"
Annette mengambil satu kue kering yang masih hangat. Agaknya itu baru saja dikeluarkan dari panggangan. Menggigitnya sepotong, rasa mentega langsung pecah di lidahnya bersama rasa susu dan madu.
"Mereka benar-benar sangat bekerja keras"
Baru-baru beberapa hari, tapi sudah dapat menyiapkan makanan dan bahkan memanggang kue. Tentu itu suatu pencapaian yang pesat.
Egbert baru saja berjalan memasuki taman. Di sana ia melihat Annette duduk di kursi taman, tampak menikmati mengenyam kue kering di mulutnya. Annette mengenakan gaun merah muda dengan rambut coklat keemasannya yang biasa tergerai kini tersanggul ke atas. Di lengkapi dengan penjepit kecil dengan hiasan bunga Peony bewarna senada dengan gaun nya.
Penampilannya yang seperti itu, membuatnya terlihat seperti seorang putri bangsawan. Egbert baru saja mengambil beberapa langkah ke depan. Awalnya ia ingin berjalan ke tempat Annette duduk, dengan santai.
Tapi pupil matanya membesar, tatkala melihat sebuah panah yang datang dari arah utara, itu melesat cepat siap mendarat di belakang Annette tepat di bagian jantungnya. Menggunakan tenaga dalamnya, secepat kilat Egbert datang mengambil panah tersebut. Annette yang baru saja menyesap tehnya, terkejut.
"Kenapa kau tiba-tib—"
Ternyata masih ada panah lainnya yang datang meluncur dari udara. Egbert melempar asal panah itu ke tanah dan secepatnya membawa tubuh kurus Annette jatuh ke tanah. Tak lupa tangannya memegang bagian belakang kepala wanita itu, agar tidak sakit saat membentur tanah berumput.
Annette masih belum pulih dari keterkejutannya. Saat mulutnya terbuka ingin menanyakan kenapa Egbert tiba-tiba menariknya jatuh ke tanah, saat itu matanya berkedip penuh kejutan dan ketakutan melihat ribuan anak panah yang berdatangan dari berbagai penjuru— mereka berjatuhan bagai sekelompok kepingan es di badai salju .
"Berlindung lah di bawah ku"
Annette dapat mendengar suara berat Egbert yang berlapis dingin es itu diliputi kecemasan yang bercampur kemarahan yang terselubung. Annette menundukkan kepalanya dan bersembunyi di bawah dada keras Egbert.
Saat itu Egbert sedang berada di atasnya, tubuh kekar nya yang terbungkus dalam jubah kebesaran itu datang kian menghimpit tubuh kecil Annette, berusaha keras melindunginya.