
"Ini kamar mu?" Egbert menginjak kan kakinya ke dalam kamar Annette yang kecil. Meskipun sempit dan tidak sebesar kamar miliknya yang di kastil. Tapi tatanannya yang teratur dan tertata benar, itu sangat enak di pandang mata.
"Ya" Angguk Annette, yang ikut masuk kedalam dan menutup pintu.
Egbert mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Memperhatikan setiap detail kamar milik pelayan darahnya.
Tak ada ranjang besar, hanya ada kasur lesehan biasa yang terletak di tengah. Di atasnya ada satu buah bantal bersama lipatan selimut yang sangat rapi. Seprai merah marun yang membungkusnya pun sama sekali tidak meninggalkan bekas kerut.
Ada lemari kecil di sudut yang letaknya berdekatan dengan jendela dengan potongan ubin kecil. Di samping itu ada pula meja rias sederhana yang lengkap dengan berbagai perlengkapan kecantikan dan perawatan wanita.
Hingga samar-samar aroma mawar susu yang manis, menyeruak lembut mengerubungi indra penciumannya, "Tempat ini tidak berbau seperti tubuh mu"
"B-bau seperti tubuhku?" Annette langsung menundukkan kepalanya ke kiri dan kanan untuk memeriksa, "Apa tubuh ku berbau asam?" Tanya Annette dengan bibi berkerut malu.
"Tidak" Egbert menatap lurus ke mata Annette, "Aroma tubuh mu hambar"
Egbert ingat ketika mulutnya bersentuhan dengan kulit tangan Annette yang mulus. Hidungnya hanya di penuhi aroma murni air dan wangi natural feminim yang dimiliki gadis tersebut.
"Tapi aroma kamar mu ini sangat harum dan manis" Itu tak lain harum mawar yang begitu semerbak bercampur dalam manis susu yang sangat memanjakan.
"Ah, itu adalah aroma parfum milik ku" Annette menunjuk kearah botol parfumnya yang ada di atas meja,"Itu parfum murah, jadi aromanya lebih cepat hilang. Mungkin karena ini ruang tertutup, membuatnya sedikit tahan lama"
Egbert berjalan mendatangi meja rias dan mengambil botol parfum tersebut. Membuka tutup botol, mencium aromanya dan matanya melirik kearah Annette, "Kemari lah"
Annette dengan polosnya memenuhi panggilan itu.
"Ada apa?"
Egbert berjalan ke belakang tubuh Annette dan matanya memperhatikan lekuk leher telanjang gadis itu yang terlihat jelas karena potongan rambutnya yang pendek.
"Anda ingin berbuat apa?" Tanya Annette yang menoleh kebelakang. Saat itu ia mendapati dada bidang Egbert yang kekar datang merapat ke punggung kecilnya yang kurus. Itu membuat sepasang mata Annette beberapa saat berkedip gugup.
Detak jantungnya berpacu tatkala pria itu membungkuk ke depan dan meraba permukaan lehernya dengan jari-jemarinya yang dingin. Itu menari dan menggelitik, membuatnya mengatup rapat bibirnya menghindari kemunculan suara yang tak diinginkan.
Pemandangan tersebut tak lolos dari retina Egbert. Membuat pria itu menekuk kan bibirnya dan tersenyum kecil, "Ternyata kau gadis yang cukup sensitif ya" Ucapnya.
Annette mengulum rapat bibirnya kedalam dan meremas jari-jemarinya dengan ekspresi wajah tertekan yang tak kuasa menanggung malu.
"Sentuhan kecil dari ku saja, bukan main kau mengunci rapat bibir mu.." Saat mengatakan itu, Egbert telah mendarat kan bibirnya tepat di ambang telinga Annette, "Apa gadis manusia selalu sensitif seperti ini hum?"
Mendapati hembusan nafas panas Egbert yang begitu kentara membelai daun telinganya, Annette tak dapat mengendalikan reaksi spontanitas dalam tubuhnya. Yang mana saat itu kedua belah pipinya telah bersemu merah dan menghangat.
Hingga Annette mendengar suara semprotan dan merasakan percikan air parfum mendarat di sepanjang leher dan tulang selangka nya.
"Aku suka aroma ini"
Tubuh Annette seketika menegang, mendapati ujung hidung Egbert yang mancung menjelajahi leher telanjangnya. Pria itu menghirup dan bernafas, membawa perasaan menggelitik yang langsung membuat Annette mengepalkan tangannya.
Sesaat ia merasa seperti kesetrum listrik— perasaan itu membuat sekujur tubuhnya seperti mati tersengat.
"Awalnya aku tidak tertarik padamu. Tapi aroma parfum ini benar-benar menggodaku"
Annette yang tanpa sadar mulai hanyut akan suasana, hanya membiarkan Egbert terus berkelana di setiap inci kulit selangka nya yang putih mulus.
"Kau.." Mulut Egbert menyapu leher gadis itu dari bawah hingga atas dengan gerakan sensual, "Mau kah kau bercinta denganku?"
"Maaf, saya hanya pelayan darah anda. Jadi anda tidak boleh meminta lebih dari itu" Ucap Annette, menegaskan garis batas yang jelas antara mereka. Dalam hati ia sempat merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya terbuai dalam godaan iblis pria itu.
Seandainya saja akal sehatnya tidak cepat kembali, mungkin ia akan kembali mengulang pengalaman bercintanya lima tahun silam dengan pria itu.
Bibir Egbert tertarik keatas, membentuk lekuk kurva tajam seiring senyum dinginnya muncul di permukaan, "Kau yakin tidak ingin bercinta denganku?"
"Tidak"
"Otot tubuhku terawat dengan sangat baik, tidakkah kau tergiur untuk menyentuhnya?"
"Tidak"
"Bagaimana dengan pengalaman baru?" Tanya Egbert lagi dengan senyum liciknya, "Aku dapat memberikan mu pengalaman yang tak terlupakan juga sebuah hal yang tak akan pernah kau rasakan dari bercinta dengan manusia, tidakkah kau merasa sedikit penasaran?"
"Tidak" Tegas Annette, yang kesekian kalinya berkata tidak untuk menolak rayuan iblis Egbert.
"Ah, sayang sekali"
Annette tertawa kecil dalam hati, mencemooh.
'Apanya yang harus di sayangkan?'
'Aku telah bercinta dengan mu lima tahun yang lalu dan telah merasakan sakit yang...'
'Betapa benar-benar tak terlupakan nya itu'
"Anda dapat tidur di sini dan aku akan tidur bersama putraku di kamarnya"
"Tidak perlu!" Egbert melipat kedua tangannya di depan dada, memandang Annette penuh minat, "Ayo, tidur bersama"
Annette rasanya sudah terlalu lelah meladeni Egbert langsung saja berucap, "Saya sudah sangat lelah dan mengantuk. Tidak ingin melayani anda lagi, jadi tidurlah dengan nyaman"
Setelah mengatakan itu, Annette pun pergi membuka pintu dan meninggalkan kamarnya. Sesaat Egbert merasa kehilangan ketika punggung kurus itu lenyap dari pandangan.
Masuk ke kamar putranya, Annette mendengar hembusan nafas naik turun Aldrich yang mengalir tenang di kamar yang hening. Malam itu, ia pun pergi tidur sambil mendekap lembut putra kecilnya.
Di pertengahan malam, Aldrich yang sama sekali tidak tidur itu, meleraikan tangan ibunya se-pelan mungkin dari memeluk tubuhnya dan diam-diam pergi berjalan keluar dari kamarnya.
Kemudian ia masuk ke kamar ibunya dan melihat seorang pria berbaring di dalam sana.
'Karena mama tidak bisa menangani pria sial*n ini, maka biar aku yang melalukannya' Sesaat mata hitam Aldrich menyala merah dalam kegelapan kamar yang hanya di susupi sedikit sinar rembulan dari luar.
Ia berjalan beberapa langkah mendekat dan berjongkok tepat di samping pria itu berbaring.
Egbert yang saat itu tidak bisa tidur nyenyak, dapat merasakan langkah kaki seseorang yang datang mendekat. Perasaan itu membawanya pada memori terkelam dalam hidupnya.
Begitu saja tubuhnya bereaksi—bergetar dan berkeringat dingin.
Aldrich mendekat kan wajah kecilnya ke leher pria itu. Ia berniat untuk menggigit pria itu dan menghisap darahnya sampai habis. Tapi sebelum ia melakukannya, ia mendapati pria itu..
"Khuk—"