Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|108|. Mantan Kekasih Yang Tak Tahu Malu



Tok..tok...


Tangan Egbert yang sibuk membolak-balik dokumen, itu berhenti saat mendengar ketukan dari pintu ruang kerjanya. Mengerutkan keningnya, ia menduga-duga siapa yang datang. Jika itu kepala pelayan Mary, wanita empat puluhan itu tengah mendekam di ruangannya melaksanakan hukuman yang tadi pagi ia berikan. Tapi jika itu Annette, wanita itu masih terlalu tak bertenaga untuk datang mengusiknya.


Mungkinkah pelayan lain?


Tapi ia tidak ada perintah apa-apa buat mereka datang.


"Masuk"


Pintu perlahan didorong terbuka dan sepasang kaki jenjang yang menawan berjalan masuk kedalam. Itu kaki yang mulus dan ramping, tersingkap jelas karena potongan pakaiannya yang hanya menutupi sebatas paha. Melihat itu, mata Egbert menggelap menyiratkan niat tajam untuk mengutuk.


"Kau masih belum pergi?"


Bibir Emma melengkung tinggi ke atas, menghidangkan senyum manisnya yang lembut. Dulu senyum itu selalu berhasil membuat Egbert takluk dan tunduk dibawah kuasanya. Membuatnya bagai pria yang diperbudak cinta, sehingga selalu datang untuk menyenangkan dan memanjakannya. Ingatan itulah, yang membuat Emma begitu percaya diri datang mendekat.


Berdiri di samping Egbert, mengalungkan tangannya dengan manja di sekitar lehernya mulutnya terbuka mengatakan, "Aku tidak punya sepeserpun uang di tangan ku. Tidak bisakah aku tinggal barang beberapa hari?"


Egbert menyingkirkan tangan telanjang, berkulit putih pucat dingin yang melingkari lehernya itu. Ia memberikan tatapan dinginnya kepada Emma, "Kau bisa langsung kembali ke Merland, tidak perlu berlama-lama di negri manusia"


Bibir Emma yang merah penuh, tampak cemberut tak senang. Ia tidak suka cara dingin Egbert dalam memperlakukan dirinya. Padahal dahulu, pria itu pernah melayaninya seperti seorang ratu dalam hatinya. Tapi kenapa...


Emma membungkuk kan tubuhnya dan tanpa malu merapatkan dadanya ke lengan Egbert. Gerakannya secara tidak sengaja sedikit seduktif, itu dapat mengundang hasrat liar pria terdalam. Tapi itu tidak berlaku bagi Egbert yang menurunkan tatapannya ke bawah, melirik tajam dengan sorotan jijik.


"Egbert, kenapa kau harus sedingin ini padaku? Apa itu karena apa yang telah ku lakukan padamu di masa lalu" Sepanjang Emma berbicara, tangannya mengusap-usap dada kekar Egbert.


Egbert mengalihkan pandangannya kearah lain. Mulutnya yang bungkam, enggan menanggapinya.


"Aku tau itu sangat tidak termaafkan. Tapi itu hanya lah kekhilafan yang ku buat di masa lalu. Tidak bisakah kau melupakan nya dan jangan memendamnya sebagai kebencian untuk ku?"


Jangan memendamnya sebagai kebencian?


Bibir Egbert samar-samar berkedut. Matanya yang acuh, sekilas menyipit dalam senyuman mengejek. Egbert tidak tau bagaimana dulu ia bisa begitu mencintai wanita tak tahu malu ini. Mungkin, itu adalah kebodohannya yang paling memalukan untuk diingat.


Annette pergi ke dapur, mengambil satu botol darah kelinci dari lemari penyimpanan. Di luar sana terlihat dingin, angin musim gugur masih belum berakhir. Itu sejuk dan dinginnya sedikit menusuk hingga ke tulang. Karena itu Annette pergi mengambil ceret dan memanaskan darah kelinci itu yang nantinya akan ia bawa kepada Egbert.


Darah kelinci selesai dipanaskan. Annette menuangkannya kedalam termos. Mengambil nampan, ia meletakkan termos dan satu gelas kosong di atasnya. Ia yakin saat ini Egbert pasti sedang bekerja di ruang kerjanya.


Karena pria itu sudah repot-repot mengkhawatirkan nya, anggaplah ini sebagai bentuk ucapan terimakasihnya pada Egbert.


Dari kejauhan, ia dapat melihat pintu ruang kerja Egbert yang terbuka. Annette sedikit mengerutkan keningnya, berpikir itu aneh Egbert tidak menutup pintu ruang kerjanya. Ketika ia hampir mendekati pintu, suara manis seorang wanita cantik, langsung mematikan langkanya. Segera Annette berbalik dan bersandar ke dinding.


"Bagaimanapun kita pernah menjadi sepasang kekasih yang penuh kasih dan cinta.." Jari-jemari Emma menari-nari dengan nakal di sepanjang dada Egbert. Tingkahnya seperti wanita cantik yang tengah merayu seorang pria yang tengah muram. Sikap nya yang genit itu, tertangkap jelas dalam retina Annette yang diam-diam mengintip dari luar.


"Dulu kau bahkan memperlakukan aku seperti ratu di hatimu. Tidak membiarkan sedikit luka pun ada tergores di kulit ku. Hari-hari berlalu dan kau hanya tau untuk memanjakan ku seperti gadis kecil.."


Bulu mata Annette berkibar dalam emosi kesedihan yang sangat. Ia tidak bisa berbohong kalau hati wanitanya tidak terluka mendengar apa yang baru saja dituturkan Emma.


Memanjakannya seperti gadis kecil?


Annette mendesah dengan perasaan kecewa yang mendalam.


'Dia tidak pernah bersikap seperti itu padaku'


'Apa itu karena baginya aku hanyalah sebatas wanita manusia yang telah melahirkan putra untuknya?'


'Bukan seorang kekasih yang perlu diperlakukan dengan manis dan hangat?'


Dalam hatinya yang berdenyut sakit, suara wanita itu kembali mengudara dengan manja nya.


"Mengenang akan itu, tidak bisakah kau memperlakukan ku sedikit lebih lembut? Jangan bersikap begitu kasar mengusir ku begitu saja dari kastil mu, um?"


Mengepalkan tangannya, Annette tidak dapat menahannya lagi. Awalnya ia ingin pergi begitu saja meninggalkan tempat itu. Tapi ia sadar, ia bukan lagi gadis muda yang lemah seperti lima tahun silam. Yang hanya tau patah hati dan menangis diam-diam. Bagaimanapun dia adalah istrinya sekarang dan wanita di dalam sana, hanyalah seorang mantan kekasih yang tak tahu malu!


Membulatkan tekadnya, Annette melangkah masuk kedalam. Kedatangannya yang tiba-tiba itu membuat Egbert mengedipkan matanya dalam kejutan.


"Ada apa kau kemari?"


Annette menautkan sepasang alisnya, "Kenapa memang nya jika aku kemari? Apa aku menganggu kalian berdua?" Sekilas Annette melirik kearah Egbert dan Emma bergantian.


Egbert menatap lurus ke wajah Annette. Emosinya tidak terungkap jelas dari sepasang matanya yang terasing, "Jangan terlalu banyak bergerak, tubuh mu masih lemah"


Annette meletakkan barang bawaannya di atas meja kopi. Saat mendengar apa yang Egbert katakan, bibir kecilnya meringkuk dalam senyum dingin, "Em, aku tau"


Nampan ditangannya kini sudah kosong. Annette membuang nya sembarang saja di sofa. Kemudian ia berjalan kearah dua orang itu. Matanya melirik kearah atasan tubuh Emma, tampak dadanya yang penuh itu menempel begitu rapat ke lengan Egbert. Annette tidak tahan untuk tidak mencibir dalam hati, akan berapa tidak tahu malu nya wanita itu.


Mengangkat kepalanya kearah Emma, Annette menyipitkan matanya dalam senyum mencemooh, "Apa begitu nyaman bagimu menempel di tubuh suami ku?"


Sepasang mata Emma terus terbuntang lebar, "Apa? Suamimu?"


Emma menoleh ke bawah, memperhatikan wajah Egbert untuk melihat reaksinya. Tapi diam nya pria itu, cukup menjawab bahwa itu adalah benar adanya.


"Jadi dia istri mu? Manusia rendahan ini?" Bibir Emma bergerak-gerak mengejek, "Haa, sungguh sulit dipercaya!"


Annette berjalan ke depan, mendekati dua orang itu. Tangannya langsung menarik kasar lengan kurus Emma menjauh dari Egbert. Tindakan nya itu terang saja membuat Emma kesal. Egbert menatap diam pemandangan itu, sekilas ia dapat merasakan jejak kemarahan Annette yang mengudara.


Annette mendorong bahu Egbert kasar, membuat kepalanya jatuh bersandar ke kepala kursi. Egbert mengedipkan matanya, menatap Annette dalam kebingungan, "Apa yang coba kau lakukan?"


Annette tidak menjawab. Ia hanya membungkuk ke bawah, mendaratkan bibirnya ke bibir dingin Egbert dan membungkam nya dengan ciuman yang sama galaknya dengan apa yang dilakukan pria itu tadi pagi padanya.


Untuk beberapa saat Egbert bergeming. Kehilangan akal sehatnya.