Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|85|. Seharusnya Kau Tidak Perlu Melahirkanku



"Jadi, bagaimana hasilnya?" Egbert pergi duduk di sofa tunggal dan mempersilahkan Robbin untuk dapat mengambil tempat di sofa satunya.


Robbin pun melabuhkan punggungnya di sofa panjang dan mengangkat tas nya ke atas meja, membukanya dan mengambil map coklat yang di dalamnya ada hasil uji paternitas, "Hasil analisa menunjukkan bahwa tiga belas alel Loci marka STR anda cocok dengan alel paternal dari Aldrich. Jadi dapat di simpulkan bahwa kemungkinan anda adalah ayah biologis dari Aldrich adalah lebih besar dari sembilan puluh sembilan persen, itu berarti jelas kalau Aldrich adalah putra biologis anda"


"..." Egbert tidak begitu terguncang akan fakta itu. Seakan ia sudah menembaknya. Hanya penampilan bocah itu yang sedikitpun tidak memiliki kemiripan dengannya lah yang membuatnya ragu. Tapi sekarang...


"Untuk lebih menyakinkan, anda dapat melihat hasilnya sendiri" Dokter Robbin menyerahkan map coklat ditangannya kepada Egbert.


"Tidak perlu" Egbert mendorong map coklat yang disodorkan kearahnya itu dan menyuruh dokter Robbin untuk meletakkan nya saja di meja.


"Dari awal yang membuat ku ragu dia adalah putra kandung ku, itu karena penampilannya yang sedikitpun tidak ada kemiripan dengan ku. Tapi setelah pengujian ini, sekarang aku dapat yakin dia adalah anak biologis ku" Egbert mengangkat salah satu kakinya dan menyilang kan nya dengan santai, "Tapi sepertinya waktu itu anda benar, penampilannya memang lebih mirip dengan almarhum kaisar terdahulu"


Yang tak lain adalah ayah kandung Egbert.


Tok..tok..


"Siapa?" Egbert melemparkan tatapannya kearah pintu.


"Ini saya Mary, tuan. Saya datang membawakan minuman untuk anda dan dokter Robbin"


"Masuk"


Atas izin tersebut, Mary mendorong pintu terbuka dan berjalan dengan sopan kedalam. Ia membawa nampan yang di atasnya ada dua gelas kosong bersama se-poci darah kelinci hangat.


"Suasana di luar cukup dingin, itu kenapa saya menyajikan se-poci darah kelinci hangat" Tutur Mary, ia sedikit membungkuk dan tangannya dengan piawai menata barang bawaannya di meja, "Silahkan!"


Mary berdiri tegak kembali sambil memeluk nampan di tangannya yang sudah kosong.


"Kalau begitu saya permisi" Mary segera pergi keluar dari ruang kerja Egbert, tak lupa sebelum itu ia menutup pintu.


"Kepala pelayan Mary memang sangat pengertian, tubuhku sungguh perlu di hangat kan" Ucap Robbin, yang sudah mengangkat poci berisi darah kelinci segar dan menuangkannya ke dalam gelas.


Padahal ia mengenakan mantel tebal di tubuhnya, tapi musim dingin kali ini terlalu mencekam dari sebelumnya. Itu menembus serat kain yang tebal hingga menusuk jauh kedalam tulang.


"Anda tidak minum yang mulia? Saya akan menuang kan nya untuk an—"


"Tidak perlu"


"Anda tidak kedinginan yang mulia?" Robbin melihat penampilan Egbert yang hanya mengenakan jubah hitam rumahan santai yang begitu tipis. Ia takjub karena Egbert sedikitpun tidak menggigil.


"Akhir-akhir ini aku mengkonsumsi darah Istriku. Itu kenapa ada sedikit perubahan suhu tubuh ku dari yang biasanya"


Sebelum sistem pengasingan di tetapkan, para vampir sama sekali tidak rentan akan musim dingin sehingga perlu berpakaian tebal seperti layaknya manusia. Namun setelah era tersebut di berlakukan, mereka mulai mengkonsumsi darah hewan yang menyebabkan banyak perubahan dalam tubuh mereka.


Yang perlahan melemah, hingga hampir memiliki temperatur suhu yang tak jauh berbeda dengan manusia. Namun bagusnya, berkat itu tubuh mereka dapat beradaptasi dengan keberadaan sinar terik matahari.


"Yang mulia, itu tidak baik. Bagaimana jika anda akan terus ketergantungan? Dan bagaimana jika tubuh anda akan memiliki respon yang berbeda saat mengahadapi sinar matahari?" Tanya dokter Robbin, sejenak ia menyesap segelas darah di tangannya dan kemudian meletakkannya di meja, "Saya mengerti darah manusia dapat memperkuat tenaga dalam kita bangsa vampir. Tapi itu akan menggangu keseimbangan tubuh yang sudah terbangun sebelumnya" Ucapnya lagi.


"Aku tau" Egbert tentu saja sangat memahami hal itu tapi...


Dokter Robbin menghela nafas pelan mendengar pernyataan itu, "Kalau begitu, anda perlu mengimbanginya. Jangan sampai berat sebelah, karena itu akan berakibat fatal bagi keseimbangan tubuh anda"


"Eum, saya mengerti"


"Ah, saya hampir lupa mengatakannya kepada anda"


"Apa itu?"


"Saya rasa anda perlu secepatnya membawa master sihir untuk memeriksa putra anda. Agar kemudian kita tau, kondisi tubuhnya saat itu apakah juga di pengaruhi keberadaan energi lain atau tidaknya"


"Baik, aku mengerti. Terimakasih untuk pengingat anda dokter Robbin"


"Sama-sama yang mulia"


......................


"Aku tidak mau minum" Aldrich memalingkan wajahnya dari jari telunjuk Annette yang sudah mengucurkan setetes darah. Ia kesal pada Annette yang menolak memenuhi keinginannya untuk pergi dari kastil besar Egbert.


Annette telah membawa Aldrich ke kamarnya. Ia mengatakan pada Aldrich kalau mereka tidak bisa kabur dari sana. Di samping penjagaan kastil yang ketat, itu juga karena Annette mengkhawatirkan kondisi Aldrich. Setelah melihat dokter Robbin datang kembali mengunjungi kastil, Annette yakin keberadaan pria tua itu ada kaitannya dengan keadaan putranya.


"Sayang, jangan seperti ini. Mama sungguh mengkhawatirkan keadaan mu. Itu kenapa mama mau kita tinggal beberapa hari lebih lama di sini. Sampai kondisi mu benar-benar membaik"


"..." Aldrich masih tetap membuang muka darinya.


"Nak, jika kita pergi sekarang dan tiba-tiba kau kesakitan seperti kemarin, mama harus membawa mu kemana? Tidak mungkin kan mama membawa mu ke rumah sakit, membiarkan orang-orang menyadari keganjilan dalam dirimu"


Aldrich akhirnya menoleh kearah ibunya, yang duduk di pinggir ranjang tepat di sampingnya berbaring, "Ini semua terjadi karena mama. Kalau saja mama tidak ceroboh berhubungan dengan vampir, maka aku tidak perlu lahir ke dunia ini dan tidak perlu terjebak dalam perbedaan sial*n ini"


Jantung Annette tersentak mendengar penuturan putranya itu. Seakan sebilah pisau tajam baru saja di layan kan tepat ke dasar hatinya, "Nak..kenapa kau tega berbicara seperti itu pada mama?" Bulu mata Annette bergetar, suaranya mulai terdengar parau dan dadanya terasa sesak.


Sekalipun Aldrich berkembang lebih cepat dari anak-anak pada umumnya, tapi pada akhirnya ia hanyalah anak kecil yang marah ketika sesuatu tidak sesuai seperti keinginannya tanpa mau mengerti atau belajar memahami situasi yang ada.


"Maa.., aku tidak suka terlahir sebagai manusia setengah vampir. Aku benci setiap kali melihat perbedaan yang terjadi antara aku dan teman-teman di sekitar ku. Mereka tiap hari memiliki bekal yang berbeda dari ibunya, tapi aku hanya memiliki hati sapi bakar yang bisa ku makan. Setiap kali mencium aroma masakan mu yang lezat, aku selalu berhasrat mencicipinya. Tapi terakhir aku hanya bisa mengkonsumsi darah mu. Aku selalu berhati-hati dengan tindakan ku di sekolah, membuat ku lebih diam dan mengasingkan diri. Maa, aku lelah dengan semua perbedaan ini.."


"Aldrich.." Bibir Annette bergetar seiring sepasang matanya yang memanas siap menangis. Mendengar ucapan putranya itu, ia tau betapa berat yang sudah di lewati Aldrich selama ini dan ia sama sekali tidak berdaya soal itu.


"Maa, seharusnya kau tidak perlu melahirkan ku"


"Aldrich, hiks.."


Brak!


Pintu di dorong terbuka.


Serentak ibu dan anak itu menoleh pada sosok yang baru saja masuk.


"Eg-bert?"