Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|34|. Dia Kabur Membawa Benihku Diperutnya



"Apa katamu?" Egbert yang malam itu sudah mengenakan jubah tidur, bersantai di kamarnya dengan segelas darah kelinci segar. Mendapati moodnya untuk menikmati minuman merah kental itu seketika sirna.


"Aah, jadi begitu" Egbert melabuhkan punggungnya ke ranjang, meletakkan gelas di tangannya ke atas meja samping tempat tidur, "Dia menyuruh mu untuk menjemputnya di rumah atapnya, tapi kau tidak menemukannya di sana"


"Iya tuan. Saya sudah memeriksa rumah itu dan nyonya sama sekali tidak ada di sana"


Bibir Egbert melekuk tajam dengan seulas senyum dingin yang mencekam, "Sebutkan alamat rumahnya, aku akan memeriksanya sendiri"


Panggilan pun berakhir. Egbert yang sejak tadi sudah menjaga ketenangannya, begitu saja berkata dengan penuh kemurkaan, "Sial!"


Prangg!


Tangan Egbert menyapu marah gelas yang ada di meja. Gelas tersebut pun pecah dan cairan merah kental itu mengotori lantai kamarnya.


"Annette" Mata hitam itu berubah warna menjadi merah menyala yang membunuh.


"Awas saja jika kau berani membawa kabur benih ku" Katanya, tampak urat-urat mencuat di keningnya dan nafasnya membumbung tinggi dengan amarah.


Mengeluarkan mobil hitam mewah miliknya, Egbert segera pergi meninggalkan kastil dan bergegas menuju rumah atap di mana Annette tinggal. Di sana sudah ada Gordon yang menunggunya. Melihat kedatangannya, Gordon membungkuk sopan dan menyapa, "Tuan"


Tampak tubuh Gordon bergetar gugup merasakan aura membunuh Egbert.


Egbert hanya melirik dingin tubuh itu dan berlalu begitu saja menuju anak tangga dan naik ke atas dengan langkah kaki panjangnya yang tak sabaran.


Sesampai di atas rumah atap itu, Egbert langsung membenci suasana kumuh yang menyambut retinanya. Hingga samar-samar hidungnya mencium aroma darah yang tak lagi asing, segera ia mencari dari mana itu berasal.


Hingga kakinya menginjak sebuah pakaian wanita yang penuh dengan lumuran darah. Itu pakaian yang cukup kumal dan dari proporsinya ia langsung tau itu milik siapa.


"Hah!" Egbert membuang nafas jengah.


"Apa kau pikir bisa membodohi ku dengan ini huh?" Begitu saja Egbert meremas pakaian yang bersimbah darah itu dan melemparnya kesal ke lantai yang berlapis semen kasar.


Egbert mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan segera menghubungi Sean. Malam itu Sean baru saja menutup buku bacaan dan hendak pergi berbaring di kasur. Sean selalu memiliki kebiasaan untuk mengaktifkan mode 'jangan ganggu', sehingga tentu saja panggilan Egbert terbiar sepi begitu saja.


Tepat setelah tiga kali menelpon tapi Sean tidak kunjung mengangkat. Egbert dengan langkah cepat menuruni rumah atap itu dan masuk ke dalam mobilnya.


"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi pada nyo—" Belum selesai Gordon bertanya, ia mendapati mobil hitam mewah itu sudah berambus pergi dari pandangannya.


"Hah, sebenarnya ada masalah apa antara suami-istri itu?" Tanya Gordon pada dirinya sendiri. Berbeda dengan para pelayan di kastil, ia sama sekali tidak mengetahui perkara kesepakatan yang dilakukan Annette dan Egbert.


......................


Parker pada awalnya hanya ingin mengantarkan gadis yang hamil muda itu ke departemen kandungan, mengikuti nuraninya sebagai sesama manusia yang sudah seharusnya saling membantu.


Tapi tidak tau kenapa kakinya tidak dapat melangkah pergi dari tempat itu dan malah menunggu di luar ruang operasi dengan harap-harap cemas. Hingga kedua pintu terbuka dan seorang dokter wanita dengan pakaian perangnya yang bercipratan darah datang bertanya, "Apakah anda suaminya?"


"Bukan" Parker menggeleng, "Saya seseorang yang membawanya kemari"


"Ah, kalau begitu apakah anda bisa membantu menghubungi keluarga pasien?" Tanya dokter wanita itu yang tentu saja membuat Parker terdiam bingung.


Gadis itu tidak membawa apapun. Kartu identitas, dompet dan bahkan ponsel. Bagaimana cara ia dapat menghubungi keluarganya?


"Bayinya lahir prematur dan sekarang sudah berada di tabung inkubator. Hanya kondisi ibunya kritis karena kehilangan banyak darah. Kami harus segera mengambil tindakan, karena itu kami membutuhkan keluarga pasien untuk segera mengurus administrasi tambahan" Ucap dokter tersebut.


"Saya akan mengurus administrasi nya" Begitu saja kalimat itu keluar dari mulut Parker.


"Baik kalau begitu" Dokter tersebut mengangguk dan segera kembali ke ruang operasi. Karena rumah sakit memiliki persediaan kantong darah, Annette pun dapat dengan mudah tertolong malam itu.


Di samping itu Egbert sudah menuju ke kediaman Sean. Ia langsung menekan tombol-tombol memasukkan kata sandi dan pintu pun terbuka. Sean yang memiliki alarm tubuh yang sangat bagus, seketika terperanjat dari tidurnya merasakan seseorang masuk kedalam apartemennya.


Ia pun segera turun dari ranjang, mengikat tali jubah tidurnya dan berjalan keluar dari kamar.


"Kenapa kau datang larut malam begini ke apartemen ku?" Sean tidak pernah menduga itu adalah Egbert. Ia melabuhkan punggungnya malas ke sofa dan menyuguhkan tatapan kesalnya pada Egbert, "Jika ada hal penting pun kita dapat membicarakan besok. Aku harus segera beristirahat sekarang karena besok aku ada jad—"


"Gadis manusia itu kabur" Potong Egbert yang terlalu malas menggubris perkataan Sean.


"Maksudmu?" Sean menautkan sepasang alisnya bingung.


"Gadis itu melarikan diri dan membawa benih ku pergi bersamanya"


Sean dapat merasakan atmosfer ruangan yang seketika mencekam dan temperatur suhunya yang menurun drastis hingga ia tak tahan untuk tidak menggigil.


"Maksudmu Annette?" Ucapnya kemudian.


Egbert tak mengangguk. Tapi keheningan nya yang suram adalah jawaban.


"Tapi bukannya gadis itu masih belum melahirkan, bagaimana bisa dia—"


"Dia kabur dengan membawa benih ku di perutnya. Harus berapa kali ku katakan?"


Sean mengulum rapat bibirnya dan tidak berbicara beberapa saat. Itu sungguh tak terduga. Beberapa hari yang lalu hubungan suami-istri itu baik-baik saja. Tapi kenapa mendadak ia mendengar kabar ini?


"Katakan padaku, apa kau sungguh memperlakukannya dengan baik sejauh ini?"


"Em" Angguk Egbert dengan tatapan dingin.


"Apa kau yakin?"


"..." Egbert tak bersuara. Hanya menatap diam Sean.


"Ya maksud ku, jika kau sungguh memperlakukannya dengan baik tapi kenapa gadis itu melarikan diri darimu?" Itulah logikanya. Karena sejauh yang ia tau, hampir semua gadis manusia umumnya sangatlah rentan akan perhatian dan kasih sayang.


Jadi Sean cukup yakin, jika dua hal itu benar-benar di praktekkan Egbert dengan baik, harusnya Annette sudah terikat dengannya. Tapi kenapa...


"Coba kau ingat-ingat lagi, apa kau melakukan kesalahan?" Ucap Sean.


"Apa menurutmu itu penting sekarang?" Egbert terdengar kesal.


"Gadis manusia itu masih belum melahirkan anakku, tapi dia sudah membawanya pergi begitu saja. Hah, padahal sedikit saja rencana ku akan berhasil, tapi beraninya gadis itu melakukan ini padaku" Tangan Egbert terkepal erat, tampak jelas pria itu sangat marah pada Annette yang hamil anaknya dan kini melarikan diri begitu saja.


"Aku tidak mau tahu. Kau harus mencari gadis manusia itu sampai dapat!" Titah Egbert, "Atau kalau tidak, izin mu dari dunia manusia akan ku cabut"


"A-apa?" Sean memberontak keras ide itu. Yang benar saja, izinnya di cabut?


Egbert terus bangun dari duduknya dan begitu saja pergi meninggalkan apartemen Sean.