Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|143|. Kenapa Aku Tidak Bisa Bersandar Padanya?



Puluhan pria dengan pedang tajam di tangan keluar dari setiap sudut ruang. Mereka berdiri dengan ancang-ancang siap untuk menyerbu. Annette yang melihat itu langsung saja menjadi takut. Meraih lengan Egbert, dia berbisik, "Apa mereka akan menyerang kita?"


Egbert tidak menjawab, memegang tangan Annette dan menepuk nya pelan untuk menenangkan.


"Sergap mereka" Titah Anthony.


"Siap paduka"


Sekelompok pria dengan pakaian besi itu berlari mendatangi Egbert, Annette, Sean dan Aldrich.


Insting keibuan Annette, menggerakkan nya untuk berbalik dan berteriak, "Aldrich cepat kemari nak.."


Dia hampir saja berlari, tapi Egbert menahan pergelangan tangannya.


"Egbert" Annette mencoba menarik tangannya.


Egbert tetap menahannya, "Tenang lah"


Sean tidak menduga keributan itu akan terjadi. Dia memang sudah menebak Anthony tidak akan menyerahkan tahta nya dengan mudah. Tapi dia tidak akan mengira pria tua itu akan mengutus segerombolan orang untuk menyergap mereka.


"Egbert, ini diluar rencana. Apa yang harus kita lak—"


Pyassh!


Arghh..


Sean mengatupkan mulutnya.


Annette yang dari tadi mencoba memberontak untuk pergi ternganga melihat apa yang telah di lakukan putra kecilnya.


Egbert tidak akan memprediksi hal itu akan terjadi. Tapi dia tersenyum puas.


'Itu bagus memiliki putra yang hebat'


Aldrich memutar kedua tangan nya membuat bulatan api sebesar bola kaki. Setelahnya dia menghempasnya kearah orang-orang yang mencoba datang menyerang.


Arghh..


Orang-orang tersebut menjerit. Mereka mencak-mencak mencoba memadamkan api yang melekat di tubuh mereka.


Anthony yang melihat itu tercengang.


'Tidak mungkin'


'Bagaimana bisa bocah busuk itu..'


"Putraku, lakukan sedikit lebih cepat!" Ucap Egbert. Matanya tersenyum menatap Anthony yang mulai linglung di posisi duduknya.


Annette belum pulih dari keterkejutannya, hanya semakin bingung ketika melihat putranya mengeluarkan bola api besar dari tangannya untuk menyerang segerombolan pria berpakaian besi itu.


"Apa kau memerintah ku?" Aldrich terdengar tak senang.


"Bukan begitu. Tapi pikir kan lah kondisi mama mu, dia sangat ketakutan sekarang"


Aldrich melihat raut wajah ibunya yang mematung di tempat itu terlihat pucat, "Maa, jangan khawatir. Aku akan segera menyelesaikan ini dengan cepat"


Selesai mengatakan itu, Aldrich melempar bola-bola api ke setiap sudut ruangan. Itu berhasil membakar tirai jendela, lemari kayu yang ada di sampingnya dan meja yang berada di dekat kaisar duduk.


Sontak Anthony terkejut.


"Api..api.."


Segerombolan pria yang berpedang itu tak lagi berpikir untuk menyerang. Mereka hanya sibuk memikirkan cara untuk pergi dan memadamkan api.


"Huk..huk.."


Anthony mulai terbatuk-batuk melihat api yang kian besar melahap meja itu mengepulkan asap.


"Sean, laporkan ke departemen keamanan sekarang! Kalau sudah terjadi pemberontak di Istana kekaisaran"


Sean mengangguk dan segera pergi dari tempat itu.


......................


Akhirnya kaisar Anthony di tangkap dan di tahan di penjara khusus bagi para pemberontak. Anthony merasa sangat marah. Tapi dia tak berdaya. Karena bukti nyata sudah ada di hadapan. Sekelompok pasukan yang di utus nya untuk menyerang putra mahkota pun ikut di tahan bersamanya.


Kursi kaisar tidak boleh di biarkan kosong begitu lama. Malam itu juga Egbert langsung di nobatkan sebagai kaisar dan mendapatkan apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya.


Itu adalah malam panjang, dengan serangkaian pergantian yang cepat lagi melelahkan.


"Putraku, kau telah melakukan hal yang bagus malam ini" Puji Egbert dengan murah hati.


Aldrich ber-decih, "Aku tidak melakukannya untukmu. Aku hanya mengkhawatirkan mama, itu kenapa aku melakukan semua itu"


Annette bertekuk lutut di lantai dan memegang ke dua tangan putranya, "Nak.. bagaimana bisa tangan mu.."


Aldrich tersenyum, "Maa, aku melindungi mu lebih baik dari pria sial*an itu. Ke depannya kau cukup bersandar padaku saja"


Wajah Egbert langsung berubah menjadi gelap mendengar apa yang di katakan putranya. Terlebih cara Annette menjawabnya, itu semakin memperburuk suasana hatinya, "Istriku, aku suamimu. Kau hanya boleh bersandar padaku"


Annette yang mendengar keluhannya tersenyum kecil dan menoleh kearah Egbert, "Putraku cukup kuat, kenapa aku tidak bisa bersandar padanya?"


"Istriku.." Wajah Egbert menjadi lebih gelap daripada malam.


Annette tertawa dan membiarkan Egbert tenggelam begitu saja dalam ketidakpuasan.


Sean menggelengkan kepalanya, melihat bagaimana ayah dan anak itu memperebutkan perhatian seorang wanita. Memijit pelipisnya, dia menghela nafas berat, 'Mereka ini benar-benar..'


Sean mendatangi Egbert dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas putih yang diikat dengan pita kuning.


"Putramu telah menguras habis tabungan ku. Jadi kau harus menggantinya" Sean menyerahkan gulungan kertas itu kepada Egbert.


"Apa ini?" Egbert menaikkan salah satu alisnya.


"Buka saja"


Egbert menarik pita kuning tersebut dan membuka gulungan. Dia melihat apa yang tertulis di sana dan mengerutkan keningnya bingung, "Apa yang sudah dia beli dengan pengeluaran sebesar ini"


"Tanyakan saja pada putramu. Yang jelas aku ingin uang ku kembali" Tuntut Sean.


Tadi pagi dia pergi menjemput Aldric dan mengurus cutinya hingga sebulan. Tapi sebelum pergi, pihak sekolah menahannya dan menyerahkan selembar kertas tagihan.


Ketika Sean melihat seberapa banyak itu, matanya langsung terbuntang lebar.


Lima ratus koin emas???


Itu jumlah yang sangat banyak.


Barangkali itu bukanlah hal yang besar untuk tuan muda dengan latar belakang bangsawan sepertinya. Tapi dia sudah lama meninggal kan kediaman nya. Setiap kali kembali ke Merland, dia selalu memilih tinggal di penginapan alih-alih pulang ke rumah.


Dia memiliki banyak tabungan di dunia manusia karena bekerja, tapi di Merland tabungan hanya terus berkurang setiap kali di datang untuk menginap. Karena ayahnya benar-benar sudah memotong habis pengeluarannya.


Yang menyedihkannya, hanya tersisa lima ratus koin di bank dan itu sepenuhnya kosong sekarang karena membayar tagihan pembayaran Aldrich.


"Sean"


"Ya?"


"Seperti apa putraku bagi mu?"


Sean mengerutkan keningnya, berpikir.


"Karena hubungan mu dengan ku sudah sedekat ini, ku pikir dia sudah seperti keponakanku"


Egbert tersenyum, "Jika begitu, berarti bagi putraku kau adalah pamannya. Sebagai paman, apa pernah kau memberinya sesuatu sebagai hadiah?"


Sean mendapatkan firasat yang buruk, "Tidak pernah"


Senyum Egbert semakin lebar, "Kalau begitu anggaplah tagihan ini sebagai hadiah mu untuknya"


Sean membelalak kan matanya.


"Hah" Sean menghela nafas kasar.


"Egbert, ku pikir kau sangat kaya. Tapi masih menguras kantong orang miskin seperti ku. Lupakan! Bocah itu tidak menganggap ku paman nya. Jadi bayar saja uang ku kembali"


Mendengar itu Aldrich langsung berseru, "Paman Sean!"


Egbert menahan bibirnya untuk tidak tertawa.


"Lihat! Dia menganggap mu sebagai pamannya"


Sean menggertak kan giginya. Raut wajahnya terlihat asam.


"Sebagai paman, haruskah kau hitung-hitungan seperti itu dengan keponakan mu sendiri hum?"


Sean mengepalkan tangannya.


'Itu adalah lima ratus koin'


'Hitung-hitungan katanya?'


"Aku akan cuti selama sebulan. Jadi jangan ganggu aku"


Seperti itu, Sean langsung bergegas pergi dari sana.


Annette tertawa kencang.


"Nak, kau memang nya beli apa dengan pengeluaran sebesar itu?"


Aldrich mengulum senyum di bibir dan berbisik di telinga ibunya, "Sesuatu yang membuat si sial*n itu mengakui perasaannya pada mama.."