Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|71|. Pengakuan Yang Sangat Tidak Terduga



Annette menjepit sepasang alisnya, dengan perasaan tertekan ia menoleh ke belakang. Ia melihat Egbert berdiri memasang ekspresi dingin acuhnya yang seperti biasa. Sesaat Annette membuang nafas berat.


"Sayang, tentu saja mama akan memilih kamu" Ucap Annette pada akhirnya, menekan pundak kecil Aldrich dengan nada membujuk ia kembali berujar, "Jadi, sekarang kamu ikut mama pulang ya?"


"Mama, memilih aku?"


"Eum, apapun itu kamu adalah satu-satunya buat mama"


"Kalau begitu usir orang itu pergi. Aku tak mau melihatnya lagi ada di rumah kita"


Annette mengedipkan matanya, bingung harus berekspresi seperti apa. Walau jujur saja, ia merasa sedikit lucu melihat Aldrich bersikap demikian.


Egbert yang mendengar luapan amarah anak kecil itu, megedutkan bibirnya dalam seringai mencemooh. Namun enggan berkomentar apa-apa.


"Eum, kau tak akan melihatnya lagi di rumah kita. Karena dia akan kembali ke rumahnya sendiri" Annette mengulurkan tangannya ke kepala Aldrich dan mengusapnya lembut. Rambut kuning jagung putranya, terasa sangat halus di telapak tangannya.


"..." Aldrich mengangkat kepalanya, menatap jauh ke dalam mata ibunya. Mencari kebenaran dan kepastian dari kata-katanya.


"Sekarang kita pulang ya?"


Pelan, Aldrich menganggukkan kepalanya. Menurut untuk pulang.


Baru saja Annette tersenyum senang, lega karena sudah berhasil membujuk Aldrich. Tapi bibirnya seketika membeku, memadamkan senyuman nya. Sepasang bola mata hitamnya membesar, nyaris melompat keluar tatkala melihat hidung putranya meneteskan darah segar yang pekat.


"Nak, kau mimisan.." Itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Terang saja Annette menjadi panik. Ia selalu takut jika Aldrich sakit meski barang sedikit, itu karena putranya ada campuran gen vampir. Dengan kondisi tersebut, ia tidak mungkin membawanya ke rumah sakit sehingga menimbulkan kecurigaan orang-orang.


Mata Egbert mengerut dalam, tatkala melihat setetes darah kental bewarna merah kehitaman yang pekat meluncur dari lubang hidung bocah kecil itu. Tapi aroma yang mengetuk indra penciumannya, membuatnya pusing karena kebingungan memproses apakah itu benar darah manusia?


Darahnya beraroma sedikit murni. Lezat seperti rusa kecil, tapi semakin menciumnya, itu tak ubahnya seperti darah bangsanya yang menguarkan aroma dan jejak rasa pahit garam Inggris.


'Aku tidak pernah menemukan aroma darah manusia yang seunik ini'


"Maa, aku pusing" Aldrich memegang kepalanya yang mendadak terasa berat.


"P-pusing?" Annette mulai gelagapan saking paniknya. Karena tak punya sepotong kain pun di tangan, ia pun menarik kain pergelangan jaketnya dan mengelap darah yang menetes dari lubang hidung Aldrich.


"Maa, pusing maa.." Aldrich yang tidak pernah merengek ketika jatuh dari kursi atau terpeleset karena berlari, tapi kali ini ia melakukannya.


"D-diman nya yang pusing um? Sini bilang sama mama, di mana?" Suara Annette terdengar bergetar seiring bulu matanya yang berkibar risau tak karuan.


"Di sini maa, di sini.." Aldrich memegang sebagian kepalanya dan bibirnya yang sebelumnya merah segar sedikit demi sedikit memucat.


"D-disini? Kalau begitu mama pijitin ya" Annette sebenarnya sangat bingung mau melakukan apa. Tapi tepat ketika ia mengulurkan tangannya hendak memijit kepalanya putranya, namun...


"Sakit maa, sakit— argghh"


Aldrich melompat ke tanah yang berlapis rerumputan, memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan berguling-guling dengan begitu menyedihkan.


"Aldrich.." Bibir Annette bergetar dan matanya mulai berselimut kabut panas.


"Cepat gendong putramu, kita bawa dia ke rumah sakit" Aldrich bukan pribadi yang suka bersimpati pada orang lain terlebih manusia. Tapi kepada orang-orang yang bekerja setia di bawahnya, ia akan memperlakukan mereka dengan perawatan yang sangat baik.


Karena Annette adalah pelayan darahnya, wanita itu akan menjadi salah satunya.


"T-tidak, dia tidak boleh dibawa ke rumah sakit" Annette menggelengkan kepalanya tak menentu, dalam kepanikan dan kegelisahan, ia mulai tak tau harus berbuat apa pada putra kecilnya yang sedang sangat kesakitan.


"Putramu sudah seperti itu tapi kau masih berkata tidak?" Egbert menautkan sepasang alisnya tak mengerti, "Jika kau tidak punya uang, aku dapat mengurus biaya pengobatannya"


Annette terhenyak dengan penawaran murah hati Egbert yang meluncur dari mulutnya yang selalu nya apatis setiap kali berbicara.


"Tunggu apa lagi, cepat gendong putramu!"


'Sepertinya aku tak punya pilihan lain'


"Dia boleh di bawa pergi ke rumah sakit" Ucap Annette kemudian. Matanya yang bergetar sedih, pergi menatap pada Egbert tak berdaya, "Selama dokter yang menanganinya bukan manusia"


Egbert mengerutkan keningnya, membentuk lapisan dalam yang berlipat dan bingung, "Apa maksud mu?"


"Egbert"


"..." Mata Egbert berkedip. Untuk sesaat suara gadis itu begitu familiar di telinganya ketika memanggil namanya begitu langsung dan tanpa segan.


"Putraku itu.." Walau mulai memantapkan hati untuk mengakui, tetap saja berat rasanya.


"Maa..sakitt maa...s-sakitt arrghh"


Jeritan kesakitan Aldrich kian membuat Annette tak berdaya. Bagaimana jika ada suatu pergolakan dalam tubuh Aldrich yang tidak dapat di tangani dokter manusia? Bukan tak mungkin mengingat perpaduan gen yang dimiliki putranya itu.


"Puff" Aldrich memuntahkan seteguk darah ke tanah.


Seketika wajah Annette memucat pasi, detak jantungnya melambat serasa dunianya mulai berhenti berputar. Bibirnya yang bergetar teringin sangat mengucapkan kebenaran tapi hatinya berat.


"Puff" Sekali lagi Aldrich memuntahkan seteguk darah dan tubuh kecil itu mulai tampak lunglai tak ber-maya.


Derai air mata merembes ketika Annette melihat pemandangan itu. Sekujur tubuhnya berguncang, ingin ia berlari menarik tubuh kecil itu kedalam dekapan, tapi mendapati sepasang lututnya me-lemas. Membuat gravitasi nya terus jatuh ke tanah.


Meremas jari-jemarinya, ia menekan segala egonya dan mengangkat pandangannya lurus kearah Egbert.


"Egbert" Panggilnya sekali lagi.


"..."


"K-kau" Bibirnya bergetar, air mata bercucuran dan memantapkan hatinya untuk melanjutkan, "Kau adalah ayah dari putra ku"


"..." Egbert mematung di tempat.


"Jadi ku mohon padamu, cepat selamatkan putra kita.."


"..." Egbert masih sulit memproses hal-hal yang terasa menggebu dan sedikit sulit di cerna akalnya. Pengakuan gadis manusia itu membuat aura gelapnya menguar lebih banyak keluar.


"Cepat panggil dokter dari negerimu untuk menanganinya. Cepatlah.." Buru Annette. Melihat reaksi Egbert yang begitu lambat, ia nyaris mati karena kehilangan kesabaran.


"Kau adalah.." Mata Egbert berkerut tajam, menatap Annette seakan membidik rusa kecil di hutan.


"Aku Annette"


Tidak ada lagi yang perlu di sembunyikan. Annette melepas wig hitam pendeknya dan rambut coklat keemasannya yang panjang jatuh tergerai menjuntai ke pinggang.


"Istrimu"


"..." Seketika sepasang mata Egbert membesar penuh kejutan.


"Gadis manusia yang kau paksa menjadi pengantin mu— untuk mengandung dan melahirkan seorang anak.."


"..." Rahang Egbert mengeras.


"Itu adalah aku"


......................