
Egbert menatap Annette dalam keheningan. Ia tampak menghela nafas berat dan berucap, "Entahlah"
"..." Bola mata Annette bergetar besama genangan air yang hampir meluap.
"Aku tidak lagi mau peduli soal cinta. Lagipula kau tenang saja, semenjak janji mati yang telah ku ucapkan pada mu hari itu. Aku akan terus memperlakukan mu sebaik yang aku bisa, untuk membuatmu bahagia hidup sebagai istriku.."
"Bahagia katamu?" Suara Annette serak dan penuh gejolak emosi kesedihan yang sangat, "Bagaimana aku bisa hidup menjadi istri yang bahagia sedang aku tidak mendapatkan cinta suamiku.. hiks" Selesai mengatakan itu, Annette membekap rapat mulutnya dan tangisnya pecah. Bulir air mata begitu saja meluncur, membasahi pipinya seperti gerimis. Isak suaranya yang biarpun teredam oleh telapak tangan, tapi Egbert dapat mendengarnya.
Sepasang bahunya ikut berguncang seiring tangisannya, itu membuatnya semakin menyedihkan.
Mata yang Egbert menatap itu, seperti tidak berekspresi. Mulutnya yang terkatup rapat, seakan ia tidak memiliki apapun yang harus dikatakan lagi.
"Tidurlah...ini sudah larut" Hanya itu yang Egbert ucapkan, di penghujung malam sebelum tidur dan Annette yang akhirnya berbaring bersama derai air mata yang belum berhenti.
Di sisi lain, di istana kekaisaran. Kaisar sementara terlihat murka mengetahui orang-orang suruhannya gagal melakukan perintahnya. Menjelang tengah malam, mereka kembali di kirim untuk melakukan aksi tersebut sekali lagi.
Tapi mereka kembali dengan sia-sia dengan kabar bahwa putra mahkota sudah membawa istrinya pergi meninggalkan kediaman.
Anthony yang duduk di sofa, menghabiskan seteguk anggur merah demi seteguk untuk menanti kabar yang bahagia. Hanya berakhir dengan suara teriakan penuh kemurkaan ketika mendengar kabar tersebut, "KELUARRR"
CRANG!
Botol anggur di lempar dan pecah. Cairan merah langsung mengotori karpet bewarna hijau tua. Malam itu Anthony pun tidak dapat tidur nyenyak memikirkan kursi tahtanya yang seakan siap direnggut darinya.
Awal pagi buta sekali, Egbert dan Annette sudah bergegas pergi meninggalkan penginapan dan kembali ke istana bulan merah. Sesampai mereka di sana, berbagai dekorasi sudah selesai. Hanya tinggal menunggu pesta yang akan di selenggarakan malam nanti.
Egbert mengerahkan para pengawal bayangan untuk berjaga-jaga di setiap sudut istana dan menyisakan satu yang khusus untuk mengikuti kemanapun Annette pergi. Terkecuali kamar dan sudah tentu kamar mandi.
Para pelayan membawa Annette ke dalam bak mandi dan membuat nya berendam dalam air susu yang bercampur madu. Sebagian dari mereka pergi memijat tubuhnya lembut dan yang lain mencuci rambut panjangnya. Pemandian tersebut berlangsung begitu lama hingga Annette tanpa sadar tertidur.
Bangun-bangun, Annette mendapati dirinya sudah berbaring di atas ranjang dengan jubah mandi membungkus rapat tubuhnya. Para pelayan yang sedari tadi menunggu, langsung membantunya bangun dan mencuci mukanya. Salah seorang dari mereka datang membawa kan gaun yang baru saja selesai dijahit, "Yang mulia menyuruh kami untuk segera menyiapkan anda sebaik mungkin sebelum senja berakhir"
Annette menoleh kearah jendela yang tirai nya tersingkap, melihat hari sudah sore dan sudah akan mau senja.
"Silahkan nona anda mengenakannya" Mereka memperlakukannya dengan sopan tapi tidak sampai membuat penghormatan khusus.
Seakan mereka berpikir, dirinya yang merupakan seorang manusia, seperti tidak pantas menduduki posisi sebagai istri putra mahkota vampir.
Annette mengambil gaun tersebut dan menyuruh mereka berbalik. Dia pun langsung mengenakannya. Setelahnya para pelayan langsung datang untuk menyempurnakan penampilannya. Hal yang paling membuatnya tertekan, saat bagian seperti korset di tarik dan diikat kencang, itu membuatnya merasa agak sesak.
Berdiri di hadapan cermin, dia dapat melihat betapa ramping pinggangnya di dalam balutan gaun merah menyala itu.
Pelayan menarik nya duduk di atas kursi dan mulai merias wajahnya. Rambut coklat keemasan nya di gelung tinggi ke atas dalam sanggul bulat yang rapi. Penjepit dengan kelopak mawar semerah darah di tusuk dan mahkota dengan untaian mutiara putih di letakkan di atas kepalanya.
Wajahnya yang pucat sudah dipoles dengan pemerah pipi dan bibir kecilnya yang seperti ceri merah itu menjadi lebih gelap seperti darah dengan gincu yang di poles tebal.
Segala proses yang sangat melelahkan itupun selesai tepat ketika senja sudah berakhir. Para pelayan pun bubar, tersisa Annette seorang yang menatap pantulan dirinya di cermin, "Apakah ini aku?"
......................
Malam harinya pesta yang meriah pun sudah berlangsung. Para tamu mulai mengisi dan memenuhi aula pesta. Mereka semua menunggu pasangan tokoh utama yang masih belum menunjukkan diri. Sembari menunggu, mereka berdiri dengan segelas anggur bercampur darah yang di bawa oleh para pelayan yang berkeliling membawa kan minuman tersebut bagi para tamu yang hadir.
Perbincangan terkait siapa gerakan istri putra mahkota pun mengalir. Hingga ketika terdengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga, keributan kecil pun berangsur-angsur lenyap berganti menjadi keheningan.
Mereka menoleh kearah tangga dan melihat sepasang kekasih yang berjalan menuruni anak tangga dengan kemesraan yang mempesona. Pria yang berdiri dengan tegap, tangannya pergi melingkari pinggang wanitanya dengan intim. Di samping itu sang wanita, tangannya pergi merangkul lembut lengan kokoh prianya.
Malam itu Egbert mengenakan jubah kebesarannya yang bewarna hitam bercampur merah yang mewah. Rantai emas dan bros telah tergantung elegan pada tempatnya. Tak lupa deretan kancing berbahan dasar kristal, itu tampak mengkilap menyempurnakan penampilannya. Wajah tampan yang sedingin es dan tatapan matanya yang setajam bidikan elang.
Membuat tetamu wanita lajang, sesaat menahan nafas.
Annette pun tak kalah mencuri perhatian para pria.
Mengenakan gaun merah yang ramping hingga ke pinggang dan mengembang menawan ke bawah. Membuat tiap gerakannya seperti hentakan sayap kupu-kupu yang berkepak-kepak anggun. Sulaman benang emas hingga batu Ruby semerah darah yang tersemat, menjadikan penampilannya terlihat elegan.
Tusuk mawar merah di rambut sanggul nya, menjadikannya tampil menyala dan berani. Mahkota mutiara yang bertahta di kepalanya, berhasil membuat para gadis merasa iri. Perona merah pipinya telah menyempurnakan keberadaan kulit pucat nya yang mulus. Bibir kecilnya yang memerah itu begitu gelap, tampak seperti tergenang dalam kolam darah.
Tetamu pria lajang, menelan saliva mereka saat merasa begitu berhasrat menggigit bibir kecil semerah darah itu.
Egbert tanpa sengaja menangkap salah seorang dari mereka, matanya pun langsung menggelap dengan hasrat membunuh.
Mereka menyadari itu, menggigil di tempat dan langsung memalingkan pandangan kearah lain.
"Kenapa kau berhenti?" Tanya Annette. Hanya tinggal beberapa anak tangga lagi mereka akan segera berdiri di lantai bawah.
"Annette, lihat kemari!"
Annette pergi mengarahkan pandangannya kepada Egbert.
"Mendekat lah!"
Annette memajukan wajahnya, "Ada apa?" Annette bertanya dengan suara rendah. Dia pikir Egbert akan membisikkan sesuatu di telinganya.
Tapi... Hal tak terduga terjadi. Egbert mengikis jarak di antara mereka dan bibir dinginnya menekan bibir kecilnya.
Bulu mata Annette berkibar dalam kejutan.
Para tetamu yang menonton di bawah sana, beberapa terperangah, sebagian nya menahan sesak nyaris akan menjerit, dan sisanya berkedip-kedip dalam kejutan.
Mulut Egbert bergerak cepat melahap bibir kecil Annette, menghapus gincu merah darah yang di poles di sana. Setelah puas menghapus, Egbert menarik bibirnya menjauh dan berbisik, "Pemerah bibirmu harus ku hapus, itu terlalu menggoda"
Blush!
Seketika wajah Annette bersemu merah. Di mata Egbert, itu cukup menggemaskan.