Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|76|. Kenapa Kau Mengikat Ku?



Segala aktivitas di kastil sudah berakhir saat menjelang pukul sebelas malam lewat. Para pelayan sudah pergi tidur begitupun Mary yang tak lagi meneruskan mencatat rincian anggaran bulanan di buku catatan pengeluaran.


Robert sudah lama pergi beristirahat karena besok ia harus segera kembali ke negri Merland. Annette entah pingsan entah pula tertidur, yang jelas ia sama sekali tidak sadar dengan kedua tangannya yang terikat ke tiang ranjang.


Seluruh kastil sudah gelap, hanya ruang kerja Egbert yang masih menyala benderang dengan lampu. Lambat menit berlalu, Egbert yang duduk di meja kerjanya masih tekun membaca buku tebal terkait sistematika pemerintahan negri Merland. Keningnya berkerut tajam dengan sorot mata dalam yang serius.


Hingga tepat pukul dua belas malam tepat. Egbert menutup bukunya. Memijit pelipisnya dan matanya terasa lelah ter-ingin segera tertidur. Ia pun mematikan lampu ruang kerjanya dan pergi ke lantai dua tepat di mana kamarnya berada.


Menyingkap kelambu putih, Egbert melihat Annette yang berbaring dengan kedua tangan terikat ke tiang ranjang. Terdengar deru nafasnya yang melaju rendah dan tenang, menggema di ruang yang hening. Egbert pergi mengganti bajunya menjadi jubah tidur hitam longgar dan kemudian naik keatas ranjang.


Meletakkan posisi kepalanya senyaman mungkin di atas bantal, ia memiringkan kepalanya ke samping, menghadap wajah kuyu Annette yang masih tetap terlihat cantik dalam kamar yang hanya di susupi sinar rembulan dari luar.


Egbert menarik selimut, menutupi tubuhnya dan tubuh kurus Annette. Memejamkan matanya, ia pun tidur bersama gadis manusia yang berstatus istrinya itu.


Pagi harinya, saat matahari sudah muncul di ufuk timur dengan sinar keemasannya. Egbert tidak terganggu sama sekali karena kelambu tempat tidurnya telah memblokir sedikit kecerahan dari luar. Hanya Annette yang terjaga mengikuti alarm biologisnya.


Pelan kelopak matanya terangkat, menatap langit-langit asing. Ia merasakan kepalanya yang berat dan tubuhnya yang benar-benar lemah tak berdaya. Menarik kedua tangannya, ia teringin mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk—tapi tak bisa.


Ada sesuatu yang mengikatnya.


"Ada apa ini?" Setelah kesadarannya pulih sempura, ia mengangkat kepalanya dan melihat kedua tangannya terentang ke atas itu terikat dengan kain sutra lembut yang mengait ke tiang ranjang.


Annette menghela nafas berat untuk itu.


"Kenapa nasib ku tidak pernah baik setiap kali bertemu dengannya?" Keluhnya.


Bibirnya bertekuk merintih, saat pusing melanda kepalanya itu semakin menjadi-jadi.


"Ahh.."


Egbert yang cukup sensitif terhadap suara, mengerutkan keningnya dan matanya berkedip terbuka. Ia melihat Annette yang sudah bangun itu sedang melenguh sakit.


"Ada apa?"


Annette menoleh pada asal suara. Melihat wajah tampan Egbert yang baru saja terjaga dari tidur, "Hanya sedikit pusing"


Sebenarnya Annette ingin sekali marah. Berteriak keras kenapa pria itu mengikatnya. Tapi tubuhnya yang seperti kehabisan energi, membuatnya tak berkekuatan untuk melakukannya.


"Mungkin karena aku terlalu banyak meminum darah mu" Ucap Egbert.


Suara serak di pagi harinya terdengar sedikit asing di telinga Annette.


"Nanti aku akan menyuruh Mary untuk menyiapkan obat penambah darah untuk mu"


Annette tidak menjawab apa-apa. Baginya itu percuma ia meminumnya. Mungkin dalam beberapa hari ke depan ia akan anemia karena memberi makan vampir satu itu dengan darahnya.


"Kenapa kau mengikat ku?" Akhirnya Annette mengeluarkan keluhannya, "Ini tak nyaman.." Katanya lagi.


"Aku sengaja"


Annette mengerutkan keningnya. Jelas ia tau kalau pria itu sengaja melakukannya. Tapi kenapa?


"Aku tak ingin kau melarikan diri dari kastil ku"


"Apa menurutmu aku bisa?" Lima tahun lalu ia pernah terkurung di tempat ini. Tak ada jalan sedikitpun yang memberinya celah untuk kabur. Sampai ia menjadi betah dan mulai menikmati kehidupannya menjadi nyonya kastil.


Tapi itu hanya berlangsung sesaat.


"Ya" Egbert memiringkan tubuhnya ke samping, menghadap Annette, "Bukan kah lima tahun lalu kau melakukannya"


Egbert mengulurkan tangannya ke depan, punggung jari-jemarinya yang panjang membelai lembut belahan pipi Annette yang tak lagi lengket seperti semalam.


"..." Beberapa kali Annette mengedipkan matanya, merasakan dadanya berdebar.


Perlakuan Egbert itu, terasa cukup intim untuk status tuan dan pelayan.


"Kali ini kau menahan ku buat apa lagi?"


Jangan katakan itu karena darah!


Annette sungguh tak kuasa menghabiskan masa hidupnya dengan terkurung di kastil dan menjadi pelayan darah seutuhnya untuk seorang vampir.


"Darah mu" Jari-jemari Egbert mulai menari di atas wajah kecil Annette yang tirus, rasanya ia mulai candu bermain-main dengan tekstur kulit wajahnya yang kenyal.


"..." Annette menghela nafas. 'Sudah ku duga'


"Kau tak lupa kan, kalau kau adalah pelayan darah ku sekarang"


Annette hanya bersenandung kecil sebagai jawaban. Sekarang dirinya tak ubahnya seperti budak darah Egbert. Mau bertarung, mengatakan ketidaksetujuan nya pun, ia tidak berdaya. Tubuhnya yang lemah dan kepalanya yang pusing, hanya membuatnya ingin memejamkan mata dan pergi tidur lagi.


Egbert bangun dan duduk. Menarik kelambu ranjang dan menyingkapnya ke atas. Ia menoleh pada Annette yang sudah menutup matanya. Ia tau wanita cukup lemah sekarang. Melihat bibirnya yang pucat kering, jempolnya pun tergoda untuk mengusap lembut permukaannya, "Aku akan menyuruh pelayan masuk untuk membersihkan tubuh mu"


"..." Mata Annette enggan terbuka, tapi ia mendengar apa yang Egbert katakan.


Usapan jempol Egbert di permukaan bibirnya, sedikit membuatnya nyaman dengan rasa dingin kulit pria itu yang merayapi mulut kecilnya yang tipis.


Hingga pikirannya mendadak teringat dengan putra semata wayangnya. Matanya pun terbuka dan menatap Egbert, "Bagaimana dengan putra ku?"


Karena tiba-tiba Annette bersuara, Egbert menarik jempolnya.


"Dia baik-baik saja"


"Aku ingin melihatnya" Buru Annette, risau.


"Kau pergi melihatnya nanti setelah dia sadar"


"Tapi aku—"


"Patuh lah!" Egbert menekan bibir Annette dengan jempolnya, "Jika kau ingin aku merawat putramu, maka cukup dengar ucapan ku"


Tatapan mata Annette yang mengeras, menunjukkan jejak penentangan. Tapi kepalanya yang pusing, lagi-lagi membuatnya terkulai jatuh menimpuk bantal.


"Aku pergi!" Egbert kemudian turun dari ranjang, mengeratkan tali jubah tidurnya ia pun pergi ke lantai bawah untuk memanggil pelayan.


"Jahat sekali.." Keluh Annette dengan suara lemahnya.


"Padahal dia juga putra mu, tapi bisa-bisanya kau bersik..."


Annette tak bersuara lagi, hanya melenguh dan memutuskan untuk pergi tidur karena sekujur tubuhnya...


Benar-benar terasa lemah.