Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|93|. Istriku Adalah Pengecualian



Di sini lah Egbert sekarang. Berdiri di tengah dapur dengan celemek yang membungkus tubuh tegapnya. Pemandangan itu begitu asing di kastil. Membuat para pelayan berbondong-bondong datang untuk mengintip. Mereka diam-diam mengagumi betapa luar biasa indah nya panorama seorang pria tampan berkutat dengan dapur dengan sangat serius.


Egbert menggulung lengan bajunya ke siku dan mengambil sebilah pisau. Ia memegangnya dengan kedua tangannya dan matanya menatap ke arah sepotong daging yang ada di atas telenan.


Semua orang menonton di sebalik dinding dan menahan nafas. Mereka menanti-nanti penampilan seorang tokoh utama pria menggunakan pisau dapur dengan piawai nya.


Namun khayalan mereka langsung saja hancur ketika melihat adegan yang selanjutnya menyambut mata mereka.


Tak!


Brak!


Bruk!


Krak!


Alih-alih melakukannya dengan menawan seperti tokoh utama pria di dalam drama romansa. Aksi Egbert lebih mirip seperti pembunuh berdarah dingin dalam sebuah film thriller. Dalam hitungan menit, Egbert menghantam kan bilah pisau tajam itu ke atas daging sapi premium yang lembut, hingga hancur tak berbentuk.


"Lihat tatapan tajamnya, tuan sebenarnya ingin memasak atau membunuh?" Salah seorang pelayan mulai membuka obrolan.


"Entahlah, lebih baik kita pergi saja. Aura di sini benar-benar tidak baik. Jika ketahuan, bukan tidak mungkin pisau dapur yang tajam itu akan melayang kearah kita"


"Kau benar!"


"Ayo, ayo bubar.."


Mereka satu persatu pergi dengan perlahan. Menjaga langkah suara sehalus mungkin agar tidak terdengar oleh Egbert.


Annette menunggu di ruang tengah dengan buku di tangannya. Ia duduk di atas sofa dengan berselonjor kaki. Membolak-balik halaman buku dengan perasaan bosan. Itu adalah salah satu buku tentang strategi bisnis yang ia ambil dari ruang kerja Egbert. Annette sama sekali tidak menyukai pembahasan didalamnya karena itu benar-benar bukan lingkup dunianya.


"Sepertinya aku harus menyuruh Egbert untuk menyiapkan televisi di ruang tengah. Dia begitu kaya, pasti tidak akan sepelit itu kan hanya untuk sebuah kotak hiburan?" Annette tergelak senang dengan keyakinannya.


Di dapur, Egbert sudah memanas kan wajan tanpa menuangkan setetes minyak pun di atasnya. Kemudian ia menuangkan semua potongan daging yang sudah di cincangnya tadi. Seperti itu, Egbert hanya mengambil tutup wajan dan menutupnya.


"Berapa menit yang dibutuhkan untuk matang?"


Egbert bergumam sendiri dan saat itu salah seorang pelayan datang ke dapur untuk mengambil kantong plastik sampah yang sudah penuh.


"Kau, kemari!"


"Iya tuan" Pelayan itu meletakkan kantong plastik yang sudah diikat nya ke lantai dan lebih dulu mendatangi Egbert.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Berapa waktu yang dibutuhkan untuk memasak daging hingga matang?"


Sekilas pelayan itu menoleh kearah wajan yang sudah di tutup. Ada keriuhan kecil dari dalam sana.


"Oh, begitu. Ternyata cukup mudah" Egbert mengangguk-angguk dengan penampilan seriusnya yang entah kenapa di mata pelayan, itu terbilang cukup lucu untuk seorang tuan kaya bertanya dengan polosnya terkait persoalan dapur.


"Aku mengerti. Kau bisa pergi"


"Baik tuan"


Walaupun Egbert sudah mengatakan kalau dirinya mengerti, tapi pelayan itu entah kenapa merasa ragu. Hanya ia tidak begitu ambil pusing. Ia segera pergi meninggalkan dapur sambil membawa sekantong plastik berisi sampah.


Hingga sepuluh menit berlalu, Egbert sudah menghidangkan mahakaryanya di atas meja makan. Kemudian ia menyuruh salah seorang pelayan untuk memanggil Annette datang.


"Nyonya"


"Ya?" Annette menurunkan buku ditangannya kebawah.


"Tuan memanggil anda ke ruang makan"


Annette menutup buku yang dipegangnya dan tersenyum, "Ah, akhirnya dia selesai juga memasak"


"Nyonya, apa anda yang menyuruh tuan untuk memasak di dapur ?" Pelayan itu tidak dapat menahan rasa penasarannya dan bertanya malu-malu


"Em" Annette mengangguk sebagai pembenaran dan bangun dari sofa. Ia pun segera bergegas ke dapur, untuk segera melihat masakan apa yang di sajikan Egbert untuknya.


"Jadi, tuan repot-repot berurusan dengan peralatan dapur hanya demi memenuhi permintaan nyonya?" Seketika gosip Egbert sebagai sosok suami yang sangat memanjakan istri, menyebar ke seluruh penjuru kastil.


Annette sudah duduk di meja makan dan menatap penuh penasaran pada hidangan yang masih di tutup rapat dalam persembunyian. Ia mengangkat kepalanya kearah Egbert, "Ayo cepat angkat untukku. Aku sudah sangat lapar"


"Kau punya tangan. Gunakan itu!"


Egbert duduk di seberang dengan wajah dingin terkutuknya. Ia masih kesal karena Annette sudah membuat hidupnya sebagai seorang putra mahkota yang terhormat, untuk pertama kalinya kehilangan harga dirinya yang tinggi hanya untuk melayani permintaan konyolnya.


"Egbert, segala sesuatu yang dikerjakan setengah-setengah itu tidak baik. Ayo cepat angkat tutupnya" Annette mempersilahkan Egbert dengan senyum sopan.


"Annette, kau jangan menantang garis batas ku?" Egbert berbicara dengan gigi bawah dan atasnya saling menggertak menekan amarah.


"Bukankah aku istrimu? Harusnya aku memiliki pengecualian jika menantang garis batas mu" Annette tersenyum cemerlang sambil mengedipkan sebelah matanya membawa penampilan penuh kemenangan, "Bukan begitu?"


Egbert mengepalkan tangannya dan mengembangkan senyum terpaksa nya, "En. Tentu saja ada pengecualian khusus teruntuk istriku"


Sesaat Egbert merasa menyesal karena sudah berjanji mati pada Annette. Ia sungguh mengutuk kebodohannya hari itu. Padahal masih banyak cara untuk memancing wanita itu untuk menetap di kastil bersama putranya.


Hanya waktu itu ia merasa kurang percaya diri kalau dirinya cukup mampu, bagaimanapun ia pernah memanipulasi ketulusannya untuk menjerat wanita itu.


Egbert bangkit dari duduknya dan menarik tutup dari piring. Ia menunjukkan mahakarya nya dengan bangga, "Ayo, silahkan di makan"


......................