
Aldrich sebenarnya merasa risih dengan Eloise yang terlalu sering mengikutinya. Karena itu ia langsung beralasan kalau dia ada kelas hari itu dan harus segera bersiap-siap ke gedung merah. Eloise tampak tidak berdaya, dia yang tidak memiliki jadwal apapun hari itupun kembali ke asrama. Padahal dia baru saja berpikir untuk mengajak Aldrich berjalan-jalan di sekitar Magisir yang luas.
Biarpun Aldrich berbohong, tapi dia tetap berpakaian rapi dan pergi ke gedung merah.
Bakat sihir di sekolah Magisir terbagi dalam empat departemen. Departemen kealaman, bagi para penyihir dengan bakat elemen air, api, tanah dan es. Departemen khayalan, di mana bagi mereka yang memiliki bakat untuk menciptakan portal— seperti gerbang menuju negri manusia dan segala hal yang bersifat khayalan semata. Departemen ketenagakerjaan, itu seperti penyihir yang dapat melakukan pekerjaan bersih-bersih melalui sihirnya, termasuk dari mereka menggerakkan benda dan sejenisnya
Kemudian yang terakhir adalah departemen alkemis. Di mana para penyihir dengan bakat tersebut dapat mengolah sesuatu seperti ramuan-ramuan yang bersifat sihir. Seperti ramuan jujur, di mana ramuan itu kerap diberikan kepada para tahanan untuk tidak dapat berbohong sehingga mengakui kebenarannya.
Aldrich termasuk dari departemen kealaman dengan bakat elemen api.
Karena sebenarnya dia tidak memiliki kelas hari itu, dia berbalik menuju gedung kuning. Itu adalah gedung pusat pengumpulan barang-barang yang dihasilkan oleh para penyihir alkemis. Mereka tentu saja dijual, tapi tidak didistribusikan secara terbuka di tempat umum. Karena hukum kekaisaran sangat ketat terhadap sihir. Sehingga siapapun yang ingin membeli benda di sana harus memperoleh izin terlebih dulu dari departemen pemberdayaan sihir kekaisaran Merland.
Tapi ada pengecualian bagi mereka yang merupakan penyihir dan bersekolah di Magisir. Mereka memiliki hak istimewa khusus dalam banyak hal terkait sihir. Itu karena mereka sudah terikat sumpah terkait kode etik menggunakan sihir.
Masuk kedalam gedung tersebut, berbagai bau aroma ramuan yang aneh menyeruak masuk ke penciuman Aldrich. Awalnya itu seperti kunyit, tapi semakin lama itu seperti pandan dan kian lamanya lagi itu semakin tidak jelas.
Gedung tersebut hanya terdiri dari satu lantai. Dalam lantai yang sama terbagi menjadi dua— atas dan bawah. Ada tangga yang akan membawa ke atas yang sebagian isinya dapat terlihat jelas dari bawah. Itu karena bagian atas hanya di pagari dengan besi tembaga biasa.
Tempat tersebut tidak ada langit-langit. Karena ketika menengadah ke atas, itu adalah lapisan atap yang terbuat dari kristal kaca yang kuat. Setiap kali sinar matahari menembus ke sana, maka segaris pelangi yang menawan samar-samar terbentuk karena pembiasaan cahaya.
Aldrich melangkah menyusuri jejeran rak kayu yang berbaris rapi seperti rak-rak buku di perpustakaan. Hanya yang di letakkan di sana bukanlah buku, melainkan botol-botol ramuan.
Aldrich berjalan masuk kedalam satu lorong dan memperhatikan botol-botol dari kaca bening yang tertata rapi di rak. Mereka berwarna-warni, ada yang merah bening seperti sirup dan pekat seperti jus tomat. Ada botol yang memiliki cairan putih bening seperti parfum dengan kadar alkohol tinggi, kuning pekat seperti parfum non alkohol dan ada yang hijau seperti minuman soda.
Hingga tatapan Aldrich jatuh pada satu botol yang bentuknya sedikit berbeda dengan bentuk botol lain.
Botol tersebut berbentuk hati dengan bahan dari kaca yang tebal. Tutup botolnya bewarna abu-abu dan berlapis serpihan perak yang berkelip. Isi dalamnya bewarna violet yang memikat.
"Kau memandangi botol tersebut begitu lama, apa kau tau itu botol ramuan apa?"
Suara seorang pria muda membuat Aldrich menoleh. Dia melihat seorang lelaki yang berkisar dua puluhan dengan potongan rambut terbelah bewarna coklat gelap. Mengenakan jubah abu-abu bersulam emas. Sepertinya dia adalah penjaga tempat itu.
"Tidak, botol ramuan apa itu?"
"Pengakuan cinta"
Aldrich mengedipkan matanya, "Itu terdengar cukup norak"
Wajah pria itu langsung memerah tak senang, "Norak apa? Ramuan itu memiliki fungsi seperti namanya dan asal kau tau saja, botol tersebut dihargai dengan harga yang terbilang cukup mahal"
"Ku rasa itu tidak terlalu mahal" Pikir Aldrich. Mengingat botol tersebut tidak di letakkan di tempat terkhusus.
"Ya itu memang tidak semahal botol-botol di tempat penyimpanan khusus. Tapi dibandingkan botol-botol lainnya di rak ini, botol itulah yang paling mahal"
"Kau terlihat tidak senang ketika aku mengatakan itu nama yang norak, apa ramuan botol tersebut kau yang membuatnya?"
"Huk..huk.." Pria itu tidak menduga bocah tersebut memiliki firasat yang begitu tajam.
Melihat dari reaksinya, Aldrich langsung yakin tebakannya itu benar.
"Sudahlah, kau bocah tidak akan mengerti soal ramuan yang seperti itu. Lebih baik pergi melihat ke rak lain.."
Tepat ketika pria itu akan pergi, Aldrich langsung datang dengan pertanyaan sehingga menahan langkahnya.
"Apa itu berfungsi untuk seseorang yang terlalu bodoh untuk memahami perasaannya sendiri?"
"Aku mengenal seorang pria sial*n yang menikahi seorang wanita tanpa mencintainya. Lima tahun mereka berpisah karena wanita itu membawa kabur anak yang dikandungnya karena pria itu tidak menganggap penting wanita tersebut dan hanya menginginkan kehidupan bayi dalam perutnya. Lalu lima tahun setelahnya mereka bertemu kembali. Pria itu mendapatkan anaknya dan menahan wanita itu juga disisi nya. Dia bahkan sampai berjanji mati pada wanita itu untuk menjadikannya istri dan tak akan pernah menduakannya. Wanita itu cukup cantik dan sangat baik, yang mengejutkannya pria sial*n itu tidak menyukainya atau bahkan mencintainya sama sekali. Jadi kupikir, pria itu terlalu bodoh untuk memahami perasaannya sendiri"
Pria itu mengedip-ngedip kan matanya saat menyimak cerita yang dituturkan Aldrich, "Kisah yang rumit. Ini cukup aneh aku mendengarnya dari mulut bocah seperti mu" Ujarnya.
Menatap lurus kearah Aldrich, pria itu bertanya, "Jadi kau bertanya apakah ramuan pengakuan cinta itu akan berfungsi untuk pria sial*n yang kau ceritakan tadi?"
"Em" Aldrich menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu tentu saja itu berfungsi. Seperti namanya, itu adalah ramuan pengakuan cinta. Percintaan orang dewasa itu sangat rumit, beberapa dari mereka mengatakan cinta padahal nyatanya tidak dan sebaliknya. Mengaku tak peduli, padahal sangat menyayangi. Jadi dengan ramuan ini, akan membatu seseorang untuk lebih jujur akan perasaan mereka sendiri.."
Aldrich dengan wajah serius berujar, "Tolong ambil itu untukku. Aku ingin membelinya"
Mata pria itu terbuntang lebar, "Bocah kau bercanda huh? Ini bukan sesuatu yang dapat kau beli dengan uang jajanmu.. sudah ku katakan harganya cukup mahal"
"Berapa?"
"Lima ratus koin emas, atau jika kau pergi ke pasar itu seharga dengan satu buah cincin berlian"
"Ternyata semahal itu. Ku pikir itu hanya ramuan biasa"
"Ramuan biasa apa? Pengakuan cinta itu sangat tak ternilai harganya, terlebih lagi bagi mereka yang golongan bodoh seperti pria sial*n yang kau ceritakan tadi" Ucapnya, lalu menghela nafas dan meneruskan, "Hah.. lupakan! Bocah kecil seperti mu mana paham"
"Yah, biarpun itu terbilang cukup mahal aku akan tetap membelinya. Bisa kau bungkus sekarang untukku?"
Pria itu terus berkacak pinggang, "Bocah, kau tidak bisa bermain-main dalam hal ini, jadi lebih baik berhen—"
"Aku tidak main-main. Aku serius ingin membelinya" Aldrich menatap lurus kearah wajah pria itu, penampilannya sedikitpun tidak terlihat bercanda.
"..."
"Untuk harganya langsung saja anda catat atas nama Sean Wood. Aku akan mengambil barangnya sekarang dan nama yang ku sebutkan tadi yang akan membayarnya"
"Apa jaminannya? Kau tidak bisa pergi begitu saja membawa benda ini tanpa meninggalkan jaminan. Bagaimanapun tempat ini tidak menerima kredit atau utang dalam bentuk apapun"
"Aku tidak berutang, ketika si Sean itu datang segera dia akan membayar lunas dan tidak ada apapun yang bisa ku jadikan jaminan. Tapi Sean Wood itu adalah wali ku. Ku dengar dia tuan muda dari Marquis Wood. Jadi anggap saja wali ku ini sebagai jaminan nya"
Pria itu menghela nafas berat. Dia tidak peduli apakah bocah itu bercanda atau main-main. Yang jelas ketika transaksi dilakukan, mereka akan berusaha untuk tidak menerima kerugian.
Botol ramuan berbentuk hati itupun sudah dibungkus cantik dalam kotak hitam dengan pita bewarna violet. Pria tersebut menuliskan nama Aldrich sebagai pembeli di buku nota dan Sean Wood sebagai penjamin dan pembayar.
"Ambil ini" Pria tersebut menyerahkan kotak hitam dengan pita violet tersebut kepada Aldrich.
"Seperti yang ku katakan, tidak ada yang namanya kredit ataupun hutang. Jika pun menggunakan pembelian dengan metode jaminan batas jangka waktunya hanya tiga bulan. Jika masih belum di bayar lunas, pihak sekolah akan memanggil wali mu datang"
"Baik, aku mengerti"
'Bagaimanapun si Sean itu pasti akan membayarnya'
'Jika dia marah, aku hanya tinggal mengadu pada mama' Batin Aldrich sembari tersenyum sendiri memandangi kotak hitam di tangannya.
......................