
Parker kembali menginjak kan kakinya ke kastil Egbert seperti yang sudah dijanjikan nya. Tepat pukul delapan pagi, ia sudah menekan bel dan tidak butuh waktu lama hingga pintu dibuka. Seorang pelayan menyambut nya dengan etiket dan pelayanan yang sempurna.
"Anda adalah dokter Parker?"
"Benar"
"Ah, kalau begitu silahkan masuk"
Kepala pelayan Mary sudah menginformasikan kepada seluruh pelayan kastil kalau mereka akan kedatangan seorang dokter muda sekitar pukul delapan pagi. Itu tak lain adalah dokter yang akan memeriksa keadaan nyonya mereka yang kabarnya semalam pingsan karena perbuatan tamu tak diundang.
Pelayan itu langsung membawa Parker menaiki anak tangga menuju lantai dua. Di pertengahan jalan, mereka berpapasan dengan kepala pelayan Mary yang sepertinya baru saja keluar dari kamar tuan mereka.
"Ah, anda sudah datang" Mary tersenyum sopan menyambut pria muda yang terbungkus rapi dalam jas putih nan bersih.
"Ya" Parker membalas dengan senyum yang sama dan mengangguk pelan.
"Nyonya kami baru saja siuman, anda segeralah memeriksa nya. Tapi maaf saya tidak bisa menemani anda karena ada sesuatu yang harus saya lakukan"
"Ah, tidak masalah. Anda silahkan pergi mengurusnya, saya akan baik-baik saja sendiri"
"Baik kalau begitu, jika ada apa-apa yang anda butuhkan, segera beritahu salah seorang pelayan kami"
"Baik"
Setelah mengucapkan itu, Mary bergegas pergi turun ke lantai bawah. Ia harus menghadap tuannya untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya yang semalam sudah sembarang saja menerima tamu di kastil hingga membuat nyonya mereka nyaris sekarat.
Parker di antar kan oleh pelayan hingga tepat di depan pintu kamar semalam ia memeriksa Annette. Sesudahnya pelayan itu pamit untuk pergi melanjutkan pekerjaannya. Parker hanya mengangguk dan menatap kepergian punggung pelayan itu yang berangsur-angsur lenyap dari pandangan.
Dalam hati ia bertanya-tanya, berapa banyak pelayan yang bekerja di kastil sebesar ini. Hal tersebut membuatnya kian penasaran, seberapa kaya tuan pemilik tempat ini?
Parker menghentikan rasa penasarannya dan segera masuk kedalam. Di sana ia melihat seorang bocah kecil yang berkisar umur lima tahunan. Duduk di pinggir ranjang tepat di samping wanita yang tengah berbaring.
Wanita lemah itu tampak membiarkan jari telunjuknya diangkat ke atas, bersangkut dalam mulut bocah kecil itu yang terlihat bergerak maju menyedotnya. Mata Parker terus membelalak dalam kejutan, "Permisi!"
Seberapa besar rasa panik itu, Parker memilih untuk tetap tenang dan menyapa dengan sopan terlebih dulu.
Annette yang tersenyum lemah, menatap putranya yang begitu bersemangat menghisap jari telunjuknya. Tapi ketika mendengar sebuah suara pria yang datang menyala, terus ia menoleh pada asal suara, "Ya?"
Mata Annette membulat takjub. Walau lima tahun sudah berlalu, ia tidak akan melupakan begitu saja seseorang yang sudah sangat berjasa dalam membuatnya tetap bertahan hidup hingga hari ini. Membuatnya akhirnya tetap memilih untuk bernafas dan mengambil langkah berani untuk melahirkan seorang bayi vampir.
"Kak Parker" Serunya. Kendati suaranya terdengar lirih, tapi senyum yang menyeruak di wajah tirus nya yang cantik, menjadikannya sedikit lebih enerjik.
"Kau masih mengingat ku?" Parker senang mengetahui wanita itu tidak melupakannya. Dulu penampilan nya terlihat begitu gadis dan muda, tapi sekarang ia sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang sangat keibuan.
"Tentu saja. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kakak. Berkat kebaikan kakak saat itu, akhirnya aku masih bertahan hingga sekarang. Aku bahkan juga berhasil membesarkan seorang putra yang sangat tampan"
'Siapa dia?' Aldrich menautkan sepasang alisnya.
"Ah, jadi dia adalah Aldrich?"
"Ya, ini dia" Annette perlahan bangun dari baringan dan bersandar di kepala ranjang, "Aldrich, ayo salaman dengan paman Parker"
Aldrich melepaskan jari telunjuk ibunya dari mulutnya. Tanpa senyum di wajah, ia pergi menyalami pria itu seperti yang dipinta ibunya.
Parker mengagumi betapa tampannya bocah itu. Saat anak itu menyalami tangannya, ia mengusap lembut kepalanya. Ia dapat merasakan betapa halus nya rambut kuning jagung itu yang tersisir rapi dan menawan.
"Ia sudah sebesar ini, tapi masih juga tidak tersenyum" Parker ingat ketika bocah itu masih bayi, sama sekali tidak ada jejak neonatal smiling. Dan sekarang pun, wajah kecil itu tampak begitu kaku untuk mencetak sebuah senyum.
Parker menggelengkan kepalanya dengan senyum tak berdaya, "Annette, putramu terlalu dingin dan acuh"
"Pft..." Annette menekan perut rata nya dan tertawa ringan. Kemudian ia mengangguk pelan berucap, "Kau benar sekali. Tapi syukurlah dia masih tau cara tersenyum dengan baik pada aku, mamanya"
Aldrich yang mendengar percakapan dua orang itu tidak menggubris apa-apa.
"Kau, baru saja menghisap darah ibumu?"
Pertanyaan itu membuat Aldrich tercengang.
"Semalam ia kehilangan begitu banyak darah hingga menjadi pingsan. Kondisi nya saat ini masih terlalu lemah, jadi bisakah kau untuk tidak meminum darah mamamu untuk sehari saja?"
"Kau adalah?"
"Ah, aku adalah dokter yang memeriksa keadaan mama mu semalam. Aku juga seorang kenalan lamanya"
Kenalan lama?
Hubungan mereka pasti terjalin cukup akrab hingga pria itu mengetahui rahasia nya yang merupakan anak vampir setengah manusia.
Setelah Aldrich perhatikan, sosok itu terlihat cukup tulus dan baik. Kalah jauh dan bahkan tidak dapat dibandingkan dengan ayahnya bengis dan brengsek. Dua orang itu terlihat...
Seperti hitam dan putih.
"Baiklah kalau begitu, untuk beberapa hari ke depan aku akan minum darah hewan sebagai gantinya"
Bulu mata Annette bergetar pelan, "Apa tidak apa-apa?" Tanyanya, bagaimana pun ia merasa cemas mengingat putranya tak pernah mengkonsumsi darah hewan apapun sejauh ini, "Sayang, kau tidak terbiasa dengan itu. Mama takut kau akan—"
"Maa.." Aldrich menepuk lembut punggung tangan ibunya dan berucap dengan bijak, "Kesehatan mu adalah yang paling utama. Tidak peduli apa, bagiku kau lah yang lebih penting sekarang"
Annette tersenyum dan matanya berkaca-kaca penuh haru.