
Semenjak Annette mulai resmi tinggal di istana bulan merah. Egbert mengerahkan beberapa pekerja untuk membuat dapur di bagian belakang istana yang kebetulan hanya tempat kosong tak terpakai. Beberapa pelayan pun di tariknya untuk fokus mempelajari cara mengolah masakan manusia. Egbert juga berbelanja banyak bahan makanan dari dunia manusia dan menyetok nya di istana.
Dalam hari-hari tersebut seluruh orang di istana terlihat sangat sibuk mengurusi banyak hal. Terlebih dalam tiga hari kedepan, akan di adakan sebuah pesta besar. Di mana Egbert akan memperkenalkan Annette secara resmi sebagai istrinya kepada seluruh Merland.
Annette duduk lesu setiap hari sofa dalam kamar utama. Wajahnya tertekuk dan sesekali terkulai lemah di lengan sofa. Matanya hampir selalu bengkak dan sembab karena menangis merindukan putranya. Setiap waktu ia habis kan dengan memikirkan dan mengkhawatirkan bayi kecilnya yang sudah lima tahun lebih itu.
Egbert mengurus banyak hal di ruang kerja. Mendengar ketukan di pintu, ia berseru, "Masuk"
Belinda melangkah masuk kedalam. Ia melihat Egbert yang tampak sibuk berkutat dengan berkas-berkas di meja. Wanita tua itu tersenyum. Setelah sekian lama, akhirnya ia kembali melihat ruang kerja itu kembali hidup.
"Yang mulia"
Egbert menghentikan aktivitasnya, "Madam" Matanya yang biasa berkilat dingin, selalu muncul dengan senyum hangat saat berhadapan dengan wanita tua itu.
"Kami baru saja mengganti makanan istri anda, tapi sepertinya itu sama sekali tidak tersentuh"
Egbert mengulum bibirnya rapat. Terdiam sejenak.
Beberapa hari terakhir ini, Annette memang tidak pernah makan teratur. Berkat itu Annette telah kehilangan banyak berat badan. Egbert tentu saja mengerti apa penyebabnya. Itu tak lain karena Annette masih belum dapat merelakan Aldrich tinggal di sekolah asrama sihir Negri Merland.
"Aku akan pergi memeriksanya"
Madam Belinda tidak akan menduga Egbert datang dengan jawaban tersebut. Ini jelas menunjukkan, betapa Egbert menaruh perhatian besar terhadap gadis manusia itu.
"Baik yang mulia, kalau begitu wanita tua ini pergi, untuk melanjutkan pekerjaan yang lain"
"Ya Madam, sebelumnya terimakasih karena sudah mengabari ku"
"Adalah kewajiban wanita tua ini, anda tidak perlu berterimakasih yang mulia"
Egbert pergi merapikan sedikit meja kerjanya dan kemudian pergi dari ruang yang penuh dengan aroma kertas lama dan kayu. Egbert bergegas pergi menuju ke kamar utama. Di sana Egbert melihat Annette duduk di sofa dengan kepalanya yang terkulai jatuh di lengan sofa. Egbert dapat melihat wajah cantik itu lengket dan sembab. Sepertinya baru saja hujan di sana.
Menoleh ke samping sofa, Egbert melihat sebuah kereta makanan. Di atasnya sudah tersaji orak-arik telur sederhana dengan tumisan sayur kacang panjang. Sepertinya para pelayan sudah bekerja keras menyiapkan makanan tersebut.
"Apa makanannya tidak enak?" Egbert mengambil sepiring orak-arik telur dan pergi duduk di sofa tepat di samping Annette.
"Tidak tau, aku belum mencicipi nya" Suara Annette terdengar lesu. Ia bahkan tidak menoleh kearah Egbert yang baru saja datang.
"Kalau begitu kau harus mencicipinya. Jika ini tidak enak, aku akan menyuruh mereka belajar lebih keras lagi agar dapat menghasilkan makanan yang enak untukmu" Egbert siap mengambil sesendok telur orak-arik itu dan menyodorkannya ke mulut Annette.
Tapi mulut kecil nan tipis itu, sedikitpun tidak terbuka menyambut suapan tersebut. Egbert menghela nafas berat.
Dari samping seperti ini, Egbert dapat melihat bagaimana pipi tirus Annette menjadi semakin tirus dan Egbert tidak senang dengan fakta itu.
"Aku tau kau merindukan putra kita. Tapi ini baru saja seminggu. Jika sebulan, dua bulan dan bahkan tiga bulan kau menyiksa dirimu seperti ini terus, bukan tidak mungkin tubuh mu yang kurus ini yang tersisa hanyalah tulang"
Annette termenung, tapi masih sempat merasa takjub bagaimana Egbert dapat berkata-kata begitu banyak hanya untuk merayunya makan.
"Kau cukup cerewet belakangan ini.."
Egbert menggigit bibir bawahnya, "Kau membuat aku menjadi seperti itu"
Annette merasa tertarik, menoleh sekilas kearah Egbert. Belakangan ini, ia melihat mata dingin pria itu menjadi sedikit lebih hangat saat menatap matanya.
"Aku sungguh tidak lapar, tolong jangan paksa aku"
Egbert merasa lelah. Beberapa hari belakangan ini ia sudah berkata-kata begitu banyak hanya untuk membujuk Annette makan. Annette yang kewalahan mendengar ocehannya, menyerah dan makan.
Tapi sepertinya kali ini wanita itu mulai bosan dan tak lagi terpengaruh.
Egbert menyuap sesendok telur orak-arik itu kedalam mulutnya dan tangan kirinya meraih bagian belakang kepala Annette. Egbert bergerak maju dan menggiring Annette untuk lebih dekat dengannya.
"Egbert" Annette mengerang marah. Mulutnya sedikit bergerak mengunyah telur yang sudah ada dalam mulutnya.
Itu tidak buruk, hanya sedikit hambar.
"Bagaimana rasanya?" Egbert menghapus sisa telur yang ada di sudut bibirnya.
"Sudah ku katakan aku tidak lapar. Kenapa kau memaksa sekali?"
Egbert mengulurkan tangannya, mengelus pipi Annette lembut, "Tolong jangan marah.."
Annette tidak tau dari mana Egbert mempelajarinya. Tapi belaian lembutnya dan nada memohon halus dari suaranya, itu membuat rasa marah Annette begitu saja sirna.
"Lihat betapa menonjol nya tulang pipimu sekarang.."
"..."
"Jika Aldrich melihat kondisimu seperti ini, dia pasti akan mengamuk padaku" Mengatakan itu, mata Egbert tersenyum begitu halus memandangi Annette.
"Memarahi ku dengan keras karena tidak mengurus mu dengan benar"
Annette bergeming.
"Kau tau sendiri kan, betapa Aldrich sangat protektif terhadap mu"
Annette menundukkan kepalanya ke bawah. Bibirnya yang terkatung rapat, tampaknya tidak tau harus berkata apa.
"Aku mengerti kau sangat merindukannya. Nanti setelah pesta kita selesai, aku berjanji akan membawa mu bertemu dengannya"
Annette langsung mengangkat wajahnya, kali ini secercah sinar telah terbit di kedua matanya yang dalam beberapa hari terakhir ini selalu redup, "Kau janji? Setelah pesta itu selesai kita akan melihat Aldrich.."
Egbert mengangguk, "Janji"
Bibir Annette melebar dengan senyum senang. Pesta yang Egbert maksud akan di adakan dalam tiga hari nanti. Itu berarti segera setelah pesta tersebut usai, ia dapat melihat putranya.
"Bagaimana jika kau melanggar janji mu?"
Annette ingin apa yang dikatakan Egbert, bukan semata janji manis yang hanya untuk membujuknya makan.
Egbert berdeham, "Itu.."
"Kau bisa menggigit bibir ku sekeras yang kau mau sebagai bentuk hukuman atas pelanggaran ku"
Bibir Annette bergerak-gerak, kehabisan kata. Matanya melotot tajam Egbert— mengeluh akan betapa tak tahu malu nya pria itu.
Egbert tak berdaya, menekan perutnya dan tergelak.
"Baiklah, sekarang ayo makan, um?"
Annette membuang muka.
"Jika kau terus keras kepala seperti ini, aku sepertinya akan berubah pikir—"
"Aku makan" Cepat-cepat Annete merebut piring dari tangan Egbert. Ia mengambil beberapa suapan besar ke dalam mulutnya dan mengeluh, "Ini hambar"
Egbert tersenyum. Mengusap lembut kepalanya, "Aku akan menyuruh mereka untuk belajar lebih keras lagi"
Annette mengangguk pelan dan melanjutkan makannya.
......................