Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|106|. Ciuman Yang Galak Karena Cemburu



Ketika Egbert hendak menuju ke lantai dua, ia bersinggungan dengan Egbert yang memegang segelas darah kelinci, tampak berjalan ke kamarnya. Harusnya anak itu pergi sekolah hari ini, tapi karena kondisi ibunya. Ia menolak pergi dan memilih diam di kastil. Ia juga beralasan bahwa ia sudah menguras begitu banyak tenaga karena mencekik Emma berjam-jam hingga matahari naik ke ufuk timur. Itu membuatnya merasa lelah dan ingin beristirahat saja di kediaman.


Egbert menghentikan langkahnya, "Kau meminum darah kelinci?" Itu pemandangan yang aneh. Biasanya anak itu selalu menuntut darah ibunya dan enggan minum selain itu.


"Mama ku kurang sehat. Itu karena wanita mu telah meminum darahnya terlalu banyak. Jadi, sebelum kondisinya stabil, aku akan meminum darah kelinci milik mu"


Egbert mengeraskan rahang nya. Ia tidak suka karena bocah itu merujuk Emma sebagai wanitanya. Padahal ia sudah mengatakannya tadi, tapi bocah itu mengulanginya seperti sengaja.


"Dia bukan wanita ku"


Aldrich memasang tampang lurus dan memberi tatapan acuh nya pada Egbert, "Oh"


Egbert mengepalkan tangannya, menekan emosi buruk dalam dirinya. Bocah itu terus menjadi begitu berani dan angkuh. Kalau saja bukan darah dagingnya, ia pasti tidak akan segan menekannya tanpa ampun.


"Aku sudah memberi tahu mu ini sebelumnya, jika aku mendengarkan nya lagi. Lihat nanti bagaimana aku mengajarimu"


Aldrich tertawa dingin. Apa katanya? Mengajarinya? Dalam hidup ini hanya ibunya seorang yang dapat mengajarinya soal berperilaku. Selain dari itu, tidak ada yang berhak. Apatah lagi soal hukum-menghukum...


Ibunya bahkan tak pernah melakukan itu. Tapi pria sialan itu punya pikiran demikian? Sungguh konyol!


Setelah mengatakan itu, Egbert kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi menggapai anak tangga. Tapi sebelum itu, terdengar suara bocah di belakangnya.


"Mama sedang reuni kecil dengan kenalan lamanya. Sebaiknya kau tidak datang dulu ke atas dan mengganggunya"


Egbert baru saja memegang bulatan besi dari lengan anak tangga dan berhenti di tempat.


"Agaknya dia pria yang berkepribadian baik. Jika mama ingin mengembangkan hubungan dengan seseorang seperti itu, ku rasa aku akan mempertimbangkannya" Seusai mengucapkan itu, Aldrich langsung berjalan masuk kedalam kamar ibunya. Ia masih belum terbiasa menggunakan kamarnya sendiri yang sudah disiapkan untuknya. Itulah kenapa ia lebih nyaman berada di kamar ibunya.


Egbert tidak tau apa alasan Aldrich mengatakan hal seperti itu padanya. Apakah bocah itu sengaja ingin memprovokasinya? Sudut bibir Egbert meringkuk ke atas dalam senyum remeh, "Apa menurutnya aku cukup peduli?"


Itu sama sekali bukan urusannya jika Annette ingin mengembangkan hubungan dengan pria manapun.


Awalnya begitulah pikirnya. Tapi siapa yang menduga, sesampai ia depan pintu kamarnya. Kepalanya seketika mendidih mendengar gelak tawa kecil dari dalam. Tidak hanya itu, ia mendengar jelas sepasang insan di dalam bercengkrama ringan dengan begitu manis dan menyenangkan. Annette bahkan tidak pernah seperti itu saat bersamanya. Tapi dia melakukannya saat bersama pria lain.


Mengepalkan tangannya, ia berjalan masuk kedalam. Wajahnya seketika menggelap saat melihat tangan dokter manusia itu terulur ke depan, bersiap singgah di wajah istrinya.


"Jangan sentuh dia!"


Tangan Parker langsung tertahan di udara. Ia menoleh pada asal suara dan retina nya menangkap sepasang mata hitam yang suram itu sekilas berkilat dengan cahaya merah yang membunuh.


Sesaat Parker tertegun. Ia menarik tangannya dan kembali memegang sendok bubur.


Annette menatap bingung kearah Egbert yang berjalan ke arah mereka dengan ekspresi murungnya. Mengerutkan keningnya, ia bertanya dalam hati, 'Ada apa dengan pria ini?'


"Minggir!" Titah dingin itu tumpah.


Parker merasa tekanan yang cukup kuat dari energi buruk yang didatangkan oleh Egbert. Merasakan ketidaksenangan pria itu, ia merasa seperti seorang kekasih gelap yang tertangkap basah sedang berhubungan dengan istrinya. Parker perlahan bangun dari duduknya.


"Berikan itu padaku!"


Parker melihat kemana tatapan dingin itu mengarah. Itu tepat kearah mangkuk bubur ditangannya. Ia pun langsung memberikan mangkuk bubur yang sudah tersisa setengah itu kepada Egbert.


"Apa kau sudah selesai memeriksa kondisi istriku?"


"Kalau begitu enyah lah!"


"Egbert" Annette berseru tak suka. Jelas ia tidak senang dengan cara Egbert memperlakukan Parker. Ia mungkin boleh bersikap begitu dengannya dan orang-orang didalam kastil yang sudah mengerti dengan karakter nya yang buruk.


Tapi bersikap begitu dengan orang luar, terlebih pada seorang dokter yang baru saja memeriksa keadaannya, tidak kan itu terlalu keterlaluan?


Egbert hanya diam, tak menggubris apapun seruan Annette yang penuh dengan nada peringatan.


Parker mencoba tersenyum dan mengemasi barang-barangnya. Ia tidak tau apakah sikap berdarah dingin dan acuh Egbert itu dikarena kan dia adalah seorang vampir atau memang karakter nya yang seburuk itu.


"Ingat untuk menjaga kesehatanmu" Parker menenteng tas nya dan tersenyum hangat pada Annette, "Aku sudah kembali bekerja di rumah sakit tempat di mana kali pertama kita bertemu. Jika kau membutuhkan sesuatu yang memerlukan bantuan ku, kau dapat menemukan ku di sana"


Annette baru saja mengembangkan senyum di bibir dan hendak mengatakan sesuatu hanya, Egbert sudah lebih dulu menyela.


"Istri ku tidak perlu repot-repot meminta bantuan orang lain. Ia dapat mengandalkan aku sepenuhnya sebagai suaminya"


Annette merasa siap memuntahkan seteguk darah mendengar apa yang baru saja Egbert tuturkan. 'Tidak, sebenarnya apa yang terjadi dengan Egbert?'


'Apa dia baru saja membentur kan kepalanya di sesuatu tempat?'


Parker menanggapi perkataan Egbert yang sangat posesif itu dengan senyum simpul. Mengabaikan keberadaannya, ia menoleh pada Annette dan tersenyum, "Aku pergi dulu!"


"Eum, hati-hati di jalan dan terimakasih banyak kak untuk bantuan mu" Annette mengangguk pelan dan tersenyum lebar hingga mencapai dasar matanya.


Egbert tidak tau kenapa, melihat cara Annette tersenyum begitu antusiasnya dengan pria lain, itu membuatnya merasa begitu dongkol.


"Suatu kehormatan dapat membantu ibu muda yang cantik seperti mu" Parker sengaja mengatakan sebaris kalimat godaan itu, ia berniat memanasi Egbert. Sehingga pria itu kian jengkel di tempat.


Sekilas ia melirik kearah Egbert. Melihat betapa gelap dan suram nya wajah vampir dingin itu, sepertinya ia berhasil.


Annette tidak menyadari niat Parker, hanya tergelak kecil. Baginya, pria itu sama sekali tidak cocok dalam perkara menggoda wanita, "Sudah jangan mengatakan kalimat konyol seperti itu. Kak Parker sama sekali tidak cocok melakukannya"


"Ah, begitu kah?"


"Eum, wajah kakak terlalu baik untuk menanggung tampang seorang penggoda"


"Pftt.."


Egbert yang menonton interaksi keduanya. Bukan main panas telinganya. Tampak yang urat-urat mencuat di pelipisnya yang sudah berusaha keras menekan segala amarah yang tak tertahan. Dokter manusia itu bukannya pergi, tapi terus melanjutkan berbincang-bincang mesra dengan istrinya.


Buruk nya lagi..


Dua orang itu seperti menganggapnya tidak ada di sana.


Mengepalkan tangannya, Egbert merasa seperti dirinya akan meledak saat itu. Tapi ia berusaha keras menahannya. Sampai ketika Parker sudah pergi dari kediaman. Ia mendapati Annette berujar padanya, "Kenapa kau kasar sekali. Bagaimanapun dia adalah dokter yang baru saja me— emph"


Saat itulah Egbert benar-benar kehilangan kendalinya. Membungkuk ke bawah tepat ke hadapan wajah Annette, ia langsung menerkam bibir pucat itu dengan ciuman galaknya.


Itu penuh dengan kemurkaan dan kemarahan yang meluap-luap!