
Annette pergi makan sebentar di ruang makan bersama Egbert yang menemaninya. Dia merasa rindu dengan makanan buatan pelayan kastil. Kelezatan masakan buatan mereka masih belum dapat dibandingkan dengan pelayan di istana bulan merah.
Annette makan cukup lahap. Egbert memandanginya makan sambil meminum darah kelinci.
Saat itu Annette teringat sesuatu.
"Aldrich memberikan sesuatu untukmu" Annette meletakkan garpu dan sendok di piring. Dia mengeluarkan kotak hitam dan meletakkan nya di atas meja makan.
"Apa itu?" Egbert meletakkan gelas darah kelinci yang sudah tersisa setengah di atas meja.
"Suplemen" Ucap Annette sambil menepikan piringnya ke samping dan menarik tali pita violet yang membungkus penutup kotak tersebut.
"Anak itu sekalipun tampak sangat tidak suka denganmu, tapi diam-diam dia cukup memperhatikan mu. Dia tau kalau akhir-akhir ini kau cukup kelelahan karena mengurus banyak hal" Annette mengangkat penutup kotak dan mengeluarkan isi yang ada di dalamnya. Ternyata itu sebuah botol kaca berbentuk hati dengan cairan bewarna ungu di dalamnya.
"Katanya dia malas memberikannya secara langsung padamu, itu kenapa dia memberikannya melalui aku"
Annette memperhatikan botol kaca berbentuk hati itu dengan raut wajah bingung, "Apa ciri khas pengemasan suplemen di negri kalian memang seperti ini?"
Semakin di perhatikan, itu sama sekali tidak terlihat seperti suplemen dan pengemasannya lebih mirip seperti botol parfum. Di tambah lagi cairan air didalamnya yang bewarna ungu.
Egbert menautkan sepasang alisnya menatap botol kaca berbentuk hati itu dengan ekspresi curiga, "Sepertinya tidak" Ucapnya, "Coba sini aku lihat"
Annette menyerahkan botol kaca berbentuk hati tersebut kepada Egbert.
"Aku curiga dia menjadi sebaik ini" Ucap Egbert, mengingat "Apa jangan-jangan dia mencoba mengerjai ku?" Egbert memperhatikan botol kaca di tangannya. Isi didalamnya adalah cairan berwarna ungu. Dia ragu itu adalah suplemen.
"Jangan mencurigai anak mu seperti itu. Bagaimanapun kau adalah papanya, dia tidak mungkin menyakiti papa kandungnya sendiri kan?"
"Tapi dia membenciku"
"Dari mana kau tau? Apa dia pernah memberitahu mu secara langsung?"
Egbert menghela nafas berat, "Tidak kah kau melihat seperti apa sikapnya sejauh ini padaku? Dia bahkan belum mau memanggil aku dengan sebutan papa?"
"Kalau soal itu kamu harusnya maklum. Aldrich besar dengan hanya aku seorang di sisinya, dia baru mengetahui kau itu papanya baru-baru ini"
"Itu adalah salah mu. Seharusnya lima tahun lalu kau tidak perlu melarikan diri dariku"
Hati Annette langsung menjadi masam, "Jika lima tahun lalu kau dapat memperlakukan aku dengan tulus, sekalipun cuma alat untuk mencapai ambisi mu, apa menurutmu aku akan pergi huh?"
Egbert terbungkam.
Annette merasa tidak lagi berselera melanjutkan makannya, langsung memanggil pelayan untuk membereskan meja. Saat para pelayan tengah sibuk bersih-bersih, mereka berdua tidak pergi dari sana. Menjadi kan suasana sekitar terasa tegang. Cepat-cepat para pelayan membersihkan meja makan dan berambus pergi dari sana.
"Cepat minum suplemen nya" Setelah diam cukup lama, Annette akhirnya kembali bersuara.
Egbert melirik kearah botol kaca berbentuk hati yang ada di meja dengan tatapan enggan, "Tidak. Aku ragu itu adalah suplemen"
Annette menggeram kesal, langsung dia mengambil botol kaca itu, membuka tutup botolnya dan menenggak nya sedikit.
"Annetteee" Egbert refleks berseru panik.
Annette meletakkan botol kaca yang isinya sudah tersisa setengah itu dan mengusap mulutnya. Rasa cairan itu agak aneh.
"Kau meminumnya begitu saja? Bagaimana jika itu beracun?"
Annette mengambil segelas air putih untuk membasahi tenggorokannya dari jejak rasa pekat aneh cairan ungu itu.
Kemudian dia berbicara kepada Egbert, "Aku percaya pada putra ku"
Annette meletakkan gelas yang sudah kosong itu di meja dan menyerahkan botol kaca itu kepada Egbert, "Sekarang giliran kau..."
Egbert mengedipkan matanya dengan ekspresi tertekan.
"Aku sudah meminumnya dan aku baik-baik saja. Apa lagi yang harus kau ragukan?"
"Kau pikir itu akan langsung bereaksi setelah kau meminumnya hum?" Egbert tidak menduga Annette akan sebegitu bodohnya.
"Sudah minum saja! Jikapun ini beracun, kita akan menderita bersama"
"..."
Egbert menghela nafas tak berdaya.
"Baik, aku meminumnya"
Egbert mengambil botol kaca itu dari tangan Annette dan menenggaknya hingga habis.
"Kau puas sekarang?"
Annette mengulum rapat bibirnya kedalam, menyembunyikan senyum senangnya, "Kalau begitu ayo kita istirahat"
......................
"Jadi, putra mahkota dan istrinya sudah tidak ada di istana?"
Rajeev baru saja sampai ke duchy setelah melakukan satu hari satu malam perjalanan dari istana bulan merah menggunakan kuda coklat kesayangannya.
Malam pesta diadakan, dia tentu saja di undang. Tapi dia sedikitpun tidak mencari perhatian Egbert. Karena dia tidak ingin membuat Egbert menyadari sesuatu.
"Tidak ada. Ku dengar mereka berdua sudah pergi ke sesuatu tempat"
Rajeev melompat turun dari atas kudanya dan memanggil seorang pekerja untuk membawa kudanya ke kandang.
"Beri dia makan dan siapkan seember air, dia pasti sangat kelelahan melakukan perjalanan panjang denganku" Rajeev mengelus lembut kepala kuda kesayangannya.
"Bawahan ini mengerti tuan Duke"
Setelah mempercayakan kudanya pada pekerja yang bertugas mengurusi kandang kuda, Rajeev langsung berjalan masuk kedalam kediamannya bersama Javier, seorang teman setia yang merangkap sekretaris pribadinya.
Posisi Javier untuk Rajeev, hampir mirip seperti posisi Sean untuk Egbert.
Di dalam sana para pelayan berjejer rapi, membungkuk sopan menyambut kedatangannya.
"Siapkan pemandian air panas, aku ingin berendam" Rajeev berbicara dengan salah seorang pelayan.
"Baik tuan Duke, akan segera kami siapkan"
Sebelum mereka bubar, sudut mata Rajeev menangkap salah seorang pelayan yang paras nya lumayan cantik. Rajeev langsung mencegatnya, "Kau layani aku mandi malam ini"
Pelayan itu sama sekali tidak terlihat gugup. Tingkahnya pun tidak genit, hanya sopan dan cukup pendiam. Menatap Rajeev sekilas, kemudian pelayan itu menunduk berucap, "Baik tuan Duke"
Rajeev tersenyum puas, "Kalau begitu langsung saja tunggu aku di pemandian" Menarik helaian rambutnya, Rajeev menciumnya sambil memberi lirikan tajam menggoda.
Bola mata pelayan itu bergetar gugup. Dia tau itu bukan pertama kalinya Duke Rajeev menggoda pelayan cantik yang ada di kediamannya. Tapi itu adalah pertama kalinya bagi pelayan tersebut dan dia tak dapat menahan hawa panas karena kikuk nya.
"Baik tuan Duke, saya akan segera pergi ke pemandian dan menunggu anda di sana"
"En, pergilah!" Suara Rajeev terdengar berat, matanya menatap kepergian pelayan itu seperti melepas kelinci putih yang berjalan masuk kedalam kandang yang sudah dia siapkan.
"Kau sepertinya akan bersenang-senang malam ini"
Javier terbiasa berbicara santai dengan Rajeev, walau terkadang dia juga bertindak cukup sopan.
"Ya, kau mau ikutan?"
"Tidak"
"Putra mahkota sudah mengumumkan istrinya tapi kemana perginya wanita itu?"
"Maksudmu Emma?"
Rajeev mengedipkan matanya sebagai jawaban.
"Aku belum mendapatkan kabar apapun tentangnya"
"Aku curiga Egbert menjebaknya di negri manusia sehingga tak dapat kembali ke Merland"
"Kalau begitu, besok saya akan segera ke negeri manusia untuk mengurusnya"
......................