Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|25|. Istrimu Pingsan Di Kelas Ku



"Ah, ya" Annette dengan canggung menarik tangannya dari wajah Egbert. Kemudian menurunkan tatapannya ke bawah serasa ingin menangis karena malu. Tadinya ia mengira pria itu masih tidur, tapi siapa yang menduga...


'Aku tidak menyangka akan akan tertangkap basah seperti ini'


Sekilas sudut mata Egbert menangkap gelagat canggung Annette itu, bibirnya hanya berkedut tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun.


Tepat pukul tujuh pagi Annette sudah duduk bersama Egbert di meja makan. Tidak seperti kemarin, pagi ini Egbert hanya sarapan dengan segelas darah segar yang entah di ambil dari hewan apa. Annette yang melihat cairan merah kental dalam gelas bening itu harusnya merasa mual dan jijik. Tapi tidak tau kenapa...


"Apakah rasanya enak?" Annette tanpa sadar menelan liur melihat Egbert yang tampak meneguk cairan itu dengan begitu nikmat.


Egbert meletakkan gelas di tangannya ke meja dan memperhatikan sepasang mata hitam Annette yang berbinar sedikit lain dari biasanya, "Kenapa?" Tampak sepasang alis Egbert saling bertaut, "Kau tertarik mencobanya?"


Annette nyaris saja mengangguk namun akal sehatnya segera membuatnya menggeleng keras menolak, "Tidak"


Ia sungguh tidak tau kenapa tiba-tiba dirinya merasa begitu berhasr*t mencicipi cairan merah kental itu. Sebagai manusia, jelas saja itu tidak normal sama sekali.


Memotong roti bakar di piring dengan pisau dan menancap nya dengan garpu, Annette memasukkan sesuap potongan kecil kedalam mulutnya. Beberapa saat mengunyah, gejolak dalam perutnya kembali berulah persis seperti semalam.


"Ugh!" Annette membekap mulutnya rapat dan berlari ke wastafel. Di sana ia langsung muntah-muntah sampai seteguk cairan asam turut keluar, siap mengikis perutnya yang sama sekali tidak terisi makanan apapun.


Setelah membilas bersih mulutnya, Annette kembali duduk di meja. Menatap ke sepiring roti bakar yang baru sedikit tersentuh, ia sama sekali tidak berselera memakannya lagi. Ia pun mengambil segelas susu vanilla hangat dan hendak meminumnya. Tapi aroma manis susu, segera membuatnya lagi-lagi...


"Ugh" Merasa mual kesekian kalinya.


Alhasil, Annette dengan kesal meletakkan gelas itu di meja, menciptakan suara yang lumayan keras memecah keheningan meja makan.


"Sungguh aku ingin mati rasanya, tidak ada satu makanan pun yang bisa lolos ke perut ku" Setelah mengatakan itu, Annette membaringkan kepalanya dengan lemas di atas meja.


Tidak hanya tubuhnya tidak bertenaga, tapi kepalanya pagi itu juga terasa pusing seakan kurang darah. Agaknya bayi dalam perutnya itu benar-benar mengkonsumsi darah dalam tubuhnya.


Egbert menatap Annette dengan tatapan yang tidak terdeskripsi. Ia kembali teringat dengan percakapan semalam dengan Robbin perihal rasa mual Annette yang tak akan pernah hilang selama gadis itu menyentuh makanan manusia.


"Kau yakin tidak ingin mencobanya?" Egbert mengangkat gelas yang berisi darah kental dan itu sudah tersisa setengah, "Ini adalah darah kelinci. Darah mereka cukup manis dengan sedikit rasa asam di ujungnya. Menurut ku ini jauh lebih lezat ketimbang darah rusa yang terlalu manis"


Kata-kata itu nyaris hampir membuat Annette terpancing. Kini pancaran yang keluar di matanya itu seakan sedang menatap segelas jus strawberry segar.


"Apakah rasa asamnya mirip seperti asam strawberry yang baru saja di petik?" Tanya Annette. Ia sudah menegakkan punggungnya dan kepalanya dengan sigap mengarah ke gelas yang di pegang Egbert. Begitu saja ia sudah menjilat bibir bawahnya seakan tak sabar ingin meraih gelas itu dan menenggak isi di dalamnya sampai habis.


Egbert tau buah strawberry yang di kenal dengan varian asam buah paling di gemari oleh gadis manusia. Namun sebagai vampir tentu ia tidak pernah mencicipi buah tersebut. Tapi setelah memprediksi lebih jauh...


"Sepertinya mirip dengan itu, rasa asam-manis dari buah strawberry segar"


Seketika Annette menelan liur dan itu terlihat jelas dari gerakan kecil di kerongkongannya. Egbert yang menangkap reaksi itu, menyembunyikan senyum kecil di sudut bibirnya. Kemudian ia mengambil teko yang berisi darah kelinci itu dan menuangkannya sedikit ke gelas kosong.


Menyodorkan gelas itu kepada Annette, ia berujar, "Cobalah"


Annette lagi-lagi meneguk liur dan tangannya perlahan mulai meraih gelas yang di sodorkan Egbert. Sekilas ia melirik kearah Egbert, melihat pria itu setengah memiringkan kepalanya dengan sinyal menyuruhnya untuk segera mencicipi gelas itu.


"Tidak bisa" Akal sehatnya seketika kembali dan Annette meletakkan gelas itu di meja.


"Aku manusia bukan makhluk penghisap darah seperti mu" Ucap Annette, "Aku akan tetap memakan ini saja"


Alhasil Annette berusaha keras menghabiskan roti bakar di piring, sekalipun di tengah-tengah ia mengunyah rasa mual nya terus saja membuncah. Tapi ia mengacuhkannya dengan mengambil segelas air dan meneguknya sampai habis.


Tepat ketika ia akan memuntahkan isi perutnya, Annette bersikeras menahannya.


"Selesai" Annette bangun dari meja makan dan dengan begitu ia langsung bergegas pergi ke kampus.


"Sungguh gadis manusia yang pantang menyerah" Tutur Egbert setelah memperhatikan perjuangan Annette tadi ketika sarapan di pertengahan antara melawan rasa mual dan muntah nya.


Di kampus Annette menjalankan serangkaian aktivitas seperti biasanya. Hanya di pertengahan kelas, ia harus repot-repot permisi ke toilet karena gagal mengendalikan rasa mual nya.


Setelah muntah-muntah begitu banyak di wastafel, Annette berjalan sempoyongan di sepanjang lorong. Di samping energi nya yang benar-benar menurun drastis, rasa pusing di kepalanya membuat ia seakan ingin pingsan.


Mencapai pintu kelas, Annette berpegang teguh pada gagang pintu dan membukanya.


"Sastra adalah seni bahasa yang memiliki tingkat estetika tinggi. Itulah kenapa ketika kita membaca buah karyanya seperti novel dan roman, lautan kata di dalamnya akan membu—"


Bruk!


Pembicaraan Sean di depan audiensi seketika terpotong melihat sosok yang baru saja membuka pintu kini ambruk tepat di depan ribuan pasang mata. Sean mengedipkan matanya terkejut, bukankah itu Annette?


Keributan kecil di dalam kelas pun terjadi bersamaan dengan Sean yang berlari mendatangi tempat Annette terbaring pingsan. Sean mengalungkan kedua tangan gadis itu ke lehernya dan kemudian mengangkat pinggang kecilnya.


"Maaf, untuk pembelajaran kita sudahi sampai di sini dulu"


Setelah mengatakan itu, Sean bergegas meninggalkan ruang dengan menggendong Annette di tangannya. Saat itu para gadis pun mulai berbincang-bincang menyuarakan rasa iri mereka terhadap Annette yang begitu beruntung di gendong oleh dosen ter-tampan di fakultas mereka.


Sean sudah meletakkan Annette di dalam mobil, menampar pelan pipinya, ia ingin melihat apakah mata gadis itu terangkat barang sedikit.


"Annette"


"Kamu dengar saya?"


"Annette?"


Setelah beberapa kali menepuk, sepasang mata Annette masih tetap terpejam rapat. Sean meletakkan jari telunjuknya di ambang hidung Annette dan mendapati hembusan nafas gadis itu terasa begitu lemah.


Sean mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Egbert.


"Kau ada di mana?"


"Aku mendapati istrimu pingsan di kelas ku"