Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|32|. Selamat Tinggal Kehidupan!



Keesokan paginya, tepat ketika Annette merasa benar-benar cukup bertenaga untuk bangun dari baringan, ia begitu saja mencabut selang infus dan menelfon Gordon untuk melaksanakan misinya yang cukup dadakan itu.


Ya, Annette bertekad untuk melarikan diri dari kastil hari ini.


Setelah menelfon Gordon, sekitar tiga puluh menit kemudian Annette mendapatkan kabar dari Zeta kalau Gordon sudah menunggunya di depan halaman.


"Nyonya, tubuh anda belum sepenuhnya pulih, sebenarnya kemana kau akan pergi? Apa perlu saya temani?" Tanya Zeta yang tampak jelas mencemaskan keadaan Annette.


"Aku baik-baik saja, jadi tidak perlu khawatir begitu" Hanya ucapan sederhana itu yang dapat Annette katakan.


"Tuan ada di mana?" Annette membuka pintu almari dan mengambil sebuah jaket berbulu dengan ukuran besar yang cukup memuat perut ibu hamil sepertinya.


"Pagi-pagi sekali tuan sudah keluar karena ada urusan" Jawab Zeta. Ia menyaksikan Annette yang mulai mengenakan pakaian penghangat itu di tubuhnya.


"Oh, baguslah" Dengan begitu proses pelariannya akan jauh lebih lancar.


"Bagus?" Zeta menautkan sepasang alisnya bingung.


Untuk menghilangkan kecurigaan Zeta, Annette pun memberi tanggapan lebih lanjut, "Yah bagus. Karena jika dia ada di sini, dia pasti akan mencemaskan ku sama seperti yang kau lakukan sekarang" Tutur Annette. Walau dalam hati rasanya ia ingin tertawa hambar.


Alih-alih mencemaskan dirinya, paling dia hanya merisaukan makhluk kecil yang ada dalam perutnya.


"Kalau benar begitu, tuan pasti akan melarang anda pergi" Ucap Zeta. Ia sama sekali tidak curiga dengan aksi melarikan diri Annette.


"Lalu apa kau juga akan melarang ku pergi?" Tanya Annette.


Berhasil membuat Zeta terdiam beberapa saat dengan mata berkedip bingung harus menjawab apa.


"Tidak perlu khawatir, aku cukup tau menjaga diri" Mengatakan itu, Annette menepuk pundak Zeta dan mengulas senyum tipis di bibir. Mengambil selangkah lebih maju ke depan, Annette menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Aksinya itu berhasil membuat Zeta tercengang.


"Terimakasih sudah mendonorkan darah mu untuk ku" Ucap Annette, ketulusan nya dapat dilihat jelas dari pancaran matanya yang tersenyum berkaca-kaca.


"Kalau begitu aku pergi" Annette berhenti memeluk Zeta dan berucap, "Gordon sudah menunggu ku di luar"


......................


Gordon mengantarkannya tepat ke rumah atapnya. Setelah itu ia menyuruh Gordon pergi dan menjemputnya di tempat itu lagi saat pukul sebelas malam.


Annette masuk kedalam rumahnya yang kecil. Masa sewa nya sudah berakhir tepat di bulan itu. Annette tidak berniat mengeluarkan barang-barang yang ada di dalamnya termasuk pakaian. Karena ia akan...


"Aku akan pergi dari sini tanpa membawa apapun" Annette menatap ke sekeliling ruangan dengan tatapan sendu dan sedih.


Kemudian ia mengambil salah satu pakaiannya dan pisau. Annette berjalan ke luar rumah dan berdiri tepat di perbatasan yang akan mempertemukan nya dengan dunia di bawah sana— jemuran, atap-atap perumahan dan jalanan.


Setelahnya Annette menggores telapak tangannya dengan pisau dan darah segar mengucur deras. Ia melumuri cairan kental tersebut ke pakaiannya dan Annette meletakkannya begitu saja di sana.


Dan Annette pun dengan tubuhnya yang lemah, pergi mencari gedung terbaik untuk nya bunuh diri. Itu adalah sebuah rooftop rumah sakit terdekat dengan lokasi tempatnya tinggal. Annette naik ke atas sana dan memandangi pemandangan bawah sana yang jutaan kendaraan berlalu pergi seperti semut-semut kecil.


"Aku tau betapa beratnya sejauh ini kehidupan yang ku jalani" Ucapnya lirih.


Sejak awal ia lahir sebatang kara, hanya dapat mengandalkan diri untuk bertahan dengan jerih payah keringatnya.


"Tapi aku tidak pernah mengeluh dan menjalani hari-hari ku dengan sebagai mana mestinya"


Annette dapat merasakan angin yang bertiup menerpa kearahnya. Itu menampar pelan kedua pipinya dan merusak tatanan gerai rambut coklat keemasannya.


"Hanya untuk pertama kalinya aku ragu dalam menjalani kehidupan" Annette menurunkan tatapannya ke bawah, menatap ke perut besarnya.


Jika anak ini lahir, kemungkinan ia akan mati. Sungguh takdir yang miris. Annette tidak pernah berpikir untuk menjadi sosok ibu yang jahat kelak ketika ia menikah dan memiliki anak. Tapi tidak pernah terbayangkan kehidupan pernikahannya akan berakhir dalam selembar kertas pemerasan fisik, batin dan bahkan nyawanya sendiri.


"Dia egois jika menginginkan anak ini lahir sedangkan aku harus mati untuk itu" Annette kembali terkenang akan malam di mana ia mengetahui bahwa perhatian Egbert padanya sejauh ini hanyalah kepalsuan belaka.


"Karena dia egois, tidak ada salahnya kan jika aku menjadi egois juga?" Annette tersenyum tipis seraya mengelus perutnya yang membuncit.


"Maaf, aku tidak mau mati seorang diri" Mungkin Annette adalah ibu yang paling egois di dunia.


"Jika pun harus mati, ayolah mati bersama" Annette memejamkan matanya dan seluncur air mata menjatuhi kedua belah pipinya.


Perlahan Annette merentangkan tangannya. Menarik nafas, ia menikmati lebih jauh udara kehidupan untuk terakhir kalinya. Jika pun ia memutuskan untuk pergi, tidak akan ada yang merasa sakit untuknya. Karena di dunia ini ia hanyalah seorang gadis sebatang kara yang tak punya sanak keluarga.


"Ternyata, akhir hidup ku lumayan tragis juga ya?" Annette berusaha untuk tertawa sekalipun hambar. Walau terang saja sebenarnya ia mencoba menutupi rasa gugupnya yang melompat dari ketinggian hingga ke bawah sana...


Bukanlah semudah seperti yang ia bayangkan.


Beberapa kali Annette menarik nafas dan menghelanya perlahan. Setelah menyakinkan diri, Annette pun mulai menghitung dalam hati...


'Satu'


'Dua'


'Tiga'


Selamat tinggal kehidupan!


Begitulah cara Annette mencoba untuk mengakhiri segala kekacauan yang menurutnya tak dapat diselesaikan itu dengan...


Kematian.