
Egbert terus berlari secepatnya untuk menemukan dari mana aroma itu berasal. Membuat Aldrich yang tertinggal di belakang, menganga tak mengerti. Sebagai campuran, insting penciuman Aldrich tidak sekuat ayahnya yang merupakan vampir murni. Itulah kenapa Aldrich sama sekali tidak dapat mendeteksi aroma darah ibunya karena jarak yang terlampau jauh.
Meskipun bingung melihat pria itu yang berambus pergi begitu saja tanpa menunggunya sama sekali, Aldrich memilih untuk mengejar ketertinggalannya.
Jauh di lorong, Aldrich melihat Egbert berdiri didepan sebuah pintu kamar. Pria itu pertama mencoba membuka pintu tersebut, tapi gagal. Sepertinya itu terkunci. Hingga kemudian Egbert pergi mendobraknya dengan keras. Pintu pun terbuka dan Egbert masuk kedalam.
"Apa itu ruang kerjanya?" Tanya Aldrich, yang sesaat berhenti di penghujung lorong.
Setelah mendobrak pintu dan masuk, Egbert melihat keadaan kamar yang kuning keremangan oleh lampu tidur yang masih menyala. Itu adalah kamar kosong di kastil yang sesekali digunakan jika tamu seperti dokter Robbin datang. Melihat dua orang berbaring di atas ranjang, Egbert menautkan sepasang alisnya dengan matanya yang menyorot tajam kesana.
Mendapati aroma darah itu terasa semakin dekat, mata Egbert terus berkilat dingin dengan selintas cahaya merah. Ia bergerak cepat untuk menekan saklar dan kamar seketika benderang. Mata Egbert membesar penuh kejutan saat mendapati tubuh Annette yang terkulai kaku di atas ranjang bersama seorang wanita yang tertidur pulas menyisakan darah segar di sudut bibirnya yang sudah mengering.
"Annette" Egbert berlari menghampiri ranjang dan meraih tubuh kecil Annette dalam gendongan. Ia dapat melihat bagaimana wajah cantik itu memucat dan bekas gigitan yang tercetak jelas di leher jenjangnya. Seketika mata Egbert menggelap marah dan menoleh pada wanita yang ada di ranjang.
Emma merasa terusik dengan pantulan cahaya yang tiba-tiba jatuh menimpa wajahnya. Itu membuatnya mengerutkan keningnya dan perlahan mengangkat kelopak matanya yang berat karena mengantuk, "Siapa yang menyalakan lampu?" Suara khas baru tidurnya jatuh dalam keheningan.
Saat itu Egbert dapat melihat dengan jelas siapa wanita yang berbaring di sana.
Itu dia!
Bagaimana bisa dia ada di sini?
"Mamaa" Itulah adalah Aldrich yang berteriak sambil berlari masuk kedalam kamar. Ia tidak bisa menahan panik melihat ibunya yang berada dalam gendongan Egbert, itu terkulai lemah tak ber-maya.
Menoleh pada wanita yang ada di atas ranjang, ia mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, "Apa yang kau lakukan pada mama ku?" Suaranya menggeram seiring gigi-giginya yang bergemelutuk meredam amarah.
Keributan itu membuat Emma dengan malas bangun dari baringan. Saat itu Aldrich dapat melihat ada jejak darah ibunya yang menempel di mulut wanita itu. Ia yang tak dapat menahan kemarahannya, langsung melompat ke atas ranjang dan menduduki tubuh wanita itu, "Beraninya kau menghisap darah mama ku" Aldrich tanpa ragu mencekik leher kurus wanita itu.
Membuat Emma seketika tersentak dan menjadi panik saat rongga pernafasannya mulai menyempit, "Huk..le-pas!"
Aldrich tidak melepasnya dan malah semakin memperkuat tenaganya. Emma merasakan cekikan itu nyaris akan membunuhnya jika terus berlangsung lebih lama. Ia yang panik, cepat-cepat meleraikan kedua tangan kecil yang menjepit erat lehernya. Tapi Aldrich mengerahkan kekuatannya begitu dalam, membuat Emma kesulitan meleraikan nya.
'Siapa bocah ini?'
'Aku bisa mati jika dia terus mencekik ku seperti ini'
Dalam kepanikan yang tak tertolong itu, pandangannya tanpa sengaja jatuh pada sosok yang berdiri di samping ranjang. Itu adalah pria bertubuh tegap yang sedang menggendong seorang wanita dengan lengan kokohnya. Sepasang matanya terus terbuntang lebar, 'Egbert?'
Mata Emma yang sudah berair kesakitan karena menahan pedihnya cekikan Aldrich itu, menatap dengan memelas pada Egbert, 'Ku mohon..'
'Ku mohon cepat bantu aku..'
Egbert dapat membaca arti dari tatapan mata wanita itu yang penuh ketidakberdayaan. Tapi ia hanya menyikapinya dengan ekspresi datar. Sorot matanya yang acuh dan jauh, sama sekali tidak menyimpan setitis pun rasa simpati.
"Huk..l-lepas.." Emma tak menyangka Egbert akan setidak peduli itu terhadapnya. Alhasil ia hanya dapat berjuang mati-matian untuk meleraikan tangan bocah itu yang hampir meremukkan tulang lehernya.
Aldrich yang mendengar itu tersenyum dingin, "Aku mengerti"
Emma sudah beruraian air mata dengan siksaan tersebut. Baru saja ia mengira Egbert kembali untuk menyuruh bocah itu berhenti. Tapi siapa yang mengira Egbert malah mendukungnya untuk menyiksa dan hanya mewanti nya untuk tidak sampai membunuh. Emma tak dapat menahan kekecewaan dalam hatinya.
'Bagaimanapun aku pernah menjadi kekasihmu..'
'Haruskah kau seacuh ini padaku yang hampir dicekik mati?'
Egbert berjalan menaiki anak tangga dan membawa Annette pergi ke kamarnya. Dengan sangat pelan, Egbert membaringkan tubuh Annette di atas ranjang. Gerakannya di penuhi kehati-hatian saat meraih pergelangan wanita itu dan merasakan denyut nadinya. Itu sangat lemah. Ia tidak dapat menahan rasa cemasnya, meskipun keberadaan perasaan itu sedikit tak wajar.
Tapi reaksi tubuhnya yang langsung bergerak cepat menghubungi Mary, itu menegaskan segalanya. Betapa ia merasa sangat takut jika sesuatu terjadi pada Annette.
"Ini adalah kesalahanmu. Kenapa kau mengizinkan orang asing masuk tanpa izin dariku"
Mary berdiri dengan wajahnya yang tertekuk dalam penuh penyesalan, "Maafkan saya tuan, saya sungguh mengira dia adalah tamu anda"
"Aku tidak peduli, secepatnya kau bawa dokter manusia untuk datang kemari. Adapun caranya, itu kau pikirkan sendiri"
"B-baik tuan, saya akan segera mencarinya dan secepatnya membawanya kemari"
Padahal itu baru pukul satu pagi, Mary benar-benar tidak tau harus mencari dokter kemana. Mengingat itu adalah kesalahannya, maka ia harus bertanggungjawab.
Mengeluarkan mobil dari kastil, Mary akhirnya berambus pergi ke kota untuk mendatangi rumah sakit terdekat yang bekerja dua puluh empat jam.
Egbert duduk di pinggir ranjang, meraih tangan Annette dan menggenggam nya lembut. Telapak tangan wanita itu terasa dingin dan ia tidak dapat mengendalikan rasa paniknya melihat bibir kecilnya yang biasa bewarna merah segar, kini memucat pudar.
Egbert mengecup lembut punggung tangan Annette dan berucap dengan suaranya yang begitu saja gemetar, "Kau.."
"Kau harus baik-baik saja"
Hampir sejam berlalu, Mary akhirnya berhasil mendatangkan seorang dokter ke kastil. Itu ia dapatkan setelah berjuang keras mencari dari satu rumah sakit dan rumah sakit yang lain, hingga ia mendapatkannya dari salah sebuah rumah sakit swasta.
"Tuan, dokternya sudah ada disini"
Mary datang dengan membawa seorang dokter manusia masuk kedalam kamar Egbert.
Mendengar itu, secepatnya Egbert bangun dari duduknya dan menyingkap tirai ranjang, "Cepat pergi periksa!"
Melihat betapa daruratnya situasi itu, dokter muda itu cepat-cepat mendekati ranjang dan bersiap memeriksa dengan stetoskop yang menggantung di lehernya. Tapi saat melihat wajah pasien wanita yang berbaring di sana. Begitu saja ia terhenyak dalam kejutan...
'Annette?'