Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|115|. Anda Jangan Salah Paham



Sean?


Nama yang sangat familiar. Bukankah itu adalah nama dari dosen tertampan di kampus nya dulu? Dosen yang lima tahun lalu pernah datang kepadanya, mengatakan dirinya adalah utusan dari kampus. Padahal nyatanya...


Dia pasti adalah vampir dan orang suruhan Egbert.


'Sepertinya firasat ku waktu itu tidak salah'


Annette bangun dan menyuruh kedua pelayan itu untuk membawanya ke sana. Ia penasaran akan keributan apa yang terjadi. Mikha pergi membereskan alat minum dan Zeta membawa Annette pergi ke ruang tengah.


Setiba di sana, Annette disambut dengan pemandangan seorang pria yang penuh dengan kemarahan meluap-luap mencekal erat leher kurus wanita yang sudah meneteskan air mata kesakitan. Wanita itu tampak beberapa kali memukul-mukul tangan pria yang mencekiknya, menyuruhnya untuk berhenti. Tapi pria itu terlalu membabi buta dan mengerahkan kekuatan nya cukup kuat. Membuat wanita itu terus memukul dan menangis dalam ketidakberdayaan.


Annette barangkali tidak suka dengan vampir wanita itu yang sudah sembarang saja menghisap darahnya. Tapi kemanusiaan nya, membuat nuraninya menggerakkan langkah kakinya untuk menghentikan aksi Sean.


"Hentikan!"


Suara salah seorang wanita yang datang dari arah belakang, sedikit mengejutkan Sean. Suara itu terdengar tenang dan penuh kedewasaan.


"Jika kau tidak ingin mengubah profesi mu dari dosen menjadi pembunuh, maka hentikan perbuatan mu"


Cekalan tangan Sean sedikit melonggar. Ia berbalik dan matanya berkedip terkejut melihat sosok wanita yang baru saja berbicara. Tak lain adalah mantan anak didiknya dulu, "An-nette, bagaimana kau bisa—"


Memanfaatkan situasi itu, Emma cepat-cepat meleraikan tangan Sean dan menyelamatkan lehernya, "Huk..huk.." Dia tampak terbatuk-batuk dengan menyedihkan.


"Lama tidak bertemu anda dosen Sean" Annette tersenyum sangat lebar hingga mencapai dasar matanya. Tapi semakin diperhatikan, itu bukan sekadar senyum biasa. Ada jejak kebencian yang dingin yang melapisinya. Sean yang menyadari itu, terbatuk-batuk ringan, mengetahui dosa besar apa yang telah ia lakukan pada Annette.


"S-saya tidak menduga akan melihat anda di sini" Kemarahan Sean beberapa saat lalu seketika lenyap. Berganti menjadi pembawaan gugupnya yang begitu kentara di permukaan.


Mata Annette menyipit dalam senyum mengejek mendengar Sean yang begitu formal dengannya, "Kenapa anda tidak bisa menduga nya? Bukankah anda yang membawa saya kemari dosen Sean?"


"Hah.. haha" Sean tanpa sadar tertawa. Itu jatuh begitu garing. Membuat para pelayan dan Mary yang masih diam menonton, ter-pelongo di tempat. Mereka bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Sean? Beberapa saat lalu begitu marah hingga hampir membunuh seseorang dan sekarang tertawa bodoh di hadapan nyonya mereka?


Annette menoleh kearah Emma. Di samping rasa kebencian nya, ia juga merasa kasihan pada vampir malang itu, "Mikha, Zeta"


"Iya nyonya" Mikha dan Zeta cepat-cepat menghampiri Annette.


Annette pertama melirik kearah Zeta, memberinya pesanan, "Kau pergi mengurusi wanita itu"


"Baik nyonya"


Kemudian Annette menoleh kearah Mikha, "Dan kau pergi check in hotel untuk wanita itu. Urusan biayanya, kau dapat menanyakannya pada kepala pelayan Mary"


"Baik nyonya"


Annette mengangkat pandangannya ke arah Emma, "Itu adalah nurani yang tersisa yang dapat kuberikan padamu. Jika kau masih tidak tau cara berterimakasih, segera angkat kaki dari sini dan jadilah gelandangan di luar sana"


"Kau—"


"Jadi kau memilih menjadi gelandangan?"


Emma menggertak kan giginya. Menelan segala kekesalannya.


Annette tersenyum simpul dalam kepuasan, "Jika tidak, berperilaku lah dengan baik" Memperhatikan Emma yang seperti nya sudah melunak dan begitu patuh, Annette menoleh pada Zeta, mengirimkan sinyal padanya untuk bergegas. Zeta mengangguk dan segera membawa Emma pergi dari sana.


Sean menonton pemandangan itu dengan mata berkedip takjub. Ia tidak begitu kenal seperti apa Annette. Seingatnya, Annette hanyalah gadis manusia yang naif, halus dan tertutup. Itulah kenapa ia memilih Annette sebagai istri Egbert. Akan lebih mudah membujuk dan memanipulasinya. Tapi siapa yang mengira, lima tahun berlalu dan Annette telah melakukan perubahan besar.


Memang penderitaan mendidik pribadi seseorang menjadi lebih kuat.


Annette menoleh kearah Sean. Annette dapat merasakan tatapan pria itu yang menunjukkan kekaguman terhadapnya. Annette maju beberapa langkah ke depan, berdiri tepat didepan Sean. Mata mereka bertemu pandang dalam diam. Hingga beberapa saat, Sean dapat merasakan percikan es dingin dari mata Annette menatap lekat kearahnya. Sebelum Sean bangun dari akal sehatnya, ia mendapati tangan lembut itu maju meraih kerah lehernya.


"Jadi, anda selama ini adalah kaki tangannya?"


Sean menjadi gugup dan pelayan tak tahan untuk tidak menjerit atas sikap berani Annette yang begitu menyihir.


"Lima tahun lalu, anda yang mengatur saya untuk menjadi istri Egbert dan yang membuat saya terjebak dalam semua penderitaan ini?" Mata Annette menajam, tangannya menarik kerah baju Sean lebih keras. Membuat Sean terkesiap dan mau tak mau jatuh membungkuk ke bawah.


Mata Sean membelalak saat menghadapi wajah cantik Annette. Itu cukup dekat. Sean dapat melihat bagaimana mulusnya wajah itu, pori-porinya begitu kecil tak terlihat dan kulitnya yang putih begitu bening.


Egbert mengirim pesan pada Mary, untuk membuka pintu kamar Annette yang di kunci dari luar. Ia telah berdiam begitu lama di dalam sana, merasa tak tahan untuk tidak melihat keributan besar apa yang sedang terjadi di luar. Tapi tidak pernah mengira, ketika Egbert melangkah keruang tengah. Tidak ada keributan yang menyambut indra pendengarannya.


Egbert hanya melihat deretan para pelayan yang saling berjejer, menonton pada sebuah objek dengan penuh minat. Penasaran, Egbert mengikuti kemana arah pandang mereka. Saat itu Egbert menangkap objek apa yang begitu menarik minat mereka.


Egbert melihat Sean membungkuk begitu dekat dengan wajah cantik Annette dan mereka saling bertukar pandang dalam keheningan yang ambigu. Tangan halus Annette tampak meraih kerah baju Sean. Dalam sudut pandang Egbert, gestur tubuh yang Annette kerahkan seperti kecantikan kecil yang sedang menawan ketampanan di bawah kuasanya yang seduktif.


Egbert merasakan gelombang ketidaksenangan menghantam dadanya. Wajahnya menggelap, Mary dapat melihatnya dengan jelas. Mary sadar lebih dari siapapun, sikap dua orang didepan sana memang dapat memicu kecurigaan siapapun.


"Anda jangan salah paham. Nyonya baru saja datang memarahi tuan Sean. Nyonya sudah tau kalau tuan Sean selama ini adalah kaki tangan anda" Mary sempat mendengar itu sebelum ia pergi untuk membuka kan pintu kamar Annette yang dikunci dari luar. Mary tidak tau apa yang terjadi hingga tuannya ada di sana dan nyonya menguncinya dari luar.


Sedikit kilat cahaya dingin, melintasi matanya. Meskipun penjelasan itu sedikit meredakan emosi buruknya, tapi Egbert tetap merasa jengkel melihat bagaimana Annette bergerak begitu intim terhadap Sean.