Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|30|. Menjalankan Peran Sebagai Suamimu



Ya. Annette terbuai begitu mudah. Entah itu karena kebodohannya hingga ia begitu mudah dibohongi atau barangkali karena kerapuhannya hingga ia begitu saja hanyut dalam situasi.


Egbert memegang kedua pundak Annette lembut, menuntun gadis itu perlahan ke meja makan malam romantis yang sudah disiapkan oleh para pelayan di kediamannya. Tidak sampai di situ, Egbert juga menarik kursi dan mempersilahkan Annette duduk. Annette tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya gugup sebagai bentuk ucapan terimakasih.


"Kami vampir tidak bisa makan makanan kalian para manusia. Tapi kami bisa makan sesuatu selain darah seperti hati. Tapi itu tidak berarti apa-apa bagi tubuh kami" Ucap Egbert, mungkin itu adalah kali keduq Annette mendengar pria itu berkata-kata cukup banyak.


"Itulah kenapa untuk bertahan hidup, kami tetap harus mengkonsumsi darah. Tidak seperti manusia yang mempunyai banyak hal untuk di makan, tubuh kami hanya menerima itu sebagai asupan"


"Ahh.." Annette manggut-manggut dan tersenyum. Rasanya senang mendengar Egbert berbicara panjang lebar akan sesuatu. Mungkin itu karena suara dinginnya terdengar menjadi sedikit lebih hangat.


"Aku menyuruh Mary untuk menyiapkan hati sapi panggang, semoga kali ini bayi dalam perutmu tidak mengeluh hingga membuat kau merasa mual" Ucap Egbert lagi. Ia dapat melihat wajah sayu Annette kini terlihat sedikit terhibur olehnya.


"Eum" Annette mengangguk tersenyum sopan. Ia senang akhir-akhir ini Egbert tidak lagi menyebalkan seperti sebelumnya.


'Apa mungkin karena bayi dalam perut ku ini penyebabnya?'


Sesaat Annette kembali tersentak oleh realita.


Annette ingin mengatakan sesuatu, tepat ketika Egbert datang mengambil piring miliknya dan ia melihat pria itu mulai berkutat dengan garpu dan pisau memotong hati sapi bakar itu menjadi beberapa bagian kecil.


"Kenapa kau berubah menjadi sangat baik padaku?" Pertanyaan itupun keluar dari mulut Annette.


Membuat Egbert sesaat berhenti memotong dan mengangkat pandangannya kearah Annette. Dalam keheningan dan angin malam yang berhembus pelan, diam-diam ia membatin, 'Ternyata, dia tidak se-naif yang ku kira'


"Karena kau mengandung anakku"


Annette tidak mengira jawabannya akan se-lugas itu hingga membuat kedua tangannya yang di atas paha tanpa sadar terkepal, "Ah, ternyata begitu" Annette tersenyum pahit.


'Hah, apa yang aku harapkan dari pria ini?'


Annette tertawa miris pada kebodohannya yang telah berlangsung beberapa hari belakangan ini.


Egbert dapat merasakan tingkah laku Annette yang begitu sentimental. Ia membenci mengurus hal seperti ini, tapi mau tak mau ia harus melakukannya.


"Bukankah di dunia manusia kebanyakan para suami memperlakukan istri mereka lebih hati-hati saat sang istri mengandung buah hati mereka?" Egbert kembali berkutat dengan pisau dan garpu ditangannya, kembali memotong.


"Aku bukan manusia, tapi aku akan sedikit mencoba bersikap sebagaimana 'suami manusia' untuk menghibur hati istri ku yang merupakan seorang manusia" Setelah selesai memotongnya menjadi beberapa bagian kecil yang sangat rapi, Egbert mengangkat piring tersebut dan meletakkannya ke hadapan Annette.


"Tapi kenapa kau harus repot-repot melakukannya?" Annette hampir saja terjebak kesekian kalinya. Tapi mengedepankan logikanya, ia memutuskan untuk bertanya lebih jauh, "Bukankah hubungan antara kita hanya sebatas di atas kertas? Ku pikir kau tidak perlu melakukan sampai sejauh ini"


"Apakah salah jika aku menjalankan peran ku sebagai suamimu?"


"..." Annette mengedipkan matanya dan terdiam.


"Kau tak ingat perkataan ku pada malam upacara pernikahan kita?" Tanya Egbert, "Kedua darah kita sudah bertemu dan menyatu, itu artinya pernikahan kita sudah sah secara hukum bangsa ku. Jika kau merasa tak nyaman dengan perawatan ku ini, aku dapat menghentikannya seka—"


"Jangan!" Potong Annette cepat, "Aku nyaman dengan itu, jadi kau tak perlu berhenti"


Setelah makan malam selesai, Egbert menemani Annette tidur di kamarnya. Yang mengejutkan, Annette mendapati Egbert duduk tepat di sisinya berbaring dan memijat pelan kedua kakinya.


"Kenapa kau memijat kaki ku?" Tanya Annette dengan raut wajah kebingungan.


"Kau berjalan dan membawa beban berat itu seharian ini dengan tubuh kecil mu, apa kakimu terasa tidak pegal?" Ketika mengatakan beban berat, Egbert melirik kearah perut besar Annette dan kembali fokus memijit.


Bohong jika ia tidak merasa pegal. Pada awal kandungan, ia merasa baik-baik saja. Tapi seiring perutnya membesar, terkadang ia mulai sedikit kewalahan jika terlalu banyak bergerak. Annette sadar itu mungkin karena sekarang ia dalam kondisi berbadan dua.


"Terimakasih" Annette tersenyum begitu tulus hingga ke dasar matanya.


Egbert tidak berkata-kata apa dan hanya terus memijit pelan kedua kaki Annette yang bukan hanya kurus tapi juga kecil. Cukup sesuai dengan postur tubuhnya yang terbilang lumayan mungil jika dibandingkan dengan para gadis di bangsanya.


"Seharian ini aku melewati hari yang melelahkan"


Dalam keheningan kamar yang sunyi, Annette tampak memulai percakapan serius yang hampir mengarah ke adegan seorang gadis yang menceritakan keluh kesahnya kepada pasangannya.


"Aku di keluarkan dari kampus, beasiswa ku di cabut dan aku di berhentikan dari tempat kerja paruh waktu ku" Mengatakan semua itu, sepasang mata Annette tampak berkaca-kaca.


Egbert sesaat berhenti memijit, tapi tidak menolehkan pandangannya.


"Segalanya terjadi begitu beruntun, sedikitpun tidak memberiku ruang untuk bernafas. Aku bertanya-tanya, sejak kapan semua ini menjadi kacau?" Tampak kelopak mata Annette bergetar, "Ketika aku menyadari semua akar masalah ini adalah malam di mana kau memaksa ku menikah denganmu" Tenggorokan Annette tercekat, detik itu ia nyaris terisak dan menangis.


"Aku nyaris saja membencimu dan anak di dalam perut ku ini"


Saat itu Egbert mengangkat pandangannya kearah Annette. Ia dapat melihat jejak kesedihan yang mendalam di raut wajah cantik itu. Dan betapa awan mendung memenuhi kedua matanya yang biasa berbinar begitu cerah setiap kali bersikap kesal terhadapnya.


"Hanya segalanya menjadi begitu sederhana, tidak serumit hari yang ku lewati tepat ketika aku kembali ke vila" Ucapnya kemudian, "Aku mendapati kesedihan ku, kekecewaan ku, dan kesialan ku— begitu saja aku melupakan mereka dalam sekejap" Ucap Annette sambil menatap jauh ke dasar mata hitam Egbert yang tenang seperti biasanya.


"Aku tidak pernah menduga... dalam kehidupan ku yang serba susah dan sulit, akan menerima sebuah sambutan makan malam romantis yang terlalu mewah untuk seorang gadis biasa seperti ku"


"..." Bibir Egbert terkatup rapat. Pandangannya masih tidak berpindah dari menatap wajah Annette.


"Aku tidak bisa berbohong bahwa aku tidak terhibur dengan apa yang baru saja ku lewati malam ini...dan untuk pertama kalinya aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia" Annette tersenyum begitu manis di samping matanya yang masih menyimpan sedikit bekas kesedihan.


"Terimakasih" Itu ucapan yang sangat tulus Annette ucapkan pada Egbert, "Karena sudah memaksa ku untuk menikah denganmu pada malam pertemuan pertama kita"


Sederhananya Annette ingin mengungkapkan...


'Aku tidak menyesal menikah denganmu'


'Sekalipun segala kekacauan yang telah ku terima seharian ini...'


'Tapi berkat mu, aku tidak menyesalinya'