Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|36|. Berubah Peran Menjadi Ibu Muda



Perlahan kelopak mata Annette terangkat dan retinanya menangkap langit-langit putih asing. Samar-samar aroma obat-obatan merasuki hidungnya. Setelah menoleh ke sekeliling dan mendapatkan tiang infus serta di mana tubuhnya berbaring sekarang, barulah Annette menyadari di mana dirinya sekarang.


"Siapa yang membawa ku kemari?" Memikirkan pertanyaan itu, kejadian di rooftop rumah sakit terus melintas di otaknya, seketika ia terperanjat dari posisinya berbaring.


"P-perutku.." Annette langsung meraba perutnya yang kini sudah rata seperti sebelumnya. Tipis dan tidak membuncit sedikitpun dengan tumpukan daging. Sesaat Annette merasa asing dan kehilangan yang siap membuat mata-matanya berkaca-kaca.


"Kau sudah siuman?"


Suara bariton seorang pria, membuat Annette menoleh pada sosok tubuh yang baru saja melangkah masuk ke kamar perawatannya, "Anda adalah dokter yang kemarin?" Ucap Annette.


Parker mengulas senyum kecil dan mengangguk, "Eum" Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sneli nya ia pun berujar dengan ramah, "Tidak perlu begitu formal denganku. Panggil saja aku Parker"


Annette berpikir beberapa saat. Melihat wajah pria itu, ia memperkirakan usianya yang berkisar tiga puluhan. Akan sangat tidak sopan jika ia langsung menyebut namanya tanpa awalan...


"Kalau begitu saya akan memanggil anda kak Parker" Annette mengukir senyum lemah di bibir, "Apa kakak yang membawa saya kemari?" Tanyanya kemudian.


"Eum" Angguk Parker.


"Terimakasih kak, sepertinya aku sudah sangat merepotkan kakak" Melihat senyum hangat di wajah Parker, rasanya Annette merasa tenang dan aman.


"Apa kau tidak penasaran dengan bayi mu?"


Pertanyaan itu menyentak Annette.


"A-apa dia lahir dengan selamat?"


"Dia masih berada di inkubator. Keadaannya sangat lemah" Ucap Parker, "Ya, putramu lahir dengan selamat"


'P-putraku?' Seketika Annette berkaca-kaca dan seluruh jiwa raga nya terguncang akan itu. Tidak pernah mengira di usianya yang baru saja dua puluhan, ia sudah melahirkan seorang putra.


"Aku ingin menemuinya. Bisakah aku melihatnya sekarang?" Tanya Annette. Matanya tampak berkaca-kaca dan itu jelas rasa haru yang tak tergambarkan.


"Eum" Parker mengambil cairan infus Annette dan menemani gadis itu pergi ke tempat di mana bayi mungilnya berada. Sesampai di sana, Annette dan Parker berdiri di depan kaca besar. Memantau bayi mungilnya dari luar.


"Ah, apa itu bayi ku?" Mengatakan itu, Annette meraba permukaan perutnya yang sekarang sudah kosong. Kini makhluk yang dikandungnya itu telah lahir dan berada tepat di depan matanya.


"Ya, itu adalah bayi mu" Jawab Parker. Ia berdiri tepat di samping gadis itu sambil memegang cairan infusnya.


Beberapa menit berlalu dalam keheningan, Annette masih diam di tempat dengan sorot mata tak beralih dari bayi mungil yang berada dalam tabung. Hingga ia mendengar suara tangis bayi, terus tubuhnya menegang.


"D-dia menangis.." Annette menoleh kearah Parker.


"Aku akan memanggil perawat" Ucap Parker. Kebetulan saja ada perawat yang lewat, Parker terus melambai pada wanita tersebut, "Suster"


"Iya, ada yang bisa saya bantu?"


"Bayi yang ada di inkubator itu menangis. Apa ibunya boleh mengambilnya?" Tanya Parker pada suster tersebut.


"Sebentar, saya akan pergi memeriksanya" Suster tersebut tidak langsung memeriksanya sendiri. Ia memanggil dokter bersama dan dua orang itu pergi mengecek kondisi bayi Annette.


Parker mengajak Annette untuk menunggu di kamar perawatannya. Sekitar beberapa menit berlalu, tampak seorang suster dan dokter wanita melangkah masuk kedalam.


"Apa anda ibu Annette?" Tanya dokter wanita tersebut.


"Ya"


"Kondisi bayi anda sudah jauh membaik. Ia tidak perlu lagi berada dalam tabung inkubator" Ucap dokter tersebut dengan seulas senyum ramah di bibir, "Jika anda sudah memiliki asi, anda dapat menyusuinya sekarang"


"Aah.." Annette tergamam beberapa saat.


Menyusui?


"Terimakasih Sus.." Annette tersenyum dan menggendong lembut bayi mungil itu ke dekapannya. Gerakannya masih begitu canggung hingga suster tersebut membantunya untuk memegang dengan posisi yang lebih baik dan nyaman.


"Kalau begitu kami permisi" Dan dua wanita itupun pergi meninggalkan kamarnya.


"Apa kau akan menyusui bayimu sekarang?"


"Huh?"


"Jika begitu aku akan menunggu di luar" Ucap Parker sopan.


Annette hanya mengangguk dengan kedua pipi menghangat. Parker pun mengerti. Ia terus keluar dari kamar dan menunggu di luar.


Menatap ke bayi mungilnya yang polos, Annette merasa kebingungan harus melakukan apa. Menyusui? Perubahan peran dari seorang gadis muda menjadi ibu muda..


Sejujurnya Annette belum siap.


Setelah tenggelam dengan pikiran semrawut nya akan harus berbuat apa. Ia pun memutuskan untuk membuka kancing baju pasiennya hingga dengan canggung mengecek apakah ia sudah memiliki susu.


Ia baru sadar bagian depan dadanya itu terasa membengkak. Itu terasa lebih penuh dan berat. Annette pun melakukan sesuatu untuk memeriksa dan benar saja, ia mendapati dirinya kini memiliki asi.


Annette dengan canggung menyodorkan itu ke mulut mungil bayinya dan beberapa saat ia merasa perasaan asing yang membuatnya menggigit bibir bawahnya karena ngilu.


"Uwaa..waa" Annette terkejut mendapati bayi kecilnya malah menangis dan memuntahkan asi yang baru diminumnya.


"Kenapa dia malah menangis?" Panik Annette. Ia pun mencoba menyodorkan nya lagi tapi bayi nya itu memberi respon menolak untuk menerima asi miliknya.


"Aduh, kenapa dia tidak mau meminumnya?" Itu adalah pengalaman pertamanya dan ia tidak memiliki seorang pun yang bisa ia tanyai soal itu. Terang saja kondisi itu membuat Annette panik bukan kepalang.


"Cup..cup.."


"Anak manis.. jangan nangis ya" Annette menyodorkan nya lagi tapi..


"Uwaa..waa" Bayi mungilnya itu lagi-lagi memuntahkan asi nya dan menolak meminumnya.


Annette yang sudah sangat kebingungan itupun alhasil berteriak memanggil Parker yang masih menunggu di luar.


"Kak Parker, apa yang harus ku lakukan? Dia tidak mau berhenti menangis?"


Mendengar teriakan itu, Parker pun membuka pintu dan melangkah masuk kedalam. Tapi panorama didepannya itu seketika membuat nya menoleh kan pandangannya ke sembarang arah, "Bisa kau kancing baju mu dulu" Tampak yang daun telinganya memerah hangat.


Annette yang tersadar, terus merasa malu dan dengan cepat mengancing bajunya.


"M-maaf kak" Annette mengutuk kecerobohannya, "Aku sudah mengancing baju ku, kakak sudah bisa melihat kemari" Katanya, terdengar cukup canggung.


Parker mengangguk dan perlahan menoleh kearah Annette. Ia dapat melihat wajah ibu muda itu bersemu merah dan panik bersamaan.


"Kenapa bayi mu menangis? Apa kau belum memiliki asi untuknya?" Tanya Parker, matanya menatap kearah bayi yang di gendong Annette yang terus-menerus menangis.


"Aku sudah memberikannya tapi dia terus-menerus menolaknya" Ucap Annette, sejejak rasa frustasi mulai tergambar di wajahnya, "Dia tidak berhenti menangis, aku sungguh kebingungan menangani nya"


Parker dapat melihat betapa menyedihkannya ekspresi panik gadis muda itu yang kini sudah berganti peran menjadi seorang ibu.


"Kak Parker, ku mohon tolong aku..."


Annette tau rasanya begitu tidak pantas merepotkan orang yang baru saja dikenalnya. Tapi ia hanya gadis sebatang kara yang tak punya sanak saudara. Jadi ia tidak punya pilihan selain meminta tolong pada Parker. Yang sejak awal pertemuan mereka, ia dapat merasakan...


Ketulusan pria itu.


......................