Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|92|. Memulai Strategi Balas Dendam



"Kau tidak bisa selalu bergantung pada darah ibumu"


Aldrich memutar bola matanya acuh, "Mama ku tidak masalah tuh, bilang saja kalau kau iri!"


Tangan Egbert yang memegang gelas, mengeras seiring senyum dinginnya yang membeku, "Hah!"


Annette mengulum rapat bibirnya, menahan senyum. Kemudian selesai sarapan ia memberi Aldrich darahnya dan Egbert kembali mempekerjakan George sebagai supir pribadinya seperti lima tahun silam.


"Lama tidak bertemu anda nyonya Annette. Anda terlihat semakin cantik" Puji pria paruh baya itu dengan senyum murah hatinya.


"Anda bisa saja tuan George. Oh, perkenalkan ini adalah putraku, Aldrich" Annette dengan bangga memperkenalkan putranya yang tampan kepada George, "Sayang, ayo salam dengan paman George"


Aldrich dengan sopan menyalami pria paruh baya itu. Kesan pertamanya, ia dapat melihat sosok yang sopan dan ramah dari pria itu. Membuatnya tak ragu memperlakukannya dengan baik.


"Ah, putra anda tampan sekali nyonya. Perpaduan gen kalian berdua memang berbaur dengan sangat baik" Ucapnya.


"Paman, mengenal papa ku?"


"Ya, tentu saja. Papa mu itu adalah bos saya, bagaimana mungkin saya tidak mengenalnya"


"Jadi.." Aldrich menoleh kan pandangannya kearah ibunya yang kini berdiri canggung sambil memasang senyum merasa bersalah.


"Itu.." Annette menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Sebenarnya mama mau memberitahu mu, tapi.."


"Sudahlah. Mau dia papa ku atau bukan, aku tidak peduli. Karena sampai kapanpun, aku tidak pernah mau memanggil si sialan itu papa!"


Annette tidak tau apakah harus tertawa atau menangis mendengar itu. Tapi ia hanya mengangguk berucap, "Baik, itu terserah padamu. Mama, tidak akan memaksa apapun"


Setelah mengantar Aldrich ke sekolah, George membawa Annette kembali ke kastil. Sesampai di kastil, ia langsung pergi mendatangi ruang kerja Egbert. Melihat pria itu berkutat dengan dokumen-dokumen yang berserakan di meja kerjanya. Annette sama sekali tidak tau apa pekerjaan pria itu di negeri asalnya hingga terlihat seperti seseorang dengan sejuta pekerjaan yang menumpuk. Padahal dari tampang nya, jelas ia seperti orang kaya yang hanya tau cara bersantai dan menikmati hidup.


"Egbert!"


"En" Egbert membalik halaman dokumen di tangannya dan tangan satunya lagi mencatat poin-poin penting di sebuah buku.


"Aku mau ke mall, ayo temani aku!"


Egbert menggelengkan kepalanya, tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang ada di meja, "Aku tidak bisa. Kau pergi saja dengan Zeta dan ataupun Mikha, soal uang kau bisa menanyakannya kepada Mary"


"Aku tidak mau dengan mereka. Aku mau dengan mu"


Egbert tidak menjawab. Ia mengabaikan keberadaan Annette dan mulai tenggelam dalam dokumen yang sedang di pelajari nya. Annette menghela nafas dan berjalan mendekati meja. Ia sama sekali tidak sungkan ketika tangannya yang sembarang saja menutup buku dokumen.


Membuat Egbert mengerutkan keningnya tajam, "Apa yang kau lakukan?"


"Temani aku ke mall"


"Tidak. Aku sedang bekerja"


"Kalau begitu kau harus menundanya untuk ku. Bukan kah kemarin kau sudah sepakat dalam seminggu ini akan mendengarkan ucapan ku?"


Saat itu Egbert mau marah, lidahnya ingin bergerak mengutarakan penolakan. Tapi mengingat ia sudah menyepakati nya kemarin, sepertinya ia tidak punya pilihan selain menunda pekerjaannya.


"Baik, aku temani kau pergi"


Annette bertepuk tangan ria, "Bagus. Kalau begitu kenakan sesuatu yang tampan"


Akhirnya Annette dapat memulai strategi balas dendam pertamanya. Yaitu...


Menyiksa harga diri Egbert yang angkuh.


......................


Egbert mengeluarkan mobil hitam kesayangannya dan membawa Annette ke mall. Seumur hidup, Annette hampir tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat itu. Karena sekarang ia dapat memanfaatkan kekayaan Egbert, maka hal pertama yang sangat ingin ia coba lakukan adalah...


Shopping sepuasnya.


"Kau ingin membeli apa?"


Di tengah pusat mall yang luas. Annette mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Aku ingin membeli beberapa pakaian, ayo!" Annette meraih tangan Egbert dan menyeretnya ke salah satu tempat di mana ia dapat mencoba berbagai macam pakaian bermerek.


Egbert yang ditarik wanita itu, hanya pasrah saja mengikuti derap langkah kakinya yang tampak sangat bersemangat.


Annette mencoba berbagai jenis pakaian yang disodorkan para staf kepadanya. Sedang Egbert menunggu dengan bosan di sofa dan setiap kali Annette keluar dari kamar ganti. Ia hanya berkomentar dengan singkat, "Bagus"


"Lumayan"


"Sangat tua"


"Terlalu membosankan"


"Norak"


"Tidak buruk"


Sampai di akhir-akhir Egbert sudah terlalu malas berbicara, mengeluarkan kalimat penyelesaiannya, "Sudahlah, kau bisa memiliki semuanya"


Annette mendelik senang, "Kau yang bayar?"


"En"


Annette terus berjingkrak kegirangan. Beberapa pelanggan wanita yang lain, menoleh pada Annette dengan rasa iri di mata mereka. Diam-diam mereka memuji betapa beruntungnya Annette memiliki suami mapan, tampan dan lagi murah hati.


Sekeluarnya mereka dari sana, Egbert terkejut dengan tentengan di tangannya, "Aku yang harus membawa semua ini?"


Kedua tangan Egbert sudah dipenuhi dengan dua puluh kantong belanja. Ia bahkan sempat kebingungan harus menentengnya seperti apa ketika ada beberapa dari mereka yang jatuh.


"Ya"


"Aku tidak mau. Kau pikir aku babu mu?"


"Egbert, di dunia manusia ini adalah salah satu cara suami melayani istri mereka. Jika kau serius menganggap aku sebagai istri mu, kau harus belajar melakukan hal yang sama"


"..." Egbert menggertak kan giginya dalam ketidaksetujuan. Melakukan hal itu sungguh sangat melukai harga dirinya sebagai putra mahkota yang terhormat.


"Anggaplah ini pelajaran pertama mu, ayo!"


Annette langsung memutar langkah kakinya dengan bangga ke depan. Meninggalkan Egbert yang sudah dalam tekanan diri yang buruk. Wajah tampan nya menggelap seakan kapanpun akan meledak.


Annette membeli banyak sekali barang. Ia juga membeli beberapa pakaian mahal untuk Aldrich. Hingga kantong belanjaan itu terus bertambah dan menggunung nyaris hampir menenggelamkan wajah tampan Egbert.


Orang-orang menoleh kearah mereka dan diam-diam menertawakan penderitaan Egbert. Saat itu, ingin sekali Egbert menghempas kan semua kantong belanjaan itu ke arah Annette tapi...


'Tahan!'


'Aku harus menahannya'


'Atau kalau tidak aku akan istri ku akan kabur lagi membawa pergi putraku'


Akhirnya sekitar dua jam lebih Egbert di siksa habis-habisan oleh Annette di mall. Mereka kembali ke kastil dengan membawa banyak sekali barang. Siksaan Egbert tidak berakhir sampai disitu, ternyata berlanjut ketika menjelang waktu makan siang.


Tok..tok..


"Masuk"


Annette mendorong pintu ruang belajar Egbert dan masuk kedalam.


"Egbert"


"En"


Egbert melanjutkan pekerjaan pengecekan dokumen-dokumen penting setelah tadinya sempat tertunda demi memenuhi kemauan Annette yang meminta di temani berbelanja di mall.


"Aku lapar"


"Kau bisa memesan apapun pada pelayan khusus dapur. Mereka dapat menyiapkannya untukmu" Egbert membaca halaman dokumen dengan sangat serius.


Annette berjalan kebelakang Egbert duduk dan tangannya tanpa sungkan memegang kedua pundak pria itu yang tegap, "Tapi aku ingin makan sesuatu yang kau siapkan"


"Aku tidak bisa memasak"


"Kau bisa mempelajarinya di video tutorial memasak. Itu sangat banyak di Y*uT*be"


"Tak ada waktu"


"Tapi ini adalah permintaan ku..."


Annette mengeluh manja di ambang telinga Egbert yang langsung memanas ketika mendengarnya.


"Sesuai kesepakatan, kau tentu harus menyanggupinya"


Mengepalkan tangannya, jiwanya dibuat remuk redam menahan amarah kekesalannya buat permintaan wanita itu yang sangat tidak masuk akal.


Saat itu Egbert bahkan curiga...


'Apa jangan-jangan wanita ini sedang balas dendam padaku?'


......................