
"Jangan berbalik"
"Eum"
"Awas saja kau mengintip"
"Harusnya kau tidak perlu seperti ini, bukannya aku tidak pernah melihatnya" Egbert memutar lututnya hanya untuk di sambut teriakan keras Annette.
"Egbertt"
"Baik-baik" Egbert menyerah.
Annette secepatnya mengenakan jubah tidur Egbert yang bewarna hitam itu ditubuhnya. Baju itu sangat besar, membungkus tubuhnya dengan sangat longgar. Bawahan nya bahkan menyentuh lantai dan lengannya pun begitu panjang hingga melewati pergelangan tangannya.
"Kau bisa berbalik sekarang" Annette mengikat tali jubah itu dengan kuat dan merapikan bagian atasnya agar tertutup rapat.
Egbert tersenyum lucu melihat jubah tidurnya yang tampak kebesaran di tubuh kurus Annette, "Harusnya aku memberikan mu kemeja ku, tapi sayangnya aku tidak memilikinya disini"
"Tidak masalah, ini tidak buruk" Annette berjalan mendekati ranjang.
Di tengah itu Egbert datang menggelayut manja di lengannya, "Tapi keseksian tubuh mu tertutupi karena ini" Egbert menarik helaian rambut coklat Annette dan menciumnya dengan kerlingan mata nakal padanya.
Annette tidak bisa membantu, pipinya memanas mendengar itu, "Dasar mes*m!"
"Pftt.."
Di luar sana, Belinda memerintahkan seluruh orang-orang berkumpul. Dari pelayan, pengawal dan semua pekerja di istana telah berderet rapi di lantai ruang tengah istana yang luas. Belinda melipat kedua tangannya dengan anggun saat berbicara, "Aku mengumpulkan kalian semua disini untuk menyampaikan pesan yang mulia"
Semua orang diam, menyimak dengan saksama.
"Ini terkait persoalan istri yang mulia yang adalah seorang manusia dan anak kecil campuran yang ikut bersamanya, yang mulia tidak ingin hal tersebut tersebar keluar. Itu berarti kalian harus menutup rapat mulut kalian dan menjaga lisan kalian sebaik mungkin saat berbicara. Dan juga, jangan ada satu orangpun dari kalian yang berpikir untuk mencicipi darah gadis manusia milik yang mulia. Itu berarti, sedikit saja kalian tidak boleh menyentuhnya"
Belinda mengedarkan pandangannya yang tajam ke semua orang yang berdiri dalam keheningan, "Apa kalian mengerti?"
"Kami mengerti madam"
"Bagus. Sekarang kalian boleh bubar"
Orang-orang bubar tanpa keributan. Mulut mereka terkunci rapat, sedikitpun tidak membahas apa yang baru saja diperintahkan Belinda kepada mereka. Belinda tersenyum puas, tidak sia-sia ia mendidik orang-orang di istana untuk lebih banyak diam dan menghindari gosip. Ia bahkan pernah mengatakan, siapapun dari mereka yang gemar berbicara dan bergosip, mereka bukan orang-orang yang pantas bekerja di istana bukan merah.
Itu berarti, mereka akan dikeluarkan.
Belinda berjalan lurus ke lorong, menuju kamar Egbert. Berhenti di depan pintu, ia meletakkan telinga nya ke pintu kayu dengan ukiran emas itu dan mencoba menguping apa yang terjadi di dalam sana.
"Ahh.."
"Nyaman"
"Aduh, bisakah kau sedikit lebih lembut?"
"Euh.."
"Yah, begitu.. pelan-pelan saja"
Belinda merasakan wajahnya memanas. Ia mengembara liar bersama fantasi di otaknya. Menutup setengah mulutnya, ia berkata tak berdaya, "Mereka anak muda..haa sungguh sangat bersemangat" Dengan begitu Belinda memilih pergi, enggan mendengarnya lebih jauh.
Tidak seperti yang pikirkan Belinda, di dalam sana Annette tengah berbaring tengkurap. Egbert duduk di samping nya dan memijit pundak hingga punggungnya. Jelas Belinda baru saja salah paham dengan apa yang mereka lakukan.
"Sudah cukup belum?" Wanita itu benar-benar memanfaatkan waktu semingguan ini dengan sangat baik.
Dari membawa belanjaan, memasak, hingga memijit. Semua mau tidak mau harus ia lakukan.
"Belum, sedikit lagi.." Annette memejamkan matanya dan memiringkan kepalanya dengan nyaman. Pijitan Egbert terasa enak hingga tak lama kemudian, ia langsung tertidur.
Egbert yang mendapati itu, menghela nafas tak berdaya. Ia mengangkat tubuh Annette dan membaringkannya dengan benar. Menarik selimut, ia pergi tidur sambil memeluk erat Annette. Aroma manis susu bercampur vanilla dari tubuh Annette telah memanjakan hidungnya. Ia pun ikut tertidur tak lama setelannya.
......................
Pagi sekali Annette sarapan dengan daging sapi bakar. Ia tidak bisa mengeluh akan itu, di negri ini hanya ia seorang manusia yang memerlukan makanan seperti itu. Selesai sarapan, ia pergi ke kamar Aldrich. Di sana dokter Robbin sedang memeriksanya.
"Ini adalah hal yang langka terjadi. Putra anda yang mulia, alergi dengan darah hewani"
Pantas saja beberapa hari belakangan ini Aldrich merasa gatal-gatal. Karena sudah lama Aldrich tidak meminum darah ibunya dan meminum darah kelinci sebagai gantinya.
"Ini sulit. Bagaimanapun dia tidak bisa bergantung dengan darah ibunya terus-menerus. Apa ada obat untuk menyembuhkan alerginya?" Egbert bertanya.
"Tentu saja ada. Tapi ini hanya untuk menumbuhkan gatal-gatalnya karena alergi. Bukan untuk menghilangkan alergi tersebut"
"Kalau begitu siap kan saja itu"
"Baik yang mulia"
Annette mendatangi Aldrich, "Mulai sekarang kau cukup minum darah mama saja. Tidak perlu mengkonsumsi darah lain"
"Annette"
"Ya?" Annette menoleh kebelakang.
"Bisa tinggal kan kami berdua. Aku ingin berbicara empat mata dengannya"
"Ya bicara saja. Aku mamanya, kenapa aku tidak boleh mendengarnya"
Egbert melirik pada Aldrich. Mengirimkan sinyal bahwa ada hal penting yang ingin dibicarakan dengannya. Aldrich menangkap maksud tersebut, menarik tangan ibunya lembut dan membujuk, "Maa, ini percakapan antara dua orang laki-laki, jadi bisakah mama—"
"Memangnya ada apa dengan itu? Kalian berdua ingin bermain rahasia-rahasiaan dengan ku?"
"Maa—"
"Baik-baik, mama pergi" Walaupun merasa agak kesal, Annette dengan berat hati pergi meninggalkan kamar.
Membiarkan dua orang itu membicarakan sesuatu yang sepertinya akan dirahasiakan darinya.
"Kau adalah bayi rahasia vampir yang telah tumbuh besar di negri manusia. Kau tidak bisa mengelak dari fakta, kalau kau adalah putra kandung ku"
"Jadi, setelah menghamili mama ku dan lahirlah bayi rahasia vampir mu ini, apa yang akan kau lakukan dengan itu?"
Egbert tersenyum lurus dengan sepasang matanya berbinar dingin, "Takhta"
Mata Aldrich menyipit, "Apa itu, seorang raja? Atau kaisar?"
"Kau akan segera mengetahuinya nanti"
Bibir kecil Aldrich berkedut, "Bagaimana jika aku tidak mau mengakui mu papa ku dan menolak bekerja sama dengan mu?"
"Mama mu mencintai ku"
Mata Aldrich berkerut dalam, menatap Egbert dingin, "Aku tau, lalu ada apa dengan itu? Hanya soal waktu, ia akan segera melupakan mu, jika aku membawanya menjauh darimu"
Egbert menjilat bibir bawahnya, "Sudah lima tahun berlalu, apa menurutmu ini masih soal waktu?"
Tatapan Aldrich menajam.
"Aku yakin kau yang paling jelas seperti apa hati mama mu itu"
Aldrich diam beberapa saat. Ia tau walaupun ibunya mengatakan untuk tidak akan jatuh cinta pada Egbert, tapi jauh di dasar hatinya yang paling dalam ibunya masih menyimpan perasaan terhadap pria itu.
Barangkali mulut bisa berbohong, tapi tidak dengan bahasa tubuh. Begitulah yang ibunya lakukan sejauh ini.
Mengepalkan tangannya, Aldrich bertanya, "Akan ku lakukan. Lalu apa yang akan kau berikan sebagai gantinya?"
Egbert tersenyum. Ia suka dengan cara putranya yang langsung menuju ke poin.
"Diriku"
Aldrich menautkan sepasang alisnya.
"Setelah aku menduduki takhta, aku sepenuhnya menjadi milik mama mu. Hanya dia seorang wanita, yang bisa berkuasa atas ku. Kemewahan, gelar dan kekayaan akan menjadi miliknya juga. Jadi kau tidak perlu khawatir mama mu akan hidup sulit lagi"
Aldrich mengenang malam-malam ibunya pergi bekerja ke bar. Ibunya kerapkali kembali larut malam dan bahkan menghadapi bahaya dalam perjalanan nya menuju rumah yang kadang bertemu pria mabuk dan preman.
Aldrich sadar, betapa ibunya selama ini sudah bekerja begitu keras demi menghidupi dirinya.
"Baik, begitu saja"
Egbert tersenyum puas, "Aku tidak berniat membuka identitas mu sekarang dan itu berarti aku harus menyembunyikan mu di suatu tempat"
"Aku tidak ingin pergi jauh-jauh dari mama" Aldrich mendengus.
"Apa kau akan hidup menjadi anak mami?" Egbert tersenyum meledek.
Aldrich memberengut diam.
"Jika tidak. Turuti saja pengaturan ku. Ini juga ku lakukan untukmu"
"Atas dasar apa aku percaya?"
"Kau adalah putra ku. Aku barangkali memanfaatkan mu, tapi aku juga berpikir untuk menjaga mu"
"..."
"Bagaimanapun, aku tidak akan sekejam itu sampai tidak peduli terhadap segala persoalan mu"
......................