
Sepanjang perjalanan menuju ke pelosok desa yang asri, Annette tertidur pulas bersama bayinya yang berada dalam pangkuannya. Parker yang fokus menyetir, sekilas melihat kearah ibu dan anak itu yang tampaknya benar-benar kelelahan. Entah berapa lama mereka sudah berjalan dibawah terik matahari, mengingat itu Parker menatap kasihan pada mereka.
Sekitar tiga jam berlalu, mobilnya pun berhenti tepat di depan sebuah rumah yang letaknya agak jauh dari penduduk sekitar. Rumah itu cukup luas dengan desain minimalis yang tampak menyatu dengan alam sekitar. Pekarangan nya pun cukup asri dan banyak pepohonan hijau yang mengelilinginya.
Tepat di depan sana sudah ada seorang pria paruh baya yang menunggu kedatangannya. Tanpa membangunkan Annette, ia turun dari mobil.
"Apa ini dengan tuan Parker?"
"Benar pak. Saya Parker"
"Ah, perkenalkan saya Jack"
Dua orang itupun saling berjabat tangan.
"Saya adalah pengurus rumah ini. Sudah dua tahun terakhir tempat ini tidak terpakai, karena belum ada dokter pengganti yang mau dinas di desa ini" Tutur pria paruh baya itu pada Parker, "Akhirnya rumah ini kembali ada yang menempatinya. Semoga anda betah tinggal di desa kami ini tuan Parker" Lanjutnya dengan seulas senyum. Sikapnya yang hangat, cukup mencerminkan gaya masyarakat desa yang ramah.
"Terimakasih paman Jack" Parker senang karena orang pertama yang ditemuinya di desa itu telah menerima kedatangan nya dengan senang hati.
"Ini kuncinya. Jika perlu apa-apa, anda bisa menghubungi saya dengan nomor ini" Selembar kertas yang berisi deretan nomor pun di sodorkan kepada Parker.
"Baik paman Jack, sekali lagi terimakasih"
"Iya, sama-sama" Angguk pria paruh baya tersebut.
"Kita sudah sampai?" Itu adalah Annette yang baru terbangun dan terus turun dari mobil melihat mereka sudah berada tepat di depan kediaman sederhana nan asri.
"Iya, baru saja"
"Kenapa kakak tidak membangunkan aku?"
"Woah, jadi anda datang kemari dengan istri anda?" Seru Jack, ketika melihat Annette yang muncul dengan menggendong bayi. Sekilas ia dapat melihat betapa muda nya Annette.
"Ah benar. Saya datang kemari dengan istri saya"
Jawaban yang dikeluarkan Parker itu sontak membuat Annette terkejut. Ia terus melayangkan tatapan penuh tanyanya pada Parker, tapi sebagai balasan, pria itu hanya mengedipkan matanya.
"Istri anda cantik sekali dan sepertinya sangat muda dari anda. Pasti jarak usia kalian yang berbeda jauh ya?" Ucap Jack tersebut yang sangat berterus terang.
Biarpun Parker tidak terlihat begitu tua untuk seorang lelaki tiga puluhan, tapi tetap saja ketika bersanding di samping Annette. Sekilas orang dapat melihat jarak antara usia mereka yang nyaris mirip seperti kakak dan adik.
"Eum" Parker hanya mengangguk sekenanya. Melirik sekilas pada wajah cantik Annette yang kebingungan, dalam hati ia bertanya-tanya...
'Apa aku setua itu?'
'Apa selisih usia kami terlihat cukup jelas?'
"Anda cukup pandai memilih istri. Semakin muda memang jauh lebih bagus.." Lanjut Jack lagi seraya mengedipkan mata pada Parker.
"Ah, haha.." Parker tertawa ringan sebagai jawaban. Sedang Annette hanya berdiri canggung di posisinya mendengar percakapan dua orang itu.
"Kalau begitu saya tidak akan mengganggu kalian lagi. Silahkan beristirahat dengan nyaman, karena di dalam rumah semuanya sudah saya bersihkan"
"Baik paman, sekali lagi terimakasih"
Setelah Jack pergi, Parker bergegas mengeluarkan barang-barangnya dan Annette pergi membuka pintu rumah. Desain interior di dalamnya di dominasi hitam coklat yang menawan. Annette sekilas terpukau dengan tata letak ruangan nya yang hangat dan nyaman.
"Kenapa kakak mengakui aku sebagai istri di depan bapak tadi?" Tanya Annette yang sudah duduk di sofa sambil mendekap bayi mungilnya yang masih tertidur pulas.
Parker sudah meletakkan semua barang-barang di ruang tamu dan langsung mengistirahatkan punggungnya di sofa tunggal.
"Maaf, aku sudah membuat mu tak nyaman ya?"
"Ah bukan begitu kak, aku hanya.." Annette bingung harus menjelaskannya seperti apa.
"Itulah kenapa aku mengakui mu sebagai istri ku, jadi kedepannya selama kita tinggal di sini, kita tidak perlu mendengar gunjingan buruk orang-orang"
"Aah.." Annette manggut-manggut mengerti. Kemudian ia merasa perlu berterima kasih pada pria itu karena sudah membawanya pergi bersamanya atau kalau tidak, ia mungkin akan bermalam di jalanan bersama bayi mungilnya.
"Terimakasih kak karena sudah mengizinkan aku ikut dengan kakak. Jika tidak, mungkin aku dan Aldrich aka tidur di emperan toko malam ini" Tutur Annette dengan penuh keharuan di wajahnya.
Parker mengangguk, tersenyum dan kemudian bertanya dengan antusias, "Aldrich? Apa itu nama putra mu?"
"Eum" Angguk Annette, "Apa kedengarannya tidak bagus?" Annette mengusap belakang lehernya terlihat malu, "Aku tidak terlalu pandai memberi nama"
"Tidak. Itu nama yang bagus" Ucap Parker.
"Benarkah?" Tampak sepasang mata Annette berbinar senang.
"Eum, sangat cocok di sandingkan dengan bayi mungil mu yang tampan"
"Ah, baguslah kalau begitu" Kata Annette dengan seulas senyum senang di bibir. Hingga tiba-tiba ruang tamu yang sunyi kini diselimuti suara rengekan bayi. Annette terus menjadi panik dan mulai menimang bayinya dengan sikap kacau harus melakukan apa.
"Sepertinya dia tak nyaman dengan celananya yang lembab" Parker dapat melihat bekas ompol di celana bayi itu.
"Iya kah?" Annette menunjukkan ekspresi risau, "Ah, aku harus bagaimana ini? Aku sama sekali tidak mempunyai perlengkapan apapun untuk bayi ku" Ucapnya.
Parker menggigit bibir bawahnya dan mulai memikirkan sesuatu.
"Tunggu sebentar" Setelahnya Parker pun keluar dari rumah.
Sekitar sepuluh menit berlalu Annette mencoba mendiamkan bayinya, Parker kembali dengan membawa beberapa potongan pakaian bayi dan popok.
"Itu.."
"Ah, tadi aku meminta tolong pada paman Jack, kebetulan ada sebuah keluarga di desa ini yang memiliki bayi dan mereka dengan murah hati memberikan ini padaku"
"Penduduk di sini sangat baik" Annette merasa tersentuh dengan kebaikan mereka.
"Tapi, aku tidak tau bagaimana cara melakukannya" Annette menyuguhkan tatapan polosnya kepada Parker, "Mengurus bayi, ini adalah pertama kalinya bagiku"
Parker menggaru tengkuknya yang tak gatal, merasa sama bingung nya dengan Annette. Ia pun sama sekali tidak punya pengalaman soal itu.
"Bagaimana jika kita lakukan bersama?"
"Eum"
Mereka pun pergi bersama-sama ke kamar mandi. Parker menyiapkan air hangat di bathtub dan Annette memegang bayinya yang masih saja menangis. Sekali-kali Parker membuat beberapa lelucon kecil di wajahnya, bukannya tertawa tapi bayi itu hanya menatap bosan kearah Parker. Reaksinya itu berhasil membuat Parker tergelak.
Di samping itu Annette dengan sangat hati-hati membersihkan setiap inci tubuh mungil itu dengan air dan menggosoknya dengan sangat lembut takut membuat kulit tipis itu memerah. Setelahnya, Parker mengambil handuk dan membantu membendung bayi Aldrich. Kemudian ia menggendongnya dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Annette yang melihat panorama itu sesaat merasa suatu getaran dalam hatinya, "Andai saja pria yang ku nikahi sosok yang hangat seperti kak Parker" Gumamnya lirih.
Parker meletakkan bayi Aldrich di atas ranjang. Annette baru saja keluar dari kamar mandi dan berjalan ke sisi Parker.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Memakaikan baju buat bayi Al" Ucap Parker, sekilas sikapnya menunjukkan semangat bapak muda yang pertama kalinya memiliki pengalaman mengurus anak.
Mereka pun saling membantu memakai kan baju ke bayi Aldrich. Tapi tangisnya masih saja belum kunjung reda padahal mereka sudah menggantikan pakaiannya.
"Kenapa lagi ini? Kenapa dia masih belum berhenti menangis?" Annette begitu saja terduduk di atas lantai, benar-benar merasa frustasi.
Parker yang jujur saja ikut merasa lelah itu, berbaring lemas ke atas ranjang tepat di samping bayi Aldrich. Ia sadar, ternyata mengurus bayi bukan lah hal yang mudah.
"Sepertinya dia haus..." Ucap Parker kemudian.