
Annette sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Di luar sana Gordon sudah menunggunya tepat di halaman kastil. Berdiri di depan cermin, menyaksikan perut besarnya. Annette merasa ragu untuk pergi. Bagaimana jika anak-anak menyadari keganjilan dari tubuhnya?
Karena perutnya sudah terlalu besar untuk ditutupi. Itu persis seperti wanita yang sudah memasuki usia tujuh bulan kandungan. Jadi sia-sia jika ia membungkus rapat tubuhnya dengan jaket untuk menyembunyikannya, itu hanya akan tetap terlihat.
"Haah" Annete mendesah panjang dan dengan langkah berat ia mendatangi tepi ranjang dan duduk.
Saat itu pintu kamarnya terketuk. Annette dengan nada lemah bertanya, "Siapa?"
"Ini saya nyonya, Mikha"
"Masuklah"
Setelah mendapatkan izinnya, pintu pun terbuka dan Mikha berjalan masuk kedalam.
"Nyonya, Tuan Gordon sudah menunggu anda diluar, anda tidak berangkat sekarang?" Tanya Mikha sopan. Sekilas ia dapat melihat wajah lesu Annette yang bercampur sedikit kesuraman.
"Menurut mu, apa jadinya jika seorang mahasiswi hamil muda seperti ku datang mengikuti pembelajaran?" Tanya Annette, tanpa menoleh kearah Mikha. Tatapan sedihnya memandang lurus panorama luar kastil dari jendela kamarnya.
Mikha sejenak mengerti kenapa tiba-tiba Annette terlihat begitu sedih.
"Sekarang beberapa kampus sudah memperbolehkan mahasiswa mereka menikah dan bahkan mengandung. Jadi saya pikir, itu bukan masalah selama tidak ada larangan bagi wanita hamil mengikuti pembelajaran" Jawab Mikha.
Nasibnya mungkin sedikit mirip dengan Annette. Ia merupakan anak yatim piatu. Hanya ia tidak berkeinginan sekolah tinggi-tinggi seperti Annette. Selama ia memiliki tempat yang nyaman untuk tinggal dan uang untuk memenuhi kebutuhannya, baginya sudah cukup untuk menjadi seorang pelayan di kastil Egbert.
"Tapi tetap saja, pernikahan ku tidak diakui secara hukum. Mereka akan berpikir aku hanyalah anak nakal yang senang bermain liar hingga hamil di luar nikah" Begitulah yang Annette pikirkan. Sekalipun ia mengandung anak Egbert murni setelah menikahi pria itu. Tapi tetap saja, pernikahan itu hanya sah secara adat dan hukum bangsa Egbert.
Jadi di mata masyarakat, ia tak lebih dari wanita yang hamil di luar nikah.
"Maaf nyonya jika pertanyaan saya lancang, apakah menjadi sarjana sepenting itu bagi anda?"
Mendengar pertanyaan itu, Annete langsung menoleh kan pandangannya ke arah Mikha, "Em" Annete mengangguk kemudian sebagai jawaban.
"Aku ingin mengubah nasib hidup ku. Setidaknya aku punya gelar di belakang namaku, yang dapat mempermudah ku mencari pekerjaan tetap" Sangat sulit memiliki mata pencaharian yang stabil di era yang penuh dengan daya saing tinggi seperti ini. Sejauh ini saja ia hanya pekerja serabutan dengan gaji yang sangat kecil.
"Lalu, apa yang akan anda lakukan sekarang?" Tanya Mikha kemudian, "Bagaimanapun ini adalah kehidupan anda. Tidak peduli apa yang di katakan orang, pada akhirnya anda lah yang menjalani dan menerima segala konsekuensinya. Bukan mereka"
Perkataan itu berhasil membuat Annette tersadar. Mikha benar. Bagaimanapun ini adalah kehidupannya. Ia tidak seharusnya terpengaruh oleh kata-kata dan cara pandang orang terhadapnya. Karena terakhir, dialah yang mejalani segala manis dan pahitnya, bukan orang-orang itu.
"Terimakasih Mikha" Sejejak senyum terbit di bibir Annette yang kali ini tidak lagi pucat seperti terakhir kali.
"Sekarang aku tau, pilihan apa yang harus aku ambil"
......................
Annette sudah memutuskan, pada akhirnya ia pergi ke kampus dan mendapatkan ribuan pasang mata yang menatap kearahnya penuh tanda tanya dan heran. Begitu cepat menit dan detik berlalu, orang-orang pun mulai membicarakan dirinya di belakang. Tanpa mendengar secara langsung pun, Annete tau apa yang mereka perbincangkan.
Lucy yang biasanya datang menyapanya, kini memandangnya dengan sudut pandang lain. Annette dapat merasakan Lucy mulai menjaga jarak dengannya dan Annette tidak bisa berbuat apa-apa soal itu.
'Hah, ternyata beberapa orang begitu cepat berubah'
"Tolong jawab yang sejujurnya.." Wanita yang berkisar empat puluhan dengan rambut tersanggul rapi, menatap lekat ke wajah Annette yang tertunduk, "Apa yang di gosip kan anak-anak itu benar bahwa kamu hamil di luar nikah?"
"..." Annette memilin jari-jemarinya dengan perasaan remuk redam oleh kesedihan dan kemarahan yang bercampur ketidakberdayaan. Ia tidak tau harus menjawab apa.
"Saya kecewa dengan kamu Annette" Bagi wanita berkacamata itu, diamnya Annette adalah jawaban dari gosip-gosip panas yang telah menyebar di seantero kampus itu benar adanya.
"Kampus ini tidak dapat menanggung aib yang kamu bawa, jadi pilihan yang kamu punya ada dua" Wanita itu melipat kedua tangannya di meja dan melanjutkan, "Kamu berinisiatif sendiri untuk keluar atau yayasan yang melakukannya untukmu"
Dan hari itu, Annette kehilangan beasiswa dan meninggalkan kehidupan kampus nya. Padahal hanya beberapa semester yang tersisa tapi...
"Sejak kapan semua menjadi berantakan seperti ini?" Annette menatap ke langit-langit putih yang cerah dan pedih nya hati langsung membuatnya menangis deras.
Tidak sampai di situ kesialannya. Sore harinya ketika ia datang bekerja, manajer mini market datang menemuinya bahwa ia sudah tidak lagi di pekerjakan di tempat itu karena sudah terlalu sering absen bekerja. Setelah menerima uang pesangon, Annette tidak tau apakah harus tertawa atau menangis.
"Annette"
Annette menoleh pada si memanggil yang tak lain adalah seseorang yang sudah seperti kakak dan keluarga baginya.
"Kak—" Bibir Annette bergetar, ia berlari memeluk erat Laura dan menangis hebat.
Laura ikut merasa sakit untuk Annette. Gadis itu kehilangan beasiswa, di keluarkan dari kampus dan bahkan kini pekerjaannya pun berakhir.
"Ingat, sekalipun kamu tidak lagi bekerja di minimarket ini. Tapi hubungan di antara kita tidak akan berubah" Ucap Laura, tangannya menepuk pelan pundak Annette, "Kau bisa menemui ku kapan pun yang kau mau"
"Terimakasih kak" Satu-satunya yang membuat Annette bersyukur hari itu adalah fakta Laura masih sedia menerima keadaannya dan kekacauannya.
Sean telah mendengarkan kabar di keluarkan nya Annette dari kampus. Sekarang ia sedang berbicara lewat telepon dengan Egbert untuk mengabari hal tersebut.
"Aku tidak mengira istri mu akan senekat itu untuk tetap pergi ke kampus"
"Ya, dia gadis kecil yang pantang menyerah" Hanya itu yang dapat Egbert katakan.
"Aku yakin saat ini dia pasti terpukul, jadi hibur lah dia!"
"..." Egbert tak menjawab.
Terdengar ******* berat dari seberang, "Ingat dia sedang hamil, jangan sampai kondisi terpuruknya mempe—"
"Aku mengerti" Potong Egbert. Sebenarnya ia sudah muak mendengar hal itu yang sepertinya sudah keluar ratusan kali dari mulut Sean.
"Aku tau apa yang harus ku lakukan" Ucapnya lagi.
"Jadi tidak perlu mengulang-ulang hal membosankan ini"
Setelahnya, percakapan pun di akhiri sebelah pihak oleh Egbert.
......................