
Egbert sama sekali tidak menyadari betapa tersiksanya Annette karena ia yang tak memberinya ruang untuk bernafas. Ia begitu kehilangan kendali karena bibir Annette begitu manis. Ketika ia mengenyam nya dan menggigitnya benda lunak itu hingga berdarah, Egbert menyesapnya dalam kenikmatan.
Annette menjepit sepasang alisnya kesakitan karena ulah Egbert. Dalam kemarahan yang membumbung tinggi dihatinya, detik itu ia mengingat janjinya tadi sore. Seketika ia mengutuk kebodohannya. Ia benar-benar menjanjikan bibirnya sebagai santapan buat serigala lapar.
Entah berapa menit berlalu, Egbert tidak kunjung berhenti. Otot-otot tubuh Annette mulai melemah seiring kepalanya yang memberat karena kekurangan oksigen. Hidungnya yang terjepit di bawah pergerakan mulut Egbert yang masih membungkam rapat bibirnya, membuat Annette benar-benar akan pingsan di tempat.
Ia hanya perlu menghitung dihatinya, hingga dalam hitungan ke dua puluh tiga, dunianya berubah menjadi gelap.
Ketika Egbert mendapati seluruh beban tubuh Annette jatuh bersandar padanya, saat itu ia mulai merasakan keanehan. Ia perlahan menjauh dari bibir Annette yang sudah basah dan bengkak karena ulahnya, mendapati wajah cantik itu terkulai lemah tak sadarkan diri.
Egbert langsung mengangkat tubuh kurus Annette ke atas ranjang. Ia tidak tau apa masalahnya, padahal beberapa saat lalu wanita itu masih begitu keras menolak perbuatannya. Segera ia turun ke lantai bawah dan memanggil Mary.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Mary keluar dengan membawa wajah setengah mengantuk. Ia tak mengira tuannya akan membangunkannya di larut malam seperti ini.
"Cepat panggil dokter!"
"Dokter?" Mary mengerutkan keningnya saat rasa kantuknya mulai berangsur-angsur sirna.
"En. Annette pingsan. Aku tidak tau kenapa"
"Pingsan?" Mata Mary berkedip dalam kejutan. Ia ingat saat makan malam Annette tampak begitu sehat dan bugar. Tapi bagaimana wanita itu bisa pingsan?
Mary tidak dapat melihat wajah Egbert begitu jelas karena minimnya cahaya. Ia pergi menyalakan lampu dan saat itu ia melihat ada jejak darah di sudut bibir Egbert.
"Maaf tuan, apa anda baru saja menghisap darah nyonya?"
Egbert mengangguk, "Sedikit"
"Apa anda yakin itu hanya sedikit?" Takut-takut Mary bertanya.
Jika itu memang sedikit, bagaimana nyonya bisa pingsan?
"Em" Egbert mengangguk dengan sangat yakin. Karena ia memang hanya menyesap sedikit darah Annette ketika menggigit bibirnya hingga berdarah.
Mary menggigit bibir bawahnya dalam keraguan. Tapi karena tuannya sudah berkata begitu, maka barangkali memang benar seperti itu. Hanya...
"Tapi tuan, ini sudah cukup larut, sudah tidak memungkinkan untuk mendatangkan dokter kemari"
Di samping itu mereka tidak memiliki dokter khusus yang bekerja untuk keluarga. Itu karena Egbert sebagai vampir, tidak membutuhkan dokter manusia. Jika para pelayan sakit, paling mereka akan pergi ke rumah sakit dengan biaya dalam tanggungan Egbert.
"Aku tidak mau tau. Bagaimana pun caranya, kau harus mendatangkan dokter secepatnya"
"Tapi tuan.."
Tiba-tiba suara derap langkah kaki yang berjalan menuruni anak tangga, langsung mencuri perhatian dua orang itu. Mereka melihat seonggok tubuh kurus dalam gaun putih, menuruni anak tangga dengan langkah pelan.
"Nyonya"
"Annette"
"Egbert, kau brengs*k!" Annette berhenti di anak tangga terakhir dan memaki Egbert dengan wajah kesalnya.
"..." Egbert mengedipkan matanya tanpa emosi.
"Kau benar-benar tidak memberi ku sedikitpun ruang untuk bernafas. Apa kau pikir tubuhku ini robot yang bisa melayani ciuman ganas mu itu tanpa jeda?"
Mary sepertinya sudah mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar. Melihat bibir Annette yang merah bengkak, ia sungguh tidak habis pikir dengan perbuatan tuannya.
"Silahkan anda berdua lanjutkan, saya permisi" Mary tidak mau terlibat dalam konflik pasangan itu, segera undur diri untuk kembali ke kamarnya dan tidur.
"Huft, syukurlah. Hampir saja aku harus keluar tengah malam buta demi mencari dokter"
Egbert melangkah mendekati posisi Annette berdiri. Melihat mata jernihnya yang begitu kentara dengan rasa kesal yang lucu, itu sedikit menggelitik hatinya, "Jadi, kau baru saja pingsan karena—"
"Diam!" Bentak Annette. Kedua telinganya memerah menahan panas. Ia cukup malu mengigat momen panas di kamar tadi.
"Pftt.."
"Kenapa kau tertawa?" Annette merasa sangat ingin mencakar wajah tampan itu dengan cakaran yang ganas, "Apa menurutmu ini cukup lucu'untuk di tertawa kan?"
"Menurutmu?"
"Huh!" Annette mengurucutkan bibirnya tak suka.
Ia sama sekali tidak tau, penampilannya yang begitu— itu tampak cukup menggemaskan dan menghibur Egbert yang diam-diam mengulum rapat bibirnya dalam senyuman.
......................
Pagi harinya, Annette begitu malu untuk bertemu dengan orang-orang. Terlebih putra kecilnya. Itu karena bibir nya yang bengkak, sangat mencolok dan mengundang tanda tanya. Saat putranya baru saja selesai mandi dan bertanya, "Ma, ada apa dengan bibirmu?"
Annette mengusap bagian belakang lehernya berbohong, "Ah, itu mungkin karena semalam mama memakan sesuatu yang menyebabkan alergi, membuat bibir mama bengkak dan gatal"
Annette lupa kalau betapa tajam pemikiran putranya yang dapat menembus langsung ke pemikirannya. Aldrich tau kalau ibunya berbohong, tapi tidak ingin membuat wanita itu dalam kecanggungan, ia hanya mengangguk mengiyakan saja.
Saat sarapan, beberapa pelayan yang berlalu lalang kerapkali salah fokus dengan kondisi bibirnya. Annette menurunkan kepalanya kebawah, merasa ingin menenggelamkan wajahnya ke suatu tempat.
"Pagi!"
Egbert datang dengan tampang tak berdosa nya. Menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Annette yang berusaha keras menunduk dan bersembunyi, "Kau kenapa?"
"Menurut mu?" Annette membidik Egbert dengan tatapan tajamnya.
Melihat kondisi bibir wanita itu yang bengkak parah karena ulahnya semalam, barulah Egbert mengerti apa yang menyebabkan wanita itu bersembunyi seperti kucing di kolong meja.
Egbert hanya tersenyum acuh dan memanggil seorang pelayan untuk menuangkan minumannya.
Yang datang adalah Zeta. Ia mengangkat se-teko darah kelinci hangat dan menuangkan nya ke gelas Egbert hingga penuh. Melihat tangannya yang terbalut kain kasa, Egbert tau kalau itu adalah perbuatan putra kecilnya yang keras kepala.
"Tuangkan untuknya juga" Egbert merujuk kepada Aldrich.
Zeta mengangkat kepalanya dan bola matanya langsung bergetar ketakutan melihat Aldrich. Rasanya seperti ia memiliki trauma khusus dengan bocah satu itu.
"Tidak" Aldrich memberi Egbert tatapan dinginnya, "Aku minum darah ibuku"