
Awal pagi, Egbert sudah duduk di ruang tengah bersama, Mary, Aldrich dan tamu tak diundang yang sembarang saja sudah menginap di kastil nya, Emma. Wanita itu duduk di salah satu sofa tunggal dengan wajah tertekuk masam. Matanya dipenuhi kebencian pada bocah yang duduk di seberang. Anak kecil itu sungguh menyiksanya sampai mati dalam separuh pagi buta ini. Mengelus lehernya yang sakit, ia dapat merasakan itu memerah dan perih. Bukti nyata dari perlakuan bocah itu yang ia tidak tau dari mana asalnya.
"Egbert, aku tidak terima ini" Setelah lama terdiam, Emma membuka mulutnya dan menyatakan ketidaksenangannya.
"Berani-beraninya bocah itu mencekik ku. Lihat!" Emma menunjuk lehernya yang hampir patah dan remuk, "Bekas tangannya bahkan masih ada di sana. Dan kau—" Tenggorokannya tercekat dengan perasaan kecewa, "Beraninya kau mengambil sikap tak peduli. Jika aku mati karena bocah itu bagaimana?" Pekik nya histeris dan agak menyedihkan.
Aldrich yang mendengar itu memutar bola matanya cuek. Ia bahkan mencebik kan bibirnya dengan senyum mengejek. Aksinya itu terang saja membuat Emma geram merasa ingin meremukkan wajah kecil itu sampai sehabis-habisnya.
Egbert memasang tampang lurus nya, acuh dan jauh. Matanya yang tidak menyimpan emosi apapun, lagi-lagi membuat Emma merasa kecewa.
"Itu hanya hal kecil, tak perlu begitu menderita"
"Kau—"
"Bukannya kau dulu juga pernah melakukan hal itu padaku" Mengatakan itu, ada jejak luka di sepasang mata Egbert yang membeku seperti es. Ia masih ingat dengan jelas, bagaimana jari-jemari wanita itu yang lentik dan berkuku tajam, suatu malam datang nengukung lehernya dan mencekiknya tanpa segan. Jika malam itu ia tidak tersadar dan lengah, barangkali ia sudah mati di tangan wanita...
Yang tak lain malam itu masih berstatus kekasihnya.
"Aku ingat aku tidak mempermasalahkannya, jadi hari ini putra ku melakukannya padamu, kau juga tidak perlu merasa keberatan"
Emma membelalak kan matanya, "P-putra?" Separuh mulutnya terbuka dengan tatapan tak percaya, "B-bocah itu putramu?"
Sebagai jawaban, Egbert menganggukkan kepalanya dengan tenang.
"T-tidak mungkin" Bulu mata Emma berkibar dalam ketidakpercayaan, "Kau jelas belum menikah, bagaimana bisa kau memiliki seorang putra?"
Emma yakin kalau sejauh ini status Egbert masih seorang pria lajang. Itulah kenapa beredar gosip di negri Merland, kalau putra mahkota yang terhormat masih belum dapat melupakan mantan kekasihnya— yang tak lain adalah dirinya. Itulah kenapa sampai hari ini Egbert terus menolak tawaran para petinggi dan bangsawan yang memperkenalkan putri-putri cantik mereka kepada Egbert berharap satu dari mereka dapat menjadi calon putri mahkota.
Tapi tak ada satupun dari tawaran itu tersambut hangat oleh Egbert.
Lalu bagaimana bisa Egbert mendadak memiliki anak? Dari mana anak itu berasal? Apa itu hanya anak adopsinya semata?
Berbagai pertanyaan memburu Emma dalam diam. Namun tidak ada satupun dari jawaban itu yang dapat Emma prediksi apa jawabannya.
"Apa kau memiliki seorang kekasih tanpa sepengetahuan ku?" Rasa penasaran itu, membuat pertanyaan itu begitu saja lolos dari mulut Emma yang gemetar gugup.
Seakan ia tidak siap menerima fakta kalau mantan kekasihnya itu sudah memiliki pengganti dirinya.
Bibir Egbert berkedut dalam senyum dingin. Pertanyaan itu terdengar begitu konyol, tapi yang mengajukannya, jelas jauh lebih konyol, "Jika aku memilikinya, apakah aku berkewajiban untuk memberitahu mu?"
Aldrich yang sedari tadi diam dan menyimak percakapan dua orang dewasa itu, menghela nafas bosan. Meskipun Aldrich masih kecil, tapi firasat tajam nya mengatakan kalau dua orang itu pasti memiliki hubungan yang tidak sederhana. Terlalu malas menontonnya lebih jauh, ia langsung beranjak dari sofa, "Urus wanita mu dengan benar. Jika sekali lagi aku melihatnya mengusik mama ku, aku tidak akan segan membunuhnya" Pertama Aldrich memberi tatapan dinginnya kepada Egbert, lalu ia menoleh pada Emma dengan tatapan membunuhnya.
Mengepalkan tangannya, Emma terang saja merasa tidak terima. Harga dirinya sebagai wanita dewasa seakan hancur di bawah ancaman bocah kecil itu. Tapi...
Ia tidak dapat menyangkal kalau bocah itu memiliki aura yang kuat dan berbahaya. Membuat dirinya terakhir hanya diam dan tidak berkutik apapun sebagai protes.
Aldrich berjalan kearah Mary yang berdiri di samping sofa tempat Egbert duduk. Ia berkata dengan nada otoriter nya yang sama persis seperti Egbert, "Aku ingin melihat mama. Kau pergi antar kan aku ke sana"
Sebelum pergi, tak lupa Mary undur diri dengan sopan kepada Egbert, "Saya akan pergi mengantarkan tuan muda, setelannya saya akan kembali untuk mempertanggung jawabkan kesalahan saya"
"Eum" Egbert melambai, memberikan izinnya.
Tapi baru beberapa langkah dua orang itu berjalan, Egbert berseru, "Berhenti"
Aldrich menghela nafas kesal dan Mary berbalik dengan sopan, "Iya tuan?"
Egbert hanya melirik sekilas kearah Mary dan matanya kemudian pergi menatap punggung Aldrich yang berdiri membelakanginya, "Dia bukan wanita ku"
Aldrich mengangkat bibir atasnya, menyeringai. Ia berucap tanpa menghadap kearah Egbert, "Jika dia bukan wanita mu, kalau begitu usir saja dia dari sini" Setelah mengatakan itu, Aldrich menyuruh Mary untuk kembali memimpin jalan.
Menghadapi keangkuhan kecil itu, Egbert hanya tersenyum lurus, membatin, 'Dia memang benar-benar putraku'
Emma tidak lepas menatap punggung kecil Aldrich yang berangsur-angsur lenyap dari pandangan. Sekalipun wajah dan rambut bocah itu sangat jauh berbeda dari Egbert. Tapi keseluruhan sikap nya yang acuh tak bersahabat dan gaya memerintah nya yang dingin, itu sembilan puluh sembilan persen sama dengan Egbert.
"Kemasi barang mu dan segera pergi dari sini"
Emma menggertak kan giginya, "Tidak"
Mata Egbert menggelap.
"Kenapa aku harus pergi?" Emma mengangkat sepasang bahunya, "Duke Rajeev yang mengirim ku kemari. Jika pun aku harus pergi, itu harus dari perintah nya langsung"
Egbert meremas jari-jemarinya dan tertawa dingin. Itu terdengar cukup horor untuk awal hari yang masih begitu cerah. Emma bahkan tidak dapat menahan diri dan menggigil, merasakan aura mencekam dari mata Egbert yang membidiknya tajam.
"Ini adalah kastil ku, kenapa kekasih mu tidak tahu malu sekali mengirimkan mu kemari?"
"Apa?" Emma membelalak kan matanya terkejut, "J-jadi ini kastil mu. Bukan nya kau hanya menumpang di sini?" Emma sempat berpikir begitu. Karena ia begitu yakin kalau kastil besar itu adalah milik Duke Rajeev.
Wajah Egbert seketika menjadi suram, "Dengan kekayaan yang aku miliki, apa perlu aku pergi menumpang, hum?"
"..."
"Aku tidak tau kenapa kau tiba-tiba muncul kembali di hadapan ku. Tapi jika kau berniat untuk bernostalgia dengan ku..maka aku katakan, kau tidak punya kesempatan untuk melakukannya"
"..."
"Karena status ku sekarang adalah pria beristri"
"..."
"Jadi buang jauh-jauh niat kotor mu itu!"
......................