
Sean yang sudah lama tak terlihat dan seperti sudah menghilang itu akhirnya di hubungi oleh Egbert. Sean sudah menyelesaikan hukuman nya dan telah mendapatkan izin akses nya kembali ke negeri manusia. Belakangan ini Sean cukup santai di apartemennya. Pergi mengajar dan menikmati kehidupannya dengan sangat tenang. Tapi mendapati sebuah panggilan dari Egbert, ia langsung menghela nafas panjang.
"Ku harap dia tidak mencoba menyuruhku untuk mencari istrinya lagi" Sean menerima panggilan dan menyalakan loudspeaker. Ia meletakkan ponselnya di atas meja.
"Ada apa kau menghubungi ku?" Sean berdiri di depan cermin dan mulai memasang dasi.
"Aku akan kembali ke Merland" Terdengar suara datar Egbert dari saluran.
Sean menarik kain lurus panjang bewarna coklat gelap itu dan membuatnya dalam sebuah simpul, "Kembali lah kalau begitu. Tapi jangan membawa-bawa ku"
Setelah memasang dasi, Sean merapikan kedudukan kerah lehernya, namun gerakannya seketika berhenti. Ketika mendengar apa yang dikatakan Egbert selanjutnya.
"Kau harus ikut denganku kali ini"
"Kau bercanda? Untuk apa aku ikut dengan mu?" Yang benar saja. Ia baru saja mengambil cuti beberapa waktu lalu dari kampus tempatnya mengajar. Jika kali ini ia harus pergi kembali ke Merland, itu berarti ia harus mengurus cuti lagi.
Jika terus saja begitu, bukan tidak mungkin ia akan di pecat.
"Apa menurutmu aku cukup luang untuk bercanda"
"Tidak, yang benar saja. Aku baru saja mengambil cuti beberapa waktu lalu dan sekarang—"
"Bersiap-siap lah, kita akan kembali hari ini"
"Tidak, aku tidak mau. Bagaimana bisa aku—"
Tut..tut..
"Arghh sial" Sean hampir membanting ponselnya yang ada di meja ke lantai. Seperti biasa, Egbert selalu saja semaunya dan ia tentu saja hanya dapat menuruti perintah nya sebagaimana mestinya.
Dengan kesal Sean melepas dasi yang sudah terlilit rapi di kerah kemejanya dan membuangnya asal ke lantai.
"Haa, baru saja aku merasakan kebebasan ku. Bisa-bisanya dia—"
Sean mengepalkan tangannya ke udara, seakan ingin meremukkan sesuatu. Tapi terakhir, ia hanya menghela nafas tak berdaya.
"Apaaa? Kau ingin membawa ku ke negri mu?" Pekik Annette keras, suaranya yang cukup melengking itu langsung membuat Egbert menyumbat lubang telinganya.
"Bisakah kau tidak berteriak?"
"Tidak bisa" Annette baru saja melepas pergi Aldrich kepada George untuk di antar ke sekolah. Sekembalinya ke kamar, tau-tau Egbert mengatakan kalau mereka akan segera pergi meninggalkan kastil dalam waktu lama.
"Sebentar, beri aku waktu untuk memprosesnya" Annette melayangkan tangannya ke kepala dan menekan ke dua sisinya dengan ekspresi berpikir kerasnya.
Egbert menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menunggu Annette yang sedang berpikir itu dengan malas.
Annette masih sulit mencerna informasi yang baru saja masuk ke otak nya. Ia pergi duduk di pinggir ranjang dan menatap tepat kearah Egbert, "Kenapa kau tiba-tiba ingin aku pergi ke negri mu?"
"Ah, tidak. Maksud ku, kenapa aku harus ikut dengan mu ke negri mu? Kenapa kau tidak biarkan saja aku tinggal di kastil mu. Apa itu karena kau takut aku akan melarikan diri?"
Egbert menarik nafas dalam-dalam mendengar pertanyaan beruntun Annette. Menghelanya perlahan, ia membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu. Tapi Annette sudah lebih dulu mendahului nya.
"Jika benar karena itu, kau tidak perlu khawatir. Kau dapat yakin, kalau aku tidak akan melarikan diri lagi. Bagaimanapun kehidupan yang ku terima sejauh ini sangat nyaman. Aku yakin Aldrich juga merasakan hal yang sama. Di samping itu jika Aldrich jatuh sakit seperti kemarin, penanganan nya akan lebih mudah karena kau dapat mendatangkan seorang dokter vampir dari negeri mu. Dan aku juga masih dalam proses melihat ketulusan mu dalam seminggu ini. Jadi—"
Egbert memijit pelipisnya dan tak tahan untuk tidak memotong, "Annette"
"Ya?"
"Kau ingat kan, kalau aku sudah berjanji mati pada mu kalau kau akan selamanya menjadi istriku dan menyandang segala status yang ku pegang?" Egbert menatap lurus kearah Annette dengan sangat serius.
"Ya, tentu saja aku mengingatnya" Bagaimana mungkin Annette dapat melupakan momen yang sangat menyentuh itu, di mana dua orang pria dengan peranan penting dalam hidupnya, berjanji mati padanya dengan begitu tulus dan bersungguh-sungguh.
"Karena itulah aku ingin kau dan Aldrich kembali bersama ku ke negri asal ku"
"..."
"Kau adalah istri ku, bagaimana mungkin aku tidak membawa mu bersamaku"
"..." Annette mengedipkan matanya, merasakan hatinya begitu tersentuh. Ada rasa senang dalam hatinya yang paling dalam ketika Egbert mengatakan kalau ia adalah istrinya dan sudah seharusnya ia ikut dengannya.
Walau Egbert mengatakan itu dalam penampilan dinginnya yang minim ekspresi, tapi itu tetap terdengar begitu manis di telinganya.
"Tapi, apa tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa bagaimana maksud mu?" Egbert mengerutkan keningnya.
"Bagaimanapun aku adalah manusia. Jika datang ke negri mu, aku tak ubahnya seperti domba yang masuk kedalam sekawanan hewan buas. Itu...bukankah sama saja aku mencari mati?"
Baru saja bertemu dengan vampir selain Egbert, yang tak lain adalah Emma. Annette langsung di gigit oleh vampir wanita itu hingga pucat lemas dan pingsan karena anemia dalam semalam. Apatah lagi jika ia masuk kedalam negri tempat para vampir tinggal.
Annette sungguh tak dapat membayangkan bagaimana ia akan bertemu dengan ribuan vampir yang menatap nya sebagai santapan lezat setiap saat dan bagaimana jika mereka membuatnya pingsan untuk dihisap darahnya hingga habis. Akankah ia mati muda karena gigitan vampir kelaparan?
Membayangkan nya saja, Annette seketika menggigil.
"Tidak-tidak, aku tidak mau" Annette menggeleng cemas, "Aku tidak mau mati muda. Aku masih harus membesarkan Aldrich. Masih banyak hal yang harus aku lakukan sebagai ibunya, aku juga ingin melihatnya tumbuh besar dengan sehat dan bahkan mungkin— aku ingin melihatnya menjadi pria dewasa yang tampan, yang suatu hari datang memperkenalkan calon istrinya padaku.."
Egbert tidak akan mengira Annette akan berpikir terlampau jauh. Ia tentu mengerti keresahan yang Annette rasakan. Biar bagaimanapun, melihat wanita itu yang sejauh ini tidak trauma karena gigitan nya dan Emma, itu sudah merupakan suatu hal yang luar biasa untuk mental nya yang cukup kuat. Tapi tetap saja Annette pasti akan sangat ketakutan jika menjadi satu-satunya manusia di antara para vampir di negri nya.
"Kau tidak perlu khawatir. Selama kau menyandang status sebagai istri ku, tidak ada yang berani menyentuh mu"
"K-kenapa begitu? Kenapa kau yakin sekali? Bagaimana pun aku adalah mangsa di mata mereka. Tidak peduli apa, jika ada kesempatan mereka pasti akan menghisap darah ku. Contoh saja seperti mantan kekasih mu itu..." Annette menghela nafas berat, benar-benar tidak sanggup membayangkan jika ia akan tinggal lama di negri vampir dan ia akan menjadi satu-satunya manusia di sana.
Bukan tidak mungkin dalam semalam ia akan menjadi pucat pasi tanpa darah.