
Aldrich sudah pergi turun ke lantai bawah, untuk menenggak beberapa gelas darah hewan dari persediaan milik Egbert. Parker baru saja selesai memeriksa Annette. Kondisi wanita itu masih terlihat lemah, wajahnya pun pucat pasi. Parker merasa kasihan melihatnya. Lima tahun lalu, setidaknya wajah cantik itu masih tersenyum dengan begitu cerah padanya. Tapi kini, itu terlalu redup dan gelap.
Seorang pelayan berjalan masuk kedalam, membawa semangkuk bubur hangat dan segelas air putih. Annette menyuruhnya untuk meletakkan saja di meja dan akan memakannya nanti. Pelayan tersebut melakukan seperti yang Annette katakan dan sesudahnya langsung permisi keluar.
Parker menyentuh pinggiran ranjang yang kosong tepat disamping Annette berbaring dan bertanya dengan sopan, "Boleh saya duduk di sini?"
Annette tersenyum, merasa sedikit lucu dengan pembawaan formalnya, "Sudah duduk saja. Kakak tidak perlu begitu formal dengan ku" Bagaimanapun lima tahun lalu, ia bahkan pernah tinggal seatap dengan pria itu. Jadi, Annette tidak ingin terlalu kaku dengannya.
Parker tersenyum malu, menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan perlahan duduk di pinggiran ranjang, "Jadi, lima tahun lalu kau menghilang itu karena kau memilih untuk kembali kepada suami vampir mu?"
Annette menggeleng dengan senyum lemahnya, "Bukan"
"..."
"Saat itu aku terburu-buru pergi dari rumah, karena suami vampir ku mengirim seseorang untuk membawa ku kembali kepadanya. Terang saja aku sangat takut. Bagaimana jika dia mengambil bayi ku dan memisahkan kami. Jadi, aku tidak punya pilihan selain kabur secepat yang aku bisa" Annette menghela nafas berat dan memberi tatapan penuh rasa bersalahnya, "Maaf, karena lima tahun lalu aku sudah pergi tanpa pamit"
Parker tersenyum dan menggeleng pelan, "Tidak perlu meminta maaf. Aku mengerti kondisi mu saat itu. Lalu, bagaimana bisa sekarang kau tinggal di kastil nya?"
"Itu cerita yang panjang. Tapi yang pasti, aku bersyukur karena dia tidak berniat memisahkan aku dan Aldrich"
Parker mengangguk paham. Karena Annette sudah mengatakan itu adalah cerita yang panjang, maka ia tak akan menanyakan nya lebih jauh.
Melihat ke sepasang mata hitam Annette yang besar, itu terlihat lelah dan sedih. Seseorang yang mendalaminya, pasti akan mengerti ketidakbahagiaan wanita itu.
"Aku tidak akan ikut campur dengan kehidupan mu. Tapi biarkan aku memberikan sedikit nasehat, jangan biarkan suami vampir mu itu terus menghisap darah mu. Bagaimanapun kau adalah istrinya, bukan mangsanya" Parker masih mengingat dengan jelas, betapa pucat nya Annette semalam. Seakan tubuh kurusnya yang terbaring kaku di ranjang, sudah lagi tak berkehidupan karena kehabisan darah.
Annette sesaat menjadi terkedu dengan apa yang dikatakan Parker. Bulu matanya bergertar, merespon ucapan itu dengan emosi yang tak terungkap kan.
"Tolong lebih sayangilah dirimu. Jadilah sedikit lebih keras dan tegas" Ucapnya lagi, matanya menatap dalam jauh ke dasar mata Annette yang menyembunyikan seribu luka, "Itu saja dariku"
Annette mengulum senyum kecil dibibir nya yang kering dan memberi tatapan penuh arti pada Parker, "Terimakasih kak. Ucapan mu itu terdengar cukup berarti bagiku" Sudah lama dan entah kapan terakhir kali ia mendapatkan seseorang menasehatinya dengan penuh arti dan tulus.
Parker membalas senyum itu dengan senyuman lebarnya yang tenang. Kemudian ia mengeluarkan beberapa kantong obat dan meletakkan nya di meja samping ranjang, "Itu adalah beberapa obat penambah darah dan vitamin. Minumlah tiga kali sehari setelah makan"
"Em"
"Kau belum sarapan kan?" Parker separuh bangun dari ranjang, mengambil semangkuk bubur hangat yang ada di meja, "Ayo, biarkan aku menyuapi mu" Kemudian duduk kembali dengan tegap di pinggir ranjang, bersiap menyuapi Annette beberapa sendok bubur.
"Ah, itu tidak perlu. Aku bisa memakannya sendiri" Annette merasa malu dengan perlakuan itu. Bukannya ia tak nyaman, hanya itu terlalu canggung rasanya. Bagaimanapun pria itu adalah seseorang yang pernah menyelamatkannya lima tahun lalu dari bunuh diri. Mereka bukan teman dekat yang telah berbagi beberapa kekonyolan dan kepahitan.
"..."
"Anggaplah aku seperti kakak lelaki yang sedang memperlakukan adiknya dengan baik, hum?"
Annette merasa begitu tersentuh. Kakak lelaki? Itu membawa rasa kehangatan kekeluargaan yang tidak pernah ia dapatkan "Eum" Angguk nya kemudian, malu-malu.
Sikap nya itu membuat Parker tersenyum kecil. Tapi memperhatikannya lebih jauh, ia merasa begitu kasihan. Didepannya itu... adalah wujud wanita kesepian yang nyata.
Parker mengambil sesendok bubur dan mengarahkan nya ke depan mulut Annette. Membuka mulutnya, Annette menyambut nya dan memakannya dengan pelan. Suapan demi suapan terus berlanjut. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Dalam keheningan, di sela-sela Annette mengecap bubur lembut itu lidahnya. Matanya menatap jauh ke dasar mata Parker. Ia dapat menangkap jelas bagaimana mata itu penuh dengan kata kasihan yang mendalam kepadanya.
"Jangan menatap ku begitu"
"Ya?"
"Aku merasa begitu menyedihkan jika kau terus memberi ku tatapan seperti itu"
"..." Parker mengedipkan matanya, agaknya masih tidak belum menangkap apa yang Annette maksud.
"Kasihan"
"..."
"Kata itu tertulis jelas di sepasang mata mu, apa kak Parker tau!" Annette mencoba tertawa. Walau matanya yang redup, tidak dapat menghilangkan jejak kesenduan yang mendalam.
Tawa wanita itu begitu saja menulari Parker yang juga ikut tergelak kecil sembari mengaduk-aduk sendok bubur ditangannya, "Ah, apa itu terlihat jelas?"
"Eum" Angguk Annette, "Sangat jelas sekali"
"Maaf aku tidak bermaksud—"
"Tidak apa-apa. Ayo, suapi aku lagi.." Kini Annette sudah merasa lebih leluasa dan tidak seberapa canggung seperti sebelumnya.
Parker kembali menyuapi Annette. Tapi di pertengahan itu, Annette yang agak ceroboh, tanpa sengaja membuat beberapa tetesan bubur itu mengotori sekitar mulutnya. Annette tidak menyadari itu, sehingga ia hanya terus menerima suapan. Parker yang melihatnya, meletakkan sendok di mangkuk. Kemudian ia mengulurkan tangannya, berniat untuk membersihkannya untuk Annette.
Tapi sebelum ujung jarinya mendarat di pinggiran bibir tipis yang pucat itu, suara yang dingin penuh dengan tekanan yang mendalam, muncul.
"Jangan sentuh dia!"