
Dalam kebingungan itu, Parker mengajak Annette untuk menepuk-nepuk pelan bayi mungilnya berusaha untuk menenangkan nya. Hingga lambat laun, suara tangisnya mulai mengecil dan bayi itupun tertidur dalam dekapan Annette. Saat itu Annette akhirnya dapat bernafas lega dan menatap penuh terimakasih pada Parker, "Terimakasih kak, jika tidak ada kakak saya tidak tau harus bagaimana"
Parker hanya tersenyum sekenanya.
"Ngomong-ngomong, aku harus memanggilmu apa?"
"Ah ya, aku lupa memperkenalkan diri" Annette tertawa kecil, bagaimana ia bisa lupa memperkenalkan namanya pada orang yang sudah sangat menolongnya beberapa hari belakangan ini.
"Saya Annette kak"
"Aah.." Parker mengangguk, "Annette, kalau begitu saya permisi. Mungkin besok, saya tidak dapat bertemu dengan mu lagi" Kata Parker.
Tidak tau kenapa Annette merasa takut seketika setelah mendengar pernyataan itu, "Oh.."
Tidak bertemu lagi ya?
Sesaat, Parker dapat melihat jejak kekecewaan yang melintas di sepasang mata hitam Annette.
"Beritahu aku salah satu kontak keluarga mu, agar aku dapat menghubungi mereka untuk mengabari keberadaan mu di sini"
Annette mengulum bibirnya rapat, seusaha mungkin menyembunyikan senyum sendu di wajahnya, "Aku tidak punya keluarga"
"M-maaf?" Parker cukup terkejut mendengar itu.
"Aku seorang gadis sebatang kara. Mau itu saudara jauh, saudara dekat, aku sama sekali tidak memilikinya"
Parker tidak menduga gadis muda yang ia bantu beberapa hari ini adalah seorang gadis yang berusaha keras bertahan hidup seorang diri di dunia yang keras.
"Lalu bagaimana dengan ayah dari anakmu itu?"
Seketika tubuh Annette bergetar hebat. Bibirnya yang pucat pasi juga menunjukkan reaksi yang sama dan matanya berkedip cemas seiring nafasnya yang tak beraturan, "A-aku..."
Parker dapat merasakan ketakutan dan kecemasan gadis itu. Ia sama sekali tidak tau konflik apa yang dimiliki gadis itu dengan ayah dari bayi mungil yang baru saja dilahirkannya. Tapi mengingat hari di mana ia mencoba mengakhiri hidup dan sebaris kalimat pernyataan...
"Suamiku hanya menginginkan anak ini, ia tidak peduli aku hidup atau tidak, yang terpenting baginya anak ini harus lahir"
Itu sedikit menjawab alasan kenapa gadis itu bersikap seperti ini.
"Maaf, aku tidak bermaksud melanggar privasi mu. Hanya kau pasti membutuhkan seseorang untuk membantu mu mengurus semua ini"
Annette menatap kosong jauh ke jendela yang ada di kamarnya. Apa yang dikatakan Parker benar. Ia butuh seseorang untuk mengurus semua ini. Hingga ia tersadar sesuatu...
Biaya rumah sakit?
"Gawat!" Annette mendadak memasang tampang panik.
"Kenapa?"
"Uang. Aku tidak punya uang sama sekali" Katanya begitu saja pada Parker, "Bagaimana aku bisa menyelesaikan administrasi rumah sakit?" Katanya, terdengar cukup frustasi.
Untuk sesaat Annette kembali berpikir untuk mati saja. Ia sungguh tidak siap dengan keadaan ini. Beasiswa nya di cabut dan uang pesangon nya tertinggal di kastil Egbert.
Kemana ia dapat mencari seperser uang dengan kondisinya yang seperti ini?
"Tidak perlu panik begitu, aku sudah mengurusnya" Ucap Parker, senyum tulus terukir di bibirnya yang tipis. Syukurlah ia sudah mengurus semuanya, atau kalau tidak entah bagaimana nasib gadis malang di depannya itu.
"Apa anda malaikat?" Sebaris kalimat itu terus keluar dari mulut Annette.
"Huh?" Parker menunjukkan ekspresi bingung.
"Kau bahkan bukan siapa-siapa aku, tapi kenapa kau baik sekali?" Mengatakan itu Annette mulai terisak. Tetesan air mata pun merembes dari pelupuk matanya.
"Sudah selayaknya sebagai manusia membantu sesama. Sekalipun bukan siapa-siapa mu, tapi bukan berarti aku tidak perlu membantu mu" Mengatakan itu Parker mengulas senyum tulus di bibir, berhasil membuat Annette kian tersentuh dan menangis lebih kencang.
Ia pun sadar, meskipun hidup sebatang kara. Tapi takdir mempertemukan nya dengan banyak orang baik.
Laura...
Dan sekarang ada Parker.
Sekalipun juga ada orang buruk yang membuatnya terjebak dalam kekacauan ini.
"Bagaimana saya harus membalas kakak?" Tanya Annette, setelah mengusap kedua matanya dan berhenti menangis.
"Cukup balas dengan hidup mu"
Mata Annette terbelalak lebar.
"Maksud ku, hidup lah dengan baik dan jangan lagi berpikir untuk bunuh diri. Tetap semangat dan hadapi hari esok, bisakah kau melakukannya untuk menghargai kebaikan yang ku lakukan sejauh ini?"
Sepasang mata Annette berkaca-kaca, menatap dalam ke dasar mata Parker, ia perlahan tersenyum dan mengangguk, "Eum"
"Bagus lah" Parker tersenyum simpul, "Tidak sia-sia aku menolong mu"
Setelah mengatakan itu, Parker pun permisi dan pergi. Punggung tegapnya yang berangsur-angsur lenyap dari pandangan Annette, membuat ia merasa kehilangan yang sangat.
Annette menatap ke bayi mungilnya yang masih tertidur pulas dalam dekapannya. Bibirnya tersenyum lembut menatap makhluk mungil itu yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri.
"Aku akan menamai mu Aldrich" Annette tersenyum seraya menyentuh ujung hidung mancung bayi mungilnya dengan gerakan yang sangat lembut, karena takut membuatnya terjaga.
"Aku yakin kau akan tumbuh menjadi seorang putra yang sangat tampan" Ucap Annete. Matanya di penuhi sinar harapan.
Dan ku harap, kau tidak akan menjadi seperti ayahmu...
Pria berdarah dingin yang sangat tak berperasaan.
Karena Annette tidak punya uang sepeser pun di tangannya, ia pun memutuskan untuk pergi dari rumah sakit hari itu. Padahal dokter masih menyarankannya untuk di rawat di sana beberapa hari lagi. Tapi ia tidak punya pilihan selain dengan tegas menolak.
"Ah, kemana aku harus pergi?" Annette berjalan di sepanjang trotoar jalan sambil menggendong bayinya.
Mungkin jika hanya menanggung dirinya saja, ia dapat tinggal di manapun beberapa hari ini di emperan toko. Tapi mengingat ia memiliki bayi, ia tidak mungkin melakukan itu.
"K-kenapa rasanya ada yang hangat?"
Annette berhenti berjalan dan menengok ke bawah. Pantas saja itu terasa panas-panas hangat. Tak lain itu adalah bayi mungilnya yang mengompol.
"Ah, apa yang harus kulakukan?"
Saat itulah Annette berpikir bahwa ia harus membeli beberapa kebutuhan bayi, mulai dari pakaian, popok dan sebagainya.
Tapi dengan apa ia harus membelinya? Tidak mungkin dengan daun kan?"
"Uwaa..waa.."
"Eh, eh jangan nangis"
"Uwaa..waa.."
"Ah, ku mohon jangan menangis"
"Uawaa..waa"
"Ah, tolonglah.. bisakah tidak..."
"Menangis..."
Annette benar-benar lelah sudah. Di pertengahan jalan yang bising, mendapati bayi kecilnya menangis, belum lagi bayinya mengompol dan ia sungguh tak tau harus buat apa.
Jika seperti ini, ia ragu apakah masih punya tenaga yang cukup untuk menatap hari esok. Annette pun pergi duduk di trotoar dan meletakkan bayi mungilnya yang masih menangis di sana, tepat di sampingnya duduk.
Orang-orang yang berlalu lalang di trotoar, menatap heran dan prihatin kearahnya. Beberapa dari mereka menyuguhkan tatapan seakan berkata, 'Apakah itu bayi nya?'
'Kenapa dia membiarkannya menangis begitu?'
Hanya Annette tidak memedulikan tatapan mereka. Ia hanya menatap tak ber-maya ke jalan raya yang di padati kendaraan. Kebisingan kota pun bercampur dengan suara tangis bayi mungilnya hingga ke titik ia benar-benar ingin menjerit frustasi.
Tepat ketika ia akan melakukannya, suara yang meneduhkan datang menyapa gendang telinganya.
"Annette?"