
Setelah mengatakan banyak hal pada Egbert. Keputusan Egbert tidak berubah. Annette harus tetap ikut dengannya. Tanpa Egbert beritahu pun, Annette tau alasan Egbert begitu bersikukuh menginginkannya ikut. Itu tak lain pasti ada kena mengena dengan Aldrich. Kalau Egbert ingin membawa Aldrich pergi, itu yang lebih dulu harus dilakukan adalah dengan membawanya.
Sekalipun Egbert mengatakan, 'Kau adalah istri ku, bagaimana mungkin aku tidak membawa mu bersamaku'
Mungkin dulu dengan kenaifan nya, Annette akan hanya terbuai dan percaya. Tapi sekarang tidak lagi. Ia mungkin telah terbodohi sesaat. Namun realita menyadarkan nya dengan cepat.
"Aku tau...sebenarnya kau ingin sekali aku pergi dengan mu, itu tak lain karena Aldrich" Annette bangun dari ranjang, berdiri dengan kedua tangannya memeluk ringan tubuhnya, ia memandang jauh ke jendela kamar yang masih tertutup rapat.
Samar-samar bulu mata Egbert berkedip. Tidak ada yang dapat menembus pikiran dari sorot matanya yang datar dan jauh.
"Jadi lebih baik kau jelaskan dulu padaku, hal apa yang ingin kau manfaat kan dari kami. Jika tidak, aku tidak akan pergi"
Selesai mengatakan itu, Annette pergi meninggalkan kamarnya. Egbert yang masih duduk bersandar di kepala ranjang, memijit pelipisnya pusing. Ia tidak akan mengira akan sesulit itu membujuk Annette. Jika menggunakan pemaksaan seperti dulu, itu hanya akan membuat wanita itu kian membencinya. Tapi melihat keadaan ini, sepertinya...
"Aku tidak punya pilihan lain"
Sean memarkirkan mobilnya tepat di depan halaman kastil Egbert yang luas. Ia harusnya ada jam mengajar pagi itu, tapi ia sudah melewatkan nya. Ia bahkan telah berbohong pada anak-anak didiknya, mengatakan dirinya tidak dapat berhadir karena kurang sehat.
Menekan bel, tidak butuh waktu lama hingga pintu dibuka.
"Tuan Sean" Kepala pelayan berdiri memegang gagang pintu dan menyambut Sean dengan senyuman santun nya seperti biasa.
"Kepala pelayan Mary" Sean membalas sapaannya dengan senyumannya yang tulus.
"Sudah lama sekali tidak melihat anda, mari silahkan masuk" Mary pergi membukakan pintu lebih lebar untuk Sean masuk. Sean membungkuk sopan dan berjalan masuk kedalam.
Setiba di ruang tengah, Sean dengan keras berteriak, "Egberttt"
"Keluar! Aku ingin berbicara denganmu" Suara lantangnya menggema di udara.
Para pelayan yang berlewatan, diam-diam mencuri pandang. Mereka tak tahan untuk mengabaikan pria tampan lajang yang jarang-jarang bertandang di kastil.
"Egberttt, di mana kau?"
"Ku bilang cepat keluarrr"
"Aku ingin bicara denganmu"
Suara keras Sean tentu saja sampai ke kamar Annette. Egbert yang berada di dalam sana, mengerutkan keningnya, "Makin lama anak itu makin berani saja" Melangkah kearah pintu, Egbert baru teringat kalau ia meminta Annette untuk menguncinya. Alhasil ia hanya menghela nafas dan membiarkan Sean menggila di luar.
"Tuan Sean, ada apa ini anda teriak-teriak?" Mary terburu-buru mendatangi Sean yang tampak nya terlihat sangat jengkel.
"Di mana dia?" Sean bertanya dengan wajah memberengut.
"Maksud anda tuan Egbert?"
"Em"
"Ah, saya sejak pagi tidak melihatnya. Sepertinya tuan Egbert masih tidur di kamarnya"
Sean menautkan sepasang alisnya, "Tidur? Dia masih tidur?"
Yang benar saja. Awal pagi sekali Egbert sudah menelponnya, kenapa kepala pelayan Mary mengatakan Egbert masih tidur di kamarnya, "Tidak mungkin, dia baru saja menelpon ku pukul tujuh tadi"
"Begitukah?"
"Ya, saya sama sekali belum melihatnya"
Mary tidak tau kalau Egbert sedang di kamar Annette sekarang. Seluruh penghuni kastil tidak tau apa yang terjadi semalam.
Sean baru saja ingin mengatakan sesuatu, hanya untuk dikejutkan dengan sosok wanita bergaun tidur merah transparan tampak menuruni anak tangga dengan tertatih-tatih. Matanya berkedip dalam ketidakpercayaan, "Kau—" Sean mengangkat telunjuknya ke arah Emma.
"Kenapa kau bisa ada disini?"
Emma tidak akan menduga melihat Sean saat kondisinya seperti itu. Malu-malu ia menutupi tubuhnya yang begitu vulgar dalam balutan gaun merah yang nyaris menyingkap semuanya, "Tuan muda Sean"
Setiba di anak tangga terakhir, Emma mencoba membungkuk sopan di samping rasa sakit tak tertahan di punggungnya. Bagaimanapun didepannya itu adalah putra semata wayangnya Marquis Wood. Ia harus menyapanya sopan.
Bibir Sean bergerak-gerak dalam senyum mengejek, "Aku tidak menyangka kecantikan nomor satu Merland, akan bertindak serendah ini"
Mendengar itu, Emma menggertak kan giginya. Ia tau sejak dulu sekali Sean tidak pernah menyukainya. Bahkan semenjak ia masih menyandang status kekasih Egbert.
"Kau pergi jauh-jauh ke negri manusia hanya untuk menggoda yang mulia putra mahkota hum?" Mata Sean yang sipit, itu semakin menyipit tajam dalam senyum mencemooh, "Apa Duke Rajeev yang menyuruhmu? Ku pikir kau begitu pintar, tapi tak mengira kau dengan bodohnya mau menjadi bidak catur nya"
Emma mencengkeram erat lengan tangga dari besi yang dipegangnya. Menahan dirinya untuk tidak diluar kendali.
"Haa, sayang sekali. Ah, tidak— dasar tak tau malu sekali! Setelah mencoba membunuh kekasih mu, tapi kau malah memunculkan dirimu kembali didepannya dalam penampilan jal*ng mu ini, apa kau pikir dia akan tergoda hum?"
Tangan Emma yang memegang lengan tangga itu kian mengencang. Tampak urat-urat hijaunya telah mencuat dari punggung tangannya yang kurus.
"Buang kepercayaan diri mu itu. Dia sekarang adalah pria yang sudah menikah. Istrinya masih begitu muda dan yang pasti lebih murni dari tubuh Jal*ng mu yang busuk. Jadi kau cukup layani Duke Rajeev saja dengan benar"
Emma tidak dapat menahannya lagi, semakin lama kata-kata Sean kian tajam, tanpa ampun dan terus menyudutkan nya seperti sampah. Membuka bibirnya, ia berbicara dengan perawakan angkuhnya yang halus, "Tuan Sean, mohon jangan terlalu jauh. Setidaknya saya bukan peliharaan siapapun. Tidak seperti mantan kekasih mu yang murni itu— harus membusuk di Harem kekaisaran, melayani seorang pria tua"
"Jaga kata-kata mu!"
Sean berlari secepat kilat menghampiri tempat Emma berdiri. Tanpa ragu ia meraih leher jenjang Emma dan mencekal nya. Aksinya itu terang saja membuat para pelayan menjerit terkejut, tak terkecuali kepala pelayan Mary yang siap berteriak.
"Tuan Seannn"
Pekikan keras Mary sampai hingga ke kamar Annette. Egbert yang sedang berdiri menghadap jendela, menatap pemandangan luar itu, menjepit sepasang alisnya. Ia sama sekali tidak tau dengan keributan apa yang terjadi di luar sana.
Annette yang tengah menenangkan pikirannya di taman kastil, baru saja menghabiskan segelas cangkir teh melati dalan keadaan perut kosong. Itu karena ia belum sarapan sedikitpun. Tiba-tiba Zeta dan Mikha berjalan datang menghampirinya.
"Nyonyaaa.." Keduanya baru saja berhenti berlari dan membungkuk terengah-engah.
Annette menautkan sepasang alisnya, menatap dua orang pelayan muda itu dengan tatapan bingung, "Ada apa dengan kalian?"
"Itu— anda haru pergi melihatnya" Zeta masih mengelus dadanya, menstabilkan nafasnya.
"Melihat apa?"
Kali ini Mikha yang menjawab, "Tuan Sean hampir membunuh wanita itu, kepala pelayan Mary hampir kehabisan akal meleraikan nya"
"Tuan Sean?"