Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|89|. Membesarkan Kucing Liar?



Menjelang sore, terjadi hal yang menggemparkan di kamar Annette. Itu tak lain adalah keributan dua orang pelayan dengan Aldrich yang baru saja terbangun dari tidur. Ia kesal setengah mati melihat dua orang gadis dewasa datang kedalam dan mengatakan padanya sudah waktunya pergi mandi.


Bagian yang terburuk, dua orang itu datang langsung untuk memandikannya. Jelas Aldrich menentang keras hal konyol itu.


"Pergi" Aldrich membentak dua pelayan itu dengan suara yang sangat keras.


Mikha dan Zeta saling mengelus dadanya, merasa bersyukur karena jantung mereka masih berada ditempat nya.


"Tuan muda, tolong jangan mempersulit kami. Ayo kita pergi mandi ya.." Zeta mengambil selangkah ke depan, tangannya ragu-ragu menarik bocah satu itu mendekat.


Tapi tatapan tajam bocah itu yang seakan mencoba menelannya hidup-hidup, membuat tangan Zeta tertahan di udara dan bergetar.


"Aku bukan tuan muda kalian. Cepat keluar dari sini" Teriaknya. Siap melayangkan jari telunjuknya kearah pintu menegaskan kepada dua orang itu agar segera pergi.


Mikha dan Zeta saling bertukar pandang. Mereka benar-benar dibuat kewalahan membujuk Aldrich agar mau mereka mandikan. Yang paling membuat mereka frustasi, itu adalah sikap meledak-ledak Aldrich yang sangat sulit ditangani.


"Kamu adalah putra dari nyonya Annette, mulai sekarang kamu adalah tuan muda di rumah ini. Jadi untuk kedepannya, kami akan bertugas melayani tuan muda" Mikha mencoba menjelaskan dengan sabar. Sikap bocah itu yang sengit dan tak bersahabat, cukup di luar ekspektasi nya. Padahal baru saja ia begitu senang mendapatkan tugas mengurus seorang bocah tampan yang menggemaskan.


Tapi tidak tahunya, temperamen nya menyaingi serigala buas. Itu ganas dan tanpa ampun.


"Aku tidak butuh kalian melayani ku. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Sana keluar!"


"Tapi tuan muda, kami di sini di tugaskan untuk melayani anda.." Zeta kali ini benar-benar mendaratkan tangannya di pundak kecil Aldrich sambil menekan segala rasa cemasnya.


Tatapan Aldrich menggelap melihat tangan pelayan itu mendarat di pundaknya. Ia membuka mulutnya tanpa ragu memberikan gigitan...


"Aakhh" Zeta melolong kesakitan, mencoba keras menarik tangannya. Tapi bocah itu menggigit tangannya begitu kuat, membuatnya takut jika memaksa menariknya, itu akan membuat tangannya putus.


Mikha sontak menjadi panik. Dalam kesakitan dan suara serak karena menangis itu Zeta menjerit, "Cepat panggil nyonya Annette.."


"Baik"


Di taman, Annette duduk sambil menikmati secangkir teh melati hangat dengan aroma bunga melati yang menenangkan. Semilir angin berhembus, membawa semerbak aroma bunga aster yang mekar dengan cantik. Itu bercampur dengan jejak aroma daun pepohonan omantus yang bergoyang dalam damai. Annette menarik nafas dalam-dalam seraya memejamkan mata, merasa begitu memanjakan.


"Nyonya.."


"Haah.."


"Haah.."


Annette mengerutkan keningnya dan membuka matanya perlahan. Sepasang alisnya bertaut melihat Mikha yang datang dengan berlari kini membungkuk dengan nafas tersengal-sengal.


"Ada apa denganmu?"


"Nyonya, itu tuan muda..hah.."


"Tuan muda?"


"Ya, tuan muda menggigit tangan pelayan Zeta dan menolak melepaskannya. Itu kenapa aku datang untuk membawa mu kesana"


Annette akhirnya mengerti siapa tuan muda yang mereka maksud. Itu tak lain adalah putra kecilnya Aldrich. Sepertinya para pelayan sudah mengetahui kalau anak lelakinya itu tak lain adalah anak Egbert, tuan mereka.


Annette meletakkan cangkir teh yang masih tersisa setengah di atas meja dan bangun dari duduknya, "Bawa aku pergi untuk melihat"


"Baik nyonya"


Sesampai di kamarnya, Annette melihat dengan mata kepalanya sendiri kekacauan yang ada di sana. Ia melihat wajah kesakitan Zeta yang sudah memucat di tempat dan Aldrich yang masih belum berhenti menggigit tangannya yang sudah berdarah.


"Hentikan Aldrich!"


Mendengar suara lantang ibunya, Aldrich berhenti menggigit. Ia mengusap mulutnya yang sudah berlumuran darah. Rasa darah pelayan itu tidak seenak darah milik ibunya.


Zeta bernafas lega dan melangkah sempoyongan mendatangi Mikha. Annette yang melihat itu, memberinya tatapan prihatin, "Cepat bantu Zeta membalut lukanya dan jangan lupa beri dia segelas air gula"


"Baik nyonya" Mikha mengangguk dan membawa Zeta yang lemah keluar dari kamar Annette.


"Aldrich, apa yang kau lakukan?" Annette berkacak pinggang, memasang tampang tegasnya, "Kau menggigit seperti kucing. Apa mama selama ini membesarkan mu sebagai kucing liar?"


"Mereka datang mencoba untuk memandikan ku. Sudah ku tolak tapi mereka tetap bersikeras. Jadi jangan salahkan aku bersikap keras"


Annette memijit pelipisnya pusing, "Tapi tetap saja kau tidak boleh menggigit. Bagaimanapun mereka datang hanya untuk menjalankan tugas, jika kamu tidak senang dengan itu cukup tolak saja dengan sopan"


"Aku sudah menyuruh mereka pergi, tapi mereka tetap keukeh melakukannya. Siapa yang salah disini?" Aldrich sungguh tidak ingin disalahkan.


Annette menghela nafas berat, "Baik, mama mengerti. Ini salah mereka. Tapi janji sama mama, lain kali kau tidak boleh sembarang menggigit lagi, janji?"


Aldrich dengan kesal membuang wajahnya ke sembarang arah.


Annette tau, tipikal seperti putranya itu sama sekali tidak bisa dikeraskan. Ia memutuskan untuk membujuknya dengan sabar, "Sayang apa yang kau lakukan itu tidak benar. Jika kau menggigit seperti tadi, apa bedanya kau dengan kucing liar di luar sana?"


"Mama menyamakan aku dengan kucing liar?"


Annette tertawa ringan mendapati eskpresi tidak senang putranya.


"Jika kamu tidak ingin mama samakan dengan kucing liar, jangan menggigit lagi di masa depan, mengerti?"


"Em" Aldrich bersenandung malas.


Annette tersenyum lega melihat putranya yang akhirnya mendengarkan ucapannya.


"Ma, kapan kita kembali ke rumah?"


Annette menggigit bibir bawahnya, berpikir. Ia tidak boleh mengatakan begitu langsung kalau mereka akan tinggal lebih lama di sana. Jadi...


"Sayang.." Annette berjongkok di hadapan putranya, "Sudah begitu lama, akhirnya mama mendapatkan kesempatan untuk balas dendam pada vampir sialan itu. Jadi, bisakah kita tinggal lebih lama di sini?"


"Mama ingin balas dendam pada vampir sialan itu?"


"Benar"


"Jadi karena itu mama ingin kita tinggal di sini sedikit lebih lama?"


"Tepatnya begitu"


Aldrich terdiam dalam pikirannya sebelum mengangguk setuju, "Baik. Kalau begitu kita akan tinggal sedikit lebih lama di sini"


Annette melebarkan senyumnya, "Sayang mama memang yang terbaik"


"Tapi dengan syarat!"


"Syarat?"


"Dengan syarat mama tidak boleh sampai jatuh cinta dengan si sialan itu!"


"Pftt.."


Annette tidak dapat menahan gelak tawanya. Aldrich begitu lucu ketika merujuk kepada Egbert dengan 'si sialan'. Tidakkah dia tau kalau si sialan yang ia maksud kan itu adalah ayah kandungnya sendiri?


"Ma, aku serius"


Annette berhenti tertawa dan mengangguk, "Kau tenang saja. Mama tidak akan jatuh dalam jurang yang sama lagi"


Aldrich sedikit susah mempercayai ucapan ibunya itu. Karena ia tau jelas, bagaimana hati ibunya yang selembut sutra itu bekerja. Selalu saja begitu mudah luluh dan takluk..


"Sebaiknya begitu"


Ya, sebaiknya ibunya tidak sampai jatuh cinta pada Egbert.


Jika itu terjadi, ia tidak akan sungkan membunuh vampir sialan itu yang telah memberi luka yang mendalam pada ibunya yang selemah tangkai teratai.


......................