Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|53|. Tidak Berubah Sama Sekali



Di sinilah Annette berada sekarang. Di sebuah ruangan yang di dominasi dengan nuansa merah hitam yang hening. Annette mengedar kan pandangannya ke sekeliling dan melihat bentangan karpet merah yang begitu lembut di injak, sampai ia ter-ingin melepaskan alas kakinya karena merasa tak tega mengotorinya.


Memperhatikan dinding yang terlapisi cat hitam berpadu abu-abu yang monoton, sedang perabotan seperti sofa dan rak, itu merah gelap yang sensual.


Merasakan dinginnya hawa air conditioner, Annette memeluk tubuhnya seraya mengusap-usapnya pelan. Entah itu untuk menepis rasa dingin atau barangkali rasa gugupnya berada di ruangan dengan seseorang yang tak lain adalah ayah dari...


Bayi vampir yang ia sembunyikan.


"Duduk" Suara dingin itu jatuh memecah atmosfer yang sunyi.


Annette menoleh dan melihat Egbert datang dengan membawa kotak pertolongan pertama.


Melihat Annette yang masih berdiri, Egbert mengerutkan keningnya, "Kau tidak mau duduk?"


"Ah.." Annette dapat merasakan nada ketidaksukaan dari suara Egbert. Terus ia mengambil sofa tunggal dan duduk seperti gadis kecil yang patuh.


Annette mendapati Egbert berjalan mendekati sofa tempatnya duduk. Hal yang mengejutkan adalah, menyaksikan pria arogan itu tiba-tiba menjatuhkan salah satu lututnya ke lantai, bersimpuh tepat di bawah kakinya.


"Aku akan mengobati lukamu dulu"


Deg!


Apa ada yang salah dengan pendengaran ku?


Makhluk berdarah dingin rela-rela bertekuk lutut hanya untuk mengobati luka gadis pelayan seperti ku?


"Ah, anda tidak perlu melakukannya. Itu hanya luka kecil, saya dapat mengurusnya sendiri" Ucap Annette. Postur duduknya membungkuk ke depan, cemas dan tertekan.


Tepat ketika Egbert mengangkat pandangannya, ia dapat menangkap segala jejak ekspresi itu yang tercetak jelas di raut wajah Annette.


"Sudah berapa lama kau bekerja di bar ini?"


"Uh?" Annette terang saja gelagapan, bingung dan tergugu. Mendapati Egbert yang mengalihkan pembicaraan dan tangannya yang langsung saja meraih kaki telanjangnya yang sama sekali tidak terbungkus dalam kaus kaki.


"Kenapa kau kikuk sekali?" Suara Egbert terdengar malas dan acuh, "Jawab saja pertanyaan dari ku" Katanya, matanya melirik dingin pada Annette.


Berhasil membuat detak jantung Annette melompat-lompat tak karuan, sampai membuatnya teringin untuk segera melenyapkan diri dari tempat itu.


"Lima tahun" Jawab Annette kemudian. Sesaat ia tercenung medapati kapas yang sudah di tetesi cairan antiseptik mulai di sapu kan ke betisnya. Annette tidak lagi menolak, karena ia tau jelas pria itu selalu suka semaunya dan tak bisa dibantah.


Melihat caranya yang menyapu kapas ke kulit putih mulusnya, Annette dapat melihat betapa acuhnya gerakan tangan Egbert.


Sama seperti dulu, pria dingin itu bahkan terlalu kaku dan apatis untuk bisa melayani seorang gadis secara romantis.


"Mau mengikat perjanjian rahasia dengan ku?"


"Huh?" Annette membelalak kan matanya bingung. Kedua kakinya begitu kaku untuk bergerak karena takut mengacau Egbert yang berada di bawahnya.


"Melihat mu sudah bekerja cukup lama di bar ku. Rasanya tidak ada yang salah dengan menjadikan mu salah seorang kepercayaan ku" Setelah membersikan luka Annette dengan antiseptik. Egbert menempel kan plester kecil dan kemudian ia bangun berdiri.


Annette membeku di tempat.


Perjanjian?


Kepercayaan?


Rasanya ada yang buruk soal ini.


"Ah, sepertinya itu tidak perlu. Karena saya berpikir untuk mengundurkan diri mulai malam hari ini" Ucap Annette.


Egbert hanya menatap Annette, diam dan tak mengatakan sepatah katapun. Meletakkan kotak pertolongan pertama di meja, ia pun pergi duduk di sofa panjang dengan postur duduk angkuh nan dingin yang tak lagi asing dalam pandangan Annette.


"Kenapa?"


"Saya pikir pekerjaan ini terlalu beresiko untuk seorang gadis seperti saya, jadi—"


"Terlalu beresiko ya?" Potong Egbert, tatapannya yang menyipit penuh sesuatu sangat tidak terbaca, "Setelah lima tahun bekerja, tapi kau baru berpikir itu cukup beresiko sekarang"


Deg!


Annette meremas jari-jemarinya gugup. Kenapa rasanya ia seperti sedang di interogasi oleh salah seorang petugas keamanan?


"Hem..aneh sekali" Ucap Egbert, "Kenapa rasanya seperti kau sedang melarikan diri dari ku"


Deg!


Tenggorokan Annette tercekat. Rasanya ia mulai kesusahan meraup oksigen di ruang yang seakan siap mencekiknya mati.


"Apa kau mengenalku?"


"Tidak" Sanggah Annette cepat.


"Suaramu terdengar tak asing?"


Deg!


Gawat!


Aku harus jawab apa?


Rasanya Annette akan pingsan di tempat.


"Ah, benarkah? Mungkin itu hanya perasaan anda saja" Tutur Annette seraya menyembunyikan ketakutannya dengan tersenyum-senyum kecil, "Suara gadis umumnya memang terkadang mirip-mirip"


"Begitu kah?"


Egbert menajamkan penglihatannya. Ia dapat menangkap jelas jejak ketakutan di sepasang bola mata hitam yang sekali-kali bergetar resah.


Egbert bangun dari duduknya dan mengambil selembar kertas dari map merah yang ada di meja kerjanya. Kemudian ia kembali duduk di sofa dan menyerahkan lembaran kertas itu pada Annette.


"A-apa ini?"


"Jadilah salah seorang kepercayaan ku"


Annette sepertinya benar-benar akan menangis jerit.


Bukankah aku sudah mengatakan tidak untuk itu?


Aku juga sudah mengatakan niat ku untuk berhenti bekerja...


Tapi kenapa?


Arghh!!!


"Maaf, tapi saya—"


"Kau hanya punya satu opsi"


"M-maksud mu?"


"Jika kau ingin keluar dari ruangan ini, setujui itu. Jika tidak, kau hanya bisa tinggal"


Annette siap memuntahkan seteguk darah.


'Vampir sial*n!'


'Bahkan caranya mendesak seseorang tidak berubah sama sekali'


Itu menekan dan mendorongnya sampai dalam tahap tak punya cara selain menurutinya.


"Maaf, sebenarnya apa yang anda inginkan dariku? Kenapa saya harus—"


"Setujui itu dulu, baru akan ku katakan"


Annette menghela nafas berat. Sepertinya ia memang tidak punya pilihan lain. Atau jika tidak, ia hanya akan mati lumutan di tempat ini dan siapa yang akan mengurusi Aldrich?


"Baik, saya akan menyetujuinya"


"Cap kan darah mu ke kertas perjanjian"


"A-apa?"


"Itu adalah bagaimana cara menandatangani surat perjanjian tersebut" Ujar Egbert.


Annette mulai linglung di tempat. Sekalipun ia sudah terbiasa melukai jemarinya hanya untuk memberikan darah untuk putranya. Tapi ia melakukannya dengan bantuan benda tajam paling tidak jarum. Hanya ini...


"Apa anda punya sesuatu, barangkali seperti jarum?" Tanya Annette, "Aku tak sanggup menggigit daging ku sendiri" Tuturnya lagi.


"Aku memilikinya. Tapi bukan jarum"


"Yah tidak masalah, selama itu sesuatu yang tajam—"


"Kalau begitu kemari kan jempol mu!"


"Huh?"


"Cepatlah!"


"Ah, b-baik" Annette dengan polosnya mengulurkan jempolnya kepada Egbert.


Tepat ketika melihat mulut Egbert terbuka dan sepasang taring tajam mencuat datang menusuk jauh ke jempolnya. Seketika Annette menjerit sakit.


"Aakhh.."


Darah segar mengucur di jempol Annette. Egbert menghisapnya sebagian. Rasanya cukup lezat.


Aroma manisnya begitu kentara seperti ceri segar dan ada rasa asamnya itu nikmat seperti strawberry matang.


Itu adalah darah yang paling di idamkan nya bertahun-tahun tapi tak kunjung ketemu.


Matanya tersenyum dingin karena kini darah itu sudah dalam genggamannya.


"Cepat cap kan darah mu di sana" Ucap Egbert yang mulai menjauhkan mulutnya dari jempol gadis itu.


Annette menggigit bibirnya, meredam rasa nyeri. Men-cap kan jempolnya ke surat perjanjian, ia pun berucap, "Sudah"


Annette dapat merasakan jempolnya yang baru saja digigit Ebert itu cenat-cenut membuat sepasang matanya berair karena perih.


"Bagus!" Bibir Egbert melekuk tajam ke atas, tersenyum puas.


Senyum itu mengingatkan Annette pada peristiwa lima tahun silam. Malam di mana ia menandatangani surat kesepakatan.


'Bahkan senyum dingin penuh kepuasannya juga tidak berubah sama sekali'


......................


Dear pembaca VSB💕


Maaf sekali karena sudah beberapa hari ini saya tidak update rutin. Sebagai gantinya, diusahakan besok saya up tiga chapter yaa 🙏🏻🥰.