
Egbert meraih pergelangan tangan kurus Annette dan mencekal nya marah. Annette mengerutkan keningnya, merasakan betapa tidak berperasaan nya pria itu terhadapnya.
"Lepaskan!"
"..."
"Jika kau berpikir Aldrich bukan anak mu, maka biarkan aku dan Aldrich pergi dari sini"
"..."
Egbert kian menambahkan kekuatannya, membuat Annette tak kuasa menarik tangannya pergi.
"Lepaskan aku!"
"Lepaskan"
"Ahh.."
Annette mendapati tubuh kurusnya di dorong ke sebalik tirai kelambu. Baru saja ia mencoba untuk bangun tapi tangan Egbert menekan dadanya dan membuatnya dengan keras terbanting ke ranjang.
"Egbert, apa yang kau lakukan!" Teriaknya marah.
Annette hendak bangun hanya untuk melihat kedua pahanya sudah di tekan oleh kedua lutut Egbert. Membuat nya dengan sangat terpaksa kembali terkapar di atas ranjang dengan seprai putih bersih lagi harum.
"Aku ingin menagih ucapan mu hari ini"
"M-menagih apa?"
"Darah.." Egbert sudah membungkuk ke depan, "Aku tidak mereguk setetes darah pun seharian ini karena sibuk menyelematkan putramu" Bicara Egbert, tepat di depan daun telinga Annette yang halus.
"Egbert, dia itu putra mu juga, kenapa bisa-bisanya kau—"
Kraukk
"Ahh.." Annette melolong keras tatkala sepasang taring Egbert yang tajam, datang begitu kejam mengigit pundaknya.
"Egbert sakit.."
"Egbert, lepaskan"
"Egbert"
Annette yang tak kuasa menahan nyeri itu, mendorong keras dada Egbert untuk pergi dari atasnya. Hanya Egbert datang menarik kedua tangannya dan membawanya ke atas kepala. Membuat pergerakkan terkunci dalam ketidakberdayaan.
"Egbert" Annette meraung murka, di samping rasa sakit.
Sedangkan Egbert bersikap acuh dan tak peduli. Mulutnya hanya terus menghisap darah dari pundak kecil Annette. Membuat nya tenggelam dalam perasaan seperti menggigit seonggok daging kelinci, yang lunak dan lembut.
"S-sakit.." Rintih Annette, mengetap kan bibirnya.
Jari-jemarinya menggali jauh kedalam seprai, tampak yang buku-buku jarinya memucat menegaskan betapa menderita nya dia oleh rasa sakit yang tak tergambar.
"Egbert cukup.."
"Egbert ku mohon berhenti.."
"Egbert.."
Semakin banyak Annette memohon dan bersuara.
Bukannya berhenti, tapi sepasang taring tajam itu kian menancap dalam jauh ke daging. Membuat urat-urat kehijauan mencuat di pelipis Annette yang sudah di penuhi lapisan keringat dingin. Begitu saja air mata mengalir di kedua sudut mata Annette yang menangis betapa tersiksanya ia karena perbuatan makhluk penghisap darah itu.
"Uhh.." Annette lagi-lagi melenguh pedih. Ia dapat merasakan bagaimana lidah Egbert yang menjilati pundaknya terburu-buru, seakan tidak membiarkan setetes darah pun tumpah terbuang percuma.
Hingga beberapa menit berlalu, Annette sudah terlalu lelah menangis dan merintih. Kelopak matanya pun memberat saat kesadarannya berangsur-angsur lenyap. Kepalanya pun terkulai jatuh bersama helaian rambutnya yang menempel di wajahnya yang kuyu dan lengket karena air mata.
Egbert menarik mulutnya menjauh setelah ia rasa puas dan kenyang. Ia menyapu sudut bibirnya yang meninggalkan jejak darah dan matanya menatap dingin seonggok tubuh yang tergelak tak ber-maya di bawahnya.
Mengulurkan tangannya ke wajah Annette, ia menyingkirkan helaian rambut wanita itu yang menempel di sana, "Bertahun-tahun ini aku sudah begitu menderita karena rasa candu ku pada darah mu" Punggung jarinya kemudian mengusap belahan pipi Annette yang lembab dan lengket karena jejak air mata.
"Darah mu itu, sempat membuat ku nyaris tak bertahan hidup jika tidak mereguknya"
Senyum dingin memenuhi wajah tampan nya yang kejam.
"Setelah aku menemukan mu, jangan harap aku dapat melepaskan mu dengan mudah"
Setelahnya Egbert merangkak turun dari ranjang. Tak lupa ia menutup rapat tirai putih ranjang, baru berjalan pergi menekan saklar lampu hingga kamarnya menjadi gelap.
Keluar dari kamarnya, di lantai bawah ia langsung memanggil Mary untuk sebuah perintah.
"Datang ke kamar ku sekarang" Ucapnya, "Di atas ranjang ada Annette yang sudah tertidur. Aku ingin kau mengikatnya"
"Baik tuan"
Sesudahnya Mary langsung pamit dan pergi ke lantai. Menuju ke kamar Egbert untuk melaksanakan perintah pria itu. Di sana ia menyingkap tirai ranjang dan matanya menatap sedih pada tubuh kurus Annette yang tergelak menyedihkan di atas ranjang. Melihat pundaknya yang meninggal dua jejak hitam bekas gigitan, sesaat ia merasa menyesal atas apa yang ia ucapkan tadi pagi pada Annette.
"Harusnya aku lebih mengerti akan penderitaan mu.."
"Sungguh wanita yang malang"
Mary dengan tidak berdayanya pergi mengikat kedua tangan Annette ke tiang ranjang.
Egbert pergi ke kamar tempat Aldrich di rawat. Ia melihat punggung tangan kecil itu sudah tertusuk jarum infus yang mengalirkan darah segar hewan. Untuk beberapa hari kedepan, anak itu hanya dapat menerima asupan dari sana agar tetap hidup.
"Seperti yang saya katakan, tubuh putra mu lebih di dominasi gen vampir, jadi alih-alih cairan infus, saya menggunakan darah hewan untuk menutrisi tubuhnya dalam beberapa hari kedepan sampai ia siuman" Tutur Robert.
"Dia bukan putra ku"
"Apa maksud anda yang mulia?"
"Tidakkah kau melihat wajahnya dan warna rambutnya, sedikitpun tidak ada yang mirip dengan ku"
"Itu benar" Angguk Robert, "Anak itu lebih mirip dengan kakeknya, kaisar terdahulu"
Ucapan dokter Robert itu membuat Egbert menyadari sesuatu. Wajah anak itu dan rambut kuning jagung nya...
Jelas sangat mirip dengan ayahnya yang sudah lama pergi dari hidupnya.
Tapi karena masih ragu, Egbert mencabut sehelai rambutnya dan memberikannya pada Robert, "Aku ingin kau mengujinya untuk ku"
"Maksud anda yang mulia?"
"Aku ingin tau. Apa dia benar-benar putraku"
Robert mengangguk paham. Ia pun pergi mencabut sehelai rambut kuning jagung itu dan memasukkannya kedalam plastik bersama dengan sehelai rambut Egbert.
"Saya akan mengujinya setelah kembali ke Merland"
"Lakukan secara diam-diam"
"Saya mengerti yang mulia, anda dapat tenang dan percayakan saja pada saya"
Bagaimanapun ia hanyalah pria tua yang menjunjung tinggi etiket medis. Ia tidak peduli dengan faksi, baginya menjaga kerahasian pasien sudah termasuk dalam kode etiknya sebagai seorang dokter.
......................