Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|49|. Bayi Vampir Yang Sudah Tumbuh Besar



Lima tahun berlalu dan banyak hal telah berubah. Semenjak peristiwa pelarian Annette dari kejaran Sean yang diduganya seorang vampir yang diutus Egbert untuk menemukannya dan bersamaan dengan itu pula ia pergi meninggalkan kediaman Parker tanpa memberitahunya apa-apa. Pada saat itu, Annette yang tak punya sepeser uang pun di tangan, mau tak mau pergi bekerja sebagai pelayan di sebuah bar.


Lima tahun bekerja di tempat itu, Annette telah merasakan kepahitan dan kesulitan yang tak terhitung banyaknya. Tapi syukurlah ia mampu bertahan dalam menghadapinya.


Setelah segala kesusahan dan kesialan yang dideritanya bertahun-tahun silam. Setidaknya kini Annette dapat kembali ke kehidupan normalnya. Hidup yang mengharuskannya untuk berkerja keras dan tahan banting.


Motivasi terbesar yang membuatnya bertahan sejauh ini tak lain adalah...


"Aldrich, mama sudah menyiapkan hati sapi bakar untuk mu" Tukas Annette, ia mengambil tas putranya yang bewarna hitam polos dan memasukkan kotak bekal yang disiapkan nya kedalam, "Ingat untuk jangan lupa memakannya"


Ya. Itu tak lain adalah putra tampannya yang kini sudah berusia lima tahun dan bersekolah di sebuah TK milik pemerintah yang masih dapat Annette jangkau biayanya yang tentu saja lebih murah dari pada sekolah swasta.


"Maa, untuk apa kau menyiapkan ini lagi? Bukannya aku dapat menikmatinya" Rajuk Aldrich. Ia sungguh bosan menyantap makanan itu hanya untuk menjalankan formalitas di sekolah ketika makan bersama anak-anak lain. Padahal ia sangat tidak menyukainya.


"Sayang, satu-satunya makanan yang bisa kau makan hanya ini" Annette mengelus lembut kepala putranya dan tersenyum penuh keibuan meneruskan, "Nanti setelah pulang ke rumah, kau dapat meminum darah mama sepuasnya, oke?"


Aldrich menatap ibunya dengan tatapan yang tak terdeskripsi kan. Sudah lama ia ingin menanyakan sesuatu hal pada ibunya tapi selalu saja ragu. Namun kini, ia tak dapat menahannya lagi, "Maa, kenapa aku berbeda dengan anak-anak lain?"


Pertanyaan yang lolos dari mulut kecil Aldrich, membuat Annette terhenyak.


"Aku melihat temanku memiliki jenis makanan yang berbeda setiap harinya sebagai bekal makan siang. Tapi aku hanya ada hati sapi bakar"


Begitu saja Annette meremas jari-jemarinya gusar. Hal kecil itu tak lepas dari pandangan Aldrich yang masih lanjut berbicara, "Aku tidak pernah melihat mereka meminum darah ibu mereka, tapi kenapa aku selalu mengkonsumsi darah mu"


Annette tercekat di tempat dengan sorot mata yang menatap pada putra kecilnya, itu berkedip beberapa kali dan bergeming.


"Maa, apa aku mengidap kelainan tertentu sehingga aku hidup dengan sangat berbeda dengan anak-anak lain?"


Hidup dengan sangat berbeda dengan anak-anak lain?


Mata Annette seketika berkaca-kaca dan hatinya menjadi sakit. Sejauh ini ia hanya mengira Aldrich hanyalah putra nya yang baru berusia lima tahun.


Anak kecil yang tak perlu memikirkan apa-apa. Hanya tau bermain dan merengek meminta dibelikan mainan. Bersenang-senang dengan teman sebayanya di taman kanak-kanak dan dengan polosnya menceritakan aktivitas nya di sekolah dengan begitu bangga.


Tapi sejauh ini Annette sadar. Aldrich telah bertumbuh lebih dewasa dari anak-anak manusia pada umumnya. Alih-alih melakukan semua itu, ia hanya berpikir tentang perbedaannya dengan anak-anak lain.


Walau hal tersebut terjadi tentu sangat wajar. mengingat betapa besar perbedaan tersebut, ia maklum Aldrich dapat menyadarinya.


"Sayang, kamu tidak memiliki kelainan. Tapi kamu berbeda dengan mereka" Tukas Annette, tangannya mengusap lembut kepala putranya dan sejejak senyum terbit dimatanya.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" Tanya Aldrich, dengan suara kanak-kanakannya yang khas.


Annette mengulum senyum kecil di bibir dan mengangkat putra kecilnya itu dari kursi dan mendudukkannya di atas meja makan. Ia memegang kedua pundak Aldrich dan berkata, "Mau mama beritahu sebuah rahasia?"


"Mau" Aldrich menganggukkan kepalanya.


"Tapi janji sama mama, kamu harus merahasiakannya?" Annette menyodorkan jari kelingkingnya kepada Aldrich.


"Janji" Kelingking kecil Aldrich pun pergi mengait kelingking ibunya.


"Sayang, apa kamu pernah mendengar makhluk mitologi yang bernama vampir?"


"Tidak" Aldrich menggelengkan kepalanya, "Ibu guru tidak pernah menyinggungnya di sekolah"


Annette tersenyum lembut mendengar itu, "Kalau begitu mama akan memberitahu mu. Makhluk mitologi ini sebenarnya ada"


"..." Mata hitam besar Aldrich menatap seksama pada sang ibu. Tak ada ekspresi khusus yang muncul di raut wajahnya.


"Mama memiliki kamu hari ini.." Tangan Annette pergi mengusap belahan pipi kecil putranya yang terasa begitu dingin, "Itu karena mama bertemu dengan seorang vampir sehingga mama mengandung kamu sayang"


"..." Aldrich hanya menatap lurus ke wajah ibunya dan menyimak.


"Tapi suatu hari mama melarikan diri, ketika mama tau kalau vampir itu sama sekali tidak peduli soal hidup dan matinya mama" Ujar Annette. Melihat wajah serius putranya, sekilas ia mendapati sekelebat wajah Egbert muncul di wajah tampan kecil itu, "Jadi, kamu itu adalah bayi rahasia vampir yang telah mama lahir kan, rawat dan besarkan dengan was-was dan cemas"


Annette mengelus lembut kedua belah pipi putranya dan matanya yang menyimpan senyum sendu menatap jauh ke dasar mata hitam besar Aldrich, "Mama sungguh takut sewaktu-waktu mereka akan menemukan mu dan merebut mu dari mama"


"..."


"Mama sungguh tidak mau kehilangan kamu sayang. Bayi vampir mama yang kini sudah tumbuh begitu besar.." Annette tersenyum sendu dan suaranya terdengar parau.


Tangan kecil Aldrich menggapai punggung tangan ibunya yang masih melekap di pipi, kemudian menariknya lembut dalam genggaman tangan kecilnya, "Mama tidak perlu khawatir. Karena aku akan selamanya menjadi bayi vampir mama. Seorang." Ucap Aldrich dengan menekankan kata 'seorang' di akhir kalimatnya.


Itu menyimpan makna khusus dan mendalam yang sama sekali tidak disadari oleh Annette.


Mendengar itu Annette merasa sangat tersentuh. Ia pun mendekap hangat pura kecilnya itu. Yang tampak cukup dewasa, padahal usianya baru saja menginjak lima tahun. Entah itu karena didalamnya ada gen vampir atau mungkin karena desakan keadaan penyebabnya. Tapi yang pasti Annette merasa sangat beruntung memiliki Aldrich di kehidupannya.


"Kalau begitu ingat untuk selalu menyembunyikan identitas mu. Terutama dari orang-orang sekitar, jangan sampai mereka menangkap keganjilan dalam dirimu. Kamu mengerti?" Annette melepaskan pelukannya dan pergi menatap ke wajah Aldrich.


"Eum" Angguk Aldrich. Kedua sudut bibirnya melebar memberi ibunya sebuah senyuman hingga mencapai ke dasar matanya.


Annette terus melayang kan sebuah kecupan di kening kecil putranya dan bersamaan dengan itu Aldrich menengadah kan kepalanya untuk mendaratkan sebuah ciuman di pipinya ketika ia membungkuk.


"Kalau begitu ayo pergi sekarang! Atau kalau tidak kamu akan terlambat"


......................


Di belahan bumi yang berbeda, Egbert duduk di ruang tengah kastilnya menghadapi Sean yang terus-menerus memohon padanya agar masa izinnya di dunia manusia dapat diperpanjang.


"Lagipula bukannya aku tidak mencari istrimu. Lima tahun lalu itu aku nyaris hampir mendapatkannya tapi..entah bagaimana aku terlalu bodoh hari itu hingga menemukannya lari begitu saja"


"Aku pikir para manusia itu tidak lagi memerlukan seorang dosen bodoh seperti mu"


"Egbert!!!" Pekik Sean kesal, "Kenapa kau harus sekejam ini padaku!"


Detik itu Sean rasanya akan menangis dan menggila.