
Malam harinya, Egbert pergi mengunjungi bar malam gemintang. Itu adalah pusat bar terbesar dan termewah yang ada di kota J. Itu adalah bisnis yang dirintisnya dari modal emas dan berlian yang dimilikinya dari penyimpanan istana putra mahkota. Dari sanalah uangnya di dunia manusia berasal dan terus berputar masuk tiada habisnya.
Ia jarang mengunjungi tempat itu. Tapi paling tidak dalam sebulan ia pasti akan datang sekali atau dua kali untuk memeriksa segala operasional dan admistrasi.
Setiap kali Egbert datang, ia jarang menyentuh lantai bar. Ia sangat benci kebisingan dan lonjakan musik keras yang sangat memekakkan telinga. Itulah kenapa ia punya jalur khusus untuk langsung ke lantai tempat di mana ruangannya berada. Tapi tepat ketika ia hendak masuk kedalam lift, meskipun samar, indra penciumannya yang tajam dapat menangkap jejak aroma darah yang begitu familiar.
"Aroma ini..."
Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Ia masih tidak melupakan aroma darah yang berhasil membuatnya kehilangan selera pada darah manapun. Membuatnya harus menjalani sesi terapi untuk mengembalikan selera normalnya terhadap darah kelinci favoritnya.
"Ya aku tidak salah" Yakinnya.
"Ini jelas aroma darah yang sama dengan lima tahun silam"
Seketika ia menajamkan Indra penciumannya mencoba melacak di mana keberadaan pemilik aroma darah itu. Ia keluar dari lift dan memutuskan untuk berlari dengan kekuatan dalamnya sebagai vampir, untuk menemukan di mana itu pastinya.
Karena orang-orang di bar sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri, tidak ada yang menyadari jejak bayangan Egbert yang berlalu begitu cepat seperti hembusan angin.
Hingga disinilah Egbert berdiri sekarang. Di lantai bar yang penuh dengan hiruk pikuk orang-orang menari ria. Mata hitamnya yang gelap seperti tinta, sesaat menyala merah ketika retinanya menangkap keributan yang ada di salah satu sofa tepat dari arah pukul dua belas.
Perlahan langkah kakinya pun membelah keramaian dan mendekat ke titik.
"Gadis bau itu!"
"Bagaimana sebenarnya kalian mendidik pelayan kalian? Huh?"
Egbert dapat melihat seorang pria empat puluhan dengan perut buncit, menunjuk-nunjuk marah pada seorang gadis pelayan bar yang tampak berdiri diam dan tenang di posisinya.
"Annette, ada apa ini?" Yang bertanya tak lain adalah Luke, orang kepercayaannya. Ia adalah manajer bar sekaligus kolega terbaik yang dimilikinya. Seorang pria yang sangat jujur dan romantis. Itulah kenapa Egbert tak ragu mempercayakan bisnis besarnya pada manusia satu itu.
Tak lain itu karena kejujuran yang tak ternilai harganya.
"Aku hanya mengatakan aku akan pergi bekerja, apa ada yang salah dengan itu?"
Egbert tersenyum dingin mendengar suara tenang gadis itu yang tenang dan menyimpan nyali yang sempurna. Tatapannya sesaat jatuh pada betis putihnya yang mulus, ia dapat melihat setetes darah meluncur dari sana.
Lagi...
Mata hitamnya menyala merah.
"Tidak ada yang salah" Egbert akhirnya membuka bibirnya dan mengatakan satu kalimat.
"Tidak ada yang salah dengan gadis pelayan bar ini" Ia mengucapkan kalimat yang sama sambil mempertegas. Melangkahkan kakinya ke depan, ia berhasil mencuri perhatian ketiga orang itu.
"Kau—" Tunjuk pria mabuk itu kearah Egbert. Suaranya mengamuk dan marah, "Tau apa kau huh? Lebih baik tutup mulut mu dan jangan ikut campur"
Egbert terlalu malas menghabiskan tenaganya untuk meladeni pria mabuk tersebut, langsung mengirimkan sinyal pada Luke agar segera mengusirnya.
Luke menangkap sinyal tersebut dan mengangguk. Ia pun bertepuk tangan dan dua orang penjaga bar bertubuh tegap dan kekar berlari datang melesat ke dalam kerumunan.
"Ada apa bos?"
"Tuan ini sudah mabuk. Tolong kalian berdua urus" Ucap Luke.
"Baik bos"
Segera dua penjaga itu menggaet kedua lengan pria mabuk itu. Sontak saja si pria tersebut tak terima dan marah-marah, "Hey, apa yang kalian lakukan?"
"Aku tidak mabuk!"
"Itu gadis bau aku meminta kalian untuk mengurusnya"
"Tapi kenapa kalian malah mengusir ku huh?" Omel pria itu yang tak henti-hentinya sepanjang di seret keluar oleh kedua penjaga.
"Hey kalian!!!"
"Dasar!"
"Aku akan mencatat pelayanan buruk bar kalian dan menyebarkan nya ke seluruh kolega ku.."
"Heyyy"
Hingga suaranya berangsur-angsur lenyap dari keramaian bar. Tubuh itupun kini sudah di seret keluar dari pintu.
Annette menghela nafas lega. Mengangkat kepalanya, ia menoleh pada manager dan berucap, "Terimakasih pak untuk bantuan anda"
"Tidak perlu berterimakasih padaku. Aku melakukannya atas perintah atasan ku" Luke tersenyum sambil menoleh kearah Egbert.
"Jadi, berterimakasih lah padanya" Ucapnya lagi sambil memandang kearah Annette.
'Kenapa rasanya sepasang mata itu seperti tak asing?'
Annette tidak akan mengira bar tempatnya bekerja adalah milik Egbert. Jujur ia sangat takut ketahuan oleh pria vampir itu. Tapi mengingat ia dalam penyamaran, ia yakin pria itu tidak akan mengenalinya begitu saja, "Terimakasih bos besar, untuk bantuan anda malam ini"
Annette mengucapkannya seraya membungkuk sopan kepada Egbert. Menegakkan tubuhnya kembali, kemudian ia berujar, "Kalau begitu saya permisi"
"Betis mu berdarah"
"A-apa?" Annette begitu saja gelagapan dan menatap kebawah. Ia dapat melihat setetes darah segar ada di betisnya. Sepertinya itu karena terkena percikan ujung pecahan kaca yang tajam.
"A'ah.."
"Ikut aku"
"A-apa?"
Pria dingin itu memang tidak pernah berubah. Selalu saja sangat irit ketika berbicara.
"Obati lukamu di ruangan ku
"Ah, tidak perlu. Aku akan mengurusnya sendiri nanti" Ucap Annette.
Yang didepannya itu adalah bapak dari bayi vampir yang telah ia sembunyikan bertahun-tahun. Ia memilih untuk menghindarinya dan berpikir untuk berhenti bekerja di tempat itu segera.
'Walau aku sangat butuh uang..'
'Tapi Aldrich adalah segalanya bagiku'
"Luke, bawa pelayan itu ke ruangan ku" Ucap Egbert kemudian pada Luke.
Terang saja mata Annette terbelalak lebar mendengarnya.
'Sifatnya yang suka semaunya juga tidak pernah berubah'
"Baik" Angguk Luke.
Egbert pun memutar kakinya dan bergegas pergi meninggalkan lantai bar yang sangat bising.
Luke tersenyum menatap kearah Annette. Ia dapat melihat gadis pelayan itu yang berdiri sedikit gemetar dan wajahnya sekilas memucat takut.
"Tenang lah. Bos besar tidak semenakutkan yang terlihat"
Mendengar itu, Annette tak tau apakah harus tertawa atau menangis.
Dialah yang paling jelas—menakutkan atau tidaknya Egbert, mengingat kenangan buruk yang ditinggal kan pria dingin itu padanya.
"Ayo, saya akan mengantarkan kamu ke sa—"
"S-saya akan mengundurkan diri"
"Apa?"
Annette sontak membungkuk dan dengan cepat berujar, "Maaf pak manager, sepertinya malam ini saya akan mengundurkan diri bekerja di bar ini"
"Kau tiba-tiba berkata begini, apa karena takut bos besar akan memecat mu malam ini hum?" Ucap Luke dengan ruat wajah separuh kebingungan.
"Kau tidak perlu khawatir. Saya yakin bos besar tidak akan berpikir untuk memecat mu"
"Bukan" Annette berdiri tegak kembali dan menggeleng.
"Tapi karena memang saya berniat untuk mengundurkan diri"
"Aah.." Luke mengangguk mengerti. Walau ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran gadis pelayan itu.
Mengingat dia adalah gadis pelayan yang paling lama bekerja, tapi mendadak mendengarnya hendak mengundurkan diri, terang saja itu terasa sedikit mengganjal.
"Kalau begitu, temui dulu bos besar sebelum kau mengundurkan diri"
Annette rasanya akan menangis di tempat.
'Harus kah aku menemui vampir tak berperasaan itu?'
"Ayo!"
Annette menghela nafas berat. Dengan langkah berat ia mengikuti manajer bar hingga ke ruangan Egbert.