
Annette tersentak, sepasang matanya terbuka lebar dan dengan nafas terengah-engah ia separuh bangun dari posisinya berbaring. Ia melihat sekeliling kamarnya yang gelap dan mendapati ia baru saja terjerat dalam mimpi buruk yang berhasil membuat sekujur tubuhnya bermandikan keringat dingin.
"Syukurlah ternyata hanya mimpi" Annette bernafas lega dan menenggelamkan wajahnya ke telapak tangan. Kemudian ia tersadar, bahwa hanya dirinya seorang yang berbaring di sana.
"Aldrich?" Annette meraba samping kanan-kiri nya dan mendapati itu kosong. Terus ia menyingkirkan selimut dan berjalan keluar dari kamar.
"Aku yakin tadi itu hanya mimpi" Yakinnya di sepanjang jalan memutari ruang tamu hingga dapur, "Tapi di mana anak itu?" Annette menggigit bibir bawahnya gelisah, karena tak kunjung menemukan batang hidung Aldrich.
Ia pun berlari ke pintu depan, mendapati itu terkunci. Sesaat ia dapat bernafas lega. Dengan masih terkuncinya pintu tersebut, itu menandakan bahwa tidak ada siapapun yang baru saja pergi meninggalkan kontrakan kecilnya.
Annette kembali ke ruang tamu dan matanya tanpa sengaja melihat pada pintu kamarnya yang setengah terbuka, "Ah, yang benar saja anak ini—"
Annette dengan derap langkah frustasi berlari menuju kamarnya. Di sana ia melihat Aldrich yang duduk bersimpuh tepat di hadapan wajah Egbert. Sekilas ia dapat melihat Egbert yang terus memegang lehernya sambil mengeluarkan suara yang sama persis seperti seseorang yang sedang dicekik.
"Aldrich, apa yang kamu lakukan di sini?" Pekik Annette begitu saja, membuat Aldrich terkejut dan menoleh pada ibunya. Ia dapat merasakan nafas memburu ibunya itu— seperti seseorang yang baru saja lelah berlari.
"Aku tidak melakukan apapun" Ucap Aldrich, "Baru saja aku berpikir untuk menggigit lehernya, tapi tidak tahunya dia—" Belum selesai Aldrich menjelaskan situasi nya, ia hanya di kaget kan dengan suara ibunya yang berteriak lantang...
"CEPAT KEMBALI KE KAMAR MU!" Karena panik dan cemas nya yang tak terkendali, Annette tanpa sadar telah suara tinggi terhadap putranya.
Itu membuat Aldrich mengedipkan matanya dengan rasa tak percaya, "Maa, kau membentak ku?"
Sejauh ini, ibunya selalu memperlakukannya dengan manis dan memanjakannya dengan penuh kasih. Tiap hari, minggu hingga bulan— ia lewati dengan menerima segala kesabaran, perawatan dan kehangatannya yang begitu tulus. Hampir tak pernah ia menemukan ibunya marah padanya dan apatah lagi itu menggertak nya. Tapi ini...
"Mama bilang cepat kembali ke kamar mu.." Ucap Annette, yang mulai sadar bahwa ia telah salah menggertak putranya tadi. Tapi itu terjadi karena ia begitu..
Mengkhawatirkan anaknya.
Ia sangat takut jika identitas putranya itu terungkap dan Egbert akan membawanya pergi seperti yang ada dalam mimpinya.
"Kenapa masih diam saja?" Annette tidak bisa berhenti gelisah selama Aldrich masih berdiam di sana.
"Cepatttt!" Katanya lagi, tak sabar. Suaranya satu oktaf lebih tinggi tapi tidak sampai menggertak seperti tadi.
Aldrich menatap ibunya beberapa saat dalam diam, tidak langsung pergi begitu saja. Kemudian ia berucap dengan patuh, "Baik" Suaranya penuh dengan sarat kekecewaan dan kesedihan.
Setelahnya Aldrich berjalan keluar dari kamar seperti yang di perintahkan ibunya.
Annette menghela nafas pelan dan hatinya di penuhi penyesalan. Ia sungguh tidak dapat mengontrol dirinya untuk tenang, sehingga ia pun bersikap demikian karena sedemikian merisaukan Aldrich.
Mengangkat kepalanya, sorot pandangannya jatuh kearah Egbert yang masih dengan suara tercekik dan memegang lehernya.
"Apa jangan-jangan—" Annette langsung mendatangi tempat Egbert berbaring. Tangannya terulur ke depan, meleraikan tangan Egbert dari memegang leher dan matanya dengan seksama memperhatikan apakah ada bekas gigitan di sana.
"Ah, syukurlah" Annette terduduk lemah dengan raut wajah lega penuh syukur. Ia sungguh tidak dapat membayangkan jika Aldrich menggigit leher Egbert..
"Tapi, sebenarnya ada apa dengan pria ini?" Annette mengerutkan keningnya menatap pelipis Egbert yang sudah di penuhi lapisan keringat dingin dan tenggorokannya yang terus mengeluarkan suara...
"Khuk.."
"Kenapa dia terus mengeluarkan suara seperti ada seseorang yang sedang mencekiknya?"
Lama terdiam, Annette terakhir menggelengkan kepalanya dan berpikir bahwa itu bukanlah urusannya. Tepat ketika ia hendak bangun untuk pergi, sebuah tangan yang dingin datang meraih pergelangan tangannya.
"Kau mau kemana?" Terdengar suara lemah Egbert.
Itu adalah kali pertama ia mendapati suaranya yang biasanya sebeku es, terdengar begitu lirih tak ber-maya.
Mata Annette berkedip dan menoleh kebelakang, "A-aku mau keluar" Ia dapat melihat Egbert tak lagi memegang leher dan sepasang matanya terbuka— itu sayup-sayup menatap lemah kearahnya.
"Jangan pergi"
"..." Mata Annette hanya menatap sunyi, tidak mengucapkan sepatah katapun.
"Diam saja di sini" Ucap Egbert lagi.
"..." Annette masih bungkam.
"Temani aku, um?"
"T-tapi—"
Kata-kata selanjutnya langsung tertelan begitu saja. Mendapati Egbert yang sudah bangun, datang mendekap erat punggungnya dari belakang.
"Aku ingin tidur.." Egbert menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Annette, mengeluh manja di sana, "Tapi aku butuh seseorang yang menemani aku hingga terlelap" Bicaranya dengan suara teredam karena mulutnya yang bersentuhan dengan leher Annette.
Tampak bulu mata Annette berkibar pelan. Walau ia merasa aneh mendapati sikap Egbert yang begitu. Tapi hatinya begitu saja terenyuh dan luluh. Membuatnya tak kuasa untuk menolak permintaannya malam itu yang terdengar...
Agak sedikit menyedihkan.
"Baiklah"
Langsung saja Annette di bawa berbaring ke sisi Egbert. Wajahnya di lekatkan ke dada pria itu yang kekar berotot dan lengannya yang besar mengapit tubuh kecilnya seakan berjaga-jaga agar ia tidak bisa pergi.
Annette yang sebetulnya masih mengantuk, terlepas dari mimpi buruk yang telah membuatnya terjaga. Berada dalam posisi intim dan nyaman itu, begitu cepat membuat kedudukan kelopak matanya melemah hingga ia pun...
Berangsur-angsur tertidur, di bawah selimut yang sama dengan Egbert.