
Angin berhembus di antara dua orang yang saling bersitegang. Membawa hawa sejuk taman musim dingin mengitari dua orang yang saling duduk berhadapan. Aldrich menyilang kan tangannya di depan dada, mata hitam besarnya melotot tajam lawan di hadapannya.
Egbert duduk dengan menyilang kan kedua kakinya di atas lutut, menonton penampilan bocah yang seakan siap mengeluarkan taringnya yang tajam dan menerkamnya. Dalam diam dan otot wajahnya yang mengeras, Egbert menahan diri untuk tidak tertawa akan lelucon itu.
"Kau adalah vampir" Suara Aldrich terdengar dingin, karena bercampur gaya anak-anakannya, itu terlihat sedikit menggemaskan.
"Apa yang membuat kau berpikir begitu?" Egbert menaikkan salah satu alisnya. Sorot matanya terlihat sedikit seperti sedang menatap lelucon.
Membuat Aldrich ber-decih bosan. Cara pria itu memperlakukannya, seakan sedang mempermainkan seorang bocah kecil.
"Kau bukan mantan pacar nya mama ku kan?"
Alih-alih menjawab, Aldrich melemparkan pertanyaan yang siap membuat sepasang bola mata Egbert membesar takjub.
"Bukan"
"Itu bagus" Aldrich terlihat tanpa ekspresi, "Jangan ganggu kami lagi di sama depan dan terutama—" Aldrich melayangkan tatapan membunuhnya pada Egbert, "Jangan pernah mengusik mama ku lagi" Katanya dengan penuh penekanan.
Memikirkan betapa banyak bekas gigitan vampir sial*n itu di sekujur tubuh ibunya dan membayangkan betapa tersiksanya wanita lemah itu beberapa hari belakangan ini...
Ia nyaris berpikir untuk mencekik mati vampir dewasa didepannya itu. Namun ia menahan diri untuk tidak melakukannya. Ia sangat sadar diri kemampuannya tidak sebanding dengan Egbert yang jauh lebih besar darinya.
Egbert beberapa saat mengerjapkan matanya dan kemudian tertawa dingin.
"Baik" Angguk nya setelah berhenti tertawa.
"Kalau begitu, sekarang saya akan membawa mama saya pulang"
Nada bicaranya yang cukup dewasa itu, cukup membuat Egbert terkagum-kagum.
"Tidak bisa"
"Kau pikir kau berhak untuk menahan kami di kediaman mu?"
Jika seseorang tidak melihat penampilannya yang masih berusia lima tahunan, mungkin orang akan mengira itu adalah remaja dewasa yang baru saja berbicara.
"Saya memang tidak punya alasan untuk menahan kamu di kediaman ku" Egbert melipat kedua tangannya di atas meja dan sedikit membungkuk kan badannya ke depan, meneruskan, "Tapi khususnya mama kamu, saya memiliki kewenangan menahannya di sini"
Mata Aldrich menyipit tajam, aura gelap yang sangat tidak cocok untuk anak-anak seusianya, cukup membuat Egbert terkesan dengan pemandangan itu.
"Kewenangan apa yang kau miliki, sehingga kau merasa berhak menahan mama ku disini?"
"Kewenangan sebagai seorang suami tentu saja" Egbert menyimpulkan sebuah senyum kartu as nya.
"Apa?" Aldrich refleks maju ke depan dan menggerak meja, "Memangnya kapan kalian menikah? Kenapa aku tidak tau?"
Egbert hanya membungkam rapat mulutnya, masih dengan senyum kemenangan yang terpatri tenang di wajah.
Di balik pohon besar yang ada di salah satu sudut taman. Berdiri Mikha dan Zeta yang bersembunyi di belakang badannya yang besar, keduanya diam-diam menonton kearah Aldrich dan Egbert yang tampak sedang membicarakan suatu perkara yang serius.
Padahal lawan bicara tuan mereka adalah seorang bocah kecil, tapi percakapan itu tidak terlihat lebih seperti antara orang dewasa dan seorang anak. Melainkan itu lebih seperti antara dua orang musuh lama yang baru saja bertemu.
"Kau yakin itu adalah anaknya nyonya Annette?" Tanya Zeta. Ia tidak ada di lokasi kejadian, karena setelah melaporkan kekacauan di kasti yang di sebabkan oleh seorang anak kecil. Kepala pelayan Mary langsung mengutusnya pergi keluar untuk berbelanja berbagai kebutuhan seorang anak lelaki lima tahun.
Itulah kenapa ia tidak begitu mengikuti perkembangan masalah kekacauan itu.
"Ya, aku mendengarnya sendiri. Anak itu memanggil nyonya Annette dengan sebutan Ma" Ucap Mikha, dengan volume rendah.
Kelak, ia dapat melihat kastil besar ini menjadi sedikit lebih hangat dengan adanya ibu dan anak itu.
"Jadi menurutmu, anak itu adalah anaknya tuan Egbert?"
"Em" Angguk Zeta begitu yakin, "Kenapa? Menurutmu sepertinya tidak?" Tanyanya, setelah melihat keraguan di wajah Mikha.
"Yah, kau lihat saja sendiri. Sikap dinginnya mungkin sangat mirip dengan tuan, tapi lihatlah wajah dan warna rambut anak itu, sedikitpun tidak ada yang mirip di antara mereka" Tutur Mikha.
"Ya, kau benar" Angguk Zeta, "Tapi bukannya itu tidak mungkin terjadi. Aku punya seorang keponakan yang berambut keriting, padahal ibu dan ayahnya berambut lurus. Ternyata itu datang dari kakeknya. Bukan tak mungkin ini terjadi pada tuan muda kita"
"Woah, begitu cepat kau sudah memanggilnya tuan muda?"
"Hi..hi.. tentu. Lihatlah betapa tampan dan menggemaskannya tuan muda kita"
"Hah, menggemaskan?" Mikha tertawa seakan ingin menangis ketika mengingat bagaimana dingin dan bengisnya sikap bocah itu tadi terhadapnya, "Ku pikir, kau akan segera menarik ucapan mu itu setelah kau menghadapinya secara langsung"
"Memangnya kenapa?" Zeta mengedip-ngedip kan matanya penuh tanya.
"Heum, bukan apa-apa" Balas Mikha yang tersenyum-senyum kecil.
"Ekhem"
Dua orang itu seketika berbalik, "Kepala pelayan Mary" Seru keduanya terkejut. Tidak mengira mereka akan tertangkap basah oleh wanita paruh baya itu.
"Pekerjaan kalian sudah selesai?"
"B-belum"
"Kalau begitu selesaikan"
"Baik kepala pelayan Mary"
Dua orang itupun berbondong-bondong pergi meninggalkan taman dan kembali ke dalam untuk berurusan dengan pekerjaan mereka masingmasing.
Mary hanya menatap sekilas kearah Egbert dan Aldrich. Ia tidak ada niat untuk mencampuri urusan tuannya lebih jauh, segera beranjak pergi kedalam untuk melanjutkan urusannya.
Mendengar bel pintu depan yang berdering nyaring. Mary menahan langkahnya, 'Siapa yang datang?'
'Mungkinkah tuan Sean?'
Karena mereka tidak pernah memiliki tamu, kecuali Sean yang beberapa kali datang berkunjung menemui tuannya.
Salah seorang pelayan yang sedang menyapu, meletakkan sapunya berniat pergi ke depan untuk melihat. Mary langsung mencegat nya, "Tidak masalah, lanjutkan pekerjaan mu. Biar aku yang pergi memeriksa"
"Baik, kepala pelayan Mary" Pelayan tersebut pun kembali mengambil sapu dan menyapu.
Mary berjalan ke ruang depan. Melihat dari layar monitor, itu adalah seorang pria tua dengan mantel coklat gelap, berdiri di depan dengan menenteng koper di tangan. Mary tentu mengenalnya. Ia pun pergi membukakan pintu untuk menyambut pria tua itu, "Dokter Robbin"
Sapa Mary, dengan senyum sopan nya.
"Ya" Angguk pria yang di penuhi aura medis itu, kemudian bertanya, "Apa tuan Egbert ada di dalam?"
"Ya, tuan ada di dalam. Silahkan masuk dokter Robbin"
Mary membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan pria tua itu masuk.