
Di sebuah taman istana, dekat dengan danau buatan. Berdiri di sana sebuah pohon willow yang rimbun, mendayu tenang dalam hembusan angin lalu. Emma bersandar di badannya yang besar dan kokoh, menatap air danau yang tak be-riak. Beberapa teratai mekar cantik di permukaan, itu bewarna ungu yang manis berpadu asri dalam kehijauan batang daunnya.
Hingga derap langkah sebuah kaki kuda, menarik pusat perhatiannya. Emma mengangkat kepalanya dan menoleh. Retinanya menangkap seorang pria dengan baju kebesaran bewarna putih dan bersulam emas, tengah menunggangi seekor kuda coklat yang membawa aura kewibawaan tuannya.
Ketampanan pria aristokrat itu, selalu membuat Emma tak jenuh memandanginya.
"Yang mulia" Tepat ketika kuda itu berhenti di hadapan, Emma meletakkan salah satu tangannya di dada, satunya lagi memegang gaun panjangnya dan tubuhnya membungkuk dengan anggun.
"Sudah lama menunggu?" Rajeev mengusap lembut kepala kuda kesayangannya dan matanya menatap ke Emma. Melihat wanita itu tampil menawan dalam balutan gaun hijau muda segar yang membuatnya tampak menyatu dengan pemandangan sekitar.
"Tidak terlalu lama" Emma menggeleng dengan sudut senyum kecil di bibir.
"Mari sini naik" Rajeev mengulurkan tangannya yang bersarung tangan, mengajak Emma naik keatas kudanya.
Emma menyambut uluran tangan itu dan mendapati pinggang kecilnya perlahan di tarik dan ia sudah duduk di atas kuda. Di belakangnya ada dada kekar Rajeev yang begitu nyaman untuk bersandar dan kedua lengan kokohnya yang mengapit kanan-kiri tubuh kecilnya.
Rajeev menarik tali kekang dan kuda coklat yang sangat penurut itu kembali berjalan dengan tenang menyusuri jalan kawasan taman Istana yang penuh rumput nan subur.
"Bagaimana pertemuan mu dengannya malam itu?" Rajeev menuruni kepalanya sedikit, mencium rambut hitam Emma yang menguarkan aroma mawar merah memikat.
"Tidak berjalan dengan baik" Emma dapat merasakan jejak batang hidung Rajeev yang mencium rambut kepalanya.
"Dia tidak menyambut mu?"
"Um"
"Sulit dipercaya, apa dia tidak mencintaimu lagi hum?" Rajeev menarik helaian rambut Emma dan memainkannya ke bibir dengan gerakan sensual.
"Aku tidak tau" Ada rasa sesal dan kecewa di matanya, ketika mengingat malam di mana ia di acuhkan oleh Egbert dan di usir seperti seonggok sampah yang menggangu pemandangan.
"Dia pernah menjadi budak cinta mu, aku yakin tak akan semudah itu baginya melupakan keberadaan mu" Ucap Rajeev, seusai mengatakan itu ia membungkuk ke bawah dan menggigit cuping Emma.
Membuat Emma menggigit bibir bawahnya, menahan sentrum yang siap menyengat nya seluruh sel saraf dalam tubuhnya.
"Tapi sepertinya ini akan sulit, mengingat aku pernah mencoba membunuhnya, dia pasti sangat membenciku sekarang" Emma cukup pesimis akan dirinya yang sekarang masih dapat menaklukkan hati Egbert seperti dulu. Membuat pria itu datang bertekuk lutut di bawahnya, menarik punggung tangannya dan menciumnya lembut...
Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi lagi.
"Kalau begitu tinggal manfaat kan pesona mu. Cukup tunjukkan penyesalan mu dan buat dia kembali takluk padamu" Rajeev memegang kedua pundak Emma dan senyum licik tercetak di wajahnya yang rupawan.
"Tidakkah itu kedengarannya seperti aku terlalu melebih-lebihkan diriku?" Emma menoleh ke belakang, mata almond nya menatap jauh ke mata Rajeev yang selalu gelap dengan aura jahat.
"Mungkin..." Rajeev menatap jauh ke dasar mata Emma tanpa emosi khusus dan jari telunjuknya membelai lembut pipi tirus wanita itu, melanjutkan "Tapi tidak juga"
"..."
"Bagaimana pun kau adalah satu-satunya bunga yang pernah mekar di hatinya. Selama belum ada yang menggantikan posisimu, kau hanya perlu datang menghidupkannya kembali" Bibir Rajeev melengkung tajam keatas membentuk senyum yang penuh jejak kejahatan.
"..." Emma mengedipkan matanya dan pandangannya teralihkan dari objek tampan itu, menuju pohon willow yang sesekali batang daunnya bergoyang cantik karena hembusan angin.
Tapi itu tak berlangsung lama, ketika Rajeev menarik wajahnya dan mulut pria itu yang terus jatuh membungkam bibirnya dengan ciuman.
Keheningan sekitar pun telah bercampur dengan ciuman gairah mereka yang panjang, dalam dan memburu.
......................
Setiba di sekolah Aldrich, Egbert langsung memarkirkan mobilnya dan Annette bergerak turun. Wanita itu dengan langkah cepatnya terburu-buru memasuki pekarangan sekolah. Sedang Egbert turun dari mobilnya dan berjalan tenang mengikutinya dari belakang.
Wanita berkacamata itu menoleh pada Annette yang tampak tersengal-sengal dengan wajah diliputi kecemasan.
"Sebentar ya anak-anak, ibu keluar dulu"
Wanita itu pun berjalan keluar dari kelas dan berdiri di hadapan Annette.
"Maaf ibu, sebenarnya ada apa ini?" Tanyanya sopan sambil memegang pundak Annette yang bergetar.
"Pagi-pagi sekali Aldrich sudah tidak ada di rumah. Apa anak saya ada di dalam?" Annette sangat berharap spekulasi Egbert benar kalau putranya ada di sekolah sekarang.
Wanita itu memperbaiki posisi kacamatanya dan melambangkan tatapan prihatin, "Tidak Bu. Saya sama sekali tidak melihat Aldrich di kelas hari ini"
"Ah, jadi dia tidak ada di sini" Pundak Annette sudah jatuh memerosot kecewa, bersamaan dengan itu suara gadis kecil yang manis datang di ambang pintu.
"Tante cantik, apa tante mamanya adlic?" Suara cadelnya langsung menarik perhatian Annette.
"Ya" Angguk Annette cepat.
"Aku tau Adlic sekalang ada di mana"
Bola mata langsung bergetar dengan secercah senyuman, "Boleh beritahu Tante dia ada di mana?"
"Eum" Angguk gadis kecil itu dengan imut nya, "Dia ada di belakang sekolah. Katanya dia tidak mau macuk kelas, kalena mau main cama kucing"
Annette tersenyum lega mendengar itu. Separuh membungkuk dan memegang lembut pundak anak manis itu, ia pun berucap, "Makasih ya cantik, udah kasih tau Tante"
"Eum"
Kemudian Annette berdiri tegap kembali dan tersenyum sopan pada wanita berkacamata itu, "Maaf karena sudah mengganggu aktivitas mengajar anda Bu, kalau begitu saya permisi"
Wanita itu hanya tersenyum sopan dan Annette langsung berlari ke belakang sekolah. Egbert yang melihatnya, lagi-lagi hanya mengikutinya dari belakang.
Seperti yang di katakan gadis kecil tadi, Aldrich ada di sana dengan seekor anak kucing berbulu hitam putih dalam pangkuan. Annette tak tahan untuk tidak berseru, "Aldrich.."
Aldrich berhenti mengelus kepala anak kucing yang sedang di pangku nya itu dan menoleh ke asal suara. Itu tak lain adalah ibunya yang sudah datang berlari kearahnya.
"Sayang maafkan mama, mama sungguh menyesal menggertak mu semalam" Annette bersimpuh ke tanah, tak peduli apa bajunya menjadi kotor, ia langsung memeluk Aldrich erat.
Bibir kecil Aldrich diam-diam bergerak samar, menyembunyikan jejak senyum kepuasan.
Melepaskan pelukannya, Annette dengan mata berkaca-kaca merenungi wajah tampan putranya, "Sayang, maafkan mama oke?"
"..." Aldrich tak bersuara. Sampai retinanya menangkap sosok tubuh yang berjalan di belakang. Matanya terus membesar tak suka.
"Sekarang kita pulang saja ya? kau tidak perlu masuk kelas hari ini" Annette menangkup kedua pipi kecil putranya yang dingin.
"Tidak mau"
"Sayang, kamu masih belum mau memaafkan mama?
"Tidak" Tegas Aldrich, "Sampai mama memilih.." Mata Aldrich melotot tajam kearah Egbert yang sudah berdiri di hadapan mereka.
"Aku atau pria itu?"