Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|139|. Hanya Aku Merasa Sedikit Gerah



Pyashh


Bola api sebesar bola kaki Aldrich hempas kan ke udara. Itu membludak dan menjadi bunga api di udara kosong bersama percikannya yang jatuh ke tanah.


"Baik, untuk hari ini itu saja dulu. Sekarang kalian boleh kembali"


Dengan begitu kelas yang hanya beranggotakan tiga orang itu berakhir dan Aldrich bergegas keluar dari sana. Tidak begitu banyak penyihir dengan elemen api. Jumlahnya adalah yang paling sedikit dibanding elemen lain. Itu kenapa kelas Aldrich selalu yang menjadi cepat selesai karena tidak terlalu banyak murid didalamnya dan guru hanya perlu fokus pada tiga orang murid yang ada.


Aldrich tidak memiliki jadwal apapun lagi pada hari itu. Sebelum bergerak pergi ke asrama, dia singgah di gedung kuning.


Di sana dia mencari penjaga tempat tersebut. Setelah memutari rak dan mendatangi ke meja tempat berlangsungnya transaksi, Aldrich sama sekali tidak menemukan batang hidungnya.


Puk!


Aldrich mendapati seseorang datang menepuk pundaknya dari belakang. Dia terus membalikkan badan, "Kebetulan sekali, aku sedang mencari mu"


"Ah, itu kau lagi. Si bocah ramuan cinta" Pria itu terdengar tertawa dan nada suaranya sedikit meledek.


Egbert memberengut kan wajahnya tak senang, "Aku punya nama"


"Baik, aku Thomas, lalu kau?" Sepertinya pria itu bukan seseorang yang juga terlalu suka mengusik bocah kecil.


"Aldrich"


"Oh Aldrich! Jadi, kenapa kau datang kemari lagi? Ada ramuan lainnya yang kau inginkan?"


Aldrich menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Thomas menaikkan salah satu alisnya, "Lalu?"


"Aku ingin bertanya, bagaimana ramuan itu bekerja"


"Ohh, jadi kau ingin menanyakan hal itu" Thomas tampak manggut-manggut mengerti.


Thomas mengajak Aldrich ke ruang tengah. Di sana ada meja-meja dan bangku-bangku yang sengaja di letakkan bagi para pengunjung yang barangkali duduk untuk beristirahat, bernegosiasi atau bertanya-tanya.


Thomas menarik bangku dan menyuruh Aldrich duduk. Lalu dia pergi duduk di seberangnya.


"Jadi kau memberikan ramuan itu pada pria sial*n yang kau bicarakan hari itu?"


"En"


"Kau sudah memberikan ramuan itu padanya?"


Aldrich sudah memberikannya pada ibunya, jadi itu dapat dianggap sudah memberikan bukan?


"Sudah"


"Kau mengatakan itu adalah ramuan cinta?"


Aldrich menggeleng, "Bukan. Aku mengatakan itu adalah suplemen"


"Pftt" Thomas memegang perutnya dan tergelak, "Hey bocah, apa menurutmu pria sial*n itu akan mempercayainya? Lagipula sejak kapan suplemen berupa cairan ungu seperti itu?"


Suplemen yang diproduksi di Merland berupa campuran vitamin, beberapa ramuan alami dari alam dan darah. Mereka seringnya dikemas dalam bentuk botol dan cair, walau ada beberapa yang padat. Tapi tidak pernah ada dari produksi tersebut yang menghasilkan cairan dengan warna ungu. Kebanyakan dari mereka oranye gelap atau merah kehitaman.


Aldrich berdeham, memperbaiki ekspresinya, "Itu..biar begitu aku yakin dia pasti akan meminumnya"


Thomas menautkan sepasang alisnya, "Kenapa kau yakin sekali?"


"Itu.." Karena dia sudah mengatakan pada ibunya, untuk memastikan ayahnya meminum botol pemberiannya itu. Jadi dia yakin ibunya pasti ada cara untuk mendesak ayahnya itu hingga mau meminumnya, "Yah, pokoknya aku yakin dia pasti akan meminumnya. Jadi, sekarang coba kau katakan padaku! Bagaimana ramuan itu bekerja?"


Aldrich mengerutkan alisnya, "Apa itu philiphobia?"


"Ketakutan untuk jatuh cinta"


"Ooh" Aldrich manggut-manggut mengerti, "Lalu apa itu berarti ramuan tersebut tidak akan bekerja pada seseorang dengan ketakutan tersebut?"


Thomas menarik kedua sudut bibirnya tersenyum lebar, "Tentu saja tidak"


"..."


"Itu bekerja tapi dengan cara yang berbeda"


"Misalnya?" Aldrich bertanya penasaran.


"Mimpi"


Aldrich mengkerut kan keningnya dalam, Mimpi?


......................


Setelah pengakuan yang menurut Annette itu seperti mimpi. Sikap Egbert terhadapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Itu membuat Annette berpikir apa Egbert baru saja tanpa sengaja telah membentur kan kepalanya ke dinding atau barangkali pohon?


Karena semakin dilihat, pribadi Egbert seperti berubah menjadi orang lain. Itu sama sekali tidak mencerminkan diri Egbert yang biasanya. Dingin dan acuh tak acuh. Tapi ini....


"Jadi, kau berlari dari Merland kemari dengan kekuatan vampir mu?"


Saat ini posisi mereka berdua sudah berada di atas ranjang. Hari diluar cukup terik, terlebih jam yang menunjukkan pukul dua belas tepat. Matahari yang dalam posisi tegak itu, sinar panasnya menyeruak kedalam kamar melalui kaca jendela.


Tapi dalam keadaan suhu ruangan yang lumayan panas itu, Egbert terus mendekap erat tubuh Annette. Membungkusnya rapat seperti tidak berniat untuk melepasnya barang sedikit.


Annette sedikit merasa sesak, tapi dia tidak berdaya. Sikap Egbert sungguh sangat diluar jangkauan.


"Em" Egbert menekan kepala Annette ke dada bidangnya yang keras. Annette dapat merasakan Egbert menyandarkan dagunya dengan lembut di atas kepalanya. Tingkahnya terasa sedikit manja, "Karena itu aku sangat lelah sekarang. Kekuatan ku benar-benar terkuras habis. Mungkin butuh waktu seminggu hingga aku dapat menggunakannya lagi"


Annette setengah menggeliat. Mencoba untuk tidak menyinggung Egbert, dia berniat keluar dari bawah lengan kokoh pria itu secara perlahan, tapi...


"Ada apa?"


"Ah, itu—"


"Kau terus saja bergerak. Apa kau tak nyaman ku peluk seperti ini?"


Niat Annette begitu saja ketahuan.


Annette mendongak kan kepalanya. Menggigit bibirnya dengan eskpresi sedikit bersalah, "Bukan begitu, hanya aku merasa sedikit gerah"


Jika tebakan Annette benar, sudah sekitar sejam lebih Egbert membungkus tubuhnya rapat dengan lengan besarnya.


"..."


"Diluar hari sangat panas. Kau memelukku terus seperti ini, bagaimana tidak aku merasa gerah?" Ucap Annette dengan senyum kikuknya di sudut bibir, "Terlebih tidak ada pendingin udara di kamar mu"


Mungkin karena kastil ini letaknya berdekatan dengan hutan. Alam sekitar yang dingin, membuat Egbert tidak memasang pendingin ruangan. Terlebih saat malam hari, angin dingin yang menyusup ke celah-celah itu cukup sejuk. Hanya terkadang di cuaca panas seperti ini, siang hari berlalu dengan sedikit panas.


Egbert menatap Annette lembut dan tangannya jatuh membelai rambut kepalanya, "Kalau begitu tanggalkan saja bajumu" Ucap Egbert, terdengar begitu santai.


Tapi wajah Annette sudah meledak dengan hawa panas. Membuat wajah cantiknya memerah rekah baga kelopak mawar. Annette mencoba tertawa dalam kecanggungan, "Ku pikir.. tidak perlu sampai seperti itu"