
Sepasang bola mata Annette membesar nyaris keluar dari rongga nya. Kejutan itu, membuatnya membeku beberapa saat dalam keheningan. Tapi itu tak berlangsung lama, ketika ciuman itu kian galak, dalam dan buas. Parahnya lagi, Egbert tidak hanya menghisapnya dengan penuh dominan, juga membuka mulutnya dan menggigit bibir kecilnya.
Annette terang saja merasa kesal. Ia dengan marah mendorong dada Egbert menjauh darinya. Egbert merasa tidak puas. Tanpa melepaskan tautan bibirnya, ia pergi meletakkan mangkuk bubur yang dipegangnya ke atas meja. Sesudahnya, ia langsung menekan tubuh kecil dibawahnya itu dan memperdalam ciumannya. Bibir kecil Annette yang tipis, terasa begitu lembut. Mengecapnya sedikit, itu seperti ekstasi yang menghanyutkan.
"Egbert, haa.."
Egbert menghentikan ciumannya beberapa saat dan membiarkan Annette meraup oksigen sekitar dengan terburu-buru. Ia tidak mau membuat wanita itu pingsan karena ciumannya seperti terakhir kali.
Tapi setelah sepersekian detik, Egbert kembali merapatkan bibirnya ke bibir Annette dan menciumnya dengan galak sekali lagi.
Annette menekan dada kokoh Egbert, mendorongnya. Ia sungguh tak kuasa menahan pergerakan otot mulut Egbert yang alih-alih mencium nya, itu lebih seperti bertarung dengan bibir kecilnya yang tak berdaya.
"Egbert, cukup—"
"Emph"
Egbert menarik kedua tangan Annette yang menekan dadanya dan memegangnya erat dalam genggaman. Lalu ia melanjutkan ciumannya hingga puas.
Membuka mulutnya, nafas berat Egbert berhembus di hadapan wajah cantik Annette yang memerah manis bagai buah persik. Annette tidak dapat menahan rasa gugupnya melihat sepasang mata Egbert yang menatap nya, itu penuh dengan gelora panas yang siap membakar nya dalam gairah.
"Ingat kau adalah istriku"
"..." Bulu mata Annette bergetar dalam keresahan yang tak ter-deskripsi kan.
"Di masa depan, kau tak diizinkan tersenyum antusias seperti tadi pada pria manapun selain aku"
Otot rahang Annette mengeras, mendengar kekonyolan yang Egbert katakan.
"Haa, kau baru saja berpikir untuk mengatur pada siapa saja aku boleh tersenyum? Jangan konyol!"
Memangnya kenapa jika dia adalah istrinya? Apakah itu berarti dia berhak untuk mengatur-ngaturnya? Dan lagi, mereka bukan pasangan yang benar-benar dalam peranan itu. Jadi kenapa dia harus repot-repot menurutinya?
Mata Egbert menggelap, lapisan kabut hitam yang menyelubunginya membuat hati Annette berdenyut dalam kecemasan. Mencubit dagu Annette, ia berucap dengan tatapan dinginnya, "Kenapa tidak? Aku adalah suamimu"
Bibir Annette meringkuk keatas dalam gerakan mencibir, "Baik, kau adalah suamiku. Lalu apa kau mencintaiku?"
Pertanyaan yang berkenaan dengan cinta itu, langsung mengubah pandangan Egbert menjadi rumit.
"Kau tidak bisa menjawabnya?"
Mengepalkan tangannya, Egbert merasa sesuatu yang berat membebani hatinya. Ia tidak mengerti apa, tapi hatinya berdenyut sakit dan kehilangan kata untuk berkata-kata.
Reaksi Egbert yang diam dan tidak menanggapi nya sama sekali, membuat Annette merasa sangat kecewa.
"Haa.."
Apa yang aku harapkan?
Annette tersenyum pahit dan hatinya terasa masam. Tangan Egbert yang memegang kedua tangannya itu, terasa melonggar. Annette langsung menarik tangannya dari sana dan mendorong tubuh pria itu menjauh darinya.
"Selama kau tidak mencintai ku, jangan harap aku dapat menuruti pengaturan yang kau buat terhadap ku" Annette menatap dalam ke mata Egbert yang jauh dari pusaran emosi, menambahkan, "Karena bagiku, kau tidak berhak untuk itu"
......................
Emma menolak mengemasi barang-barangnya dan memilih duduk di pinggir ranjang dengan perasaan berkecamuk. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Duke Rajeev akan mengirimkannya ke kastil Egbert. Dari pengaturan tersebut, ia langsung mengerti kalau Duke Rajeev ingin ia tinggal di sana sehingga lebih mudah baginya untuk menggoda Egbert.
Tapi yang menjadi masalahnya, ia belum bergerak dan Egbert sudah membangun tembok batas yang jelas. Menegaskan padanya kalau ia seorang pria yang sudah beristri. Emma sangat sulit mempercayai fakta itu. Berkali-kali ia berpikir kalau Egbert pasti sedang membohonginya. Tapi mengingat bagaimana wajah tampan itu berkata dengan lugas nya tanpa sedikitpun keraguan, sepertinya...
"Dia benar-benar sudah menikah. Lalu, siapa istrinya?"
"Baik, aku tidak akan mundur" Mengepalkan kedua tangannya yang ada di atas pangkuan, Emma terlihat begitu bersungguh-sungguh dengan keputusan yang dibuatnya.
"Bagaimanapun caranya, aku tidak akan pergi dari kastil ini"
Ia tidak punya sepeserpun uang di negri manusia ini di tangannya. Kemana ia akan pergi mencari tempat tinggal? Jika kembali begitu awal ke negerinya, itu hanya akan membuat Duke Rajeev meragukan kinerja nya. Jadi ia tidak punya pilihan selain memasang tampang tebal dan memohon pada Egbert untuk mengizinkannya tinggal dalam beberapa hari ke depan.
"Mengingat bagaimana dia memperlakukan ku dulu sebagai kekasihnya. Aku yakin dia pasti akan melembut padaku" Bibir seksi Emma melengkung dalam senyuman penuh kepercayaan diri yang jahat.
Menjelang sore, Annette merasa dirinya menjadi jauh lebih baik. Keluar dari kamar Egbert, ia pergi turun ke lantai bawah. Di sana ia tidak menemukan batang hidung vampir wanita yang sudah sembarang saja menghisap darahnya semalam hingga membuatnya jatuh pingsan.
'Di mama dia?'
Kebetulan salah seorang pelayan lewat didepannya, ia dengan cepat menghentikan, "Sebentar!"
"Iya nyonya?"
"Tamu wanita yang semalam, ada di mana dia?"
"Ah, saya dengar dia sudah di usir tadi pagi oleh tuan"
"Di usir?" Annette membulatkan matanya bingung.
Pelayan itu pun dengan murah hati menjelaskan lebih jauh, "Iya, dia sudah di usir dari kastil. Tuan bahkan menghukum kepala pelayan Mary karena sudah sembarang menerima tamu tanpa izin darinya. Karena itu sekarang kepala pelayan Mary sedang berada dalam ruangan nya menulis kata maaf sebanyak lima ratus lembar halaman"
"Apa?" Annette ter-pelongo di tempat. Menulis kata maaf? Sebanyak lima ratus lembar halaman?
Walau itu hanya satu kata, tapi dengan menuliskan nya sepenuh halaman kertas, itu cukup membuat pergelangan tangan pegal sampai rasanya ingin patah. Belum lagi menanggung perasaan bosan yang tak tertahan. Annette menghela nafas, merasa kasihan yang sangat untuk kepala pelayan Mary.
Wanita empat puluhan itu pasti sangat menderita sekarang.
"Nyonya, bagaimana keadaan anda? Saya dengar anda hampir digigit mati oleh vampir wanita itu" Pelayan itu menunjukkan tatapan prihatinnya.
Annette tersenyum lembut berucap, "Saya sudah agak baikan"
"Ah, syukurlah" Pelayan itu tampak menghela nafas lega untuk Annette dan menambhakan, "Anda tidak tau seberapa panik nya tuan pagi-pagi buta tadi mendapati anda terbujur kaku tak sadarkan diri?"
Mengedipkan matanya, Annette menggeleng, "Memang nya, seberapa panik dia?"
"Saya tidak tau bagaimana harus mengatakannya, tapi itu adalah kali pertama saya melihat tuan sangat panik akan sesuatu sehingga menjadi begitu tak terkendali. Tuan bahkan mendesak kepala pelayan Mary untuk membawa seorang dokter ke kastil, tidak peduli bagaimana pun caranya itu harus ada. Padahal saat itu sudah pukul satu pagi, sungguh tak terbayangkan bagaimana kepala pelayan Mary berjuang keras untuk mendatangkan seorang dokter pada akhirnya"
Mata Annette berkedip dalam perasaan yang tak menentu dengan informasi yang didengarnya itu.
Dia...
Sungguh sepanik itu...
Karena keadaan ku?
Annette sulit mempercayai nya. Tapi melihat bagaimana tatapan pelayan itu, sepertinya itu benar. Sedikit, Annette merasa hatinya tersentuh. Begitu saja ia merasa terbuai dalam kenyataan...
'Jika itu benar adanya..'
'Berarti aku memiliki posisi khusus di hatinya'
......................