
Sekembalinya ke kediaman, madam Belinda memberitahu Egbert kalau Sean sudah menunggunya di ruang kerjanya. Egbert mengangguk dan mengatakan ia akan segera kesana. Sebelum pergi, Egbert menggendong Annette, membawanya ke kamar. Para pelayan yang sibuk bersih-bersih, tak dapat mengabaikan pemandangan itu. Mereka melirik kearah Annette yang berada dalam gendongan Egbert tanpa mengatakan sepatah katapun. Secepatnya mereka kembali bekerja ketika mendapati tatapan tegas madam Belinda dari kejauhan.
"Kau tidak perlu menggendong ku, padahal aku masih sanggup berjalan"
Egbert baru saja membaringkan Annette di atas ranjang. Mengabaikan keluhan nya, ia mengecup lembut kening Annette, "Istirahat lah"
Annette menatap kepergian punggung belakang Egbert dengan hati penuh gula. Ia merasa sikap Egbert padanya, tidak lagi seperti dulu. Dingin dan acuh. Tapi kini berubah menjadi manis dan hangat.
"Semoga sikapnya kali ini benar-benar tulus.."
Egbert duduk menyilang kan kaki di sofa tunggal dan Sean duduk tepat di sofa panjang yang ada di depan. Mengambil cerutu nya, Egbert mengisap nya dan mengepulkan asap dari mulutnya yang terbuka, "Aku ingin kau mengurus cuti"
Asap putih tebal yang melambung ke udara itu, membuat Sean menahan nafas. Pupil matanya bergertar dengan perasaan tertekan, "Bisakah kau tidak menghisap benda itu saat bersamaku?"
Bibir Egbert berkedut, "Sudah lama aku tidak menghisapnya"
Kalimat itu seakan menegaskan secara halus, 'Aku ingin menghisap ini sekarang, kau tidak dapat menghentikan'
Sean memutar matanya jengah, "Jadi kenapa kau ingin aku mengurus cuti? Apa kau tau sudah berapa kali aku melakukannya? Ku pikir kali ini mereka tidak akan mengizinkannya lagi"
Di samping itu, Sean sudah kehabisan akan alasan apa lagi yang harus ia berikan.
"Aku ingin kau membawa putraku ke sekolah sihir"
Sean membulatkan matanya, "Anak itu memiliki kemampuan khusus itu?"
Egbert menggeleng, "Aku masih belum tau pasti. Tapi dokter Robbin menyarankan aku untuk memeriksa nya ke seorang master sihir. Identitas Aldrich yang merupakan putraku masih harus aku sembunyikan demi keamanannya. Itulah kenapa aku ingin kau membawanya ke sana sebagai status anak yang kau temukan di pinggir jalan"
Sean mengangguk pelan, "Aku mengerti" Ternyata itu sesuatu yang cukup serius.
Jika itu masalahnya, Sean akan memikirkan bagaimana pun caranya agar ia bisa mengurus cuti, meski sepertinya akan sulit. Sean adalah sahabat dan pendukung setia Egbert. Ia akan berusaha keras menjadi penyokong agar teman masa kecilnya itu bisa menduduki takhta yang sudah merupakan hak nya.
Egbert mengisap cerutu nya lagi dan mengembuskan kepulan asap. Sean lagi-lagi harus menahan nafasnya sesaat.
"Tapi sebelum itu masih ada hal yang terlebih dulu harus kau lakukan"
"Apa itu?" Sean menaikkan salah satu alisnya.
"Kau harus mengurus Emma yang masih ada di negri manusia. Ambil diam-diam kartu akses nya, karena dalam beberapa waktu ke depan, dia tidak boleh kembali ke Merland. Atau rahasia Annette yang merupakan seorang manusia dan aku yang sudah memiliki seorang putra, akan disebar olehnya"
Sean tersenyum dingin, "Jika begitu kenapa kita tidak membunuhnya saja? Bukankah orang mati adalah penjaga rahasia yang paling baik" Sean terdengar kejam. Dia memang sangat membenci Emma sampai sedikitpun tidak ada nurani yang tersisa untuknya.
"Tidak bisa"
"Kenapa? Apa kau masih mencintai jal*ng itu huh?" Sean mengerutkan bibirnya dalan senyum mengejek.
"Bukan" Tatapan Mata Egbert menggelap.
"Lalu apa?"
"Buat jaga-jaga, barangkali kita membutuhkannya di masa depan"
Bagaimanapun Emma sekarang adalah wanita Duke Rajeev. Duke licik itu adalah pria dengan ambisi tinggi. Dia memiliki keinginan untuk merebut kursi takhta dan merupakan musuh Egbert yang paling tidak bisa dianggap remeh.
......................
"Yang mulia Duke"
Rajeev menoleh kearah kuda hitam yang baru saja datang mendekat. Seorang pria berambut pirang yang menungganginya, itu tak lain adalah salah seorang kepercayaannya yang biasa datang membawa kabar.
"Jadi, putra mahkota baru saja keluar dari istana dengan membawa seorang wanita di sisinya?"
"Benar"
"Siapa dia?" Sepasang alis Rajeev bertaut, matanya sedikit menunjukkan sinar kejutan.
"Putra mahkota mengakuinya sebagai istrinya"
Garis wajah Rajeev menegang, "Ternyata dia sudah tidak sabar lagi ya"
Segaris senyum dingin terbit di bibirnya, "Kalau begitu kita harus mengatur ulang rencana yang sudah kita rancang sebelumnya"
Tentunya itu harus menjadi lebih dipercepat.
......................
Sean mendapatkan informasi dari Mary terkait hotel tempat Emma menginap. Kamar itu terdaftar atas nama Mary, jadi ia dapat dengan mudah memiliki akses. Tepat ketika tengah malam Emma tertidur pulas, Sean mengambil kartu akses yang ternyata sudah tergelak di atas meja. Sean tersenyum dingin, "Aku tidak menduga kau begitu tidak hati-hati"
Awal pagi sekali, Annette sudah berdebat keras dengan Egbert. Ia menentang Egbert yang ingin membawa pergi Aldrich ke suatu tempat. Egbert tak berdaya, hanya dapat menjelaskannya pelan-pelan. Sampai di titik Annette mendapatkan pemahaman, "Baiklah, tapi kau harus berjanji padaku. Jika ku katakan aku ingin mengunjunginya, kau harus membawaku ke sana bagaimanapun caranya"
"Baik"
Dengan begitu para pelayan langsung mengemasi barang-barangnya Aldrich. Sean sudah tiba dengan sebuah kereta kuda biasa. Ia sengaja memilih itu agar tidak terlihat mencolok.
"Nak, mama sungguh berat melepaskan mu pergi" Annette bertekuk lutut ke lantai dan mendekap erat putra kecilnya.
Tangan kecil Aldrich mengusap lembut punggung ibunya, "Maa, jangan seperti ini. Aku hanya pergi sebentar dan akan segera kembali padamu"
Dengan berat hati Annette mengangguk dan mencium wajah kecil itu berkali. Dari dua pipi hingga kening, hujanan ciuman itu seakan tiada habis. Egbert yang menonton, tidak dapat menahan diri kalau dia cemburu pada bocah lima tahun itu. Sean yang menangkap jelas raut wajahnya itu, tersenyum kecil meledek, "Apa kau juga menginginkan hujanan ciuman sebanyak itu? Pergilah ke sesuatu tempat yang jauh dan biarkan istrimu melakukan hujan ciuman untukmu"
Egbert memberi Sean tatapan tajamnya.
Sean langsung membungkam rapat mulutnya, memasang tampang polos seakan tadi itu ia tidak mengatakan apa-apa.
"Sudah cukup mencium, dia hanya pergi sebentar, bukannya selamanya" Egbert berjalan ke depan, memegang kedua bahu Annette membantunya berdiri.
"Kenapa kau begitu tidak berperasaan!" Annette memukul ringan lengan Egbert.
Menghela nafas, Egbert tampak tak berdaya. Hanya merangkul Annette dan membawanya kedalam pelukan nya, "Maaf kan aku, percayalah padaku ini hanya sebentar. Aku lakukan ini juga buat putra kita"
Sean memanggil Aldrich untuk datang kepadanya. Kemudian Sean mengangkat tubuh bocah lima tahun itu dan memasukkannya kedalam kereta. Menyingkap tirai, Aldrich melambai kan tangannya kearah ibunya sebelum pergi.
Annette tak dapat menahan sesak di dada, melepas kepergian itu dengan menangis terisak-isak. Setelah kereta kuda sepenuhnya hilang dari pandangan, Annette mendekap erat tubuh kekar Egbert dan menangis kencang.
Egbert tidak dapat begitu membantu, hanya menepuk-nepuk pelan punggungnya berharap sedikit menenangkan wanita itu.