Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|142|. Dia Bukan Sembarang Anak



Hari-hari berlalu dan Egbert masih bersama Annette di kastil. Mengingat Egbert tidak pernah main dengan kata-katanya, Annette cukup penurut hingga selalu melapor kemanapun itu dia pergi. Ke kamar mandi, dapur, taman belakang, Annette hampir tidak pernah absen. Awalnya Annette merasa tertekan melakukannya, tapi lambat laun dia sudah terbiasa.


Hingga setelah energi Egbert benar-benar pulih, Annette di bawa Egbert ke Merland.


"Apa tidak apa-apa jika aku mengikuti mu kembali ke Merland?"


Annette tidak dapat menepis perasaan khawatir mengingat dia satu-satunya manusia di tempat itu.


Egbert mengelus pipinya lembut, "Kau akan selalu bersamaku, jadi tidak apa-apa"


Hati Annette menjadi manis.


Seperti yang Egbert katakan. Annette akan selalu bersamanya. Itu benar-benar terjadi. Egbert bekerja di ruang kerja dengan Annette di sisi. Agar wanita itu tidak bosan, Egbert sesekali mengobrol atau memberinya beberapa buku bacaan yang menarik.


Sewaktu-waktu Egbert pergi untuk mengurus hal penting. Dia juga ikut membawa Annette. Seperti itu, Annette hampir tidak pernah absen sekalipun dari sisi Egbert.


Hingga rumor baru pun beredar di ibukota. Dari bangsawan hingga rakyat biasa, mereka membicarakan tentang betapa lengketnya putri mahkota dengan pangeran mahkota. Sehingga satu sedetikpun tidak bisa jauh darinya.


Mereka bahkan mengatakan betapa menjengkelkan nya itu dan memprediksikan pasti putra mahkota akan segera bosan dengan tipe wanita yang suka menempel seperti prangko ini.


Rumor itu begitu saja sampai ke telinga Annette. Membuatnya mengeluh di suatu malam ketika menjelang tidur.


"Kau lihat! Orang-orang mengatai aku seperti prangko yang terus menempeli mu kemanapun kamu pergi. Huh.. harusnya mereka tau apa yang terjadi sebenarnya"


Tak lain, yang sebenarnya terjadi adalah itu Egbert yang terus membuatnya seperti prangko untuk terus menempel di sisinya.


Egbert menarik tubuh ramping Annette ke bawah lengan besarnya dan mencium keningnya lembut, "Jangan pedulikan mereka"


Annette tidak terhibur, bibirnya yang berkerut itu tetap cemberut.


"Mereka juga berkata jika aku terus menempeli mu seperti itu, lambat laun kau akan muak dengan ku. Bagaimana jika itu terjadi?"


Egbert mengembangkan senyum di matanya yang berkilat cerah saat menatap Annette, "Kau bisa melapor pada Aldrich. Suruh dia untuk memukul aku dengan keras karena sudah muak dengan ibunya"


"Pftt.." Lelucon ringan itu akhirnya berhasil menghibur Annette.


Ada senyum manis di mata Egbert melihat Annette tertawa dan mendengarkan getaran suaranya yang mengandung jejak bahagia. Egbert mengambil tangan Annette dan mengecup punggung tangannya, "Istriku..."


Annette tidak terbiasa dengan panggilan itu. Spontan berhenti tertawa dan matanya membeku saat bertemu mata Egbert.


"Percayalah, aku tidak akan pernah muak ataupun bosan dengan mu"


Senyum cerah terukir di bibir Annette, "Dasar mulut manis!"


Egbert menunduk kan kepalanya dan menekan mulutnya ke bibir kecil Annette, "Bagaimana?"


Annette mengedipkan matanya, "Apanya yang bagaimana?"


"Apakah itu manis?"


Annette akhirnya mengerti maksudnya. Tak dapat membantu, hanya memukul dada Egbert ringan.


"Ya, itu manis"


Egbert tersenyum puas.


Bulan demi bulan berlalu, hubungan mereka semakin manis dan romantis. Cara Egbert memperlakukan Annette dengan lembut dan memanjakan sepenuh hatinya, telah mematahkan gosip-gosip buruk terkait putra mahkota yang akan segera muak dengan istrinya.


Sekarang seluruh penjuru Merland, merasa iri terhadap pasangan yang paling romantis itu. Tak ayal banyak gadis-gadis lajang yang mendambakan sosok suami yang sangat memanjakan istri seperti Egbert dan para lelaki lajang yang juga mendambakan sosok istri manis seperti Annette—yang selalu setia menemani kemana pun suaminya pergi.


Hingga suatu malam di bulan purnama yang penuh dan bertahta dengan megah di langit. Egbert yang sudah mempersiapkan segalanya, membawa Annette bersamanya ke hadapan kaisar sementara untuk mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya.


"Paman, sudah saatnya anda yang tua ini beristirahat. Karena sudah tiba waktunya bagi kami yang muda ini mengambil tempat mu dan mempersiapkan yang terbaik untuk masa depan kekaisaran Merland"


Anthony menekuk kan sudut bibirnya, memandang pasangan itu dengan senyum menyeringai di matanya, "Keponakan ku yang terkasih. Bukannya aku tidak ingin turun dari kursi ini.." Anthony mengelus lengan kursi tahta yang terbuat dari emas itu dengan tatapan seperti seorang penatua dengan pemikiran mendalam, "Aku hanya menjalankan sesuai kesepakatan yang tertulis. Aku tau kau sudah menikah tapi kau masih belum memiliki pewaris. Jadi itu kenapa—"


"Kalau soal itu anda tidak perlu khawatir paman" Egbert tampaknya agak tidak sabar, secepatnya memotong.


Mata Anthony berkilat dingin, "..."


"Sean..masuk!"


Saat itu Sean muncul di ruangan bersama seorang anak laki-laki yang tak lain adalah Aldrich. Malam itu umurnya sudah genap enam tahun lewat. Tinggi badannya sepinggang Sean dan malam itu dia mengenakan baju kebesaran dengan Bros bulan sabit keperakan yang begitu mencolok. Mata Anthony seketika membelalak kaget.


"Anak itu—"


"Dia adalah putra ku paman. Yang akan menggantikan ku menduduki tempat sebagai putra mahkota kekaisaran Merland"


Anthony kehilangan kata untuk berbicara. Selama ini dia diam saja karena mengingat masih belum ada kabar apapun dai istri Egbert. Jadi sebenarnya kapan anak itu lahir?


"Egbert, kau membiarkan posisi putra mahkota di duduki oleh sembarang anak seperti itu?"


Aldrich yang mendengar itu ber-decih. Sean nyaris hampir bertepuk tangan akan keberaniannya.


Anthony yang mendengarnya hampir membludak dengan amarah, "Bocah busuk. Kau berani bersikap lancang di hadapanku"


Tubuh Annette bergetar dalam kepanikan. Dia hampir berlutut ke bawah untuk membela putranya tapi segera Egbert memegang lengannya. Egbert menoleh pada Annette dan berkata melalui tatapannya, 'Ada aku. Kau tak perlu cemas!'


Annette mengangguk pelan dan mendapatkan ketenangannya kembali.


Egbert menatap lurus ke depan, sikapnya acuh dan pongah, "Paman, dia bukan sembarang anak. Tapi dia adalah putra sah ku"


Anthony langsung meledak dengan tawa yang menyeramkan.


"Egbert kau membodohi ku huh? Jika benar itu putra sah mu. Memangnya kapan istrimu hamil?" Anthony melirik sekilas kearah perut Annette yang datar.


Egbert menahan senyum di bibir, "Akan terlalu panjang jika aku membicarakannya. Tapi ku pikir sebuah bukti cukup untuk menghapus kecurigaan mu paman"


Anthony menatap tajam, "..."


"Sean, serahkan hasil tes paternitas yang diberikan dokter Robbin kepada pamanku. Biarkan dia melihat.."


Sean maju beberapa langkah ke depan dan menyerahkan kertas yang Egbert maksud. Salah seorang penjaga maju mengambilnya dan memberikannya secara langsung kepada kaisar sementara.


Tangan Anthony bergertar dalam kemarahan yang tak terkatakan ketika membaca surat itu.


"Paman sekarang sudah jelas dan aku tidak mau ini terlalu berkelit. Jadi... silahkan kembali ke kediaman mu paman dan beristirahat dengan tenang di sana"


Egbert menekan kan kata 'tenang' di akhir kalimatnya. Anthony jelas mengerti apa maksudnya itu.


Anthony diam seperti tidak berniat pergi.


Egbert diam-diam berdecak kesal.


"Paman, tolong sadari posisimu. Jika seperti ini, aku dapat menuntut mu atas pemberontakan dan anda sendiri paling tau dengan jelas apa hukuman bagi pemberontak" Egbert menarik kedua sudut bibirnya dalam senyuman menawan, "Bukankah begitu paman?"


Tangan Anthony mengepal. Dia tidak punya pilihan lain. Sura kesepakatan itu sangat jelas. Dia akan segera menyingkir dari kursi tahta setelah Egbert menikah dan memiliki putra sah. Jika dia menyangkal itu, dia akan mendapatkan gelar pemberontak.


Tapi... apakah dia akan menyerah semudah itu?


"Lalu bagaimana jika aku adalah pemberontak?"


Mata Egbert menyala dingin dan saat itu dia mendengar suara pamannya yang berteriak keras.


"Lakukan sekaranggg!"