Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|33|. Aku Ingin Dia Lahir



"Maa, bisakah kita tidak membicarakan masalah ini sekarang? Aku sedang bekerja" Parker meletakkan ponselnya di bawah telinga dan diapit ke pundak, sambil mengobrol melalui talian ia sibuk membuka-buka lembaran kertas di buku dokumen yang ada di atas meja.


"Jika tidak membicarakannya sekarang, lalu kapan lagi? Kau bekerja di rumah sakit dari pagi hingga malam. Pulang dari sana kau langsung pergi beristirahat. Jika ada shift malam, maka kau tak dapat pulang ke rumah. Hah.." Setelah berbicara panjang lebar, terdengar suara wanita paruh baya yang menghela nafas panjang dari telepon, "Hampir tidak ada waktu membicarakan topik sepenting ini dengan mu. Jadi mama sudah putuskan, kalau sampai dalam seminggu ke depan kamu masih belum mendapatkan calon istri, jangan salah kan mama jika mama menjodohkan mu dengan teman putri mama"


Tap!


Panggilan langsung di putus begitu saja sebelah pihak. Parker tidak tau apakah harus tertawa atau menangis menatap layar panggilan yang sudah berakhir. Meletakkan ponselnya di atas meja, hilang sudah mood nya untuk bekerja.


"Usia ku baru saja genap tiga puluh, apa yang harus dikhawatirkan?" Keluh nya kesal.


Pada era sekarang ini adalah hal lumrah orang-orang menikah di atas usia tiga puluhan ke atas tapi ibunya mengkhawatirkannya seakan jika ia tidak terus menikah di usia tersebut. Maka selamanya ia akan ditakdirkan sebagai lelaki lajang.


"Aku tidak setua itu sampai para gadis menolak berpacaran denganku. Wajah ku terbilang cukup tampan dan secara finansial juga aku sangat mapan. Mau menikah di usia empat puluhan pun, wanita mana yang Menolak melakukannya dengan ku?" Meskipun terdengar cukup percaya diri, tapi begitulah adanya. Siapa yang akan menolak menikahi pria tampan dan mapan?


"Hah, pada akhirnya mama terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu"


Untuk menjernihkan pikirannya yang cukup semrawut, Parker pun pergi ke rooftop rumah sakit sambil membawa cup kopi yang diberikan oleh salah seorang koleganya. Sesampai di rooftop, sesuatu hal yang tak terduga terus menyambut retinanya.


"Apa yang kau lakukan?" Pekik Parker.


Asal saja Parker melempar cup kopi ke sembarang arah dan dengan langkah seribu ia menarik seorang wanita yang nyaris saja melompat ke bawah.


Annette merasa dunianya berputar ketika tenaga yang begitu besar datang menarik tubuhnya hingga jatuh ke belakang. Punggungnya menabrak dada bidang seseorang yang ketika ia menoleh, seorang pria putih bersih yang terbalut sempurna dalam pakaian medis, terlihat begitu murka berkata kepadanya, "Apa kau gila huh? Kau mencoba untuk mengakhiri hidup mu dengan melompat dari gedung rumah sakit? Di tempat ribuan orang yang berjuang keras untuk sembuh dan bertahan hidup tapi kau malah—"


Annette melihat pria itu tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Yang terdengar hanya helaan nafasnya yang terengah-engah menyisakan beberapa sentuhan emosi yang tak terkatakan.


"Maaf.." Hanya itu yang dapat Annette katakan. Matanya menunduk ke bawah penuh penyesalan. Apa yang dikatakan pria itu benar, tak seharusnya ia menjadikan rumah sakit sebagai tempat untuk mengeksekusi hidupnya.


Parker melihat perut Annette yang besar, saat itulah ia tersadar kalau gadis muda didepannya sedang dalam keadaan hamil. Ia juga dapat melihat betapa pucat nya wajah gadis itu nyaris seperti seseorang yang kekurangan darah.


"Kenapa kau berpikir untuk mengakhiri hidup mu? Apa kau ditinggal pergi oleh pasangan mu huh?" Tanya Parker, walau terdengar sedikit ketus dan menyebalkan. Tapi Annette tidak tersinggung dengan pertanyaannya.


"Gadis bodoh, apa dengan mengakhiri hidupmu segalanya dapat selesai begitu saja hah?"


"..."


"Setidaknya tetaplah hidup untuk dirimu sendiri dan anak dalam kandungan mu" Ucap Parker seraya memperhatikan perut besar Annette dan memprediksikan usia kandungannya saya sepertinya sudah delapan atau sembilan bulan.


"Bagi setiap pasien di rumah sakit ini kehidupan sangat lah berharga. Beberapa di antara mereka bahkan menerima vonis tiga bulan yang tersisa untuk hidup, tapi mereka tetap memilih untuk bertahan sampai akhir. Dan kau sendiri memiliki kehidupan yang tidak mengharuskan mu mengkhawatirkan soal masa tenggat yang tersisa, tidak bisakah kau lebih menghargainya?"


"..."


"Jika kau tetap memilih mengakhiri hidup hanya karena pria bodoh yang meninggalkan mu itu, sangat disayangkan kau melakukannya hanya untuk bedeb*h seperti dia"


"..."


Parker mencoba memperhatikan wajah gadis itu yang terbilang cukup muda, tampaknya baru berusia dua puluhan.


Sudah bertahan dengan kehamilan yang setua itu, ia yakin pada dasarnya gadis ini pada awalnya memang berniat mempertahankan bayi dalam kandungannya.


"Kehidupan ku hancur berkat seorang bedeb*h" Akhirnya Annette berbicara.


"Aku kehilangan kegadisan ku setelah menikahinya secara paksa dan kini mengandung anaknya. Tapi aku tidak dapat mempertahankan anak ini.." Saat itu Annette mengangkat kepalanya dan matanya yang berlinangan air mata menatap tepat ke mata Parker.


"Jika aku mempertahankan kandungan ku, maka aku akan mati. Tapi jika aku ingin tetap hidup, maka anak ini yang harus mati " Tuturnya lagi dengan suara bergetar parau, "Katakan dokter, bagaimana bisa aku memilih di antara kedua keputusan yang sama-sama menyangkut kehidupan?"


Tanpa perlu bertanya pun, Annette tau kalau yang didepannya itu adalah seorang dokter di rumah sakit. Itu terlihat jelas dari sneli putih yang dikenakannya.


Parker terang saja terkejut dengan hal itu. Apakah sejauh ini dugaannya salah? Itu bukan karena seorang pria yang tidak ingin bertanggungjawab tapi...


"Seharusnya kau mendiskusikan ini dengan suamimu, tapi kenapa kau—"


"Suamiku hanya menginginkan anak ini, ia tidak peduli aku hidup atau tidak, yang terpenting baginya anak ini harus lahir" Potong Annette. Ia tidak tau kenapa dapat mengatakannya begitu saja pada orang asing. Mungkin karena pikirannya terlalu kacau hingga ia tidak begitu memperdulikan hal-hal.


"..." Parker sesaat terdiam, ia kehilangan kata untuk berbicara.


"Meskipun terdengar egois, tapi menurutku akan lebih baik jika aku dan anak dalam perutku ini— kita sama-sama mati" Annette mengelus pelan perutnya dan Parker dapat melihat sekilas aura keibuan yang muncul dari gadis itu.


"Apa kau yakin itu adalah keinginan terdalam dari hatimu?" Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Parker datang dengan pertanyaan.


"Kau seorang wanita dan kau akan menjadi ibu. Tidak adakah sedikitpun nurani dalam hati mu yang menginginkan bayi dalam perut mu terlahir sehat dan selamat?"


Annette tersentak dengan pertanyaan itu. Seketika jiwa raga nya bergetar dan hatinya tersayat pedih. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja ia merasakan kontraksi hebat. Itu sesuatu hal yang baru baginya dan ia yang sama sekali tidak mengerti dengan situasinya hanya dapat berkata...


"D-dokter tolong... perutku!"


Pupil mata Parker membesar, jangan-jangan gadis ini akan...


Tangan kiri Annette pergi memegang perutnya dan yang satunya lagi meraih lengan dokter itu dan berujar, "S-selamat kan bayi dalam perut ku.."


"A-aku ingin dia lahir.." Lirihnya lagi.


Pada akhirnya begitulah insting keibuannya terbentuk dan mulutnya begitu saja berkata tanpa ragu...


"Jikapun aku harus mati, itu tidak lagi masalah sekarang. Asalkan bayi ini dapat lahir dengan selamat, itu sudah membayar semuanya..."


Bruk!


......................