Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|45|. Menolak Mengkonsumsi Darah Manapun



"Tapi aku pernah membaca hal tersebut di salah satu buku lama punya paman ku yang merupakan seorang kolektor buku tua. Hanya di sana cuma tercantum beberapa opini penulis yang diperoleh dari pengalaman pribadinya dan orang sekitarnya, dalam arti tidak ada penelitian khusus yang dapat membuktikannya secara ilmiah"


"Katakan apa saja opini yang tercantum dalam buku tersebut" Ucap Egbert.


"Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, aroma darah manusia di kelompokkan menjadi empat, yaitu anak, remaja, dewasa dan lansia. Itu berarti setiap kelompok memiliki varian aroma yang sama. Mereka yang kelompok anak-anak, memiliki aroma darah yang murni dan manis, kelompok remaja— murni dan segar, sedangkan pada kelompok dewasa— pekat dan pahit dan terakhir pada kelompok lansia— samar dan hambar" Papar Sean. Matanya tak luput menatap ke depan, tetap fokus mengemudi seiring mulutnya berbicara.


"Penulis juga mencantumkan, ternyata opininya tersebut berbeda dengan pengalaman teman akrabnya yang merupakan seorang player" Lanjut Sean.


"Temannya itu telah memacari ratusan gadis manusia naif yang dengan murah hati menyumbang kan darah mereka untuk memuaskan hasrat dan dahaganya. Dan temannya itu berkata, setiap aroma dan rasa darah dari setiap wanita tersebut berbeda dari satu yang lainnya. Dalam arti, ia tidak menemukan aroma darah yang seratus persen sama antar wanita tersebut"


Egbert mengulum rapat bibirnya dan matanya yang menerawang jauh ke luar jendela itu, sesaat larut dalam pikiran.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" Tanya Sean kemudian, matanya sekilas melirik ke kaca spion depan. Melihat Egbert yang membuang pandangannya ke luar jendela dan hening.


"Aku menemukan aroma darah yang hampir seratus persen sama dengan aroma gadis manusia yang telah membawa kabur benih ku"


"Annette masuk mu?"


"Eum"


"Apa kau sudah pergi melihatnya? Siapa tau kan itu benar-benar dia"


"Awalnya aku ingin melihat dari mana aroma darah itu berasal. Tapi aku mengubah pikiran ku dan pergi" Egbert tak menjelaskan secara rinci pada Sean bahwa ia hampir saja berhasil menemukan siapa pemilik aroma darah itu jika saja pria si pemilik rumah tidak datang menegur sapa nya.


"Jika apa yang dikemukakan teman si penulis itu benar, sudah pasti aroma darah yang kau kenali itu tak lain adalah milik istri kecil mu— Annette. Kemungkinan ini benar, cukup besar. Mengingat temannya itu berpendapat begitu berdasarkan pengalaman pribadinya dengan para wanita yang di kencaninya"


Egbert merasa apa yang dikatakan Sean cukup masuk akal. Mengingat kediaman yang ada di hutan tadi, ia pun berujar, "Sepertinya aku memang harus datang ke tempat itu lagi"


......................


Hari demi hari pun Annette jalani dengan sangat bahagia. Sekarang ini ia tak ubahnya seperti ibu rumah tangga yang mengurus anak dan rumah. Parker memperlakukannya cukup baik, hangat dan lembut. Berkat itu hati wanitanya kerapkali bergertar tak menentu.


Setiap siang Annette selalu menyiapkan kotak makan siang yang nantinya ia bawa ke rumah sakit kecil desa. Seperti saat ini, ia berjalan di sekitar desa yang asri sambil menggendong bayi mungilnya yang masih tertidur. Sedang tangan kirinya menenteng sebuah plastik yang didalamnya ada kotak makan siang untuk Parker.


"Permisi" Sesampai di rumah sakit desa yang sangat sederhana itu, Hana datang menyapa seorang perawat yang berjaga di meja resepsionis.


"Ah, anda Annette istrinya dokter Parker bukan?"


Kedua pipi Hana menghangat mendengar itu. Meskipun ia tau itu tak benar, tapi ia sangat menikmati kebohongan tersebut.


Ya, sekarang di desa ini ia berperan sebagai istri dari dokter Parker dan di rumah sakit pun ia juga dikenal sebagai itu.


"Eum"


"Dokter Parker masih memeriksa seorang pasien, bagaimana jika saya antar anda ke ruangnya saja? Anda dapat menunggunya di sana" Bagaiman pun yang didepannya itu adalah istri dari dokter paling penting di rumah sakit. Tentu ia harus melayaninya dengan baik. Begitulah pikir perawat tersebut.


"Boleh" Angguk Annette sopan.


Perawat tersebut pergi mengantarkan Annette ke ruang kerja Parker. Setelahnya ia pergi dan tak lupa Annette berterima kasih pada wanita itu karena sudah mengantarkannya.


Sekitar sepuluh menit berlalu, Annette menunggu dengan keheningan ruang dan detak jarum jam. Ia mendengar sebuah suara bersama sosok tubuh yang berjalan masuk ke dalam ruang.


"Sudah lama menunggu?" Tanya Parker dengan seulas senyum di wajahnya.


"Tidak terlalu" Geleng Annette.


"Siang ini kau masak apa?" Parker dengan sangat semangat membuka plastik dan mengeluarkan kotak makan, "Aku sudah sangat lapar, senang melihat mu datang" Katanya lagi.


Cukup berhasil membuat daun telinga Annette memerah panas.


Bersamaan dengan itu ponsel Parker yang ada di atas mejanya berdering. Parker mengambil benda pipih itu dan melihat itu tak lain adalah ibunya. Parker langsung mengangkatnya, "Iya, ada apa ma?"


"Apa kau sudah mendapatkan pembantu? Jika belum mama akan mencarinya untuk mu" Ucap Margaret do seberang. Ia sungguh mengkhawatirkan nasib putra semata wayangnya itu jika tidak ada yang menyiapkan sebagai keperluannya yang hidup seorang diri di pelosok.


"Tidak perlu ma, aku sudah memilikinya" Ucap Parker tersenyum, matanya sekilas melirik kearah Annette.


"Ah baguslah kalau begitu. Mama bisa tenang sekarang"


Setelah percakapan singkat itu berakhir, Parker mengajak Annette makan bersama. Tapi Annette menggeleng mengatakan dirinya sudah makan.


"Lain kali makanlah dengan ku di sini, akan menyenangkan jika ada yang menemani ku makan"


"Eum"


Di samping itu di kastil, Egbert terbaring tak berdaya di atas ranjang. Kondisi tubuhnya begitu lemah tak bertenaga semenjak mulutnya yang terus saja menolak asupan darah yang bagi lidahnya tidak enak.


Kepala pelayan Mary bahkan sudah sangat kebingungan dalam melayaninya. Karena berbagai jenis darah hewan premium sudah di sediakan tapi tak ada satu dari mereka yang dapat memuaskan keinginan lidahnya.


"Aneh sekali. Kau sudah bertahun-tahun menyukai darah kelinci. Tak pernah bosan dengan yang satu itu. Tapi sekarang kenapa kau tidak menyukainya lagi?" Tanya Sean yang hari itu datang ke kastil membawa lima botol darah premium yang di siapkan Belinda untuk Egbert.


Ya, sebelum mampir ke tempat itu ia pergi sebentar ke negerinya untuk datang ke istana bulan merah, menceritakan nasib buruk Egbert yang terus menolak mengkonsumsi darah manapun kepada Belinda. Wanita tua itupun menyerahkan lima botol darah itu kepadanya dan berharap ada satu dari kelimanya yang dapat memuaskan lidah Egbert.


"Ini adalah lima botol darah premium yang siapkan madam Belinda untukmu, cobalah" Ucap Sean yang sudah membuka tutup botol dan menuangkannya sedikit ke dalam gelas. Lalu ia menyerahkan nya pada Egbert.


Menerima gelas itu, Egbert menyesap nya sedikit dan...


"Tidak enak" Ia langsung menyodorkan gelas itu kembali pada Sean.


"Kenapa kau pemilih sekali? Jikapun tidak enak minum saja. Sayangilah tubuh mu yang sudah sehidrasi itu karena kau yang terus saja menolak mengkonsumsi darah manapun"


Egbert hanya melempar pandang ke luar jendela, sama sekali tidak menanggapi bebelan Sean itu.