
Pagi harinya. Annette bangun dengan menahan beban tubuh pria di atas tubuhnya. Dalam matanya yang masih tersisa sedikit kantuk, Annette Melihat Egbert yang terlungkup itu masih tertidur lelap dalam ceruk lehernya. Pelan ia mendorong tubuh Egbert menjauh dari atasnya. Setelah bersusah-payah, Egbert berhasil di jatuhkan ke samping. Tapi perbuatannya itu berhasil membuat Egbert terbangun. Mengerutkan keningnya, Egbert melihat Annette yang sudah bangun itu sedang melakukan perenggangan.
Rambut coklat panjangnya itu mengembang seperti singa. Membingkai wajah cantiknya yang masih ada jejak mengantuk.
Merasakan sepasang mata menatap kearahnya, Annette menoleh, "Kau sudah bangun" Suara Annette terdengar serak, tapi itu lembut.
Egbert melipat tangannya dan menidurkan kepalanya diatasnya, "Em" Angguk nya. Ia sadar apa yang terjadi semalam. Karena itu ia tidak begitu terkejut mendapati dirinya ada di kamar wanita itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu semalam?"
"..." Egbert diam. Wajahnya baru bangun tidur itu sedikitpun tidak berminyak. Annette bahkan sempat terpesona dengan ketampanan khas baru bangun tidurnya itu.
"Ah, lupakan jika kau tidak ingin memberitahu ku" Annette menggeser tubuhnya hingga ke pinggir dan menurun kan kedua kakinya ke lantai. Tepat ketika ia bersiap untuk berdiri, tangan Egbert terulur ke depan menarik gaun tidurnya.
Annette menoleh dengan bingung kearah Egbert, "Ada apa?"
"Kunci pintu kamar mu"
Sepasang alis Annette bertaut, "Kenapa aku harus menguncinya? Kau tidak ingin keluar dari sini?"
"Kunci saja!" Suara Egbert terdengar malas. Seperti biasa, dia tidak suka menghabiskan tenaganya untuk menjelaskan hal-hal.
Annette yang terburu-buru pergi, melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam tepat, tak mau ambil pusing langsung saja mengangguk, "Em"
"Satu lagi, datang ke kamar ku dan ambil ponsel ku" Pesanan Egbert sekali lagi sebelum Annette pergi.
Itu sedikit menyebalkan. Bahasa Egbert itu membuatnya terdengar seperti pesuruhnya saja. Sebelum membuka pintu, Annette berbalik, "Jika kau mau aku mengambilnya, bubuhi kata 'tolong' di kalimat mu"
Egbert memutar matanya malas. Tolong? Itu bukan kata yang dapat ia ucapkan dengan mudah. Mengingat statusnya, ia sama sekali tidak terbiasa menggunakan kata itu.
"Kau tidak mau? Kalau begitu lupakan! Aku tidak akan mengambilnya" Tepat ketika Annette menarik gagang pintu ke bawah.
Terdengar suara Egbert, "Tolong!" Dari nadan suaranya, agaknya pria itu terdengar sangat tertekan ketika mengatakannya, "Tolong ambil ponsel ku di kamar ku"
Bibir Annette melengkung dalam senyum lebar, "Baik, aku akan mengambilnya"
Annette pergi dari kamarnya dan tak lupa menguncinya seperti yang di katakan Egbert. Itu bukan tanpa alasan Egbert meminta Annette mengunci kamar. Itu tak lain karena Egbert takut Emma akan datang mencarinya. Kalau saja bukan karena permintaan Annette, ia pasti sudah menyuruh kepala pelayan Mary untuk mengusir Emma pagi itu juga.
Annette berjalan masuk ke dalam kamar Egbert, tanpa mengetahui apa yang terjadi pada kamar itu semalam. Ketika mencari-cari di mana ponsel letak ponsel Egbert, ia tanpa sengaja tersandung dengan benda di bawah kakinya. Menurunkan pandangannya ke bawah, matanya berkedip terkejut, "K-kenapa kau bisa ada di sini?"
Emma terbangun ketika seseorang tanpa sengaja menendang tubuhnya. Membuka matanya yang masih terasa berat karena kantuk, ia menangkap siluet tubuh wanita berdiri didepannya memasang tampang penuh tanya, "Ternyata kau!"
Emma perlahan bangun dari baringan nya di lantai. Semalam ia dilempar begitu keras oleh Egbert, membuat seluruh tubuhnya kesakitan. Terlalu lemah untuk bergerak, ia pun tanpa sengaja tertidur di sana. Meluruskan punggungnya, ia dapat merasakan beberapa tulang belakangnya berbunyi. Ia tidak tau di bagian mana saja yang patah, yang pasti itu terasa sangat sakit.
"Bantu aku berdiri" Emma mengulurkan tangannya kepada Annette.
Mengerutkan keningnya, Annette bergeming dan tak menyambutnya.
Mata Annette terus menyipit jijik. Wanita vampir itu sangat tidak tau malu. Apakah seperti ini caranya meminta tolong? Jika pun ada rasa kasihan, itu langsung lenyap melihat sikap arogan nya yang memuakkan.
"Kenapa kau ada di sini? Apa semalam kau mencoba merayu suamiku?" Annette langsung teringat dengan Egbert yang semalam berlari datang mengetuk pintu kamarnya. Pria itu muncul dalam penampilan yang sangat menyedihkan sambil memegang lehernya mengatakan dirinya tercekik.
Apa wanita sombong ini yang mencekik nya?
"Tidak" Emma mengangkat kepalanya, memberi Annette senyuman nya yang paling percaya diri, "Suamimu lah yang membawa ku kemari"
"..."
"Kami bergelut sangat hebat semalam. Hingga kami berguling jatuh dari ranjang— akh" Emma memegang pinggang nya yang kurus, dengan ekspresi mengeluh di wajah menambah kan, "Seluruh badan ku sakit semua karena momen panas kami semalam"
Annette meringkuk kan bibirnya, nyaris saja tertawa dengan kekonyolan Emma. Sekilas ia menoleh kearah ranjang yang tirai nya tersingkap. Annette tidak melihat ada kerutan yang begitu kentara di seprai putih yang masih sangat bersih. Selimut di atasnya bahkan hanya setengah terbuka di bagian kanan, seperti seseorang yang berbaris dibawahnya telah bangun dan pergi dan tata letak bantal pun cukup teratur pada tempatnya.
Dengan pemandangan itu, Annette datang dengan pertanyaan, "Benarkah kalian bergelut sangat hebat semalam?
"..."
"Tapi..ranjang itu terlihat seperti milik seorang lajang yang baru saja bangun dari tidur. Sama sekali tidak terlihat seperti pasangan yang baru saja bergulat panas" Telunjuk Annette menyentuh bibir bawahnya, matanya yang menyipit terlihat seperti sedang berpikir.
Emma menggertak kan giginya. Bagaimana itu tidak terlihat seperti itu? Jelas ia baru menaiki nya sebentar semalam, belum pun dia membuat sedikit kekacauan tapi Egbert sudah lebih dulu melempar nya dengan keras ke lantai.
"Atau jangan-jangan kalian tidak bergelut di ranjang, tapi bermain liar di atas lantai?" Annette membelalak kan matanya dengan mulut setengah terbuka seakan-akan ia begitu terkejut padahal nyatanya tidak.
Sekujur wajah Emma langsung memerah padam. Tidak tau apakah itu karena malu atau marah.
"Ah, tapi sepertinya tidak. Bukannya kau baru saja berkata, kalau kalian bergelut sangat hebat hingga berguling jatuh dari ranjang?"
Emma mengepalkan tangannya, wajahnya memerah panas itu seakan siap untuk meledak. Annette sangat terhibur dengan penampilannya. Mungkin di mata Emma, ia hanyalah gadis manusia lemah yang dapat dengan mudah dihisap darahnya hingga tak berdaya. Tapi ia bukan wanita yang mudah di tindas dan tak tahu cara membalas.
"Jika demikian, apa ucapan mu tadi hanya sebatas fantasi liar mu terhadap suami ku, hum?"
"Kau—" Mengangkat jari telunjuknya kearah Annette, tampak bola mata Emma itu bergertar dalam amarah.
Annette menggembung kan pipinya dan tergelak, "Pftt.." Ia merasa itu cukup menggelikan. Membungkuk kan tubuhnya ke bawah, ia dengan sengaja berbisik, "Pantas saja suamiku semalam berlari ke kamar ku, itu ternyata ada pengganggu di kamarnya" Mata Annette tersenyum sangat lebar, itu terlihat menyenangkan di pandang.
Tapi tidak bagi Emma, yang sudah seperti akan memuntahkan seteguk darah karena marah.
Berhenti tertawa, Annette kembali pada niat awalnya untuk mencari ponsel Egbert. Setelah mendapatkannya ia langsung pergi keluar dari sana. Kembali ke kamarnya, ia memberikan ponsel itu kepada Egbert, "Apa mantan kekasih mu mencekik mu semalam?"
Egbert menerima ponsel miliknya dan membeku seketika dengan pertanyaan Annette. Melihat Egbert yang bergeming, Annette tidak mengganggunya lagi. Ia pergi ke kamar mandi dan bersih-bersih. Lalu bergegas menyiapkan Aldrich untuk berangkat ke sekolah.
......................