
"Tapi rasanya ada yang janggal" Ucap Egbert.
Berhasil memancing perhatian Sean untuk menghentikan aktivitasnya. Mencelupkan bulu ayam ke dalam kotak tinta, ia membiarkannya di sana dan mengangkat pandangannya kearah Egbert, "Janggal bagaimana maksud mu?"
"Aku merasa gadis pelayan bar ini sedikit familiar" Ujar Egbert. Ia ingat dengan jelas bagaimana suara gadis itu yang rasanya pernah singgah di ingatan lima tahun silam nya. Akan bagaimana sepasang bola mata hitam yang bergetar takut, itu persis sama dengan gadis manusia— istri kecilnya yang melarikan diri entah kemana.
"Familiar?" Sean merajut sepasang alisnya, menatap Egbert setengah bingung.
"Eum" Angguk Egbert, mata hitamnya sesaat menyala merah dengan sinar keseriusan saat keningnya berkerut dan berpikir keras, "Nada suaranya dan sepasang bola mata hitam yang tak asing" Ucapnya, mengulum rapat bibir bawahnya, matanya menatap dalam Sean, "Apa menurutmu gadis manusia memiliki kesamaan menyangkut suara dan bola mata?"
Sean mengerutkan keningnya dan berpikir. Sejauh ia mengajar di kelas, hampir dari semua anak didiknya memiliki nada suara yang berbeda. Tapi khususnya bola mata, beberapa dari mereka memiliki ukuran dan warna yang sama, "Untuk bola mata bisa saja begitu, beberapa dari mereka ber-bola mata kecil, besar bahkan memiliki warna yang sama. Hanya untuk bentuk, menurut ku sedikit berbeda dari satu yang lainnya" Terang Sean.
Sekalipun dari mereka ada yang sama-sama memiliki bentuk mata almond, tapi Sean tetap dapat melihat perbedaan dari keduanya. Dalam arti, hampir tidak ada yang seratus persen sama.
"Khususnya suara, tidak ada dari anak didik ku yang memiliki suara yang sama. Masing-masing dari mereka memiliki ciri khas suara yang berbeda dengan satu dan lainnya" Lanjutnya lagi.
Setelah menyimak penjelasan Sean, mata hitam yang berkilat dingin itu menatap jauh ke sudut ruangan. Membawanya tenggelam beberapa saat dalam lautan pikirannya.
Egbert berusaha keras menemukan titik keganjilan yang ia rasakan. Tapi sekeras apapun ia berpikir, itu hanya akan berakhir dalam kebuntuan.
"Ada apa hum?" Tanya Sean. Setelah memperhatikan Egbert yang terdiam begitu lama dalam pikirannya, "Apa kau merasa seperti pernah melihat gadis itu sebelumnya?" Tanyanya lagi.
Egbert menggeleng, "Tidak"
"Apa kau yakin?" Sean menatap Egbert seraya menaikkan salah satu alisnya, "Barangkali itu adalah Annette?"
"Itu tidak mungkin" Jawab Egbert. Mengingat potongan rambut pendek hitam legam gadis itu yang pekat seperti tinta. Jelas itu warna yang jauh berbeda dengan rambut Annette yang coklat keemasan.
"Um, kalau begitu itu hanya perasaan mu saja" Tukas Sean kemudian.
"Yah, barangkali saja begitu"
......................
Pagi harinya Annette sudah sibuk berkutat dengan dapur. Menyanggul rambut coklat keemasannya tinggi ke atas dan mengenakan celemek, ia langsung pergi mencuci tangan. Setelahnya ia membuka kulkas kecil yang sudah sangat reyot— karena itu adalah barang bekas yang dibelinya dengan harga terbilang sangat murah, dan mengambil hati sapi yang ada di bagian freezer.
Ia pun merendam hati sapi dalam air dan berlanjut memotong-motong bawang, cabai dan tomat. Mencuci semua hasil potongan itu dan menyalakan kompor. Setelah memastikan minyak cukup panas, ia pun menumis semua bahan-bahan dan memasukkan nasi putih.
Aroma lezat nya nasi yang di tumis gurih pun mengudara. Menyusup ke dalam kamar Aldrich yang baru saja selesai mandi dan berpakaian rapi. Mencium aroma lezat itu, terus Aldrich beranjak ke dapur.
"Sayang, kau sudah selesai bersiap-siap?" Tanya Annette sambil lalu. Fokus mengaduk nasi di wajan dan menoleh pada putranya sekilas yang sudah berpakaian rapi dalam seragam.
Meskipun baru berusia lima tahun, Annette sudah mendidik putranya untuk mandiri. Seperti dalam urusan mandi dan berpakaian, kini Aldrich dapat mengurusnya sendiri tanpa memerlukan bantuan darinya.
"Eum"
"Aku ingin sarapan dengan masakan buatan mu" Ucap Aldrich, yang masih berdiri menonton Annette memasak, "Aku tidak ingin meminum darah mama dan aku tidak mau menyantap hati sapi bakar" Keluh Aldrich.
Mendengar keluhan putranya itu, Annette merasa tidak berdaya. Sejauh ini ia tidak pernah memberikan makanan manusia pada Aldrich selain hati sapi bakar. Itu karena ia takut jika Aldrich mengkonsumsi makanan manusia, tubuhnya tidak akan menerimanya.
"Baiklah, tunggu mama di meja. Mama akan menyiapkannya untukmu" Ucap Annette kemudian. Ia pikir tidak ada salahnya mencoba.
"Eum" Angguk Aldrich dengan semangat.
Setelah menyajikan nasi yang di goreng nya tadi ke atas piring. Annette memecahkan dua telur ke atas wajan panas untuk menghidangkan telur mata sapi. Tidak butuh waktu lama hingga dua telur mata sapi itu kini sudah ada di atas kedua piring.
Annette pun membawa kedua piring itu ke atas meja.
"Ayo makan!" Seru Annette semangat.
"Ayo!" Aldrich sudah sangat lama penasaran dengan masakan ibunya yang selalu harum dan gurih. Ia yakin itu sangat lezat hanya dengan sekali pandang. Menyendok sesuap nasi ke mulut dan mengunyahnya.
Matanya terbuntang lebar dan ia terus terbatuk-batuk memuntahkan nya.
"Sayang, ada apa?" Annette seketika bangun dari duduknya dengan raut wajah panik.
"Tenggorokan ku sakit ma.." Ucap Aldrich yang memegang tenggorokannya dan tampak yang sepasang matanya sudah berair pedih.
"Jangan makan lagi!" Ucap Annette yang langsung menarik piring tersebut dari jangkauan putranya, "Maaf sayang, tak seharusnya mama membiarkanmu memakan ini" Annette menepuk pelan punggung putranya yang masih terbatuk-batuk itu.
Setelah di rasa tenggorokannya menjadi cukup baik, Aldrich menoleh pada sang ibu. Ia dapat melihat sepasang mata penuh kelembutan itu berselimutkan perasaan bersalah, "Ini bukan salah mama. Aku sendiri yang memintanya" Ucapnya.
"Tetap saja mama—" Tenggorokan Annette tercekat, rasanya ia akan menangis saat itu. Ia sungguh takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada putranya itu karena masakannya tadi.
"Maa.." Tangan kecil Aldrich memegang lembut lengan Annette, mencoba menenangkannya, "Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir um?"
"Hiks" Annette seketika memeluk erat tubuh kecil itu, "Mama sungguh hampir mati ketakutan tadi" Ucapnya. Suaranya masih parau, "Karena jika kamu kenapa-kenapa, mama tidak mungkin membawa mu ke rumah sakit.."
Dan iapun tidak tau harus membawa putranya itu kemana.
Sesaat Aldrich di dera rasa bersalah, "Lain kali aku tidak akan mengeluh lagi, aku janji!" Ucapnya, mata hitam besar yang menawan itu menatap penuh penyesalan pada sang ibu yang terlihat sedih untuknya, "Aku hanya akan makan hati sapi bakar dan meminum darah mu seperti biasanya" Lanjut nya lagi.
Mendengar itu hati Annette terhenyak haru. Ia sungguh merasa sangat bersyukur memiliki Aldrich yang sangat pengertian dan sayang terhadapnya. Ia jelas menangkap ekspresi wajah kecil nan tampan itu penuh rasa sesal dan bersalah, "Baiklah, mama pegang janji mu sayang"
Annette kian mengeratkan pelukannya dan mendarat kan kecupan lembut di kedua belah pipi putranya. Itu membuat Aldrich kecil tersenyum senang dan merasa begitu bahagia menerima perlakuan penuh cinta dari sang ibu.
......................